Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
83


__ADS_3

Kahfi sudah sampai dirumah, saat memakirkan mobilnya ke halaman rumahnya, sudah ada satu mobil terparkir disana dekat saung bunga Bunda. Mobil yang sudah tidak asing dalam penglihatan Kahfi, mobil yang amat Kahfi kenal, mobil tersebut milik Pak Sukoco, Ayah Rara.


Perasaan Kahfi langsung tak menentu, bukan berprasangka buruk namun seperti biasa jika Pak Sukoco datang untuk bersilaturahmi, pasti ada sesuatu yang akan dibicarakan atau ada permintaan yang harus dipenuhi, semua demi Rara, demi kesembuhan Rara.


Kahfi sedikit mendengus kesal, baru saja Kahfi berbahagia karena bertemu gadis pujaannya, melihat senyuman manis yang selalu terukir di wajah gadis pujaannya itu. Namin kini semua sirna melihat penampakan sebuah mobil yang membuat pergerakan hatinya tidak bisa mencapai cinta yang seharusnya.


Kahfi turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam.


"Assalamu'alaikum," sapa Kahfi kepada semua orang yang ada di ruang tamu.


Semua mata memandang ke arah Kahfi dan tersenyum lebar.


Kahfi hanya tersenyum simpul, tanpa menampilkan rentetan gigi putih miliknya.


"Waalaikumsalam," jawab serempak semua orang yang ada di ruang tamu rumahnya.


"Sini duduk dekat Bunda Fi," panggil Bunda Icha pelan kepada putra bungsunya itu.


Kahfi mendekati satu persatu Tami dan menyalaminya, termasuk kepada Bapak dan Bundanya.


Kahfi berjalan menuju sofa yang diduduki Bunda, lalu duduk disebelah Bunda Icha.


Disana sudah ada Kyai Toha, Bunda icha, Mama Anna dan Pak Sukoco.


"Sehat Fi," tanya Pak Sukoco kepada Kahfi calon menantunya itu.


"Alhamdulillah, sehat Ayah," jawab Kahfi singkat.


"Darimana?" tanya Mama Anna kepada Kahfi pelan.


"Dari Pondok Pesantren Al Azhar, menjenguk Ayumi," jawab Kahfi pelan.


Kahfi menatap Mama Anna dan Ayah Sukoco secara bergantian, seperti ada pembicaraan serius sebelum Kahfi dayang.


"Mumpung sudah ada Kahfi, lebih baik kita kondisikan pembicaraan kita tadi Pak Sukoco," ucap Kyai Toha pelan menjelaskan.

__ADS_1


"Ada apa ini sebenarnya," tanya Kahfi penasaran. Jantungnya sudah berdegup kencang tak karuan.


Bunda Icha paham dengan nada suara Kahfi yang mulai meninggi itu lalu mengusap punggung Kahfi dengan lembut, seakan memberikan kenyamanan disana agar emosi Kahfi teredam dengan usapan lembut Bundanya.


Kahfi melirik Bunda Icha yang menatap lembut kedua mata Kahfi, seolah berkata turuti semuanya.


"Fi, Pak Sukoco ke rumah ini tentu ada maksud dan tujuan tertentu. Kita sebagai tuan rumah harus menghargai semua tujuan dan maksud itu," ucap Kyai Toha pelan.


"Katakan Pak, ada apa, jangan berbelit-belit, Kahfi malah bingung," ucap Kahfi dengan nada sedikit meninggi.


"Ayah ada dua pilihan untukmu Fi," ucap Pak Sukoco pelan kepada Kahfi.


"Apa itu Ayah?" tanya Kahfi pelan kepada Pak Sukoco.


"Ini masalah hubungan kalian berdua antara Rara dan Kahfi," ucap Pak Sukoco pelan.


"Ayah mau apa dari Kahfi?" tanya Kahfi mulai kesal dengan penjelasan Ayah Sukoco yang berbelit-belit.


"Kahfi, dengarkan dulu," ucap Bunda Icha pelan kepada Kahfi.


"Kahfi, Rara harus mendapatkan pengobatan di luar negeri. Sebisa mungkin kamu harus ada saat Rara disana. Maksud Ayah, bagaimana kalau kamu pindah kuliah disana, semua biaya kuliah dan biaya hidup kalian berdua, Ayah yang akan tanggung, asal kamu mau menemani Rara dalam waktu dekat dan tinggal di luar negeri," ucap Ayah Sukoco dengan mantap.


"Pilihan kedua?" tanya Kahfi pelan.


