
Hari ini adalah hari yang paling melelahkan berjalan mengitari gedung sekolah yang akan mereka timba ilmunya hingga kaki kedua sahabat itu terasa pegal dan nyeri.
Bulan dan Ayumi duduk di bawah pohon rindang dan bersandar disana, sambil menunggu proses pembuatan kartu pelajar yang harus dipakai selama berada di Sekolah tersebut.
Bulan mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil beberapa gambar sekitar gedung sekolah tersebut dan mengirimkannya kepada Ustad Ikhsan suaminya.
Suara dering ponsel Bulan begitu nyaring, Ayumi melirik ke arah nama ponsel yang menelepon Bulan.
'My Husband,' batin Ayumi mengeja nama yang tertera di layar ponsel Bulan.
Bulan menggeser tanda hijau ke kanan dan sambungan telepon itu langsung tersambung pada suami tercintanya, Ustad Ikhsan.
"Assalamu'alaikum, Mas apa kabar?" sapa Bulan dengan sopan kepada suaminya.
Ponsel itu menayangkan gambar Ustad Ikhsan yang sedang beraktifitas pagi, sarapan sendiri di meja makan di kos dekat Sekolah. Menu sarapan pagi itu terlihat bungkusan nasi gudeg lengkap dengan sayur krecek dan telur bacem serta peye paru kesukaannya.
"Waalaikumsalam, Mas baik-baik saja. Kamu disana bagaimana, Bulan?" tanya Ustad Ikhsan dengan lembut.
"Alhamdulillah baik, Kak Afnan dan Ayumi menjaga Bulan dengan baik. Ini sedang mengurus administrasi di Sekolah, mulain besok baru full time masuk sekolah," ucap Bulan menceritakan keadaannya saat ini lalu mengarahkan ponsel itu ke arah Ayumi yang sedang melamun menikmati pemandangan di sekitar gedung sekolah itu.
"Hai, ukhty Ayumi," ucap Ustad Ikhsan dengan sopan menyapa Ayumi.
"Ay, pak guru," ucap Bulan sambil menyenggol lengan Ayumi yang sedang melamun
Ayumi menoleh dan menatap Bulan lalu melihat ponsel yang menampilkan Ustad Ikhsan guru fiqih si Sekolahnya sedang sarapan.
"Pak Guru," ucap Ayumi menyala dengan ragu lalu tersenyum.
"Apa kabar Ayumi? Maaf sudah merepotkan ikut merawat Bulan," ucap Ustad Ikhsan dengan pelan.
"Sudah seharusnya bukan, sebagai sesama umat muslim," ucap Ayumi pelan memjawab Ustad Ikhsan yang tersenyum kepadanya.
Ustad ikhsan adalah sosok guru yang baik dan ramah, hatinya sangat lembut dan tidak pernah marah. Ustad Ikhsan adalah guru favorit di sekolah, banyak kaum hawa yang menjadikan Ustad Ikhsan sebagai idolanya. Namun kini, Ustad Ikhsan sudah tidak sendiri lagi, sudah ada Bulan yang selalu menemani dan mendukung segala aktivitas Ustad Ikhsan.
Setengah jam sudah Bulan berbicara dengan Suaminya melalui video call. Ustad Ikhsan harus segera berangkat ke sekolah agar tidak terlambat.
Ponsel sudah dimatikan dan dimasukkan kembali ke dalam tas sekolahnya.
__ADS_1
"Ay, kamu sedang apa?" tanya Bulan dengan suara pelan.
"Ini baca buku filsafat," ucap Ayumi pelan.
"Filsafat? Sejak kapan suka baca begitu?" tanya Bulan pelan dengan rasa penasaran.
"Sejak kemarin, saat Kak Afnan memberikan buku ini sebagai rekomendasi buku yang wajib Ayumi baca," ucap Ayumi pelan menjelaskan kepada Bulan.
"Lapar, cari makan yuk?" ucap Bulan mengajak Ayumi ke arah kantin sekolah untuk membeli sesuatu makanan dan minuman.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan lalu keduanya beranjak berdiri menuju kantin sekolah.
"Ay, kita makan dulu saja, nanti kita ke kantor lagu untuk ambil kartu pelajar, setelah itu kita ke toko buku ya," ucap Bulan pelan menjelaskan keinginannya hari ini kepada Ayumi.
"Baiklah Bu Ustadzah," ucap Ayumi pelan dan terkekeh pelan.
