Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
22


__ADS_3

Tepat pukul tujuh malam setelah sholat isya, Ayumi dan Rara sudah berjalan kaki menuju Taman dekat rumahnya.


Taman itu ramai pengunjung terlebih di akhir minggu seperti ini. Taman ini mirip dengan alun-alun di pusat kota Yogyakarta.


Namanya Taman Bahagia, Taman yang selalu membuat bahagia pengunjungnya. Bila wanita yang datang pasti akan bahagia melihat berbagai macam bunga indah dan wangi semerbak. Bila anak-anak yang datang, mereka bisa bermain dan mencoba beberapa permainan yang tersedia di Taman ini. Bila laki-laki yang datang, mereka bisa melihat kebahagian orang-orang disekitar dan terakhir bisa mencicipi aneka makanan dari yang ringan dan berat, semua ada lengkap disini.


"Jauh tamannya Ay?" tanya Rara yang dari tadi sibuk merapikan pakaian dan rambutnya.


Rara yang sudah merasa bahagia sejak siang, saat Ayumi mengatakan Kak Kahfi mengajak mereka bertemu di Taman dekat rumah. Sejak itu juga Rara mulai sibuk dengan penampilannya, baju mana yang cocok untuk dipakainya, dan model rambut lebih baik di urai atau diikat. Cermin di kamar Ayumi kalau bisa bicara mungkin akan berkata, "Aku lelah melihat tingkah sahabatmu, setiap detik bertanya padaku, apakah aku cantik."


"Di ujung jalan itu, tinggal belok kiri. Disana Taman Bahagia itu berada," jawab Ayumi singkat.


Benar kata Kak Kahfi tadi siang, 'Kamu itu belum kenal Rara!'


Kata-kata Kahfi selalu terngiang dalam benak Ayumi. 'Sebenarnya apa yang terjadi? Tapi, sudahlah biarkan saja, Ayumi harus fokus ujian nanti,' batinnya didalam hati menenangkan dirinya sendiri.


Ayumi belajar untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting, belajar untuk tidak mengurusi urusan orang lain dan tetap fokus pada cita-citanya.


"Tapi bener kan Ay, Kak Kahfi mengajakku?" tanya Rara kembali seolah kurang yakin.


"Kalau itu aku kurang tahu, yang jelas tadi hanya berpesan kalian berdua datang ke taman jam tujuh malam," ucap Ayumi mengulang apa yang dikatakan Kahfi tadi siang, walaupun ada imbuhan sedikit agar Rara lebih senang dan percaya pada Ayumi.


"Ayumi, itukah tempatnya? Benar-benar indah dan menakjubkan sesuai dengan namanya Taman Bahagia," ucap Rara setengah berjerit.


Taman Bahagia malam itu penuh dengan lampu warna-warni ditambah langit malam yang terlihat cerah dihiasi bintang-bintang yang cantik. Aroma wangi dari beberapa bunga yang berada di sudut taman bahagia itu menambah semangat. Tempat bermain anak-anak yang terlihat ramai karena suara teriakan dan jeritan bahagia menggema di sekitar taman.


"Ya, itu Taman Bahagia. Indah bukan?" tanya Ayumi kembali kepada Rara.

__ADS_1


"Ini bukan indah lagi, tapi taman yang sempurna. Kira-kira Kak Kahfi menunggu kita dimana?" tanya Rara pelan kepada Ayumi. Kedua mata Rara berkeliling mencari sosok tampan kesayangannya.


Ayumi tampak tenang berjalan menuju taman indah itu. Tujuannya untuk membahagiakan Rara sahabatnya dan membahagiakan dirinya dengan makan makanan kesukaan Ayumi.


Keduanya masuk dari depan taman yang berpagar besi ditengahnya ada jalan masuk dan gapura yang terbuat dari ranting pohon.


"Ayumi!" panggil seseorang dari balik gapura setengah berteriak.


Ayumi dan Rara mencari sosok yang memanggil. Keduanya celingak-celinguk seperti mencari semut diantara ribuan telur semut.


"Hai, Kalian datang juga?" ucap Kahfi mengagetkan keduanya.


"Kak Kahfi! Rara jantungan nih, jangan bikin kaget kenapa?" ucap Rara dengan nada manja sambil memegang tempat jantung itu berada yang sempat berdegup kencang.


