
Waktu berjalan dengan cepat sekali, acara seminar rutin bulanan bisa selesai tepat pada waktunya. Tidak ada keterlambatan sama sekali dan selesai tepat dengan jadwal yang sudah di publikasikan.
Ayumi dan Bulan bergegas untuk kembali ke apartemen milik Afnan dan segera membereskan beberapa pakaian dan perlengkapan yang akan dibawa pergi untuk menjenguk Kahfi dan Rara.
Ayumi dan Bulan tidak tahu ada rencana apa sebenarnya disana secara jelasnya, mereka hanya menuruti perintah kedua orang tuanya untuk segera menyusul ke tempat Kahfi dan Rara.
Apartemen milik Afnan tampak sangat sepi, sepertinya belum ada tanda-tanda kehidupan disana. Dimanakah Kak Zura saat ini, apakah sedang pergi atau kemana?
Bulan dan Ayumi masuk ke dalam apartemen dengan kunci cadangan yang selalu mereka bawa. Afnan sengaja membuat kunci ganda sebanyak tiga buah untuk Afnan pribadi, untuk Ayumi dan untuk Bulan, masing-masing membawa satu buah kunci agar bisa keluar masuk apartemen dengan bebas sesuai jadwal mereka masing-masing.
"Kak Zura?" panggil Bulan dengan suara pelan memanggil nama Zura beberapa kali.
Namun, panggilan itu tidak ada sahutan, tidak ada jawaban dan tidak ada tanda-tanda direspon oleh sang pemilik nama.
Ayumi segera masuk ke dalam kamar tidurnya tanpa memperdulikan apappun. Waktu mereka hanya tersisa tiga jam dari sekarang untuk pemberangkatan menuju negara di mana Kahfi dan Rara saat ini tinggal dan menetap.
Ayumi mengambil koper kecil dari atas lemarinya dan memasukkan beberapa pakaian yang sudah dipilihnya sejak malam.
Bulan mengikuti Ayumi masuk ke dalam kamar dan ikut merapikan barang-barang yang akan dibawanya nanti sore.
"Ay, alat mandinya bareng aja ya, biar simpel," ucap Bulan pelan sambil memasukan bebrpaa hijab panjang dan pakaian dalamnya.
Ayumi mengangguk pelan tanda setuju.
"Iya, sudah bawa kok, sudah ada di dalam tas," jawab Ayumi pelan kepada Bulan dan memasukkan mukena dan sajadah yang akan dibawanya.
Satu jam berlalu, mereka berdua belum sempat mengganti pakaian mereka dan sudah sibuk denga urusannya masing-masing. Ketiadaan Kak Zura juga sudah tidak dipedulikan lagi karena kesibukan kedua sahabat itu mempersiapkan untuk perjalanan panjang nanti.
Sudah pasti jelas, lelahnya dalam perjalanan jauh tersebut, tapi mereka harus menikmatinya dengan bahagia untuk mengusir rasa jenuh dan penat.
__ADS_1
"Mama Anna sengaja mengajak pergi disaat weekend ya Ay," ucap Bulan pelan saat menutup koper kecilnya dan menguncinya dengan kode.
"Sebenarnya ada acara apa sih, kok sampai kita bertiga harus kesana? Bukan acara ulang tahun Rara dan juga bukan acara ulang tahun Kak Fi, lalu acara apa?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.
Bulan menggelengkan kepalanya pelan namun terlihat sedikit ragu. Ayumi melihat ke arah Bulan dengan tajam.
"Bulan gak lagi membohongi Ayumi kan?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.
"Nanti Ayumi juga akan tahu, ada apa sebenarnya?" jawab Bulan pelan sambil tertawa melihat rasa penasaran Ayumi.
"Oh, jadi main rahasia-rahasiaan nih, baiklah," ucap Ayumi pura-pura kesal.
Ayumi beranjak dari duduknya dan mengangkat koper kecil itu ke bawah dan menyiapkan tas ransel kecil yang berisi dompet dan bebagai kebutuhan wanita seperti parfum, make up, tissue dan lain sebagainya.
Bulan tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak.
"Au ah, lagi marahan," ucap Ayumi pelan.
