Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
92


__ADS_3

Satu minggu sudah terlewat masa liburan Ayumi. Hari ini, Ayumi akan mengantarkan Rara dan Kahfi ke bandara untuk pengobatan Rara sekaligus pendidikan Kahfi di luar negeri.


Kahfi sudah berkemas sejak malam, agar tidak ada satu barang penting yang tertinggal dirumah.


Bunda Icha dan Ayumi sudah berada di dapur untuk membuat sarapan pagi. Afnan sedang membersihkan taman dan mencuci mobil sejak shubuh, sedangkan Kyai Toha asyik dengan secangkir kopi dan koran yang sedang dibacanya. Kahfi sendiri masih berada dalam kamarnya dan mempersiapkan diri untuk keberangkatannya sore nanti.


Kahfi keluar dari kamar dan pergi menuju dapur, perutnya sudah lapar dan meronta-ronta untuk minta diisi makanan yang enak dan lezat.


"Pagi Bunda," ucap Kahfi menyapa Bundanya yang sedang menata beberapa makanan dan piring di meja makan.


Kahfi memeluk Bunda Icha dari belakang dan mengecup pipi Bundanya.


"Fi, kamu itu sudah besar, bukan anak-anak lagi, jangan biasakan seperti itu," ucap Bunda Icha pelan menasehati.


"Kan Fi melakukan ini sama Bunda, Ibu kandung Fi sendiri," jawab Kahfi tidak mau kalah.


"Fi!!" ucap Bunda Icha dengan lembut namun penuh dengan penekanan tegas.


Kahfi hanya tersenyum dan kemudian duduk di kursi favoritnya. Kahfi menatap beberapa makanan yang cukup menggugah selera makannya pagi itu, belum lagi wangi bakwan jagung yang sedang digoreng oleh Ayumi.


Kahfi menatap Ayumi yang sedang menggoreng bakwan jagung itu, tatapannya seolah merindu, terlebih setelah ini mereka akan berjauhan dan entah kapan bisa bertemu lagi.


"Jaga matamu Fi," ucap Bunda Icha yang sejak tadi mengamati Kahfi, putra bungsunya itu.


Ayumi menoleh ke arah Bunda Icha dan Kahfi secara bergantian.


"Ada apa Bunda?" tanya Ayumi pelan yang penasaran demga apa yang terjadi.


"Tidak apa-apa Ay, ini Kahfi suka iseng kalau sama Bunda," ucap Bunda Icha pelan sambil menyelesaikan tugasnya menata piring di meja maka. Satu kedipan mata Bunda Icha kepada Kahfi yang menatap ke arah Bunda Icha lalu tersenyum kecut.


"Panggil Abangmu dan Bapak, kita sarapan bersama sekarang, daripada kamu senyam-senyum gak jelas, lama-lama gila," ucap Bunda Icha sambil terkekeh.


Kahfi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju arah ruang tengah tempat Bapak sedang bersantai dengan koran yang dibacanya sejak shubuh.

__ADS_1


"Pak, sarapan sudah siap," ucap Kahfi dengan sopan.


Kyai Toha menggeser korannya dan menatap Kahfi sekilas dengan kaca mata bacanya yang terlihat sangat tebal lalu beralih pada bacaan korannya kembali. Kyai Toha menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti.


"Sebentar lagi Bapak kesana," jawab Kyai Toha pelan.


Kahfi mengangguk pelan dan berjalan menuju teras depan rumah untuk memanggil Afnan, Abang tersayangnya.


Kahfi menatap mobilnya yang sudah bersih dan kemilau karena efek gosokan ajaib. Lalu menatap saung bunga Bunda yang terlihat segar dan rapi.


"Abang, sarapan sekarang," panggil Kahfi keras kepada Afnan yang masih memindahkan pot-pot besar cantik milik Bunda Icha.


Afnan menoleh ke arah Kahfi dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Iya, Kakak mau cuci tangan dulu, baru sarapan," ucap Afnan dengan suara keras.


Afnan memindahkan pot besar terakhir dan mencuci tangannya dengan air keran yang mengucur deras di taman kecil itu.


Kahfi sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah menuju dapur dan duduk manis di kursi meja makan. Sudah dari tadi Kahfi menahan rasa laparnya, aroma masakan Bunda yang membuat cacing-cacing perutnya sudah menganga menunggu asupan makanan.


Ayumi membawa satu piring besar berisi bakwan jagung dan satu piring besar telur dadar pedas yang diletakkan di tengah meja makan.


Ayumi kembali ke meja dapur dan membuat teh manis panas untuk Afnan, sebisa mungkin memang Ayumi melayani Afnan sebagai calon suaminya, begitu pesan Bunda Icha kepada Ayumi.


