Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
51


__ADS_3

Sinar matahari sudah mulai mengarah ke ufuk barat. Suara adzan sudah nyaring terdengar saat Ayumi dan Kahfi masih dalam perjalanan pulang.


Panggilan Allah SWT lebih penting dari apapun juga. Sebagai umat muslim wajib melaksanakan kewajibannya untuk melaksanakan sholat wajib tepat pada waktunya, tanpa menunda waktu sholat wajib selama itu masih ada waktu dan bisa dikerjakan, tidak ada alasan apapun.


Tanpa persetujuan Ayumi, Kahfi membelokkan motor besarnya ke arah masjid kecil yang terlewati selama perjalanan pulang. Motor besar kesayangannya itu sudah berhenti dan diparkirkan ditempat yang sudah disediakan.


Ayumi hanya terdiam dan tidak merespon selama yang dilakukan Kahfi adalah untuk kebaikan dan hal positif, tidak perlu dikomentari.


Sambil melepaskan helm full facenya, wajah tampan Kahfi terlihat sempurna, garis lesung pipi yang tercetak jelas diantara kedua pipinya menambah ketampanan lelaki yang berdiri dihadapan Ayumi.


Ayumi menatap Kahfi tanpa berkedip. Baru saat ini mereka begitu dekat dan saling bertatap lekat satu sama lain.


"Kenapa Ay, Kakak ganteng ya?" tanya Kahfi pelan dengan rasa percaya diri tingkat tinggi.


"Hem, ganteng," jawab Ayumi pelan dengan memutarkan kedua bola matanya dengan malas.


Ayumi sempat kagum dan sempat membatin pada dirinya sendiri, 'Nikmat mana yang kamu dustakan Ay, ganteng banget makhluk yang berada di depanmu ini.'


Ada perasaan yang berbeda saat menatap Kahfi saat ini. Hati Ayumi berdesir hebat saat melihat jakun Kahfi bergerak-gerak menambah kemaskulinan lelaki yang saat ini sedang berhadapan dengannya.


"Alhamdulillah, sudah di akui kalau ganteng, tinggal menunggu di akui sebagai calon kekasih halal," ucap Kahfi Dengan santai lalu melepaskan jaket levisnya dan diletakkan diatas motor besarnya.


Ayumi mendengar dan menyimak ucapan Kahfi, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kakak ngomong apa sih? Suka ngelantur aja," ucap Ayumi pelan lalu meninggalkan Kahfi untuk segera berwudhu dan melaksanakan sholat ashar berjamaah di dalam masjid.


Belum sempat, Kahfi menjawab ucapan Ayumi. Ayumi sudah pergi meninggalkan Kahfi yang masih berada di parkiran motor masjid. Kahfi berjalan sambil menatap punggung belakang Ayumi yang jalan beberapa meter di depannya.


Setengah jam mereka melaksanakan sholat wajib. Kahfi keluar lebih dulu dan menunggu Ayumi di tempat tunggu dekat parkiran.


Ayumi masih duduk diatas sajadahnya, kedua matanya menatap lurus ke depan. Kedua tangannya masih menengadah ke atas sambil berdoa. Bibirnya bergerak-gerak namun tak ada suara yang terucap. Sesekali kedua matanya mengedip sebentar.


'Jagalah hati ini untuk tetap setia dan jagalah cinta ini agar tetap utuh hingga waktunya nanti. Jangan biarkan perasaan ini berubah menjadi nafsu dan obsesi tapi jadikanlah cinta dan kasih sayang ini suatu bentuk kecintaan hambaMu kepada Allah SWT sang pencipta,' batin Ayumi di dalam hati.


Ayumi melipat mukenanya dan membereskan ke tempat semula, lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan ke luar masjid. Pandangannya ke arah parkiran motor, motor besar milik Kahfi masih ada disana.


Pandangan Ayumi mengedar ke segala ruang, dari sisi kiri hingga kanan tidak ada yang terlewati sambil menuruni anak tangga dengan pelan.

