
Ayumi dan teman barunya yang bernama Bulan sudah terlihat akrab. Sudah beberapa hari ini mereka terlihat selalu bersama dari awal hingga acara ospek berakhir baik di Sekolah maupun di Pondok Pesantren.
Kini siswa dan siswi baru tersebut sudah menyandang status sebagai siswa dan siswi santriwan dan santriwati.
Satu bulan sudah berjalan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Azhar. Ayumi dan Bulan selalu semangat mengikuti kegiatan belajar mengajar yang dilakukan disana. Mereka berdua memiliki sifat dan karakter yang sama, sama-sama memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata dan mereka berdua selalu mencari ilmu baru dengan sering mengunjungi perpustakaan atau sekedar ke ruang belajar bersama untuk mencari sesuatu hal yang bisa dijadikan pelajaran bagi mereka berdua.
Kebetulan Ayumi dan Bulan tidak berada dalam satu kelas yang sama sehingga mereka berdua sering sekali bertukar pikiran tentang hal-hal yang didapat di kelas. Cita-cita keduanya pun juga sama, Ayumi yang hanya ingin menjadi dokter umum, sedangkan Bulan bercita-cita menjadi seorang dokter Gigi.
"Ay, sini duduk, udah Bulan pesankan makanan untukmu," ucap Bulan memanggil Ayumi yang baru saja sampai di kantin sekolah.
Waktu istirahat sudah berlalu lima menit yang lalu, karena kelas Ayumi sedang ulangan harian, waktu istirahat agak terlambat.
"Hai, Lan, gimana udah siap untuk ulangan Fisika? Susah banget, ada soal yang buat kita jadi rancu dan ambigu, tentang gaya gravitasi, nanti soalnya baca dengan seksama ya," ucap Ayumi pelan memberitahukan kepada Bulan.
"Siap Ukhty, akhir bulan nanti Ayumi pulang atau disini saja?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi.
"Ayumi akan pulang menemui Nenek Arsy, sudah satu bulan lebih Ayumi tidak bertemu, hanya Bunda Icha dan Kak Kahfi yang menjenguk Ayumi disini," ucap Ayumi lirih.
"Bulan juga pulang tapi ke rumah Mama bukan ke rumah Papa," ucap Bulan pelan menjelaskan.
Bulan adalah seorang anak tunggal yang broken home. Sejak SD kedua orang tuanya sudah berpisah dan menikah lagi dengan pasangan baru masing-masing. Lalu Bulan hanya kesana kemari tidak jelas ikut dengan siapa. Setelah Bulan dewasa, Bulan memutuskan untuk tinggal di Pondok Pesantren.
"Mamamu bukannya tinggal diluar kota, Lan?" tanya Ayumi pelan sambil mengaduk-aduk saos ke dalam bakso pesanan Bulan.
"Iya, mau gimana lagi, Mama kan sudah menikah lagi dengan Papa baru, baru juga bulan kemarin. Kalau Papa, Bulan tidak mau membuat Papa banyak pikiran, anak tirinya ada empat dan membutuhkan biaya semua, sedangkan Papa hanya bekerja serabutan setelah mengalami kebangkrutan satu tahun lalu karena ditipu sahabatnya sendiri," ucap Bulan menjelaskan secara singkat tentang dirinya.
"Mamamu posisi dimana saat ini, Lan?" tanya Ayumi pelan.
__ADS_1
"Di Solo Ay. Suami barunya memiliki usaha baru di Solo," ucap Bulan pelan, sambil menyuapkan satu sendok bakso ke dalam mulutnya.
"Mau menginap dirumahku, Lan?" tanya Ayumi pelan.
Bulan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. Mulutnya penuh dengan bakso yang masih terkunyah.
"Kata Mama, saudara tiriku akan datang menemui Papanya bersama kekasihnya," ucap Bulan pelan.
"Baiklah Lan. Kalau mau menginap, pintu rumah Ayumi terbuka lebar untuk kamu, Lan," ucap Ayumi pelan.
