
Sudah lima belas menit mereka berjalan santai mengitari kampung Nenek Arsy. Mereka berdua berbincang santai seputar cita-cita yang mereka inginkan.
Udara pagi itu sangat sejuk sekali, walaupun matahari sudah mulai meninggi. Hamparan sawah yang mulai menguning menambah suasana pedesaan itu semakin terasa.
"Nyaman sekali desa ini Ay. Lihatlah orang-orangnya juga ramah dan sopan. Pemandangan disini juga indah, makin betah disini," ucap Rara penuh kebahagiaan.
Dari awal datang, Rara sudah nyaman dengan kehangatan keluarga Ayumi, walau hanya ada Nenek Arsy dan Ayumi saja, tapi mereka berdua terlihat kompak dan saling menjaga satu sama lain.
Sangat berbeda dengan kehidupan keluarganya. Ayahnya Pak Sukoco sibuk dengan urusan bisnisnya, Mama Rara juga sibuk dengan teman-teman sosialitanya, Kak Zura sibuk dengan aktivitasnya di luar rumah.
Raut wajah Rara berubah seketika saat melihat satu keluarga berjalan santai bersama penuh dengan canda tawa dan obrolan yang hangat lewat di sisi keduanya.
Ayumi sejak tadi memantau Rara, gadis yang terlihat kuat namun sebenarnya labil dan lemah.
Rara masih menatap keluarga bahagia itu lalu memalingkan wajah sedihnya ke arah lain. Hidupnya memang enak dan tercukupi bahkan berlebih, tapi urusan hati dan perhatian, Rara jarang mendapatkan itu semua.
"Ra? Kamu gak apa-apa?" tanya Ayumi pelan dan tampak ragu bertanya.
Rara berhenti lalu berjalan ke pinggir sawah. Rara duduk sembarang di atas tanah kering yang aman untuk beristirahat.
"Aku baik-baik saja Ay," ucap Rara singkat. Pandangan Rara beralih pada petani wanita yang menggendong anak balitanya di belakang, sedangkan Ibu tersebut membawa keranjang dan memanen cabe.
Sekuat dan setegar itu menjadi seorang perempuan. Bahunya harus kuat untuk menggendong anaknya, tangannya harus kuat untuk mengerjakan semua pekerjaan rumahnya, kakinya harus kuat berjalan mencari nafkah untuk membantu suamjnha, matanya harus kuat untuk menunggu suaminya pulang, dan tubuhnya harus kuat untuk bersujud mensyukuri nikmat Allah SWT.
"Ra?" panggil Ayumi sambil menepuk bahu Rara saat melihat mata Rara sudah basah.
Air mata Rara sudah menetes dan mengalir ke pipi dan dagu. Rara mengusap air matanya dengan punggung telapak tangannya.
"Ra?" panggil Ayumi pelan. Ayumi menatap sahabatnya dengan perasaan iba. Ayumi tahu betul dengan perasaan seseorang yang rindu dengan keluarganya.
Ayumi sendiri rindu dengan Ayah dan Bundanya, tapi Ayumi berusaha mengikhlaskan semuanya dan memasrahkan semuanya pada Allah SWT. Mungkin ini jalan terbaik untuk keluarga Ayumi. Banyak hikmah dari semua kejadian kalau bisa menyikapi dengan bijak.
Tatapan Ayumi tidak lepas pada Rara. Ayumi memanggil sahabatnya untuk kesekian kalinya dengan suara pelan.
"Ra?" panggil Ayumi pelan.
Mendengar panggilan Ayumi, Rara menoleh kepada Ayumi dan memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku ingin seperti yang lain Ay. Memiliki keluarga yang utuh, yang hangat, dan yang harmonis," ucap Rara sambil sesegukan menangis.
Rara bahkan lupa, ada yang lebih miris hidupnya dibandingkan dirinya yang masih memiliki keluarga yang utuh, hanya saja memikirkan ego masing-masing.
Ayumi membalas pelukan sahabatnya itu. Ayumi menepuk-nepuk punggung Rara dengan pelan lalu mengusapnya pelan. Ayumi harus bisa menjadi sahabat yang baik, yang bisa memberikan kenyamanan sebagai seorang sahabat di kala sahabatnya sedang ada masalah atau sedang tidak baik-baik saja.
"Maafkan aku Ay. Bukan aku menyinggung kamu dengan masalahku, tapi...," ucapan Rara terhenti sejenak dan melepaskan pelukan itu.