__ADS_1


Dari kejauhan Kahfi melambaikan tangannya untuk menghampirinya yang sedang duduk santai di taman dekat masjid. Banyak penjaja makanan disana, taman yang tertata rapi dan bersih sehingga membuat nyaman pengunjungnya.


Ayumi dengan cepat menuruni anak tangga dan menghampiri Kahfi yang sudah duduk di kursi besi berwarna putih. Ada beberapa makanan kecil dan minuman yang sudah dibelinya sambil menatap air mancur yang tidak jauh dari tempat duduknya.


Suara anak kecil berteriak dan berlari-larian menambah suasana menjadi lebih hangat dan riuh.


Ayumi sudah berdiri di belakang kursi taman sedangkan Kahfi masih fokus menatap air mancur yang terlihat sejuk di mata. Tanpa menoleh, Kahfi sudah sangat hapal dengan aroma wewangian Ayumi, itu tandanya gadisnya sudah hadir di dekatnya.


"Duduklah Ay, dekat Kakak, apa tidak lelah berdiri terus dibelakang?" tanya Kahfi pelan. Pandangannya tetap ke arah depan.


Ayumi memutari kursi taman itu dan duduk tepat disebelah Kahfi dan menatap ke arah depan seperti apa ynah dilihat Kahfi.


Pandangan Kahfi kini beralih pada gadis pujaannya. Menatap sendu pada kedua mata gadisnya itu.


Ayumi membalas tatapan itu, ada getaran luar biasa yang bergejolak dalam hatinya saat melihat mata itu, mata yang sama, yang sering muncul saat memanjatkan doa-doa dan permohonan disepertga malamnya. 'Apa maksud dari semua ini,' tanya 'Ayumi dalam hatinya.


Ayumi langsung menundukkan kepalanya dan berucap istighfar sebanyak mungkin dalam hatinya.


"Makanlah ini cemilan kesukaanmu," ucap Kahfi memberikan sebuah plastik berisi bakpau rasa ayam.


Ayumi melihat bungkusan itu tercium aroma wangi khas dari bakpau. Hatinya tersenyum bahagia. 'Aku ini kenapa, diperhatikan seperti ini aja seperti berbeda rasanya, dan darimana Kak Kahfi bisa tahu makanan kesukaanku,' batinnya bertanya-tanya.


"Sudah, makanlah, tidak perlu gengsi dan malu sama Kakak. Tidak perlu bertanya-tanya darimana Kakak tahu tentang kamu apapun itu," ucap Kahfi menjelaskan.


Ayumi menoleh ke arah Kahfi dan tersenyum, karena Kahfi tahu betul apa yang sedang ada dalam pikiran Ayumi.


Tanpa rasa malu, Ayumi pun mulai memakan dan mengunyah bakpau ayam itu dengan nikmat.


"Enak kan?" tanya Kahfi pelan sambil melirik ke arah gadisnya itu.


Ayumi melirik dan tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan tanda setuju dengan ucapan Kahfi.


"Kakak gak makan?" tanya Ayumi yang baru sadar ternyata dia makan sendiri, padahal disana ada beberapa makanan yang sudah dibeli oleh Kahfi, namun Kahfi tidak menyentuh sedikitpun makanan itu.


Kahfi hanya menatap air mancur itu dan tetap diam tidak menjawab pertanyaan Ayumi. Jiwa dan raga serta hatinya saat ini sama seperti air mancur itu, mempunyai harapan dan mimpi yang tinggi namun terjatuh kembali saat hatinya kembali kosong karena harapan yang belum pasti.


Ayumk mengunyah makanan yang ada di mulutnya dengan pelan dan menelannya. Wajah cantiknya menatap wajah Kahfi dari arah samping.

__ADS_1


Memang begitu sempurna ciptaanNya. Melihat matanya, alis matanya, bulu matanya, hidungnya, bibirnya, lesung pipinya dan semuanya tampak sangat sempurna, tidak ada satu goresan kesalahan.


"Sudah puas menatapnya? Mumpung belum menikah jadi gak zinah mata, tapi gadis yang sholehah alangkah baiknya tidak menatap laki-laki seperti itu," ucap Kahfi dengan tegas.


