Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
72


__ADS_3

Pagi ini, sesuai janji Kahfi kepada Ayumi kemarin untuk mengajak jalan-jalan ke suatu tempat yang menjadi tempat favorit Kahfi.


Sejak malam Bunda Icha dan Kahfi menginap di runah Ayumi, setelah sebelumnya menggelar acara tahlilan untuk mendoakan Nenek Arsy yang baru saja meninggal menghadap Allah SWT.


Ayumi sudah terjaga dari tidurnya sejak shubuh tadi. Setelah sholat shubuh Ayumi hanya kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemah dan lemas.


Tasbih milik Kahfi selalu dipegang oleh Ayumi dan terus bersholawat untuk menenangkan hati dan pikiran Ayumi.


"Sudah bangun Ay," tanya Bunda Icha lembut yang masuk ke dalam kamar Ayumi untuk mengembalikan mukena yang dipinjamnya tadi untuk melaksanakan sholat shubuh.


"Sudah Bunda, cuma masih lemes aja," jawab Ayumi pelan.


"Jendelanya Bunda buka ya, biar udaranya masuk ke dalam, biar seger juga," ucap Bunda Icha pelan.


Bunda Icha melangkah menuju jendela kamar Ayumi, membuka hordeng dan membuka lebar jendela kamar itu. Pemandangan yang masih gelap karena sinar mentari belum menunjukkan cahaya terangnya. Tapi sejuk aroma udara pagi terasa menusuk ke dalam dada, harum wangi dari bunga-bunga yang mulai bermekaran dari taman samping rumah Nenek Arsy milik tetangga.


"Iya Bunda silahkan dibuka saja," ucap Ayumi pelan.


"Bunda ke dapur dulu ya, kamu istirahat saja dulu. Kahfi sedang membereskan rumah, kan kamu nanti harus kembali ke Pondok Pesantren," ucap Bunda Icha menjelaskan dengan pelan.


"Iya Bunda, makasih sudah banyak membantu Ayumi," ucap Ayumi lirih.


Bunda Icha tersenyum, dan berjalan menuju ranjang milik Ayumi. Tubuh Bunda Icha duduk di pinggir ranjang, dan memegang kedua tangan Ayumi yang masih memegang tasbih dengan erat.


"Ayumi, Bunda ini kan juga Bunda kamu, kenapa harus sungkan? Setelah ini Bunda gak mau lihat kamu sungkan-sungkan lagi dengan Bunda. Kalau pulang, pulanglah ke rumah Bunda, biar Kahfi yang menjemput kamu," ucap Bunda Icha pelan kepada Ayumi.


"Iya Bunda," jawab Ayumi pelan.


Ayumi tersenyum lebar dan mengecup kedua punggung tangan Bunda Icha dengan hormat.

__ADS_1


"Bunda... Bagaimana dengan rumah ini? Ayumi akan jarang berada dirumah, apalagi rumah sebesar ini, Ayumi pasti akan takut sendirian disini," ucap Ayumi pelan kepada Bunda Icha.


"Nanti Bunda cari solusinya dulu, Bunda akan bicara dengan Pak Kyai. Jangan khawatir kami tidak akan sendirian Ay, ada Bunda, ada Bapak, ada Kahfi dan juga ada Afnan calon suamimu nanti. Belum lagi kedua sahabatmu, Rara yang sebentar lagi juga akan menjadi aduk iparmu, dan Bulan teman menggapai cita-citamu," ucap Bunda Icha menjelaskan.


Ayumi tersenyum bahagia, dirinya memang sungguh beruntung masih dikelilingi oleh orang-orang yang sayang pada dirinya hingga saat ini. Orang-orang yang mau peduli dan memperhatikan Ayumi saat ini. Walaupun Ayumi kini hidup sebatang kara, tanpa orang tua dan sanak saudara yang menemani Ayumi dalam menjalani kehidupan keras ini.


"Bunda masak dulu, kamu mau Bunda masakin apa?" tanya Bunda Icha dengan lembut.


"Ayumi pengen bubur ayam Bunda, Bunda bisa membuat? kalau tidak bisa, biar Ayumi membeli saja," ucap Ayumi pelan.


"Bisa sayang. Bunda paling suka dengan bubur ayam, Bunda buatin yang spesial untuk Ayumi, calon menantu kesayangan Bunda," ucap Bunda Icha pelan.


Bunda Icha beranjak dan berjalan menuju dapur Rumah Nenek Arsy. Disana hanya ada sisa bahan-bahan saja dan semuanya kurang lengkap, tapi sebisa mungkin Bunda Icha menggunakan bahan-bahan yang sudah tersedia dan menghabiskan bahan-bahan makanan yang tersisa untuk dimasak.


