
Kenyamanan tidur Ayumi mulai terganggu, padahal masih dini hari tapi tangan lembut itu sukses membuat Ayumi terbangun dan tidak ingin semuanya ini berakhir.
Ayumi membuka matanya perlahan lalu menatap Afnan yang masih samar sudah berada di depannya dengan senyum manis yang khas.
"Kamu sudah bangun Ay?" tanya Afnan dengan suara lembut saat melihat Ayumi sudah membuka kedua matanya
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan, tubuhnya masih lemas dan terasa sakit serta nyeri di sekujur tubuhnya.
"Sudah Kak Afnan," jawab Ayumi dengan suara lirih dan senyum merekah di sudut bibirnya.
Tubuhnya masih terasa pegal dan kaku pada bagian yang terluka bekas kecelakaan kemarin.
"Masih sakit tubuh Ayumi? Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Afnan pelan kepada Ayumi.
"Sakit, pegel, nyeri bercampur jadi satu, rasanya gak enak," ucap Ayumi pelan kepada Afnan.
"Mau bangun, biar Kak Afnan bantu? Ada kopi capuccino dan kebab kesukaan kamu, mau?" tanya Afnan pelan.
Ayumi tersenyum dan mengangguk pelan.
Afnan menumpuk beberapa bantal menjadi satu sebagai sandaran Ayumi duduk. Afnan membantu Ayumi menegakkan tubuhnya dan duduk bersandar pada tumpukan bantal.
"Mau kopi capuccinonya Kak Afnan," ucap Ayumi pelan.
Kak Afnan tersenyum melihat Ayumi yang bermain meminta sebelum ditawarkan oleh Afnan.
"Nah gitu, minta kalau mau tuh, jangan cuma diem dan dipendem, kalau minta kan pasti Kak Afnan belikan untuk kamu," ucap Afnan pelan sambil membuka tutup gelas kertas kopi capuccino lalu dibawa ke dekat Ayumi untuk segera diminum selagi masih panas.
Ayumi menghirup aroma wangi dari kopi capuccino yang menyebar di seluruh penjuru ruangan rawat inap. Kopi capuccino itu membuat mood Ayumi jadi bersemangat. Gelas kertas itu sudah berpindah tangan dan kini sudah dipegang oleh Ayumi dengan kedua telapak tangannya untuk menyalurkan rasa hangat dari kopi itu agar menjalar ke seluruh tubuh Ayumi.
"Wangi banget kopi capuccino ini," ucap Ayumi pelan sambil meminum kopi capuccino itu sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Kamu suka kan Ay?" tanya Afnan pelan sambil duduk di tepi ranjang bed rumah sakit itu.
"Suka banget malah Kak Afnan, ini enak banget, rasanya creamy banget," ucap Ayumi pelan.
Afnan tersenyum bahagia bila Ayumi tunangannya merasakan kebahagiaan karena dirinya.
"Mau kebabnya, mumpung masih panas, Kak Afnan suapin ya?" tanya Afnan pelan kepada Ayumi.
"Iya Kak Afnan, Ayumi mau," jawab Ayumi pelan sambil memegang gelas kertas berisi kopi capuccino itu dengan sangat erat.
Afnan mengambil bungkusan kebab panas itu dari nakas dan membuka bungkusan kertas itu lalu menyuapkan kepada Ayumi secara perlahan.
Ayumi menerima suapan itu dengan rasa bahagia. Ayumi mulai mengunyah kebab itu dengan nikmat.
"Ini jam berapa Kak Afnan? Sepertinya masih gelap?" tanya Ayumi pelan dengan mulut yang masih penuh dengan suapan kebab yang terlalu besar masuk ke adakan mulutnya.
Ayumi melirik ke arah jendela rumah sakit yang terbuka sedikit hordengnya dan terlihat jelas, pagi ini masih petang belum ada tanda-tanda sinar matahari beranjak naik dari ufuk timur.
Kedua mata Ayumi membola dan menatap Bulan sahabatnya sudah bangun.
"Sudah bangun Bulan? Mau kopi?" tanya Ayumi pelan sambil menunjukkan kopi capuccino yang ada dalam genggamannya.
"Minumlah Ay, Bulan sudah habis banyak," jawab Bulan pelan sambil terkekeh pelan dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Bulan sudah bangun sejak tadi, Kak Afnan juga membelikan kopi capuccino untuk dia dan kebab juga, kalian kan seperti pinang dibelah dua, apapun harus sama," ucap Afnan pelan menjelaskan.