Jam Istirahat sudah berakhir, mereka berdua kembali ke kelas masing-masing dan mengikuti pelajaran dengan baik.
Ayumi sejak tadi tidak fokus menerima pelajaran, pikirannya tertuju pada Rara. Rara sahabatnya yang sudah hampir tiga bulan tidak ada kabar beritanya.
'Semoga kamu baik-baik disana, Ra,' batin Ayumi di dalam hatinya.
Bel pulang berbunyi sangat keras membuat semua murid menghembuskan napas bahagia karena lelah mereka bisa terhenti saat itu juga. Para murid bergegas membereskan alat-alat tulis yang ada di meja belajarnya ke dalam tas sekolah lalu beranjak untuk pulang ke kamar mereka masing-masing.
Sesuai jadwal dan aturan yang ada dalam Pondok Pesantren Modern Al Azhar, setelah pulang sekolah dan makan siang di ruang makan semua santri harus tidur siang. Sebelum ashar harus sudah bangun dan membersihkan diri lalu berkumpul di aula putri untuk mengaji hingga waktu ashar berkumandang lalu dilanjutkan untuk sholat ashar berjamaah. Waktu rehat sekitar setengah jam kemudian melanjutkan kembali mengaji hingga petang saat matahari tenggelam dan waktu adzan maghrib berkumandang.
Bulan sejak tadi menunggu Ayumi di ruang makan, sudah ada dua piring dan dua gelas air putih disana untuk makan siang mereka berdua. Karena Bulan sudah sampai terlebih dahulu, Bulanlah yang mengantre makanan di ruang makan begitupun sebaliknya.
"Sudah sampai, Lan? Gimana ulangan Fisika nya?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.
"Alhamdulillah, bisa kok. Ay, sudah baca pengumuman di Mading sekolah?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi.
Keduanya sudah berada di meja makan dan. mulai menyantap makan siang yang sederhana itu.
__ADS_1
Ayumi menatap Bulan dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kelasku tidak lewat mading kalau pulang kan, Bulan. Emang ada apa?" ucap Ayumi sambil mengunyah sayur sop wortel yang terasa asin sekali. Raut wajah Ayumi terlihat menahan sesuatu dengan memejamkan kedua matanya.
"Kenapa?Asin ya?" ucap Bulan singkat, lalu terkekeh pelan.
Ayumi hanya mengatupkan kedua bibirnya dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Ada pengumuman apa?" tanya Ayumi pelan setelan menelan makanan kelebihan rasa itu dengan paksa ke tenggorokannya.
"Akan ada pertukaran pelajar ke Mesir, masing-masing angkatan akan diambil tiga orang terpilih," ucap Bulan penuh semangat.
"Ke Mesir? Serius Lan?" ucap Ayumi setengah berteriak dengan rasa bahagia. Kedua matanya menatap ke arah Bulan yang juga nampak berbinar.
"Iya Ay, tapi kuotanya hanya untuk tiga orang saja. Itu juga ada syarat dan ketentuan berlaku, bakal disaring benar-benar," ucap Bulan menjelaskan.
Bulan tadi sekilas membaca pengumuman itu tapi tidak sempat membaca sampai selesai karena penuh sesak dengan murid lain yang juga berharap bisa berangkat ke Mesir dengan gratis untuk pertukaran pelajar.
Ayumi sangat bahagia mendengar berita tersebut. Rasa rindunya pada Afnan yang sudah empat bulan ini tidak bertemu dan tidak berkomunikasi secara online.
Ayumi memang tidak mau dan membatasi diri untuk tidak tergantung pada Afnan. Kabar baik selalu di dapat dari Bunda Icha.
Hampir setiap hari Afnan memberikan kabarnya disana melalui pesan singkat kepada Bunda Icha ataupun Kahfi.
Berpisah jarak dan waktu tanpa ada komunikasi sama sekali membuat keduanya hanya saling merindu dalam hati.
"Kamu tampak senang sekali Ay, ada apa?" tanya Bulan pelan yang sejak tadi mengamati perubahan mimik wajah Ayumi yang terlihat memerah di bagian pipinya.
__ADS_1