Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
15


__ADS_3

Sudah sejak tadi antara Ayumi dan Rara tidak sehangat kemarin. Rara terlihat lebih cuek dan diam seperti awal kenal.


Ayumi sendiri tipe gadis yang pendiam, kalau tidak di mulai untuk bicara maka Ayumi akan tetap diam.


Bel tanda pulang sudah berbunyi. Semua murid sudah mulai membereskan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tas.


Hari ini untuk anak kelas tiga ada tambahan pelajaran oleh wali kelas masing-masing.


"Siang anak-anak. Pelajaran tambahan kali ini, Bapak akan berikan tugas. Besok pagi harus sudah dikumpulkan di meja Bapak. Bagikan soal matematika ini. Soal ini tujuh puluh persen selalu keluar dalam ujian nasional, jadi tolong di kerjakan dengan baik," ucap Pak Afnan kepada seluruh muridnya.


Soal matematika itu di bagikan oleh ketua kelas. Lalu semua murid boleh pulang ke rumah masing-masing.


Ayumi sudah menunggu di parkiran tempat tadi Kak Afnan memarkirkan motornya. Ayumi berdiri tepat di samping motor besar milik Afnan.


"Sudah menunggu dari tadi? Ayumi lelah?" tanya Afnan pelan kepada Ayumi yang tampak kusut siang itu.


Ayumi menatap Kak Afnan yang ada dihadapannya dan tersenyum yang terlihat dipaksakan. Kepalanya menggeleng saat menjawab pertanyaan Kak Afnan lalu menjawab, "Tidak Kak Afnan, ada masalah sedikit sama Rara."


"Rara? Kenapa? Ada apa dengan Rara?" tanya Afnan yang mulai tidak tenang karena Ayumi menyebut Rara adik Zura.


"Ayumi baru tahu, kalau Kak Afnan sudah ta'aruf dengan Kak Zura, Kakak Rara. Lalu ..." ucapan Ayumi terhenti sebentar, sebenarnya ragu namun Ayumi harus tahu tentang ini semua agar tidak terjadi salah paham.


"Lalu apa?" tanya Afnan pelan namun terlihat sedikit mendesak agar Ayumi segera bercerita.


"Rara juga menyukai Kak Kahfi juga. Kayaknya Ayumi jangan dekat dengan Kak Afnan dan Kak Kahfi, takutnya ada yang salah paham. Ayumi mau fokus dengan sekolah dan cita-cita Ayumi agar Ayah dan Bunda bangga dengan Ayumi," ucap Ayumi pelan dan terlihat sedih.


Baru saja Ayumi memiliki sahabat, karena salah paham semuanya jadi runyam.


"Kita harus pergi sekarang Ayumi. Kita harus mendaftar ke Al Azhar hari ini juga. Ayok sudah tidak ada waktu lagi, kita bahas masalah Rara dan Zura nanti setelah urusan sekolah kamu beres," ucap Afnan tegas.


Afnan segera menaiki motor besarnya dan memberikan satu helm kepada Ayumi untuk dipakai. Ayumi memakai helm tersebut dan membonceng pada Afnan.


Motor besar itu melaju sangat cepat. Afnan berusaha untuk sampai ke Al Azhar tepat pada waktunya. Besok adalah batas terakhir pendaftaran murid baru untuk jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa.


Dalam hati Afnan selama perjalanan sudah tidak karuan. Rasanya ingin memeluk gadis kesayangannya itu dan memberikan kenyamanan agar tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan. Hanya fokus untuk sekolah dan mendapatkan gelar sebagai dokter.


Setengah jam perjalanan, akhirnya Afnan dan Ayumi sampai di Sekolah Al Azhar. Sekolah Favorit dan Terbaik di Kota Yogyakarta.


Ayumi turun dari motor besar itu, merapikan baju seragamnya dan berjalan mengikuti Afnan yang sudah lebih dulu memasuki gerbang sekolah.

