Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
111


__ADS_3

Kahfi masih menatap Rara dari atas kemudinya. Kepalanya sejak tadi direbahkan di kemudi itu. Perasaan bersalahnya mulai menghinggapi hati dan pikirannya membuat diri Kahfi menjadi tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.


"Ra?" panggil Kahfi kembali dengan pelan tanpa rasa putus asa.


Seperti biasa juga, Rara hanya terdiam membisu dengan tangisan yang masih terus mengalir dari kedua matanya. Rara tidak suka berada di posisi ini, hati Rara malah tambah sakit dan perih mendiamkan panggilan Kahfi seperti ini.


"Ra?" panggil Kahfi dengan suara yang terdengar bergetar hingga menusuk jantung Rara yang paling dalam. Sakit rasanya mendengar suara Kahfi yang lirih dengan nada memelas dan memohon. Sudah bisa dibayangkan raut wajah Kahfi yang terlihat sendu karena perasaan bersalahnya.


Rasanya ingin menoleh ke arah Kahfi dan tersenyum dengan sangat manis, namun apa masih pantas Rara berbuat seperti itu, sedangkan hati dan pikiran Kahfi selalu untuk Ayumi.


Hati Rara bagai di hujam batu besar berkali-kali, rasanya sesak sekali hingga kesulitan untuk menarik napas dalam, seperti ada yang menyumbat aliran pernapasannya.


"Ra, kamu dengar Kak Fi? Jadi makan chicken steak mozarella gak? Kak Fi sudah lapar lho," ucap Kahfi pelan dengan nada memelas.


Mendengar kata lapar terucap dari bibir Kahfi, hati Rara bagai teriris perih. Hanya kata-kata ini yang membuat Rara tersentuh karena iba. Rara tidak ingin Kahfi sakit karena terlambat makan atau kelelahan mengurus kebutuhan Rara selama di negara orang.


Rara menghapus sisa air mata yang masih menempel pada sudut mata dan pipinya dengan punggung tangannya dengan pelan. Lalu diambil ujung hijabnya yang panjang untuk mengusap seluruh wajah Rara yang basah karena air mata.


Rara menoleh ke arah Kahfi dan mencoba tersenyum apa adanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


Kahfi menegakkan duduknya dan menatap lekat kedua mata Rara yang masih basah karena menangis.


"Sudah ya, jangan menangis lagi," ucap Kahfi pelan sambil menghapus sisa air mata yang masih ada di pipi Rara dengan ibu jarinya.


Rara tersenyum bahagia dengan perlakuan manis Kahfi kepada Rara saat ini, rasanya tidak ingin berhenti dan tetap seperti ini.

__ADS_1


Rara merasakan jari-jari Kahfi menyentuh kulitnya walaupun hanya menghapus sisa air matanya, tapi sangat membuat jantung Rara ikut berlarian mencari kenyamanan. Kedua mata Rara secara otomatis terpejam, menikmati sentuhan itu.


Kahfi menatap Rara dan tersenyum saat menyadari betapa bahagianya Rara dengan perlakuannya, wajah pucat Rara berangsur menghilang karena rasa bahagianya lebih besar.


"Malah merem, makan yuk?" ucap Kahfi pelan sambil meniup wajah Rara pelan dan menjawil dagu Rara dengan pelan.


Rara membuka matanya dan tersipu malu, apa yang dilakukannya tadi sepertinya sudah bisa ditebak.oleh Kahfi. Rara hanya mengangguk pelan mendengar ajakan Kahfi untuk segera melanjutkan perjalanannya mencari restoran steak dan makan.


"Yuk Kak Fi, Rara juga sudah lapar," jawab Rara pelan dengan wajah memerah dan menunduk.


"Kalau lapar jangan suka ngambek, malah menyiksa diri. Ngambeknya disimpan dulu terus makan dulu, nanti ngambek lagi tidak apa-apa tapi kan perut sudah kenyang," ucap Kahfi pelan kepada Rara.


Rara hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Kahfi yang menyentil Rara.


Kahfi menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restoran steak favorit yang sudah mereka datangi beberapa kali.


