Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
151


__ADS_3

Yumna berlari ke arah kamar tidurnya yang telah lama tak di tinggali lalu mengunci kamar itu agar tak ada yang datang untuk mengganggunya. Kamar yang selalu bersih dan wangi serta rapih. Semua pernak pernik yang selalu tertata cantik di rak panjang dan semua boneka tersusun rapi di ranjang kesayangannya. Kamar serba pink dengan aksen kepala hello kitty favoritnya.


Yumna berjalan menghampiri meja belajarnya dan menatap beberapa bingkai foto yang ia pasang di mejanya. Semua foto -foto itu yumna pilih karena memiliki nilai sejarah yang sangat berarti bagi hidupnya. Yumna mengambil satu bingkai foto yang memasangkan foto dirinya dan Ayahnya. Mungkin foto itu diambil sekitar lima tahun yang lalu, saat Yumna masih duduk di bangku SMA. Saat itu, Yumna sedang berulang tahung yang ke tujuh belas tahun, dan sang Ayah memberikan kejutan denagn memberikan gelang cantik yang selama ini di inginkannya.


"Selamat ulang tahun, putri Ayah yang paling cantik sedunia," ucap Ayah Yumna saat itu sambil menunjukkan satu kotak kecil hadiah untuk Yumna.


Masih terngiang hangat senyuman sang Ayah, pelukan mesra sang Ayah, tatapan sendu sang Ayah dan suara lembut sang Ayah yang selalu memberikan nasihat pada Yumna.


Tangan mungil Yumna mulai menyentuh bingkai dan jari -jari lentiknya mulai merayap menyentuh foto sang Ayah. Yumna begitu rindu dengan Sang Ayah. Seemnjak menikah, Yumna mearsa dirinya jauh dengan Sang Ayah. Ayah yang semakin sibuk dengan bisnis barunya dan selalu tak ada waktu untuk bersama Yumna atau mungkin Ayah memang menjaga jarak untuk dekat Yumna, karena Yuman sudah menikah dan emmiliki suami. Bisa jadi, Ayah tidak ingin ikut campur dan mengganggu rumah tangga Yumna.


"Ayah ...," panggil Yumna sambil menangis terisak menatap foto sang Ayah.


"Kenapa Ayah tinggalin Yumna. Ayah belum sempat melihat cucu Ayah. Padahal Yumna ingin memperlihatkan cucu lucu untuk Ayah beberapa bulan lagi. Kenapa cepat sekali Ayah berpulang pada ilahi," ucap Yumna menatap lekat dua mata sang Ayah di dalam foto itu.


***

__ADS_1


Duta menghubungi terus menerus Yumna namun sayang sekali tak ada jawaban sama sekali bahkan ponsel Yumna malah di nonaktifkan. Duta menelepon Yuri dan menanyakan keadaan Yumna dan meminta tolong pada Yuri untuk menjaga Yumna dan mengingatkan untuk selalu makan dan meminum susu hamil.


"Tolong ya, Ri. Jaga Yumna, kabarin kakak kalau ada apa -apa tentang Yumna," titah Duta pada Yuri, sahabat Yumna.


"Iya kak. Yuri pasti akan kasih kabar Kak duta, bila ada sesuatu yang terjadi. Yumna lagi mengurung diri di kamar. Mungkin masih syok aja atau capek di jalan," ucap Yuri mencoba menenangkan Duta.


"Oke. Salam buat Bunda Sinta, Kak Jone dan kak Dafa. Nanti malam Bunda Gita dan Papah akan datang kesana," ucap Duta pada Yuri.


"Baik Kak Duta. Nanti Yuri sampaikan pada Bunda," jawab Yuri pelan.


"Anak bos datang. Kita harus bersiap," ucap Herlanda pada Duta.


Duta hanya menegakkan duudknya dan nampak terlihat santai, tak ada kegugupan sedikit pun di wajahnya.


"Santai banget. Lo gak gugup?" tanya Herlanada yang terlihat cemas.

__ADS_1


"Buat apa gugup? Kita sudah melakukan yang terbaik. Soal hasil biar mereka yang emnilai. Kita harus yakin dnegan pekerjaan kita, Herland," ucap Duta menenangkan Herlanda.


Herlanda hanya mengangguk pelan dan merapikan beberapa berkas di depannya.


Tug ... Tug ... Tug ...


Suara sepatu high heels wanita yang begitu nyaring terdengar saat menyentuh lantai marmer yang licin itu.


ceklek ...


Gadis itu menatap seluruh orang yang ada di ruangan itu. Tapi, ruangan itu adalah ruangan kecil yang hanya ada dua orang arsitek.


Kedua mata Duta terbelalak lebar menatap gadis di depannya itu, begitu juga dengan gadis itu yang terlihat sumringah menatap Duta.


"Cuma ada dua orang saja?" tanya gaids itu denagn suara lembut tapi penuh percaya diri sambil emngibaskan rambutnya yang ikal berwarna cokelat.

__ADS_1


__ADS_2