__ADS_1


Afnan cukup hafal dengan situasi sekolah tersebut. Beberapa tahun yang lalu Zura adalah alumni lulusan Al Azhar, sempat beberapa kali mengantarkan Zura karena permintaan Bapak Afnan.


Pasalnya Kepala Sekolah Al Azhar adalah sahabat baik Bapak Afnan.


Afnan masuk ke dalam gedung sekolah dan bertanya pada seorang satpam yang sednag bertugas di sekitar lobby sekolah itu.


"Assalamu'alaikum, bisa bertemu dengan Pak Kepala Sekolah?" tanya Afnan dengan sopan kepada satpam tersebut.


"Waalaikumsalam, sudah ada janji?" tanya kembali satpam tersebut kepada Afnan dengan gaya sok tegas.


"Bilang saja, putra Kyai Toha ingin bertemu, " ucap Afnan singkat dan tidak bertele-tele.


Satpam tersebut menganggukkan kepalanya pelan dan masuk ke dalam ruangannya untuk menelepon ruang kepala sekolah.


Terlihat satpam tersebut menganggukkan kepalanya dengan patuh kepada si penerima telepon. Lalu keluar dan menyuruh Afnan untuk segera ke ruangan kepala sekolah di lantai dua.


"Langsung saja ke lantai dua ke ruangan kepala sekolah, ada di dekat ruang BP," ucal satpam tersebut dengan sopan menjelaskan.


Afnan dan Ayumi segera berjalan menuju lantai dua sesuai instruksi satpam. Beberapa guru dan murid yang masih ada di sekolah itu melihat penampilan Afnan dan Ayumi. Sebenarnya lebih fokus kepada penampilan Ayumi yang menggunakan rok pendek dan tidak berhijab sesuai aturan di sekolah ini.


"Itu ruangannya Kak Afnan, ada tulisan diatasnya," ucap Ayumi setengah berbisik sambil menunjuk ke arah ruangan tersebut.


Mereka berjalan beriringan menuju depan pintu ruangan kepala sekolah tersebut. Diketuknya pintu tersebut dengan pelan.


"Masuk!" teriak seseorang dari dalam dengan suara setengah berteriak agar terdengar sampai di depan.


Mendengar suara dari dalam untuk menyuruh keduanya masuk. Afnan membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan kepala sekolah diikuti oleh Ayumi dibelakangnya.


Wajah Kepala Sekolah tersebut terlihat tegas dan berwibawa, agak segan untuk berbicara.


"Silahkan duduk. Kamu Afnan? Putra Kiyai Toha sahabat saya?" tanya Pak Wibowo sang kepala sekolah.


"Betul sekali Pak Bowo," ucal Afnan dengan senyum merekah karena kepala sekolah tersebut masih mengingatnya.


"Apa kabarmu Afnan. Beasiswa ke Mesir tidak kamu ambil untuk melanjutkan S2mu?" tanya Pak Bowo kemudian.


"Saya ambil Pak Bowo. Mungkin saya menyelesaikan magang dulu baru berangkat. ke Mesir," ucap Afnan pelan menjelaskan.


"Adikmu Kahfi juga ke Mesir? Hebat dia sudah mau Hafizh Qur'an," puji Pak Bowo kepada kedua anak Kiyai Toha yang luar biasa.

__ADS_1


"Kahfi memiliki pilihannya sendiri. Ingin kuliah di Indonesia dan tetap memprioritaskan Hafizh Qur'an," ucal Afnan singkat menjelaskan.


Ayumi sejak tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan antara kepala sekolah dan Afnan. Cukup menarik pembicaraan keduanya hingga ada hal-hal yang tidak diketahui Ayumi akhirnya menjadi tahu


"Sampai lupa karena keasyikan bicara. Ada perlu apa hingga saya dikunjungi secara pribadi oleh putra Kiyai Toha," ucap Pak Bowo dengan sopan.


