Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
121


__ADS_3

Ayumi dan Bulan sudah sampai disekolah dan memasuki aula gedung sekolah yang akan digunakan untuk acara seminar rutin bulanan sebagai acara pokok program pertukaran pelajar. Ini adalah seminar rutin bulanan yang kedua, dan selalu dilakukan pada awal bulan tepatnya pada Minggu pertama awal bulan.


Kedua sahabat itu sudah duduk di kursi peserta seminar di bagian shaf paling depan. Menurut kedua sahabat itu acara seminar ini sangat penting sekali untuk memotivasi dan dijadikan penyemangat belajar setiap saat. Ayumi dan Bulan sudah siap untuk mengikuti acara seminar rutin bulanan tersebut dengan menyimak dan mendengarkan para pembicara yang sedang memberikan penjelasan tentang poin-poin penting dan contoh tentang beberapa masalah yang sedang hangat di bicarakan khalayak umum mengenai dunia pendidikan yang semakin kurang terarah yang dijadikan tema seminar saat ini.


Acara seminar rutin bulanan ini dilakukan dari pagi hari hingga siang hari, itu juga kalau tidak ada kemunduran acara yang telah ditetapkan dalam jadwal acara.


"Bulan, merasa aneh gak sih sama kelakuan Kak Zura, akhir-akhir ini, kayak beda banget," ucap Ayumi tiba-tiba saat sedang menyiapkan alat tulis untuk mencatat hasil seminar tersebut.


Bulan mengangguk pelan tanda setuju.


"Aneh sekali, terus kayak lagi berusaha mendekati Kak Afnan biar kamu itu cemburu Ay," ucap Bulan memberikan informasi dengan jelas.


Ayumi menatap Bulan dengan lekat, ternyata apa yang dirasakan Ayumi selama ini adalah benar, bukan hanya isapan jempol semata.


"Kenapa melihat Bulan seperti itu Ay, Bulan bukan buronan cinta," ucap Bulan menggoda lalu terkekeh pelan.


Ayumi hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan


"Ayumi, cuma merasakan hal yang sama selama ini dengan apa yang Bulan pikirkan dan rasakan," ucap Ayumi pelan kepada Bulan.


"Sudahlah Ay, jangan dipikirkan masalah itu," ucap Bulan dengan pelan memenangkan Ayumi yang terlihat galau.


"Bukannya dipikirkan lebih tepatnya itu kepikiran," ucap Ayumi menjelaskan.


"Tapi jujur, Bulan merasa, ada maksud tidak baik yang akan dilakukan Kak Zura selama tinggal di apartemen," ucap Bulan pelan dan terhenti seolah berat untuk mengatakan sesuatu yang menurut Bulan kurang baik untuk diucapkan.


"Merebut Kak Afnan dari Ayumi, itu maksud Bulan kan?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.


Bulan mengangguk pelan dan tersenyum tersipu malu kepada Ayumi.

__ADS_1


Pembicaraan mereka terhenti karena para pembicara sudah datang dan menempati kursi yang sudah disediakan. Acara seminar rutin itu segera dimulai.


Sejak sampai di kampus, pikiran Afnan tidak tenang dan selalu teringat kejadian tadi pagi. Kejadian dengan Zura mulai dari sarapan pagi hingga Afnan akan berangkat ke kampus.


Senyum Zura berbeda dari biasanya yang hanya datar dan biasa saja sejak terakhir memutuskan ta'aruf itu secara sepihak. Tapi kini seolah Zura sedang menggoda Afnan dan ingin bermain-main dengan Afnan. Tubuhnya yang putih mulus dan terlihat sangat terawat membuat jantung Afnan sejak pagi masih saja berolah raga keras hingga saat ini. Detak jantungnya seperti lelah karena menaiki tangga secara berulang kali, napasnya juga ikut terengah-engah saat melihat senyum menggoda itu dan melihat leher yang terlihat jenjang dan bersih tanpa tanda jejak lain.


'Aku ini kenapa, kenapa harus memikirkan Zura yang jelas bukan kekasihku, bukan calon bidadariku untuk apa pikiran ini selalu tertuju pada dirinya,' batin Afnan di dalam hatinya.


