
Sudah satu jam Ayumi dan Kahfi berada di rumah. Ayumi sibuk merapikan barang-barang untuk disimpan di lemarinya.
Sempat membahas rumah Nenek Arsy akan digunakan untuk apa? Menurut Kyai Toha rumah ini lebih baik dihibahkan atau diwakafkan atau sementara dipinjamkan untuk rumah singgah. Rumah Singgah ini rencananya akan dipakai oleh anak-anak yatim piatu yang tidak memiliki rumah.
Ada dua orang yang akan mengurus rumah ini sekaligus membantu merawat anak-anak yatim piatu.
Ayumi sangat antusias dan setuju dengan solusi yang diberikan oleh Kyai Toha dan Bunda Icha.
Ayumi mengosongkan kamar Nenek Arsy dan memindahkan seluruh barang-barang Nenek Arsy ke kamar Ayumi. Ayumi merapikan beberapa barang berharga milik Nenek Arsy ke dalam lemari kaca.
Bunda Icha masuk ke dalam kamar Ayumi dan duduk di kursi meja rias milik Ayumi.
"Kamu tidak apa-apa jika rumah ini dipakai untuk kegiatan sosial, Ay?" tanya Bunda Icha pelan.
Ayumi menoleh ke arah Bunda Icha lalu tersenyum.
"Ayumi ikhlas Bunda, asal Ayumi masih bisa tinggal disini bila Ayumi rindu," jawab Ayumi singkat sambil melipat beberapa pakaian gamis milik Nenek Arsy untuk diberikan kepada yang membutuhkan.
"Menginaplah di tempat Bunda," ucap Bunda pelan kepada Ayumi.
"Pasti Bunda, tapi kan sesekali Ayumi rindu rumah ini," ucap Ayumi pelan kepada Bunda Icha.
Ayumi merapikan tumpukan baju-baju tersebut di dalam kardus dan menutupnya untuk diberikan kepada yang memerlukan.
Ayumi beranjak dari duduk bersilanya dilantai menghampiri Bunda Icha lalu memeluk dengan erat.
"Ayumi sayang pada Bunda, tetaplah jadi Bundanya Ayumi, apapun yang terjadi," ucoa Ayumi pelan.
Bunda Icha melepas pelukan itu dan menatap lembut gadis cantik yang akan menjadi calon menantunya itu.
"Pasti Bunda akan menjadi yang terbaik, dan jadi Oma yang baik juga," ucap Bunda Icha terkekeh.
"Bunda itu sih kejauhan mikirnya harus menjadi Oma, masih lama juga. Tapi kalau Rara mau menikah muda dengan Kak Kahfi itu lain soal, Bunda bisa jadi Oma dengan cepat," ucap Ayumi pelan.
Bunda Icha menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bunda agak ragu, Kahfi berat menerima Rara untuk menjadi calon istrinya. Kahfi menerima karena hanya ingin membahagiakan Bunda," ucap Bunda Icha dengan suara lirih.
__ADS_1
Ayumi mengusap punggung Bunda Icha dengan pelan untuk menenangkan pikirannya.
"Nanti biar Ayumi yang bicara pada Kak Kahfi," ucap Ayumi pelan.
"Ay, kamu tahu kan?" tanah Bunda Icha lembut menatap Ayumi di sampingnya.
"Tahu apa Bunda? Ayumi gak paham sama maksud Bunda?" jawab Ayumi pelan.
"Kahfi juga menyukaimu, Bunda yakin kamu sudah tahu hal ini. Bunda tidak pernah menyalahkan rasa cinta itu datang, tapi berhati-hatilah dengan perasaan, karena akan terus tumbuh disaat kita mulai nyaman hingga melupakan dengan siapa kita berjuang dari awal," ucap Bunda Icha menasehati.
"Bunda, harus yakin sama Ayumi, Ayumi tidak memiliki perasaan yang sama dengan Kak Fi, mungkin selama ini memang kita dekat, namun itu semua hanya sebatas kedekatan antaan seorang Kakak dan Adik saja, tidak lebih dari itu," ucap Ayumi menjelaskan kepada Bunda Icha.
Bunda Icha mengangguk pelan tanda mengerti.
"Kamu mau kan dilamar Afnan, jika Afnan pulang nanti, agar tidak ada fitnah, atau mungkin kalian menikah secepatnya agar satu per satu masalah selesai," ucap Bunda Icha pelan.