Ayumi dan Bulan sedang menikmati cemilannya di kantin sekolah. Entah apa nama makanan ini, sepertinya sulit untuk diucapkan namun rasanya enak di lidah.
"Udah puas teleponnya?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.
"Hemm, kesel nih ceritanya sama Bulan?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi sambil menggigit kebab isi daging unta yang sangat enak.
"Bukan kecewa, tapi Ayumi jadi terabaikan," ucap Ayumi pelan.
"Cepat habiskan, kita langsung ke kantor untuk ambil kartu pelajar," ucap Bulan tidak meneruskan pembicaraannya bisa lama jika berdebat dengan Ayumi.
Waktu istirahat santai di kantin dengan mencicipi beberapa makanan cemilan yang menjadi khas makanan di Mesir sudah selesai.
Kedua sahabat itu langsung pergi menuju kantor administrasi dan meninggalkan Kantin Sekolah itu.
Langkah kaki keduanya sangat pelan dan perlahan sambil menikmati keindahan pemandangan dan area sekitar gedung.
"Bulan, kamu yang masuk ya?" ucap Ayumi pelan kepada Bulan saat mendekati ruang administrasi itu.
"Kamu kenapa Ay, kita masuk bareng aja," ucap Bulan pelan menengahi.
"Sudahlah kamu saja, Ay mules mau ke kamar mandi," ucap Ayumi pelan dengan wajah yang terlihat pucat menahan sesuatu yang ingin di keluarkan.
__ADS_1
"Astagfirullah, Ayumi, makan apa sih? Tadi pagi juga cuma bikin bubur ala home made, padahal juga gak pedes," ucap Bulan pelan.
"Ayumi ke kamar mandi ya, gak tahan," ucap Ayumi setengah berteriak dengan cepat berlari menuju kamar mandi sekolah tersebut.
Ayumi masuk ke dalam salah satu kamar mandi. Kamar mandi itu sangat luas dan bersih. Sayup-sayup terdengar suara seseorang sedang mengumpat dengan sangat keras, satu tinjuan tangannya di pukulkan pada dinding kamar mandi.
"Siapa sih loe, dari bawah cuma dijinjing sama bokap gw, sekarang loe ngelunjak suka sama bokap gw, karena bokap gw kaya. Gw bikin hidup loe sengsara," ucap seorang wanita dengan kesal.
Tidak lama perempuan itu keluar dari kamar mandi dan Ayumi ikut keluar dari kamar mandi yang telah dipakainya.
Dalam perjalanan menuju kantor administrasi, Ayumi berpikir suara yang tidak asing itu, seperti kenal, namun siapa gerangan.
"Ayumi!" teriak Bulan dengan suara keras saat menunggu Ayumi di ruang tunggu dekat ruang guru.
Ayumi menoleh mencari asal suara melirik ke kanan dan ke kiri.
"Hei, Ayumi, Bulan disini," panggil Bulan dengan suara keras dan melambaikan satu tangannya agar terlihat oleh Ayumi.
Ayumi menatap lambaian tangan itu dan membalas lambaian tangan Bulan dan berjalan menghampiri Bulan yang masih duduk di kursi tunggu itu.
"Sudah beres?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.
"Sudah semua, yuk langsung ke toko buku, sekalian mampir mau beli cemilan kesukaan, gak enak minta punya Ayumi terus," ucap Bulan dengan suara pelan.
Mereka berdua berjalan keluar gedung sekolah dan pergi menuju toko buku terdekat dengan berjalan kaki.
Kedua sahabat itu berjalan sambil berbincang tentang mereka, pernikahan, cita-cita dan masih banyak hal lagi.
"Kita makan es krim dulu yuk, enak duduk di pinggiran begini, Ayumi beli es di kedai itu, kamu tunggu disini ya," ucap Ayumi pelan kepada Bulan.
"Baiklah, rasa mocca ya?" ucap Bulan dengan singkat memesan es krim dengan rasa kesukaannya.
Bulan menunggu di kursi taman yang sangat nyaman untuk bersantai, sedangkan Ayumi berjalan menuju kedai es krim untuk membeli dia es krim cone dengan rasa kesukaan mereka.
Ayumi sudah berada di kedai es krim dan memesan dua es krim cone dengan rasa mocca dan cokelat.
Kedua mata Ayumi menatap seorang perempuan dengan pakaian ketat dan sangat minim sekali, perempuan itu tampak jelas dan Ayumi sangat kenal. Tidak lama perempuan itu masuk ke dalam satu mobil mewah yang menjemputnya.
__ADS_1