
Sudah di takdirkan menjadi anak gadis pewaris tunggal dari keluarga bangsawan yang sangat kaya raya. Kekayaan ini tak lantas membuat Moneta bahagia dengan hidupnya.
Gadis imut dan mungil bernama Moneta yang masih duduk di kelas XII, Sekolah Pradiva. Sekolah favorit dan terkenal dengan sekolahnya para orang kaya dan kaum bangsawan.
"Mony ..." panggil Mommy Anya kepada anak gadisnya. Mony adalah panggilan sayang Moneta sejak kecil. Sudah di pastikan, jika ada yang memanggil Mony berarti ia mengenal Moneta sejak kecil, atau kerabat dari Keluarga Besar Pangestu.
"Ya, Mom ...." jawab Mony denagn suara lantang dari lanatai dua dan menuruni anak tangga untuk segera sarapan bersama dengan kedua orang tuanya.
Mony meletakkan tas sekolahnya dan mencium pipi Mommy dan Daddy tercintanya.
"Mony ... Hari ini Kakek dan Nenek akan datang. Mereka mau makan malam bersama di taman belakang. Ingat, kalau main tidak boleh melebihi wakti senja. Paham?" ucap Daddy Mony mengingatkan.
"Siap Daddy. Memangnya ada acara apa? Kok tumben banget, Kakek dan Nenek mau datang? Ini bukan waktu liburan," ucap Mony dengan sopan. Mony memotong sandwich di piringnya menjadi potongan kecil lalu di tusuk dengan garpu dan di nikmati satu per satu potongan sandwich kecil itu.
__ADS_1
"Pernikahan kamu, Sayang. Usia kamu kan sudah tujuh ...." ucapan Daddy Paskalis langsung terhenti melihat putri semata wayangnay langsung terbatuk -batuk seperti tercekik.
Uhuuk ... Moneta terbatuk beberapa kali hingga Mommy Anya memberikan air dari dalam gelas untuk di minum oleh Moneta.
"Kalau makan itu pelan -pelan, Sayang. Jangan terburu -buru," ucap Mommy Anya lembut sekali.
"Apa Dad? Menikah? Daddy gak salah bicara kan?" tanya Moneta pada Daddynya. Moneta tak habis pikir, usianya saja belum genap tujuh belas tahun, masih dua bulan lagi, sudah akan di nikahkan. Mana belum jelas jodohnya siapa.
"Sayang ... Sudah menjadi tradisi keluarga kita untuk menikahkan putrinya di usia tujuh belas tahun. Lagi pula, sejak kecil, kamu itu sudah memiliki jodoh dan sekarang sudah saatnya di pertemukan dan kemudian di nikahkan," ucap Daddy PAskalis pada Moneta.
"Moneta gak mau di jodohkan. Lagi pula, Moneta masih ingin sekolah tinggi dan berkarir," ucap Moneta menolak dengan tegas.
"Monny!! Sejak kapan Daddy mengajarkan kamu untuk kurang ajar? Selama ini, apapun yang kamu inginkan selalu Daddy turuti. Kini giliran kamu untuk menuruti keinginan Daddy!! Ikuti aturan main keluarga besar kita. Jangan permalukan nama baik Daddy," ucap Daddy Paskalis pada Moneta.
__ADS_1
Moneta terdiam dan tak berani membantah. Tapi hatinya berontak dan memikirkan cara untuk pergi dari rumah untuk menggagalkan rencana perjodohan itu.
"Urus anak gadismu ini, Anya!! Jangan sampai acara minggu depan hanay karena Moneta berontak dengan perjodohan ini," ucap Paskalis pada istrinya dengan kantang dan tegas.
Paskalis menyudahi sarapan paginya dan meninggalkan meja makan menuju ke arah depan untuk berankat menuju kantor. Anya, istrinya mengikuti dari belakang dan mengajak bicara lembut pada suaminya.
"Sayang ... Seharusnya kita bisa bicara pelan -pelan. Aku tahu ini pasti berat bagi Moneta, ia masih kecil," ucap Anya membela anak gadisnya.
"Ini sudah menjadi aturan main keluarga kita, Anya. Tidak ada yang bisa lari dari aturan ini. Fathur dan Moneta memang harus kita nikahkan," ucap Paskali lantang.
"Iya Sayang. Nanti aku bicara sama Monet, dia pasti akan paham soal ini," ucap Anya berjanji untuk bicara dari hati ke hati dengan putri semata wayangnya.
"Aku tidak mau, keluarga kita di permalukan karena sikap Moneta. Ini tanggung jawab kamu, Anya," tegas Paskalis pada istrinya.
__ADS_1
Paskalis langsung mencium kening dan pipi Anya lalu naik masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke kantor besarnya.