"Menikahi Rara, hanya kamu satu-satu harapan kesembuhan dan harapan Rara bertahan hidup," ucap Ayah Sukoco dengan suara lantang.


"Menikah?!" tanya Kahfi terkejut dengan ucapa Ayah Sukoco.


"Hanya ada dua pilihannya, dan Ayah yakin kamu akan memilih pilihan pertama," ucap Ayah Sukoco pelan.


Kahfi terdiam dan tampak berpikir kedua pilihan itu sangat sulit untuknya. Dengan pergi jauh, maka Kahfi tidak akan bertemu Ayumi kembali, tapi bila menikahi Rara, jarak dengan Ayumi juga akan terbatas karena Rara akan terus bersamanya.


"Gimana Fi?" tanya Bunda Icha pelan kepada putra bungsunya itu.


"Kahfi harus berpikir, kasih waktu untuk Kahfi," ucap Kahfi pelan.

__ADS_1


"Dua hari, Ayah kasih waktu dua hari untuk kamu berpikir," ucap Ayah Sukoco lantang.


"Baiklah dua hari, Kahfi mau ke kamar dulu," ucap Kahfi pelan menahan rasa jesal dan emosinya.


Kahfi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar tidurnya. Rasanya lemas dan lesu mendengar kabar yang tidak membuatnya bahagia. Pilihan sulit yang sama-sama merugikan dirinya. Tapi keinginannya untuk kuliah di luar negeri dan bekerja di sana adalah suatu impian yang sangat mustahil. 'Mungkinkah harus mengiyakan permintaan Ayah Sukoco, lalu jika Rara mau meminta lebih bagaimana?' batin Kahfi bergejolak tak karuan.


Kahfi menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan. Kahfi berjalan menuju ranjangnya dan duduk ditepi ranjang, satu kakinya dinaikkan ke atas kasur, kedua matanya berkeliling menatap seluruh isi kamar miliknya.


Diambilnya gitar kesukaannya dan mulai memetik senar hingga mengeluarkan musik yang sangat indah namun terdengar pilu karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Kahfi mulai membuka mulutnya dan bernyanyi pelan, kedua matanya terpejam mengikuti alunan musik yang menusuk hatinya. Kesal rasanya, namun harus dilampiaskan kepada siapa kalau bukan dengan bernyanyi atau berteriak keras.


Sepuluh menit sudah berlalu, Kahfi masih menyanyikan beberapa lagu pilu.


Bunda Icha mengetuk pintu kamar Kahfi dan membuka kamar itu. Terlihat Kahfi sedang bernyanyi sambil memetik gitar kesayangannya.


"Kahfi?" panggil Bunda Icha pelan lalu mendekati Kahfi dan ikut duduk di tepi ranjang milik Kahfi.


Kahfi membuka kedua matanya dan tersenyum pilu menatap Bunda Icha yang duduk dihadapannya.


"Fi, pilihlah pilihan yang menurut kamu itu jalan terbaik. Kadang kita akan dihadapkan pada solusi yang tidak kita suka, namun itu sebenarnya terbaik untuk kita," ucap Bunda Icha pelan kepada Kahfi.


Kahfi hanya tersenyum kecut, lalu meletakkan gitar miliknya disebelah ranjangnya.


"Semua pilihan itu menyudutkan Kahfi yang ujung-ujungnya Kahfi harus menikahi Rara," ucap Kahfi ketus.


"Mungkin itu sudah takdir kamu, Fi. Jodohmu adalah Rara. Kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang salah sebelum dipertemukan dengan orang yang tepat," ucap Bunda Icha pelan.


"Maksud Bunda apa?" tanya Kahfi kepada Bunda Icha.


"Jodoh itu gak akan kemana, bisa jadi kita dipertemukan dengan yamg lain sebelum dengan jodoh kita yang sesungguhnya, tapi ada juga yang menikah karena terpaksa padahal itu memang jodohnya. Intinya jangan menyalahkan takdir, tapi bagaimana kita menyikapinya dengan bijak dan menikmati prosesnya dengan sabar serta ikhlas," ucap Bunda Icha pelan menasehati Kahfi.


"Kalau Bunda jadi Kahfi, pilihan mana ynag terbaik untuk Kahfi?" tanya Kahfi pelan meminta pendapat Bunda Icha.


Bunda Icha hanya diam dan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Tanyakan pada hatimu sendiri Fi, masih ada waktu dua hari, pikirkan dengan baik," ucap Bunda Icha pelan.


__ADS_2