Rumah Nenek Arsy ini adalah rumah dengan bangunan kuno yang kokoh dan memiliki halaman yang sangat luas. Ruangan dalam rumahnya pun ada banyak, sekitar ada enam ruangan yang bisa dijadikan kamar dengan tiga kamar mandi yang berada secara acak di dalam rumah. Pekarangan rumahnya yang dibelakang juga sangat luas, ada dua pohon buah mangga manalagi, dan satu pohon buah rambutan, serta satu pohon buah delima.


"Bunda sedang buat apa?" tanya Kahfi yang tiba-tiba masuk ke dalam dapur untuk membuat secangkir kopi instan.


Tangannya sudah mengambil cangkir kopi dan sebungkus kopi scahet yang dimasukan ke dalam gelas lalu diberi sedikit air panas sesuai takaran.


"Wangi banget kopinya, nikmat mana yang aku dustakan," ucap Kahfi keras sambil tertawa ke arah Bundanya.


"Sarapan dulu Fi, baru minum kopi, jangan dibiasakan minum kopi dengan keadaan perut yang kosong," ucap Bunda menjelaskan.


"Tadi habis bersihin halaman depan udah ngemil sama anak-anak makanan di toples Bunda," jawab Kahfi pelan.


Semalam setelah acara tahlilan, Kahfi dan beberapa pemuda yang masuk dalam anggora IRMA (Ikatan Remaja Masjid) dikandungnya diundang untuk mengikuti acara tahlil, dan selebihnya mereka ikut menemani dan menginap bersamaan di teras depan yang disulap sebagai kamar tidur.


"Fi, Bunda mau tanya, tadi Ayumi tanya Bunda, rumah ini sebaiknya untuk apa?" tanya Bunda Icha sambil mengaduk-aduk bubur itu agar tidak mengental.

__ADS_1


Kahfi tampak berpikir dan menyeruput kopi panas itu dengan nikmat.


"Bagaimana kalau dijadikan Rumah Singgah untuk anak-anak yatim piatu Bunda?" tanya Kahfi pelan lalu memakan bakwan jagung yang sudah ada di meja makan.


Bunda Icha terus mengaduk bubur itu dan sesekali membolak-balik ayam dalam penggorengan.


Bunda Icha membalikkan tubuhnya dan duduk di kursi makan itu dan mengambil segelas air putih lau meneguknya sampai habis.


Kahfi hanya menatap Bunda Icha dan tersenyum lebar.


"Haus ya Bunda?" tanya Kahfi setengah meledek.


Bunda Icha hanya mengangguk pelan dan meletakkan gelas itu di meja makan.


"Rumah Singgah apa Panti Asuhan?" tanya Bunda Icha kepada Kahfi.


"Rumah Singgah, Bunda. Menurut Kahfi kalau Rumah Singgah bahasanya lebih halus dan kita buat sedemikian rupa agar berbeda dengan Panti Asuhan," ucap Kahfi menjelaskan.


"Berbeda gimana? Kalau ngasih ide jangan setengah-setengah," ucap Bunda Icha pelan.


Bunda Icha beranjak dari duduknya dan mematikan kompor. Bubur itu diaduk dan didiamkan, sedangkan ayam goreng tulang ditiriskan. Bunda mulai membuat kuah bubur dari air kaldu asli rebusan ayam yang dicampur dengan beberapa rempah-rempah dan bawang daun serta bawang goreng.


"Bunda wangi banget, ini bukan bubur ayam biasanya, ini bubur kok pake kuah?" tanya Kahfi pelan.


"Ini namanya Bubur sop ayam, ini enak banget, cobain Fi," ucap Bunda Icha pelan.


"Nanti Bunda, Fi mau suapin Ayumi dulu, lalu mengajaknya pergi ke bukit sebentar biar Ayumi bisa berteriak sekeras-kerasnya menghilangkan beban yang selama ini terpendam dalam hatinya," ucap Kahfi pelan.


"Kamu masih suka dengan Ayumi? Sebegitu pedulinya kamu dengan Ayumi?" tanya Bunda kepada Kahfi.

__ADS_1


"Hanya Ayumi yang bisa membuat Kahfi tersenyum, tapi saat ini Ayumi sedang bersedih, hatinya sedang berduka, apa salah jika Kahfi peduli? apa salah jika Kahfi ingin membuat Ayumi tersenyum kembali?" tanya Kahfi kepada Bundanya.


__ADS_2