"Bunda, bukan Ayumi menolak atau kurang berterima kasih dengan semua kebaikan Bunda. Kalau hanya untuk melamar, Ayumi sekarang hanya anak yatim piatu tanpa sanak saudara juga. Tapi kalau untuk menikah, Ayumi belum siap, kecuali kuliah Ayumi sudah di semester akhir," ucap Ayumi menjelaskan kepada Bunda Icha.
"Tunangan ya, Ay?" ucap Bunda Icha memberikan pilihan.
Ayumi terdiam dan berpikir sejenak. Bertunangan memang tidak sulit dan menjaga fitnah dari berbagai kemungkinan yang buruk.
"Ayumi bersedia bertunangan dengan Kak Afnan," ucap Ayumi pelan.
Ada keraguan saat menerima pertunangan itu, berbeda saat Afnan datang meminta untuk menjaga Ayumi agar tetap menjadi miliknya. Saat Afnan mengatakan itu, Ayumi benar-benar menjadi gadis yang paling berbahagia dan paling beruntung.
Namun, keraguan itu muncul saat komunikasi mereka tidak maksimal. Ayumi merasakan ada sesuatu yang beda saat menjalani hubungan ini.
"Kenapa Ay? Masih ragu?" tanya Bunda Icha yang menatap ada keraguan di mata Afnan.
Ayumi hanya tersenyum simpul, Bunda Icha bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membaca mimik wajah seseorang dan gerak gerik seseorang saat menjawab pertanyaan.
"Bukan ragu Bunda, lebih tepatnya apakah Ayumi bisa menjadi yang terbaik untuk Kak Afnan?" ucap Ayumi pelan.
"Yakin kamu tidak ragu dan ikhlas menerima pertunangan ini?" tanya Bunda Icha pelan.
"Inshaa Allah, Ayumi yakin sekali dengan keputusan yang Ayumi ambil," ucap Ayumi pelan kepada Bunda Icha.
__ADS_1
"Terimakasih ya Ay, sudah mau bertahan," ucap Bunda Icha pelan.
Siang ini, adalah hari yang paling menyesakkan bagi Ayumi. Meninggalkan rumah Nenek Arsy dengan sejuta kenangan manis dan pahit bercampur menjadi satu dalam suatu proses perjalanan kehidupan, hingga satu per satu mereka yang tercinta harus meninggalkan Ayumi untuk selama-lamanya.
Ayumi sudah siap untuk kembali ke Pondok Pesantren Al Azhar sore ini. Kahfi sudah siap untuk mengantarkan adik kesayangannya ini.
"Kamu sudah mau berangkat Ay, ini bekal untuk kamu, dan beberapa kue kering untuk cemilan disana bersama teman-teman di Pondok," ucap Bunda Icha pelan sambil memberikan satu kantong plastik berukuran besar kepada Ayumi.
"Ayuk Ay, keburu sore, nanti kamu terlambat masuk ke Pondok," ucap Kahfi pelan.
"Ay, jangan lupa pesen Bunda ya," ucap Bunda Icha pelan mengusap kepala Ayumi dengan lembut.
"Iya Bunda, Ayumi akan selalu ingat semua pesan Bunda," ucap Ayumi pelan sambil mengedipkan satu matanya pada Bunda Icha.
Kahfi dan Ayumi sudah berada di dalam mobil. Kahfi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Keduanya terdiam, hening sekali suasana di dalam mobil.
"Belajar yang rajin ya, jangan mikirin Kakak," ucal Kahfi pelan sambil terkekeh.
Ayumi hanya mendengus kesal mendengar ucapan Kahfi yang terlalu percaya diri.
"Kalau dikasih nasihat itu dijawab, bukan malah manyun gak karuan," ucap Kahfi dengan nada yang meninggi.
"Fokus aja sama jalan, gak usah banyak bicara Kak," ucap Ayumi dengan kesal.
"Kamu kenapa Ay, masih kecewa sama Kakak?" tanya Kahfi pelan.
"Gak ada apa-apa Kak, semua baik-baik saja bukan?" tanya Ayumi melirik Kahfi dengan tatapan yang sinis.
"Lalu kenapa wajahnya begitu? Kakak bukan anak kecil yang pandai kamu bohongi Ay," ucap Kahfi pelan.
"Ayumi mau tunangan dengan Kak Afnan secepatnya," ucap Ayumi lantang.
Kahfi sangat terkejut dan terbatuk-batuk mendengar ucapan Ayumi saat ini.
"Kamu gak lagi bercanda kan Ay?" tanya Kahfi pelan.
Ayumi menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Sama sekali tidak," ucap Ayumi singkat.
Kahfi kembali terdiam menatap jalanan di depan. Rasanya ikut sakit mendengar Ayumi akan bertunangan dengan Afnan, Abang kandungnya.