Ayumi kembali ke meja makan, menghampiri Afnan dan meletakkan satu gelas teh manis panas di sebelah piring makan Afnan.


"Ini teh manis panasnya Kak, silahkan diminum, Kakak mau makan apa? biar Ayumi ambilkan," ucap Ayumi dengan lembut.


Pemandangan itu sudah sering kali terjadi setiap hari, yang terkadang membuat Kahfi kesal dan merasa tidak nyaman memandangnya. Kalau bukan menghargai Bunda Icha dan Bapak, mungkin Kahfi sudah menggebrak meja makan dan pergi ke kamar tidurnya lalu membanting pintu dengan sangat keras.


"Bukankah Ay, sudah tahu apa yang menjadi kesukaan Kakak," jawab Afnan pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Ayumi untuk menggoda gadis pujaannya itu.


Ayumi tersenyum lebar laku mengambil nasi beserta lauk pauknya untuk Afnan.

__ADS_1


Semua sudah mengambil sarapannya dan mulai memakan dengan hening dan tenang. Tidak ada suara kecapan dari makanan ataupun Bunyu peralatan makan yang bersentuhan. Semua menikmati sarapan pagi dengan suasana nyaman dan hening.


"Ummi, inibakwan jagungnya mantap sekali?" ucap Kyai Toha memuji rasa masakan bakwan jagung ini.


Bunda Icha tersenyum lebar lalu menjawab pertanyaan Suaminya itu.


"Calon mantu yang buat, enak ya, Ayumi itu sudah tidak diragukan lagi jika urusan dapur, sudah dipastikan urusan perut Afnan pasti akan aman," ucap Bunda Icha pelan lalu tersenyum.


Afnan ikut tersenyum bahagia, calon istrinya dipuji seperti itu, bangga rasanya Afnan memiliki Ayumi, gadis mandiri yang serba bisa itu.


Kahfi sudah jengah dan kesal, dengan buru-buru menghabiskan sisa makanan yang ada dalam piringnya agar bisa dengan cepat pergi dari ruang makan itu.


"Fi, ajarkan Rara untuk bisa mengurus kamu dengan baik, walaupun Rara itu sakit, tapi harus belajar melayani suaminya dengan baik," ucap Kyai Toha pelan.


Kahfi hanya tersenyum kecut tanpa menjawab ucapan Kyai Toha. Bila hati saja sulit untuk menerima, bagaiman bisa berkomunikasi dengan baik untuk mewujudkan suatu hubungan yang langgeng.


"Fi, biar Rara nanti belajar dari Ayumi, secara Rara itu sahabat baik Ayumi, pasti Rara mau dan mampu belajar dengan cepat," ucap Bunda Icha pelan menasehati.


Kahfi mendengus pelan.


"Kayak udah mau nikah aja, disuruh belajar segala, lulus sekolah aja belum," ucap Kahfi kesal.


Bunda Icha menatap tajam Kahfi untuk segera diam.


"Kalian bertunangan dengan tujuan akhir untuk menikah, cepat atau lambat kalian pasti akan segera menikah, lihat Bulan? Mereka menikah masih usia sekolah dan itu tidak menjadi halangan malah mereka menghilangkan fitnah dan ghibah dari orang orang yang tidak bertanggung jawab," jelas Kyai Toha.


Kahfi dan Afnan terdiam menyimak apa yang dikatakan oleh Bapak. Semua nasihat yang keluar dari Kalam orang tuanya adalah benar, karena mereka sudah memiliki pengalaman dan ilmu yang mumpuni untuk bisa dibagikan kepada anak-anaknya atau bahkan orang-orang disekitarnya.


Ayumi sendiri merasa dirinya sedang mendapat tamparan besar karena menolak khitbah hanya karena sebuah cita-cita yang notabene memang bisa dikejar setelah menikah asal Suami meridhoi.


"Kalian sudah paham? Rejeki, jodoh, kematian semua sudah ada yang mengatur, jadi jangan takut kelaparan karena menikah muda, jangan takut karir terhambat karena menikah muda, justru dengan menikah banyak doa dan banyak ridho yang kita dapat," tegas Bunda Icha kepada ketiga anaknya itu.


Bunda Icha dan Kyai Toha berharap agar kedua putranya itu lebih bisa menerima kenyataan dan takdir untuk mengejar akhirat bukan mengejar dunia yang tidak ada akhirnya.

__ADS_1


Pagi itu cukup menegangkan urat syaraf, banyak pembahasan Kyai Toha yang menyentil ketiga anaknya itu.


__ADS_2