Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
102


__ADS_3

Ayumi terus saja mengedarkan pandangannya ke segala arah, menemukan sesuatu yang aneh dan ganjal.


"Lihat apa Bulan? Ayumi tidak melihat siapapun?" ucap Ayumi pelan dengan rasa penasarannya.


Bulan masih menatap ke arah seseorang yang masih menggelayut di bahu pria paruh baya itu.


Tangga eskalator itu terasa lambat berjalan sampai lantai bawah. Rasanya Bulan ingin berlari menghampiri perempuan yang mirip sekali dengan Kak Zura.


Bulan langsung menuruni tangga dan berlari dengan cepat mengejar perempuan itu.


"Bulan? Mau kemana kamu?" teriak Ayumi dengan suara keras ikut mengejar Bulan hingga ke bawah.


Bulan terus berlari setelah tangga eskalator itu sampai di lantai bawah, seperti terburu-buru mengejar sesuatu yang akan hilang.


Ayumi ikut berlari terus mengikuti Bulan sambil membawa beberapa kantong plastik berisi barang-barang kebutuhan yang telah di belinya itu tampak kesusahan dan kerepotan.


Bulan berhenti di depan rak tempat penitipan barang disana terlihat seperti kebingungan mengedarkan pandangannya ke arah kanan dan kiri seperti mencari-cari sesuatu yang hilang.


Ayumi berlari dan berhenti tepat dibelakang Bulan dan meletakkan kantong plastik itu dilantai, rasanya berat sekali berlari sambil membawa kantong-kantong plastik itu. Napasnya terengah-engah dan menepuk pundak Bulan dengan pelan.


"Kamu kenapa Bulan? Ayumi lelah ini, lari dari eskalator sampai sini kan sesuatu banget," ucap Ayumi pelan dengan napas tidak teratur.


Bulan tetap diam dan tidak menjawab. Kedua matanya masih melirik ke seluruh penjuru gedung itu, namun sepertinya dari raut wajahnya tidak menemukan apapun, hanya kekecewaan yang mendalam.


"Hei, ada apa?" tanya Ayumi pelan dan melangkahkan kakinya agar berdiri sejajar dengan Bulan.


"Kamu benar Ay, ada Kak Zura, entah benar itu Kak Zura atau memang orang lain dengan tingkat kemiripan yang sembilan puluh sembilan persen itu sama persis. Dari gesturnya, cara berjalannya, wajahnya, semuanya, yang membedakan adalah penampilannya, kini tanpa balutan hijab dan pakaiannya tampak minim dan sedikit terbuka," ucap Bulan menjelaskan.

__ADS_1


Ayumi menyimak ucapan Bulan malah menjadi penasaran, kedua matanya malah makin mencari-cari sosok makhluk perempuan itu, yang tidak lain dianggap Kak Zura.


"Kalau jika itu benar Kak Zura, apa maksudnya? Kenapa Kak Zura malah berubah dan berpenampilan seperti itu?" tanya Ayumi lirih namun Bulan masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Itu yang ingin Bulan selidiki, waktu kita masih banyak pasti suatu hari akan ada titik terang yang bisa mengungkap ini semua," jawab Bulan dengan pelan.


Bulan masih penasaran dan sangat yakin, Kak Zura masih ada di tempat pusat perbelanjaan yang sama, dan wanita itu belum keluar dari tempat ini. Entah memang sedang bersembunyi atau memang Bulan yang kehilangan jejak.


"Sudah, lebih baik kita pulang, ini sudah sore," ucap Ayumi pelan kepada Bulan.


Ayumi mengambil beberapa kantong plastik yang tadi diletakkan di lantai, dan dijinjing untuk dibawa pulang bersama Bulan.


Jarak pusat perbelanjaan itu hanya berseberangan dengan apartemen milik Afnan. Kedua sahabat itu berjalan beriringan dan menyebrangi jalanan padat itu. Satu mobil mewah berwarna kuning cerah melaju dengan kencang keluar dari pusat perbelanjaan itu dan berbelok arah dengan begitu cepatnya.


Cit ... Bruk ...