Jadwal pagi ini Afnan harus bimbingan dengan dosen pembimbing terkait thesis yang sedang dikerjakannya agar cepat revisi dan cepat mendapatkan gelar magister lalu kembali ke negaranya untuk bekerja disana.


Setelah bimbingan jadwal Afnan adalah mengajar adik kelas memberikan materi kuliah tentang seminar, dan persiapan presentasi dengan tugas seminarnya masing-masing.


Sedangkan sore hari, Afnan dan Ayumi serta Bulan akan berangkat ke negara dimana Kahfi dan Rara saat ini tinggal.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya seorang teman asisten dosen seperjuangan Afnan saat berada di ruangan kerja asisten dosen itu.


"Masalah wanita?" tebak Roland sambil terkekeh pelan.


Afnan hanya mengangguk pelan dan tersenyum tersipu saat pikirannya bisa ditebak dengan mudahnya.


"Yap," jawab Afnan singkat sambil menulis kembali untuk mempersiapkan materi untuk siang nanti.


"Sudah kuduga," ucap Roland dengan suara lantang.


Afnan hanya tertawa pelan sambil menggeleng pelan.


"Roland juga selesai dengan Ratih, dia selingkuh dan mencari laki-laki yang lebih katak dariRiland, padahal Roland kurang apa memberikan semuanya pada Ratih," ucap Roland bercerita tentang masalah pribadinya kepada Afnan.


Afnan menatap Roland dengan rasa iba dan kasihan.

__ADS_1


"Bukankah kalian itu akan menikah dan sudah bertunangan?" tanya Afnan pelan kepada Roland.


Afnan cukup tahu betul siapa, Roland. Roland adalah pria blasteran yang cukup tampan dengan brewok di sekitar wajahnya. Roland salah satu mahasiswa dengan nilai yang sangat baik, kedua orang tuanya adalah donatur tetap di kampus mereka.


Apapun pasti dimiliki oleh Roland, namun beberapa kali cintanya harus kandas dengan perselingkuhan yang dilakukan oleh para mantan wanitanya yang sudah dipacarinya.


Terakhir dengan Ratih, teman kuliah magisternya, yang juga selingkuh dengan teman kuliah lainnya dari kampus lain.


Entah kenapa dan apa yang terjadi dalam hubungan Roland dengan kekasihnya yang selalu berakhir dengan perpisahan.


Banyak yang bilang, Roland adalah psikopat cinta, yang selalu meminta untuk bercinta dengan pacar atau kekasih yang sedang dipacarinya. Tapi gaya bercintanya sangat aneh, Roland selalu mabuk berat dan menyakiti para wanitanya dengan gesper hingga terdapat beberapa luka yang terlihat jelas di sekujur tubuh para wanita itu dan itulah kepuasan Roland dalam bercinta.


Semakin luka itu terlihat membekas dan berdarah semakin senang dan terasa puas yang dirasakan Roland.


"Ya, kami berdua akan menikah, tapi lihat nyatanya Ratih hanya butuh uang Roland saja dan pergi dengan pria lain," ucap Roland pelan tanpa rasa bersalah.


"Mungkin kamu menyakitinya?" ucap Afnan pelan sekenanya.


Seketika itu juga, wajah Roland langsung berubah merah dengan amarah yang tertahan.


Satu hal lagi tentang Roland yang banyak tidak diketahui oleh orang banyak, Roland adalah pembunuh berdarah dingin, biasanya tidak sampai mati, hanya saja kehidupan orang dan keluarga besar orang yang telah menyakiti hatinya tidak akan luput dari pembalasan dendamnya.


Dan detik ini, Afnan sudah membuat Roland marah besar, namun jangan dipendam dan bukan diumbar. Cukup Roland yang tahu dengan segala kelicikannya.


Afnan menatap aneh wajah Roland yang tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus dengan deru napas yang terlihat memburu.


"Kamu kenapa Roland? Wajahmu memerah seperti kepiting rebus?" tanya Afnan pelan dengan polosnya.


Roland hanya menatap tajam ke arah Afnan dan tersenyum smirk.

__ADS_1


__ADS_2