"Ayumi!!" teriak Kahfi dan beberapa teman Kahfi saat melewati Ayumi yang sedang duduk di dekat pohon besar.
Merasa namanya dipanggil, Ayumi menoleh ke asal suara. Disana Kahfi sudah melambaikan tangannya, dan dengan spontan juga Ayumi tersenyum manis dan membalas lambaian tangan Kahfi.
Melihat balasan itu, Kahfi ikut tersenyum penuh kemenangan.
"Lagi apa kamu disana Ay?" teriak Kahfi kepada Ayumi.
"Ini Rara," balas Ayumi setwnagh berteriak.
Kahfi tidak melihat Rara disana, karena tubuh Rara terhalangi oleh pohon besar yang rindang.
"Ya Allah, ada Rara tho?" tanya Kahfi pelan saat melihat Rara yang berpenampilan berbeda.
"Iya Kak Kahfi," jawab Rara dengan kepala menunduk.
Rara malu karena matanya masih basah seusai menangis tadi.
"Kak Kahfi kok malah kesini, itu ditinggal sama teman-teman Kak Kahfi," ucap Ayumi pelan.
"Biar saja, kalian mau ngapain disini. Kita cari sarapan yuk, Kakak lapar," ucap Kahfi pelan kepada Ayumi.
"Tuh Ra, diajak Kak Kahfi tuh," celetuk Ayumj pelan lalu beranjak berdiri dan meninggalkan Rara dan Kahfi untuk berduaan.
"Ayumi, mau kemana kamu?" teriak Kahfi sangat kencang dan Ayumi tidak menggubrisnya.
Ayumi berlari cepat dengan kepala sedikit menunduk lalu ... Buughh ...
Ayumi hampir terjatuh ke tanah, dan dengan sigap Afnan memegang Ayumi agar tidak jatuh.
__ADS_1
Ayumi mendongakkan kepalanya dan melihat sosok Afnan tepat di depan wajahnya. Wajah keduanya sangat dekat dan semakin dekat.
"Kamu cantik Ay," ucap Afnan dengan suara lirih dan setengah mendesah.
Kata-kata yang terlontar dari bibir Afnan yang begitu dekat dengan wajah Ayumi membuat tubuh Ayumi menjadi kaku dan merinding luar biasa.
Ayumi langsung melepaskan diri dari genggaman Afnan. Ada rasa berbeda sekarang saat Ayumi memutuskan untuk lebih memilih studynya. Rasanya berbeda seperti pertama kali bertemu dengan Afnan.
'Apa yang sebenarnya terjadi, bukankah harusnya aku senang,' batin Ayumi menatap Afnan dengan pandangan yang berbeda.
Ayumi menggelengkan kepalanya dengan cepat, saat sudah berdiri dengan tegak dan merapikan hijab dan pakaiannya, lalu melanjutkan lari dari tempat itu.
"Ayumi!! Apa yang terjadi?" teriak Afnan sedikit frustasi.
Afnan merasa ada yang tidak beres pada Ayumi, Afnan menatap ke sekeliling namun nihil tidak ada apa-apa disana.
Terlihat Kahfi berlari dari arah berlawanan. Afnan bertanya, "Kamu kenapa Kahfi?"
"Aku mengejar Ayumi, Bang," ucap Kahfi sedikit terengah-engah.
Dari arah belakang Kahfi, ada Rara yang juga berlari mengejar Ayumi.
"Ada apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Afnan yang masih kebingungan.
"Biarkan saja Kak. Nanti sampai dirumah biar Rara ajak bicara," ucal Rara pelan.
"Pulang Ra, gak baik main di tempat seperti ini. Wanita itu tempatnya hanya dirumah," ucal Kahfi menasehati.
" Iya Kak Kahfi. Rara permisi dulu, Kak Kahfi dan Kak Afnan, Assalamu'alaikum," ucap Rara dengan sopan.
Rara berjalan pulang ke arah rumah Nenek Arsy. Perjalanan yang agak lumayan melemahkan, karena Rara sendirian tidak ada partner untuk sekedar berbincang.
Kahfi dan Afnan berjalan pulang juga, tepat berada di belakang Rara berjalan yang sudah agak jauh.
"Kenapa Ayumi gak diajak serius Bang?" tanya Kahfi yang mulai kepo dengan urusan Sang Kakak.
Afnan hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
__ADS_1