Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
88


__ADS_3

Liburan akhir pekan bersama keluarga Pak Sukoco menuju kota Bandung. Perjalanan dengan menggunakan mobil pribadi, ada dua mobil yang ikut dalam perjalanan liburan akhir pekan satu mobil milik Kahfi dan satu mobil milik keluarga Pak Sukoco.


Didalam mobil Kahfi hanya ada Kahfi, Afnan, Bunda Icha dan Ayumi. Sedangkan di Mobil Pak Sukoco hanya ada Mama Anna, Rara dan Bulan.


Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan dengan waktu tempuh sekitar dua belas jam dengan kecepatan sedang.


"Ay, ini yakin cuma liburan? Tidak ada acara apa gitu?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi.


"Tidak ada Bunda, tapi Ustad Ikhsan itu dari Bandung, apa mungkin ada acara Bulan?" ucap Ayumi pelan sambil bertanya pada dirinya sendiri.


"Bulan?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi yang masih terlihat bingung.


"Iya Bunda, Bulan itu rencananya akan dikhitbah oleh Ustad Ikhsan, beliau Guru Fiqih di sekolah Ayumi," ucap Ayumi pelan dan tenang.


"Bukankah Ustad Ikhsan itu yang memanggil Bulan saat Kakak menjemput kamu kemarin?" tanya Afnan pelan kepada Ayumi.


Kahfi menatap sekilas ke arah Ayumi melalui kaca spion tengah, pandangan mereka saling bertemu, namun tak saling memalingkan wajah, hanya saling menatap seperti merindu.


"Ayumi?" panggil Afnan pelan sambil menoleh ke arah Ayumi yang masih menatap wajah Kahfi dari kaca spion tengah.


Afnan menatap wajah Ayumi yang masih tak berkedip menatap Kahfi, Afnan beralih pada mata Kahfi yang juga menatap kaca spion tengah itu secara bersamaan. Kaca spion tengah itu diputar oleh Afnan ke arah dirinya. Tatapan Afnan tajam seperti ingin menerkam Kahfi, adik kandungnya sendiri.


"Kahfi!!" ucap Afnan dengan keras.


Kahfi tersentak kaget saat kaca spion tengah itu langsung diputar ke arah Afnan dengan panggilan nada tinggi terhadapnya.


Kahfi langsung fokus pada jalanan tanpa merespon Afnan, Abang kandungnya itu.


"Ayumi, sejak tadi Kakak berbicara, tapi kamu sama sekali tidak ada respon atau menjawab pertanyaan Kakak. Kamu kenapa? Melamun?" ucap Afnan dengan ketus dan menatap tajam mata Ayumi.


Ayumi terdiam dan menunduk, kesalahannya adalah menatap Kahfi melalui kaca spion tengah itu, dan bukannya memalingkan wajah karena bukan muhrim, tetapi malah saling menatap penuh cinta dan mendamba.

__ADS_1


"Kalau Kakak bicara itu disimak, bukan malah melamun," ucap Afnan dengan tegas menasehati Ayumi.


Bunda Icha menatap Afnan dan Kahfi secara bergantian, lalu memeluk Ayumi dari samping dan menyandarkan kepala Ayumi di bahu Bunda Icha.


"Maafkan Ayumi, Kak. Ayumi mengakui salah dan menyesal tidak akan mengulangi lagi," ucap Ayumi pelan.


Ayumi masih duduk bersandar pada Bunda Icha dan menusuk. Kedua matanya basah, karena suara keras Afnan terhadap dirinya.


"Sudah Afnan, Ayumi tidak sengaja melakukan hal ini," ucap Bunda Icha menengahi.


Sikap tegas Afnan yang membuat kesan Afnan itu galak dan terlalu keras dalam mengajar, tapi sebenarnya Afnan hanya bersikap bijak dan menjaga wibawa didepan banyak orang, agar tetap disegani, bukan malah di sepelekan. Namun, terkadang Afnan salah mengkondisikan dimana Afnan harus bersikap tegas dan kepada siapa saja sikap tegas itu di gunakan.


Perjalanan menuju Bandung yang santai dan lebih menikmati pemandangan yang ada, membuat Ayumi sangat bahagia. Ayumi bahagia berada ditengah-tengah orang baik dan keluarga yang baik seperti keluarga Bunda Icha.