Afnan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan hormat.


"Maaf bila kedatangan kami berdua kurang sopan. Ini Ayumi anak didik saya, dia anak yang pintar dan cerdas, saya sebagai wali kelasnya ingin membantu mendaftarkan Ayumi melalui jalur prestasi. Ini hasil kerja keras Ayumi, ada beberapa piagam perlombaan dan nilai-nilai raport yang mendukung untuk bersekolah disini," ucap Afnan yang menjelaskan profil Ayumi dengan panjang lebar kepada Pak Bowo.


Pak Bowo menerima sebendel berkas tentang profil dan prestasi apa saja yang sudah dicapai oleh Ayumi. Pak Bowoulai membuka dan membaca serta meneliti satu per satu berkas tersebut. Senyumnya merekah seperti sedang menemukan berlian yang sangat indah.


"Ini benar-benar keren. Kamu anak Jakarta tapi memiliki segudang prestasi yang perlu diacungi jempol. Saya rekomendasikan untuk Ayumi bersekolah disini dengan jalur prestasi. Saya akan catat dan berikan inforini kepada pihak guru yang mengurus pendaftaran jalur prestasi ini," ucap Pak Bowo menjelaskan.


"Terima kasih pak Bowo sudah mau menerima Ayumi anak didik saya ini" ucap Afnan dengan penuh rasa syukur dan bahagia.


"Baiklah saya antar ke ruangan pendaftaran murid baru khusus jalur prestasi," ucap Pak Bowo pelan.


Pak Bowo, Afnan dan Ayumi kemudian menuju ruangan pendaftaran dekat dengan ruang Tata Usaha yang terletak di lantai satu. Pak Bowo memperkenalkan beberapa rekan guru Al Azhar yang mengurusi bagian pendaftaran jalur prestasi.


Sesuai kemampuan Ayumi yang mumpuni, Pak Bowo merekomendasikan Ayumi menjadi salah satu murid penerima beasiswa di Al Azhar dengan syarat harus selalu menjadi juara kelas setiap semester. Jika tidak, maka beasiswa akan dicabut dari pihak sekolah.


"Terima kasih Pak Bowo sudah mau menerima kami dan membantu kami," ucap Afnan dengan sopan.


"Sama-sama Afnan. Jangan segan bila memang ada hal-hal yang memang demi kemajuan bersama. Ayumi, belajar yang rajin dan terus berusaha" ucap Pak Bowo sedikit menasehati.


Setelah semuanya beres. Afnan dan Ayumi berpamitan untuk pulang. Perjalanan masih sangat panjang. Masih banyak kemungkinan yang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.


Hari ini adalah kebahagiaan bagi Afnan dan Ayumi. Keduanya saling melempar senyum dan sesekali saling berpandangan hingga menuju parkiran motor.


Sudah tentu Ayumi sangat bahagia, siapa yang tidak bangga bersekolah di Sekolah Terbaik dengan jalur prestasi dan dapat beasiswa hingga lulus. Ini sangat luar biasa, hanya saja beban Ayumi untuk tetap mempertahankan gelar sebagai juara kelas harus bisa didapatkan setiap semester.


Begitu pula yang dirasakan oleh Afnan. Afnan merasa bahagia, bisa membantu gadis kesayangannya itu. Memberikan kebahagiaan dan membantu melupakan kesedihannya.


"Kita makan siang dulu ya, Ayumi," ucap Afnan pelan kepada Ayumi yang sedang memakai helm.


"Iya Kak Afnan," ucap Ayumi singkat menurut pada Afnan. Sedari tadi perutnya memang sudah keroncongan untuk segera diberikan amunisi.


Keduanya sudah berada diatas motor. Afnan melajukan motornya dengan kecepatan sedang agar angin sepoi-sepoi di siang itu terasa sejuk menyentuh kulit tubuh.

__ADS_1


__ADS_2