
Sudah satu jam Kahfi tertidur pulas di kamarnya. Suara adzan dzuhur baru saja berkumandang dan terdengar jelas di seluruh desa.
Kahfi terbangun, membuka kedua matanya perlahan dan duduk dipinggir tempat tidurnya.
'Kenapa mimpi itu selalu ada dalam tidurku, sudah satu minggu ini, mimpi buruk itu selalu hadir menghiasi tidur nyenyakku,' batin Kahfi dalam hatinya.
Kahfi bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.
Seperti biasa Kahfi melaksanakan sholat fardhu dzuhur berjamaah di mushola dekat rumahnya. Pikirannya masih terbayang pada mimpi buruk itu, hingga teringat kejadian masa kelam beberapa tahun ke belakang.
Kahfi berjalan menuju mushola sambil berdzikir dan beristighfar.
Seusai sholat berjamaah, Kahfi kembali ke rumahnya. Biasanya Kyai Toha dan Afnan ikut sholat berjamaah, namun hari ini keduanya tidak hadir di Mushola.
Sesampai dirumah, Kahfi langsung masuk dan menutup pintu utama rumah.
"Assalamu'alaikum ..." ucap Kahfi menyapa semua orang dirumah.
"Waalaikumsalam, masuk Fi," ucap Bunda Icha menjawab salam Kahfi.
Kahfi masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju arah suara Bundanya. Kahfi menghampiri Bunda Icha dan mencium punggung tangan Bundanya dengan sopan.
"Habis masak Bunda? Masak apa? Bunda udah sholat belum?" tanya Kahfi beruntun sambil menatap Bundanya yang sedang merapikan meja makan dan menata makanan di meja makan.
"Mana yang mau Bunda jawab terlebih dahulu , Fi. Tanya itu satu-satu. Bunda habis masak besar, mau ada tamu agung yang datang dan Bunda baru saja selesai sholat dzuhur. Bapak dan Abangmu sedang menjemput tamu agung," ucap Bunda Icha menjelaskan.
"Siapa tamunya Bunda?" tanya Kahfi penasaran.
"Kata Bapak sih jodohnya Abang," jawab Bunda Icha sekenanya.
"Oh ..." Kahfi hanya menggunakan pelan.
Bunda Icha menatap Kahfi dengan tatapan aneh, seperti ada yang disembunyikan.
__ADS_1
"Kamu gak lagi sakit kan,Fi?" tanya Bunda Icha sambil menyentuh kening Kahfi
"Enggak Bunda, Kahfi baik-baik saja," ucap Kahfi pelan sambil mengambil gelas dan meneguk air putih yang ada didepannya sampai habis.
Lagi-lagi Bunda Icha menyentuh leher Kahfi dengan punggung tangan kanannya.
"Fi? Kamu kok hari ini agak aneh? Apa hanya perasaan Bunda saja ya. Seperti ada yang kamu tutup-tutupi? Apa itu? Hayo cerita sama Bunda," tanya Bunda Icha pelan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kahfi. Dengan gemas, Bunda Icha menjelaskan pipi anak bungsunya itu.
"Bunda apa-apaan sih. Kahfi gak sakit, jangan perlakukan Kahfi kayak anak kecil terus. Kahfi sudah besar Bunda," ucap Kahfi pelan kepada Bundanya.
Bunda Icha tersenyum lebar kemudian terkekeh pelan sambil menatap anak bungsunya yang sedang merajuk dan kembali menyelesaikan pekerjaannya menata makanan diatas meja.
"Mau sebesar apapun kamu sekarang, kamu tetap anak bungsu Bunda," ucap Bunda Icha tersenyum.
"Ya gak gitu Bunda. Jangan manjakan Kahfi terus, Kahfi kan suatu saat punya pacar, menikah dan punya istri, masa mau dimanjain sama Bunda terus? Kan nanti gantian Kahfi yang manjain Bunda," ucala Kahfi dengan tulus.
"Oh ... jadi anak Bunda sudah punya pacar? Kenalin dong sama Bunda. Cantik mana sama Bunda," ucap Bunda Icha menggoda Kahfi.
Kahfi hanya menundukkan kepalanya, seakan tidak mau membicarakan hal tersebut kepada Bundanya. Tapi, mau tidak mau Bunda harus tahu apa yang sedang Kahfi rasakan saat ini.