Ayumi hanya tersenyum dan terkekeh pelan mendengar ucapan Afnan yang suka asal bicara.
"Bukan bagai pinang dibelah dua Kak Afnan, kebetulan saja, kesukaan dan selera kita sama," ucap Ayumi pelan.
"Sekarang habiskan dulu kebabnya, nanti istirahat lagi. Hari ini jadwal Kak Afnan sangat padat, takutnya baru bisa ke rumah sakit sore hari, makanya Kak Afnan ingin bercengkerama dan bisa menyuapimu pagi ini," ucap Afnan pelan menjelaskan.
__ADS_1
Ayumi menerima dua suapan terakhir kebab itu dengan suapan besar memenuhi seluruh langit-langit mulutnya.
"Kak Afnan, Ayumi mau cerita sedikit tentang hari kemarin," ucap Ayumi pelan sambil mengunyah dan menghabiskan sisa kebab yang ada di mulutnya dengan menelannya secara paksa lalu meneguk sisa kopi capuccino yang sudah mulai dingin hingga habis tidak bersisa.
Afnan menatap lembut wajah Ayumi dan kedua mata tunangannya itu, seolah mengisyaratkan kecemasan dan kepanikan serta kebingungan.
"Ada apa dengan kemarin? Apakah ada yang aneh dan ada yang membuatmu tidak mengerti?" tanya Afnan lembut menatap lekat kedua mata Ayumi yang masih terlihat sayu karena sakit.
"Kemarin Ayumi beberapa kali bertemu Kak Zura, tapi entah Kak Zura atau bukan yang jelas orang itu sangat mirip dengan Kak Zura, bahkan tingkat kemiripannya mencapai sembilan puluh sembilan persen, dari gaya berjalan, gestur dan wajahnya, yang membedakan adalah penampilannya dan cara berpakaiannya saja," ucap Ayumi pelan menjelaskan.
Afnan menatap lekat kedua mata Ayumi dengan heran. Rasanya itu adalah orang yang sama yang ditemui satu bulan lalu, dan kini wanita itu sering menelepon Afnan dan mengetahui semua apa yang Afnan lakukan.
Pandangan Afnan lurus ke depan menatap Ayumi, namun pandangan itu hanyalah pandangan kosong karena Afnan malah melamun mengingat kejadian satu bulan lalu yang kemudian dirunut hingga kejadian malam kemarin, dan semuanya itu bukan kesengajaan tapi sebuah perencanaan. Tapi motifnya apa, sampai wanita itu begitu antusias dan bersemangat untuk menghancurkan hubungan Afnan dan Ayumi.
"Kak Afnan kenapa? Kok malah diam? Menyimak Ayumi bicara atau tidak?" tabua Ayumi pelan dengan perasaan sedikit kesal.
Afnan tersadar lalu tersenyum kepada Ayumj dan mengangguk pelan.
"Kak Afnan menyimak, kamu cantik Ayumi, tadi sempat tidak fokus karena melihat kamu yang lucu dan menggemaskan," ucap Afnan pelan dan sedikit berbohong.
Bulan sudah selesai melaksanakan sholat tahajud tepat di sepertiga malamnya. Sejak tadi tidak fokus berdzikir dan hanya mendengar obrolan antara Afnan dan Ayumi tentang wanita yang ditemui mereka kemarin.
"Kak Afnan mau mengalihkan pembicaraan Ayumi, kenapa Kak Afnan seperti gugup? Ada yang Kak Afnan rahasiakan dari Ayumi?" tabya Ayumi pelan.
Afnan menggeleng kepalanya pelan dan terlihat sangat kaku sepeda yang disembunyikan.
"Sudahlah tidak mungkin itu Kak Zura, bukankah Kak Zura itu bekerja disana," ucap Afnan pelan dengan berpura-pura bertanya pada Ayumi.
Ayumi hanya menghembuskan napas pelan dan mendengus seolah Kak Afnan tidak mempercayai ucapan Ayumi.
Afnan membalikkan tubuhnya dan membereskan sampah dan gelas kertas yang sudah kosong untuk dibuang ke tempat sampah. Pikirannya kini bercabang, keadaan ini tidak boleh berlanjut. Afnan harus mencari tahu wanita itu sebenarnya siapa dan apa maksud dari semua ini.
__ADS_1