
Ayumi berlari sekencang mungkin, entah kemana arah tujuannya. Sebisa mungkin berlari dan tidak bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya.
Langkahnya mulai pelan, tubuhnya mulai terasa lelah, degub jantungnya pun terasa sangat kencang berdetak. Pikirannya melayang pada Nenek Arsy yang sedang berada dirumah menunggunya.
Suara petir keras mengenai dahan pohon beringin yang ada di sekitar rumah sakit, suara ranting pohon yang patah membuat merinding di sekujur tubuh Ayumi.
Gema suara petir itu terdengar sangat keras dan getarannya terasa sampai hati dan jantung Ayumi.
Napasnya mulai terengah-engah dan berdiri bersandar pada dinding gedung rumah sakit. Kedua kakinya terasa lemas dan kaku karena keram. Ayumi duduk dilantai dan menselonjorkan kedua kakinya agar rasa keramnya hilang.
Kahfi berbalik menuju kamar Rara yang sedang dirawat tadi.
Semua orang menatap ke arah Kahfi yang tiba-tiba saja meninggalkan ruangan tersebut tepat setelah penyematan cincin kepada keduanya. Tapi kini kembali dengan wajah yang begitu santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Acara lamaran itu sudah selesai, Rara sudah dibaringkan kembali setelah sempat sesak melihat Kahfi yang tiba-tiba saja pergi meninggalkan ruangan tersebut saat acara belum selesai.
Perasaan Rara kecewa sudah pasti, yang jadi beban pikirannya saat ini, sama saja mempermalukan kedua belah pihak keluarga inti dan mempermalukan Rara sebagai calon istri Kahfi yang tidak bisa mengajarkan tata krama yang sopan dan santun.
Semua orang sudah duduk di sofa tunggu dalam ruangan tersebut dan memakan makanan yang sudah dimasak Bunda Icha dan beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh Mama Anna.
Rara sudah memejamkan kedua matanya, ditemani Bunda Icha dan Mama Anna, sedangkan Bulan ke luar ruangan untuk mencari Ayumi.
Air mata Rara sudah berada di pelupuk mata, rasanya sakit sekali diperlakukan seperti itu, dilamar hanya karena suatu keterpaksaan bukan karena ketulusan.
Hati Rara benar-benar sakit dan perih. Mencintai seseorang yang sama sekali tidak mencintai kita itu adalah beban moral yang sangat besar. Perlakuannya akan terlihat jujur dan santai tanpa menghargai perasaan dan orang-orang disekitarnya.
Bunda Icha menggenggam kedua tangan Rara dan menundukkan kepalanya mensejajarkan dengan telinga Rara yang masih bisa mendengar suara dengan baik.
"Dengarkan Bunda, Ra, Bunda janji sama Rara akan merubah sikap Kahfi agar bisa bersikap lebih manis dengan Rara. Rara cepet sembuh, cepat selesai sekolahnya agar cita-cita Rara tercapai sesuai keinginan Rara," bisik Bunda Icha lirih melegakan hati Rara.
Walaupun kedua matanya masih terpejam, Rara mendengar semua nasihat Bunda Icha. Hati Rara lebih terasa tenang dan lega mendengarnya.
__ADS_1
Bunda Icha mengusap kepala Rara dengan pelan.
Mama Anna hanya menatap gerak gerik Bunda Icha yang begitu sayang dan tulus kepada Rara.
"Jaga calon menantu saya dengan baik, Anna, bila ada sesuatu berikan kabar kepada saya," ucap Bunda Icha menitah.
"Semaksimal mungkin pasti akan saya lakukan," jawab Mama Anna dengan mantap.
Suara pintu terbuka lebar, Kahfi sudah kembali setelah beberapa menit yang lalu menghilang sebelum acara benar-benar selesai.
Bunda Icha segera menghampiri Kahfi ke dekat pintu kamar tersebut. Kyai Toha hanya menoleh sekilas begitu juga dengan Pak Sukoco yang sudah nampak dingin dan hilang rasa kagum terhadap Kahfi.
"Ayumi mana?" tegas Bunda Icha kepada Kahfi yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Fi, gak tahu Bunda," jawab Kahfi dengan santainya.