Kedua sahabat itu tertawa sampai dikuar kamar secara bersama-sama, perilakunya kadang masih lucu dan kekanak-kanakan.
"Masak apa Ay, habis ini mandi kita siap-siap berangkat," ucap Bulan pelan kepada Ayumi yang berjalan disampingnya menuju dapur.
"Bikin sop bakso aja ya, sama mendoan, gimana?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.
Bulan mengangguk pelan.
"Menu spesial itu, spesial dadakan karena paling mudah," ucap Bulan tertawa terbahak-bahak.
"Sahabat terparah itu kamu, Bulan. Awas nanti nangis kamu," ucap Ayumi pelan kepada Bulan.
__ADS_1
"Sesama sahabat jangan nyumpahin, gak bagus buat kesehatan jiwa, nanti hidupmu gak tenang Ay," ucap Bulan mengingatkan sambil tersenyum.
"Kamu itu Bulan, kebiasaan menggoda Ayumi, awas nanti anak Bulan kayak Ayumi," ucap Ayumi pelan sambil meracik bumbu sop dan memotong sayuran sop dan bakso.
"Kalau mirip Ayumi pintar memasak sih seneng banget, tapi kalau pintelar ngeles itu yang modus," candaan Bulan semakin menjadi-jadi. Hawa disekitar mereka menjadi panas dan berkeringat karena sejak tadi tertawa terbahak-bahak tiada henti hingga air mata mereka sudah mengumpul di pelupuk mata.
"Sudah ah, capek, nanti kita nangis lagi," ucap Ayumi pelan sambil menutup mulutnya dengan rapat agar tidak tertawa lagi.
"Iya nangis karena Rara dan Kak Fi mau menikah," celetuk Bulan dengan spontan. Bulan tersadar sudah membuka rahasia penting itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ayumi langsung memberhentikan pekerjaan memotongnya dan meletakkan pisaunya di meja dapur lalu menatap tajam ke arah Bulan yang terlihat memerah dan masih menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa benar Kak Fi dan Rara akan menikah? Jawab Bulan?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.
Bulan hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu tidak lama mengangguk pelan lalu menggelengkan kepalanya lagi tidak ada kepastian yang jelas.
"Jangan bercanda Bulan, apa benar mereka berdua akan menikah?" tanya Ayumi kembali mengulang pertanyaannya.
Bulan membuka mulutnya dari kedai telapak tangannya. Tidak ada yang perlu ditutupi kagi, dan semuanya pasti akan terbongkar dengan adanya acat besok. Lagi pula untuk apa ditutupi, padahal Ayumi bukan siapa-siapa Kahfi, tapi Bulan cukup menghargai perasaan keduanya.
"Iya Ay, mereka akan menikah secara siri besok. Banyak alasan yang mengharuskan keduanya menikah bukan hanya perasaan cinta yang sudah tumbuh pada keduanya, tapi ..." ucapan Bulan terhenti tidak dilanjutkan. Bulan berusaha menenangkan hatinya, berbicara seperti tadi saja, bibirnya sudah bergetar hebat.
"Tapi apa? Ada apa Bulan?" tanya Ayumi lirih dengan kedua matanya yang sudah basah.
"Kamu menangis Ay? Apa kamu mencintai Kak Fi, sama seperti Kak Fi mencintai kamu, Ay?" tanya Bulan dengan suara pelan sambil memeluk Ayumi dengan penuh kasih sayang.
"Entahlah Bulan, apa yang sebenarnya Ayumi rasakan kepada Kak Fi. Jujur selama disini, hubungan kami berdua jauh dan ada perasaan rindu, hingga melihat pesan masuk dari Kak Fi rasanya bahagia sekali, apa yang seperti itu disebut mencintai? Tapi saat berjauhan dengan Kak Afnan, Ayumi tidak seperti ini, apakah ini yang disebut hanya obsesi dari masa lalu?" tanya Ayumi lirih dengan tangisannya yang terdengar sesegukan.
Bulan sangat tertegun mendengar ucapan Ayumi yang begitu jujur dan polos, sudah dipastikan cinta dan sayangnya hanya untuk Kahfi, orang yang selama ini selalu ada untuk Ayumi hingga membuat hati dan pikiran Ayumi menjadi nyaman bersama Kahfi.
__ADS_1