Rasanya seperti tertampar, Kahfi berucap seperti itu. Ayumi langsung memalingkan wajahnya menatap air mancur kembali. Makanannya segera dikunyah sampai habis.


"Ay," panggil Kahfi lembut.


"Iya Kak," jawab Ayumi lembut. Pandangannya tidak lepas pada seorang anak kecil yang sedang menjajakan sesuatu di dekat air mancur.


"Lihat air mancur itu, begitu indah dan sejuk sekali di pandang. Air mancur itu ibarat kamu Ay," ucap Kahfi pelan.


"Ayumi lihat Kak, memang begitu indah sekali. Tapi kenapa harus seperti Ayumi?" tanya Ayumi pelan dan bingung.


"Setiap kali Kakak melihat kamu, perasaan Kakak seolah menginginkan dirimu untuk lebih dari sekedar sahabat, lebih dari sekedar Kakak beradik dan lebih dari sekedar seorang yang mencinta. Tapi saat harapan Kakak sudah berada di puncak, hati Kakak harus menerima kenyataan pahit, bahwa kamu adalah gadis yang akan dimiliki seutuhnya oleh saudara kandungku sendiri, dia adalah Afnan Putra Al Toha, Abang Kahfi Al Kautsar," ucap Kahfi pelan. Kedua matanya terpejam dan menarik napas dalam dan dihembuskan dengan sangat pelan.


Ayumi mendengarkan dengan baik dan seksama setiap kata ucapan Kahfi tidak ada yang terlewatkan. Ada rasa sakit saat Kahfi mengatakan itu semua. Kejujuran dan ketulusannya begitu kentara dan terasa menusuk ke dalam jiwa raga Ayumi.


"Kenapa harus Ayumi? Ada Rara yang selalu menanti Kakak," ucap Ayumi pelan.


"Jangan pernah katakan nama itu lagi, Ay. Kakak hanya tulus mencintaimu, apapun yang terjadi dan sampai kapanpun cinta itu tetap murni dan suci untukmu Ayumi, hanya padamu," ucap Kahfi lirih.


"Ada Rara, Kak Fi. Terimalah Rara dalam hati Kak Fi, lupakan Ayumi, Kak," tegas Ayumi dengan nada memohon.


"Kakak tidak bisa menghilangkan namamu yang sudah sering Kakak ucap di sepertiga malam Kakak. Rara hanya Kakak anggap sebagai adik, tidak lebih dari itu, Ay," ucap Kahfi pelan.


"Jangan sakiti Rara, Kak. Ayumi mohon," ucap Ayumi memohon.


"Demi kamu Ayumi, Kakak akan menjaga Rara, Kakak akan membahagiakan Rara, Kakak tidak akan menyakiti Rara, semua Kakak lakukan demi kamu Ayumi, hanya demi kamu," tegas Kahfi.


"Jangan demi Ayumi, Kak. Kakak tahu kan, Ayumi sudah mencintai Kak Afnan," ucap Ayumi pelan menjelaskan.


Kahfi hanya tersenyum getir, dan mengatur kedua bibirnya, rasanya ingin berteriak dan memperkenalkan pada dunia, gadis disampingnya ini adalah miliknya.


"Abang Afnan? Itu lelaki yang berhasil merebut hatimu karena masa lalu kalian? Itu semua bisa dilakukan pada siapapun jika ada kesempatan," ucap Kahfi tegas.


"Tapi itu semua bukan kebetulan semua memang sudah garis hidup kita berdua dipertemukan kembali dan hati kami disatukan dalam cinta," ucap Ayumi tidak mau kalah menjelaskan.

__ADS_1


"Cukup Ayumi, kenapa dalam pikiranmu hanya ada nama Abang, Abang dan Abang Afnan saja! Tidakkah kamu menghargai perasaan Kakak sedikit saja, jika kita sedang bersama saat ini, hargai Kakak yang juga mencintai kamu, Ay," ucap Kahfi menatap wajah Ayumi dengan sendu.


__ADS_2