
Kahfi dan Rara sudah berada di dalam mobil untuk segera kembali pulang ke apartemennya. Hari ini sangat melelahkan, kesibukan Kahfi sejak pagi untuk mendaftar kontrol Rara lalu pergi ke kampus untuk mengumpulkan tugas kuliahnya dan tanda tangan absen kehadiran. Setelah itu menjemput Rara kembali menunggu kontrol dan kemoterapi dan haru sudah mulai sore semua aktivitas penting sudah selesai semua.
Rara sejak masuk ke dalam mobil hanya terdiam menatap jendela arah luar jalan, menikmati pemandangan yang berbeda dengan pemandangan yang ada di negaranya sendiri.
"Ada yang kamu inginkan Ra? Sebelum kita kembali ke rumah?" tanya Kahfi dengan lembut sambil melirik sekilas ke arah Rara yang masih saja melamun.
Tatapan Kahfi kembali fokus pada setir kemudinya dan jalanan yang mulai padat dengan kendaraan roda empat.
Rara tersentak kaget mendengar pertanyaan Kahfi saat melamun tadi, padahal suara Kahfi tidak keras apalagi membentak. Sebisa mungkin memang Kahfi selalu menjadi perilaku dan tata bahasanya kepada Rara, untuk tidak bersikap kasar dan keras terhadap gadis cantik itu.
Rara menoleh ke arah Kahfi dan tersenyum manis agak tertahan di sudut bibirnya.
"Makan yuk Kak Fi? Kak Fi seharian menemani Rara dan belum makan, pasti lapar? Rara juga lapar, kita cari makan? Rara lagi kepengen chicken steak mozarella sama kentang goreng tambah strawberry float, gimana?" tanya Rara yang terus saja mengungkapkan keinginannya makan makanan tersebut.
Kahfi menganggukkan kepalanya pelan lalu tersenyum lebar dalam hatinya. Rara itu memang gadis polos dan lugu, masih saja memikirkan Kahfi yang belum makan, sebenarnya lebih tepatnya belum makan makanan yang di berikan atau disiapkan oleh Rara.
"Siap Nyonya Rara, siap mengantarkan ke restoran steak terenak di negara ini," ucap Kahfi sambil tertawa pelan.
Rara yang mendengarnya ikut terkekeh pelan karena geli dengan ucapan Kahfi.
"Kenapa bisa Nyonya Rara? Menikah saja belum? Atau Kak Fi sudah siap menikah dengan Rara?" tanya Rara pelan kepada Kahfi sambil menatap lekat pada kedua mata Kahfi yang juga sedang menatap Rara.
Deg ...
Deg ...
__ADS_1
Deg ...
Tentu saja Kahfi terkejut dengan pertanyaan Rara yang secara tiba-tiba itu secara polos dan spontan. Tidak ada sesuatu hal yang sudah dipikirkan oleh Rara sebelumnya dan semua itu hanya dilakukan secara spontan. Baru saja siang tadi, Kahfi salah menjawab pertanyaan Ayah Sukoco kali ini pertanyaan itu kembali hadir dan membuat buyar segala konsentrasi Kahfi.
Kahfi menatap jalanan yang padat dan sesekali melirik ke arah Rara yang masih menatap Kahfi menunggu jawaban dari pria ganteng yang sudah sejak lama Rara cintai.
"Rara sudah siap akan menikah?" ucap Kahfi pelan yang lolos begitu saja dari bibirnya tanpa ada hambatan. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini hingga kata-kata yang berharga seperti itu bisa keluar dari bibirnya.
Rara menatap lekat dan tajam kepada Kahfi saat mendengar ucapan Kahfi yang tidak pernah terbayangkan dan tidak pernah terpikirkan oleh Rara sedikitpun.
"Kak Fi, gak lagi bercanda kan?" tanya Rara pelan sambil menatap kedua mata Kahfi tajam dan raut wajah yang serius.
Jantung Kahfi malah berdetak kencang melihat tatapan Rara yang tajam dan terlihat sangat serius itu. Ini kedua kalinya kesalahan berucap yang dilakukan Kahfi. Kahfi memukul mulutnya sendiri dengan telapak tangannya pelan.