Mendengar ucapan Kahfi yang begitu cuek dan tampak tidak peduli, Bunda Icha tampak kesal dan menatap kedua mata putra bungsunya itu dengan sangat tajam.
Bunda Icha mengajak Kahfi ke luar ruangan rawat inap Rara dan berjalan menjauhi kamar tersebut.
"Kamu ini apa-apaan sih Fi?" tanya Bunda Icha pelan dan terlihat kesal menatap kedua mata putranya dengan tajam.
Kahfi tidak membalas tatapan Bundanya, lebih memilih menatap ke luar gedung. Sisa air hujan yang masih menetes dari atap gedung, dan suara gemericik air hujan yang masuk ke dalam pipa aliran air.
"Bunda seharusnya tahu, sejak awal Kahfi tidak suka dengan Rara," tegas Kahfi kesal.
"Rara itu sakit Fi, usianya tidak lama lagi. Apa salahnya kamu membahagiakan orang yang mencintai kamu sejak dulu. Buka hatimu untuk Rara, walaupun itu hanya rasa kasihan, Bunda mohon Fi," ucap Bunda pelan dengan nada memohon.
"Kahfi akan mencoba, tapi jangan pernah paksa Kahfi untuk mencintai Rara dengan tulus, itu sulit!" tegas Kahfi dengan nada yang meninggi.
"Bunda pegang janji kamu Fi, untuk selalu bisa membahagiakan Rara didepan Rara dan didepan keluarganya. Itu nilai plus untukmu Fi, sebagai membatu idaman mereka, jaga sikapmu Fi, jangan seperti anak-anak," ucap Bunda Icha menasehati.
__ADS_1
"Demi Bunda, demi Ayumi, Kahfi akan lakukan," ucap Kahfi mantap.
Bunda Icha hanya mengangguk pelan lalu menggelengkan kepalanya.
"Ayumi itu sebentar lagi milik Abangmu Fi, milik Abang Afnan, tolong ikhlaskan mereka bersatu, mereka saling mencintai Fi," ucap Bunda Icha mengingatkan.
"Apa Kahfi tidak boleh bahagia? Apa Kahfi tidak boleh berharap seperti orang lain berharap pada Kahfi?" teriak Kahfi di balkon sepi itu.
Hatinya hancur berkeping-keping, saat tidak ada yang peduli dengan perasaannya.
Bunda Icha memeluk erat tubuh putra bungsunya itu. Mungkin acara lamaran ini begitu mendadak dan terlalu cepat, tanpa ada koordinasi dan persetujuan dari Kahfi. Bapak Toha dan Bunda Icha menyanggupi permintaan Rara melalui Pak Sukoco karena kasihan.
Tapi berbeda cerita dengan Kahfi yang tidak bisa menerima alasan kasihan, baginya itu bukan alasan tapi paksaan secara sepihak.
"Maafkan Bunda Kahfi, maafkan juga Bapak, bukan maksud untuk membuatmu kecewa dan kesal seperti ini, tapi Bunda hanya kasihan melihat Rara dengan kondisi yang seperti ini," ucap Bunda Icha lembut dan masih memeluk putranya yang lebih tinggi darinya itu.
Kahfi membalas pelukan Bundanya itu lalu mengusap punggung Bundanya pelan
"Kahfi janji, Kahfi akan mencoba, tapi Kahfi tidak bisa janji kalau Kahfi bisa mencintai Rara," ucap Kahfi pelan. Hanya kata-kata itu yang bisa terucap dari bibir Kahfi.
"Terima kasih Fi, kesayangan Bunda," ucap Bunda Icha pelan.
Mereka berdua melepaskan pelukan erat kasih sayang antara Ibu dan Anak, lalu kembali ke ruangan Rara.
Semua orang berbincang dan menikmati makan malamnya, dan lupa akan Ayumi dan Bulan yang belum kembali sejak tadi.
Di dekat lobby rumah sakit Kasih Ibu, Ayumi masih bersandar pada dinding dekat pintu masuk lift barang.
Dari kejauhan Bulan menatap iba kepada Ayumi, sahabatnya itu.
"Ay, kamu tidak apa-apa?" tanya Bulan panik sambil menepuk-nepuk wajah Ayumi dengan pelan.
__ADS_1