Dua belas jam sudah perjalanan menuju Bandung dan akhirnya sampai dengan selamat, perjalanan panjang yang alhamdulillah lancar tanpa hambatan apapun.


Sore ini, dua mobil dari dua keluarga besar yang berbeda sudah terparkir di halaman villa yang sudah di sewa oleh Keluarga Pak Sukoco. Banyak hiasan cantik dan terlihat seperti akan ada acara besar di tempat ini.


Ayumi dan Bunda Icha sudah masuk ke dalam Villa tersebut, memandang takjub dengan ornamen yang keren dan unik itu.


Kahfi dan Afnan mengikuti dibelakang dengan membawa koper dan tas besar milik mereka dan milik Ayumi serta milik Bunda Icha.


"Ayumi, sini kita akan tidur bertiga dikamar mewah ini," panggil Bulan dengan keras kepada Ayumi.


Ayumi menoleh ke arah asal suara yang memanggil namanya.


"Bulan?" panggil Ayumi pelan sambil berlari kecil menghampiri Bulan yang berada didepan kamar mewah.


Bunda Icha tetap lurus ke depan mengikuti petunjuk nomor kamar sesuai dengan kunci kamar yang diberikan. Begitu juga dengan Kahfi dan Afnan yang mendapatkan kamar yang sama tepat disebelah kamar Bunda Icha.


Ayumi dan Bulan sudah masuk ke dalam kamar, didalam sudah ada Rara yang terbaring lemas karena kelelahan dalam perjalanan.

__ADS_1


Ayumi berjalan mendekati ranjang Rara, lalu memegang kedua tangan Rara dengan erat.


"Ra, apa yang sakit?" tanya Ayumi pelan sambil merebahkan diri disebelah Rara dan mengusap peluh di kening Rara dengan penuh kasih sayang.


Kedua mata Rara terpejam namun telinganya tetap mendengar suara Ayumi yang berbisik kepadanya. Hanya bulir air mata yang keluar dari ujung mata Rara yang belum sempat menetes ke pipi.


"Rara ..." panggil Ayumi pelan.


Rara masih terdiam dengan Maya terpejam. Tubuhnya sangat dingin bila kelelahan sudah seperti mayat hidup.


"Rara, kamu menangis?" tanya Ayumi pelan kepada Rara dan menghapus bulir kristal air mata itu dengan lembut.


Rara berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat karena sakit di kepalanya yang sudah sejak tadi terasa sangat pening.


"Ra?" panggil Ayumi pelan.


"Biarkan istirahat Ay, Rara sudah sering seperti itu, dan hanya istirahat yang bisa membuat Rara lebih baik, kecuali memang ada sesak atau sakit di bagian yang lain," ucap Bulan pelan menjelaskan.


Ayumi menatap ke arah Bulan dan tersenyum kecut kepada Bulan.


"Bulan, Rara itu saudara tiri kamu dan Rara sahabat Ayumi, kenapa kamu terkesan tidak peduli dengan Rara," tegas Ayumi dengan kesal.


"Bukan tidak peduli Ay, jangan salah paham. Rara memang begitu, harus banyak istirahat," ucap Bulan pelan dan tetap tenang.


Ayumi membentak seperti itu kepada Bulan karena Ayumi tidak tahu bagaimana cara membantu Rara. Ayumi hanya tahu Rara sakit, dan jika kambuh harus ada pertolongan. Namun, kenyataannya tidak seperti itu, penyakit Rara adalah penyakit serius yang sewaktu-waktu bisa kambuh karena kelelahan dan terlalu banyak berpikir keras.


Kedua mata Rara terbuka pelan, mengerjapkan perlahan dan menatap sendu ke arah Ayumi. Kedua tangan Rara menggenggam tangan Ayumi dengan erat.


"Ay, jangan panik, Rara sering seperti ini, dan Rara masih bertahan hidup, Rara mau sembuh biar bisa lihat Kak Fi wisuda, dan kita bisa menikah dan memiliki anak yang banyak," ucap Rara lirih sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Rara yang lirih dan terdengar sangat pilu membuat hati Ayumi menangis, jantungnya terasa ditimpa batu yang sangat besar, kulitnya seakan tercabik-cabik perih dan pedih. Cita-cita mulia Rara yang ingin menjadi seorang istri dan ingin menjadi ibu dari anak-anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2