"Kak Fi, jawab pertanyaan Rara? Kak Fi hanya bercanda, Kak Fi hanya ingin menyenangkan hati Rara?" ucap Rara dengan hati yangvsedikit kesal.
Rasanya sangat kecewa saat, orang yang kita cintai hanya berucap palsu dan kebohongan demi menyenangkan hati orang lain, dan tidak tulus ikhlas mengucapkannya.
Kahfi menyadari kesalahannya dan terdiam, seharusnya kata-kata itu tidak boleh keluar dari bibirnya begitu saja tanpa disaring yang akhirnya malah membuat kecewa dan luka mendalam bagi Rara.
Rara memalingkan wajahnya dengan kasar langsung menghadap ke arah jendela kaca mobil yang ada disebelahnya dan memandang ke arah luar jendela. Air matanya luruh begitu saja, mata Rara terasa panas dan pedih, hingga air mata yang terbendung sudah tidak mampu bertahan di pelupuk matanya dan jatuh menetes pada pipi Rara.
Rara menghapus air matanya dengan punggung tangannya secara kasar. Hatinya terasa sakit, apa yang selama ini dilakukan oleh Rara hanyalah sebuah kesia-siaan yang tak akan pernah ada ujungnya. Doa-doa yang selalu dimohonkan kepada Allah SWT setiap malam tidak mampu menembus langit ketujuh dan menggoyahkan hati beku Kahfi untuk dirinya.
Sakit memang rasanya mencintai tanpa pernah berbalas, memiliki status hubungan saja, dengan cincin sebagai simbolis di jemari manis Rara tanpa ada hubungan dan ikatan batin yang semestinya.
__ADS_1
Kalau bicara bertahan, tentu sebelum memiliki secara utuh, pasti akan selalu bertahan berharap suatu saat nanti ada keajaiban yang bisa membuat hati Rara bahagia dan tersenyum puas.
Tapi kenyataannya semua itu tidak mudah, jika sudah seperti ini, mau sampai kapan harus bertahan dan mempertahankan diri pada satu cinta yang tidak akan pernah terbagi walau secuil. Kasih sayang yang diberikan semuanya hanyalah fana, tidak ada ketulusan disana, yang ada hanyalah rasa iba dan kasihan.
Kahfi melirik ke arah Rara, saat Rara menghapus air matanya, tetesan air mata itu terlihat berkilau terkena sinar matahari.
"Ra? Kamu menangis?" tanya Kahfi pelan kepada Rara. Tatapan Kahfi beralih kembali lagi fokus pada jalan raya dan mengemudi.
Mobil sport mewah milik Rara yang dikemudikan oleh Kahfi sudah menepikan mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi.
Kahfi memiringkan duduknya menghadap Rara dan memanggil nama Rara berulang kali dengan pelan.
Rara hanya terdiam dan tetap melihat ke jendela luar mobil yang sudah berhenti itu.
"Ra?" panggil Kahfi dengan lembut.
Rara tidak menggubris panggilan Kahfi dan tetap terdiam.
"Ra, maafkan Kak Fi ya? Maafkan Kak Fi, kalau sudah menyakiti perasaan Rara," ucap Kahfi dengan pelan dengan perasaan bersalah.
Rara tetap terdiam seribu bahasa, tidak mengeluarkan sepatah katapun dari bibir mungilnya.
Tangan Kahfi rasanya ingin menyentuh tangan Rara, namun diurungkan takut Rara akan semakin murka dan marah karena keadaan ini.
"Maafkan Kak Fi, ya Ra? Kak Fi tidak bermaksud apa-apa, apalagi untuk menyakiti hati Rara yang begitu lembut dan sensitif," ucap Kahfi pelan. Kepalanya di letakkan di kemudi mobil sambil menatap Rara dari arah samping, menunggu gadis cantik itu menoleh ke arah Kahfi dan tersenyum manis lalu berucap, 'Rara amaafkan semuanya,' batin Kahfi dalam hati. Tapi semua itu mustahil akan dilakukan oleh Rara yang sudah terlanjur kecewa dengan semua ini. Sama seperti Kahfi yang mustahil mengungkapkan rasa cintanya kepada Rara walaupun ada kemungkinan namun tetap saja, hal itu tidak akan mungkin terjadi.
__ADS_1