"Oke, deal, ada apa sebenarnya? Jangan buat Bunda penasaran, Fi," ucap Bunda Icha pelan.
Bunda Icha pun duduk dikursi mengambil posisi ternyaman untuk bisa menyimak curhatan anak bungsu kesayangannya.
"Kahfi bermimpi itu lagi Bunda," ucap Kahfi lirih dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Bunda Icha meraih tangan Kahfi agar wajahnya terbuka. Digenggamnya kedua tangan Kahfi seakan memberikan kekuatan seorang Ibu untuk anaknya yang sedang depresi karena masa lalunya.
"Mungkin kamu masih mengingatnya hingga saat ini, makanya terbawa mimpi, Fi?" ucap Bunda Icha pelan.
Genggaman tangan Sang Bunda memang hangat seakan memberikan aliran kekuatan dahsyat kepada Kahfi yang masih labil.
"Bukan mengingatnya Bunda, lebih tepatnya akan teringat sepanjang hidup Kahfi. Istri Kahfi nanti bisa terima masa lalu Kahfi gak ya Bunda?" ucap Kahfi menatap Bundanya dengan nanar.
__ADS_1
Hatinya seperti tertusuk-tusuk mengingat kejadian di masa lalu.
"Kamu tidak salah Fi. Kamu hanya dijebak, semua orang tahu tentang itu," ucap Bunda Icha semakin serak tertahan.
Bunda Icha adalah orang pertama yang tidak percaya akan peristiwa itu. Saat semua orang menuduh Kahfi adalah pelakunya, tapi hati seorang Ibu tidak bisa percaya begitu saja. Setelah diusut, Kahfi juga korban dari peristiwa itu yang dijebak agar pelaku utamanya bisa menghilangkan jejak tanpa diketahui oleh siapapun.
"Bunda ..." ucap Kahfi lalu memeluk Bundanya dengan tulus.
"Tetap jadi anak Bunda yang baik dan sholeh, itu sudah cukup buat Bunda. Kamu bisa berubah seperti ini saja Bunda bahagia sekali, Fi," ucap Bunda Icha pelan lalu mengacak-acak rambut Kahfi yang sedikit gondrong.
"Bundaaaaa ..." teriak Kahfi dengan kesal lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk meletakkan sajadahnya.
Bunda Icha kembali ke dapur sambil tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya hatinya sakit sekali melihat Kahfi kembali terpuruk.
Kahfi menatap jendela kamarnya, pikirannya kembali mengenang peristiwa mengenaskan yang terjadi lima tahun yang lalu. Saat itu Kahfi baru berumur empat belas tahun.
Masa remaja yang salah pergaulan membuat Kahfi menjadi remaja nakal dan tidak beradab. Pulang malam adalah makan sehari-harinya. Nongkrong sambil menghisap rokok dan gulungan daun terlarang pun sudah menjadi kebiasaan, hingga terjadilah peristiwa penusukan kepada temannya sendiri satu geng, saat mereka semua sedang sakau.
'Cukup!!' jerit Kahfi dalam hatinya. Keningnya langsung berkeringat.
Jantungnya langsung berdetak kencang dan rasanya berdebar-debar tidak karuan. Kedua matanya terasa panas dan tangannya terkepal erat memukul-mukul bantal yang ada didepannya.
Kahfi seperti kesurupan, dalam hatinya menolak dan terus beristighfar. Kahfi menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan dan dilakukan berulang kali hingga terasa lega.
"Kahfi ... Makan bareng sekalian, Nak," ucap Bunda Icha setengah berteriak kepada anak bungsunya.
Kahfi keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Disana sudah ada Bapak, Bunda, Bang Afnan, Pak Sukoco, Ibu Andara dan Kak Zura.
'Ada apa sebenarnya ini,' tanya Kahfi dalam hati.
"Ayo Nak, sini dekat Bunda," panggil Bunda Icha dengan lembut.
Kahfi hanya menurut dan berjalan menuju kursi Bunda lalu duduk di sebelah Bundanya.
__ADS_1
Semuanya berbincang ramai, menanyakan hubungan Abang Afnan dan Kak Zura.