Kahfi hanya diam, dalam hatinya mengiyakan apa yang diucapkan Rara. Hati Kahfi benar-benar sudah tidak tergoyahkan lagi, cintanya memang hanya untuk Ayumi, cita-citanya hanya ingin menikahi gadis cantik dan baik yang pernah di temuinya.


Kahfi menarik napas panjang dan menghembuskan napas itu dengan keras dan kasar. Sulitnya rasanya berada di posisi Kahfi saat ini. Mencintai gadis yang sama dengan saudara kandungnya tapi bertunangan dengan gadis yang mencintai dan mengejar cinta darinya.


"Maafkan Kak Fi, Ra?" ucap Kahfi pelan untuk ke sekian kalinya mengucapkan kata maaf kepada Rara.


Tatapan mata Rara semakin nanar menatap ke arah depan, kedua matanya mulai panas dan pedih kembali mendengar ucapan jujur dan tulus yang terlontar dari bibir Kahfi.


"Bukannya Kak Fi tidak punya perasaan mengatakan hal ini kepadamu, karena Kak Fi tahu ini sangat mengecewakan dan menyakitkan, tapi ini adalah kejujuran dari dalam hati," ucap Kak Fi pelan.

__ADS_1


Dentuman jantung Rara semakin terasa sesak dan berat. Rara memberanikan diri bertanya kepada Kahfi tentang permintaan gila yang diharapkan Rara.


"Satu pertanyaan untuk Kak Fi, jika Rara minta dinikahi walaupun tidak mengharapkan cinta, hanya menginginkan status hubungan kita, apa Kak Fi, bersedia?" tanya Rara pelan, kedua matanya menatap lekat ke arah Kahfi.


Pertanyaan Rara membuat Kahfi gagal fokus dalam berkemudi. Tiba-tiba saja jantungnya mencelos keluar dari tubuhnya. Pertanyaan yang sangat sulit dijawab.


Pernikahan adalah suatu yang sakral, bukan perkara mencinta, dicinta atau tidak ada cinta, tapi itu semua tentang tanggung jawab.


Tanggung jawab itu ruang lingkupnya sangat luas. Saat seseorang sudah berani untuk mengucapkan ijab Kabul, maka saat itu itu resiko, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan pasangannya itu menjadi tanggung jawab seorang laki-laki.


Tanggung jawab bukan melulu masalah materi atau finansial tapi lebih menjadi imam yang baik, yang mampu mengarahkan dirinya sendiri dan pasangan untuk menjadi lebih baik lagi.


Tanggung jawab itu berat bukan beban hidup, bagaimana mau bertanggung jawab penuh jika tidak ada rasa cinta di dalam hubungan itu saat mengarungi bahtera rumah tangga. Rasa cinta itu sangat penting, karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang, ketulusan, keikhlasan, kepedulian, dan perhatian khusus.


Selama cinta itu tidak tumbuh pada salah satu pasangannya maka pernikahan itu akan hambar yang ujung-ujungnya hanya ada perdebatan dan percekcokan dan berujung perceraian.


Pikiran Kahfi benar-benar kacau dan kalut, tidak bisa berpikir dengan jernih dan tidak bisa menjawab dengan cepat pertanyaan Rara itu. Semua butuh proses, butuh doa. Kahfi sudah menyadari suatu saat hal ini akan terjadi, karena pertunangan itu juga terjadi karena keinginan Rara dan kedua orangtuanya yang tidak tega melihat kondisi dan keadaan Rara.


"Kak Fi?" panggil Rara dengan suara pelan.


Kahfi hanya melirik sekilas dan tersenyum kecut kepada Rara seolah tidak ingin membahas tentang masalah tadi.


"Kak Fi tidak mau menjawab? Atau tidak bisa memjawab? Atau bingung harus menjawab apa?" tanya Rara pelan.


Rara sudah tegar setiap saat, bila Kahfi selalu memuja Ayumi, selalu senang bila membahas tentang Ayumi.

__ADS_1


Tapi, Rara juga ingin egois terhadap hatinya sendiri. Rara ingin memiliki Kahfi secara utuh bukan untuk orang lain tapi untuk dirinya sendiri. Rara ingin raga dan hati Kahfi untuk Rara seorang.


__ADS_2