Ayumi dan Kahfi saling berpandangan dan melempar senyum. Dari arah belakang Ayumi ada seseorang juga yang mengikuti dan berdiri tepat di belakang Rara dan Ayumi.


Ayumi merasa ada seseorang dibelakangnya lalu menoleh sedikit. Laki-laki itu tersenyum manis kepada Ayumi. Ayumi memalingkan wajahnya dan tidak membalas senyuman itu.


Rara ikut menoleh ke belakang dan setengah berteriak, "Kak Afnan?!"


Rara tidak percaya ada Kak Afnan di taman ini juga, padahal Kak Zura bilang akan menemui Kak Afnan.


"Hallo Ra?" sapa Afnan kepada Rara yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


"Kak Afnan, bukannya ada janji dengan Kak Zura?" tanya Rara pelan dan sedikit ragu.


"Zura? Sejak kapan Kakak pergi bersama Zura, bertemu saja Kakak tidak pernah," ucap Afnan menjelaskan. Afnan melirik ke arah Ayumi yang masih diam dan tidak menanggapi ucapan Afnan.

__ADS_1


"Tapi... bukannya setiap malam Kakak bertemu Kak Zura di tempat biasa?" tanya Rara kembali dengan suara sedikit tertahan.


"Rara, Kakak tidak pernah pergi dengan Zura. Tanyakan pada Zura," ucap Afnan tegas.


"Justru itu Kak, Kak Zura selalu berpamitan untuk menjemput Kak Afnan dan pulang larut malam," ucap Rara dengan jujur.


Rara memijit keningnya yang sedikit pening secara tiba-tiba.


Afnan dan Kahfi juga terkejut mendengar ucapan Rara yang terlihat jujur apa adanya. Sedangkan Ayumi sedikitpun tidak mengomentari.


"Sepertinya ada yang tidak beres ini, Bang. Jangan sampai nama kita menjadi buruk karena hal buruk yang tidak kita lakukan. Kita harus bertindak," ucap Kahfi dengan tegas.


Sorot matanya terlihat jelas kalau Kahfi sedang marah. Afnan hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Kahfi. 'Apa yang sedang kamu lakukan Zura,' batin Afnan si dalam hatinya.


"Biarkan saja Kahfi. Zura itu berani, apapun pasti akan dilakukannya," ucap Afnan menjelaskan.


"Kak Zura tidak mungkin seperti itu Kak. Ayah memberikan Kak Zura ijin karena memang pergi bersama Kak Afnan bukan dengan yang lain," teriak Rara histeris.


"Tapi ini fakta Ra. Kakak malam ini tidak pergi bersama Zura. Bahkan malam-malam kemarin juga Kakak tidak pernah pergi bersama Zura. Kakak sudah memutuskan untuk mengakhiri ta'aruf itu karena Kakak tidak bisa menerima Zura," ucap Afnan dengan suara lantang.


"Apa?! Rara gak salah dengar?" ucap Rara dengan tidak percaya. Kedua alis Rara saling bertautan karena bingung dan aneh.


"Itu yang sebenarnya terjadi. Kakak mencintai Ayumi bukan Zura atau wanita lainnya," ucap Afnan dengan suara keras dan lantang.


Ayumi mendengar ucapan itu langsung menelan ludahnya dan menundukkan kepalanya. Kahfi langsung menatap Kakaknya dengan tidak percaya. Rara yang terkejut mendengar pengakuan Afnan juga hanya bisa menarik napas dalam-dalam.


"Kakak ulangi agar kalian semua tahu, siapa gadis yang selama ini Kakak jaga hatinya. Dia adalah Ayumi, Kakak sangat mencintai Ayumi. Kami akan menikah setelah Ayumi menggapai cita-citanya. Kakak bersedia menunggumu Ayumi," ucap Afnan dengan tegas.

__ADS_1


Rara dan Kahfi hanya saling berpandangan. Kahfi yang paling merasakan sakit dan kecewa, rasanya hati Kahfi seperti di hujam batu yang sangat besar. Rasanya ingin memukul batang pohon hingga rubuh.


Ayumi hanya terdiam dan tidak menjawab ucapan Afnan. Hatinya senang, mendengar Afnan akan menunggunya tapi rasanya risih saat Afnan harus mengungkapkan rasa cintanya di depan umum seperti ini.


__ADS_2