"Arghhhhhh ... Ayumi!!" teriak Bulan dengan histeris dan keras.


Mobil mewah itu mudur dan langsung membanting setir dan pergi begitu saja tanpa meminta maaf ataupun bertanggungjawab pada orang yang telah ditabraknya tidak lain adalah Ayumi.


Bulan meletakkan barang belanjaannya dengan sembarang dan berlari membantu Ayumi yang sudah tergeletak di jalan raya itu.


Kondisi Ayumi cukup parah dan harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Bulan dengan sigap menelepon Kak Afnan untuk segera menyusul ke rumah sakit.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Ayumi sempat siuman dan berbicara sangat lirih pada Bulan. Kepala Ayumi diletakkan pada paha Bulan sebagai bantalan. Darah mengucur dari dahinya dan tangan serta kakinya. Ayumi cukup terkejut dan syok dengan kehadiran mobil mewah berwarna kuning itu yang datang dari arah berlawanan secara tiba-tiba. Posisinya sudah menyeberang dan tinggal beberapa langkah lagi menuju jalan trotoar menuju apartemennya.


"Bulan, tolong masak buat makan malam Kak Afnan, kasihan Kak Afnan nanti lapar, tentu Kak Afnan sudah lelah, kuliah sambil bekerja," ucap Ayumi lirih, entah apa yang dibicarakannya seolah tidak sesuai dengan keadaannya sekarang.

__ADS_1


Saat ini yang harus dipikirkan itu diri Ayumi sendiri bukan orang lain termasuk Afnan yang memang notabene adalah tunangan Ayumi.


Ayumi sudah dibawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Beberapa dokter dan perawat langsung memeriksa dan mengobati Ayumi. Untung saja tidak ada luka yang serius dan tidak ada luka dalam yang harus ditindak lanjuti.


"Bagaimana keadaan Ayumi, dokter?" tanya Bulan dengan suara pelan sambil sesekali melirik ke arah Ayumi yang masih di tangani oleh perawat.


"Alhamdulillah, lukanya tidak serius, hanya luka ringan dan syok saja, tapi alangkah baiknya tetap dirawat satu atau dua hari untuk mendapatkan perawatan intensif untuk beberapa bagian lukanya," ucap dokter itu menjelaskan dengan pelan.


"Alhamdulillah, syukurlah, apakah Ayumi sudah siuman? Boleh saya menjenguk Ayumi, dokter?" tanya Bulan pelan kepada dokter itu.


"Ayumi sudah siuman, dan sudah bisa dijenguk, silahkan," jawab dokter itu pelan dan tersenyum kepada Bulan.


Bulan berjalan menghampiri ranjang bed IGD tempat Ayumi terbaring lemah disana. Kepalanya sudah dibalut perban putih, dan beberapa luka ditangan dan kakinya juga sudah di obati dan di perban.


Ayumi melihat Bulan mendekatinya dan tersenyum melambaikan tangannya. Tangan itu diraih oleh Bulan seolah memberikan kekuatan bagi Ayumi agar kuat dan bertahan.


"Mana yang sakit, Ay?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi sambil mengusap rambut Ayumi yang terurai.


"Tidak apa-apa, terima kasih sudah menolong Ayumi. Kak Afnan mana?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.


"Sudah Bulan kabari, nanti juga datang, sedang dalam perjalanan. Rindu ya?" tanya Bulan kepada Ayumi pelan dan menggoda dengan senyuman.


"Assalamu'alaikum, Ayumi, kamu tidak apa-apa?" panggil Afnan dari arah pintu masuk dan nampak terengah-engah.


Bulan menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum kepada Afnan yang sudah berdiri di depan pintu ruang IGD.


"Waalaikumsalam, Kak Afnan?" jawab Bulan pelan sambil tersenyum dan berdiri berpindah ke arah samping.

__ADS_1


"Kak Afnan, Ayumi baik-baik saja kok," jawab Ayumi dengan suara pelan.


Afnan berjalan menghampiri Ayumi dan duduk di tepi ranjang bed ruang IGD itu.


__ADS_2