
Sesaat mereka berdua terdiam, dalam heningnya mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ayumi harus berusaha keras membantu Rara, ini adalah cara untuk membuatnya bahagia.
"Kak?" panggil Ayumi bersamaan dengan Kahfi pun memanggil namanya.
"Ay?" ucapnya lirih.
Mereka berdua terdiam kembali sambil menatap satu sama lain.
"Kakak duluan mau bicara apa?" tanya Ayumi pelan.
"Perempuan harus didahulukan. Bicaralah Ay," ucap Kahfi lembut.
"Baiklah Ayumi lebih dulu bicara," ucap Ayumi pelan.
"Silahkan Ay," jawab Kahfi pelan.
"Kak besok bisa antar Rara ke Solo?" ucap Ayumi pelan.
"Ada maksud lain lagi?" tegas Kahfi.
"Tidak Kak, Ayumi tidak mau memohon lagi untuk memaksakan kehendak Ayumi. Tapi paling tidak, Kak Kahfi bisa menghargai perasaan Rara, hanya itu keinginan Ayumi," ucap Ayumi perlahan.
"Apakah Kakak harus berpura-pura, Ay, agar kamu juga senang?" ucap Kahfi sedikit menohok.
"Bukan itu maksud Ayumi, Kak. Rara itu sakit, kenapa tidak ada rasa peduli sedikit pun untuk membantu memperpanjang usia Rara," ucapan Ayumi terhenti karena Kahfi menyela dengan keras.
"Agar Rara bahagia! Gitu maksud kamu kan Ay? Lalu, apa kamu peduli sama perasaan Kakak?" tegas Kahfi. Kedua matanya terbuka lebar dan napasnya memburu karena kesal.
"Kak Kahfi?" panggil Ayumi pelan.
"Sudahlah Ay. Sekali Kakak tidak mau tetap tidak mau. Seharusnya kamu paham dan mengerti perasaan Kakak, Ay," ucap Kahfi kesal.
"Sesama manusia, harus saling membantu, apalagi ini demi kebahagiaan seseorang untuk memperpanjang usianya, walaupun kematian adalah suatu takdir dari yang kuasa. Ayumi harap Kakak bisa tersentuh hatinya, dan mau memikirkan hal ini demi kebahagiaan Rara dan Bunda Andara," ucap Ayumi pelan.
Selesai berbicara Ayumi beranjak dari duduknya dan akan memasuki rumah kembali menuju ruang keluarga. Belum sempat melangkahkan kakinya, Kahfi sudah memanggilnya untuk duduk kembali ke tempat semula.
"Duduk Ay, pembicaraan kita belum selesai," tegas kahfi.
Ayumi menoleh ke arah Kahfi dan menatap lekat kedua mata Kahfi.
__ADS_1
"Masalah apa?" tanya Ayumi singkat.
"Masalah kita," jawab Kahfi pelan.
Ayumi mengerutkan dahinya, dan menatap lebih lekat lagi kedua mata Kahfi. Kedua kakinya berjalan mundur dan duduk kembali ke tempat semula.
"Kita berdua ada masalah apa Kak?" tanya Ayumi yang tidak paham.
"Kakak mau membantumu untuk membuat Rara bahagia, apapun yang kamu inginkan akan Kakak turuti. Tapi..." ucapan Kahfi terhenti pandangannya lurus menatap ke arah depan.
"Tapi apa? Haruskah bersyarat untuk melakukan suatu kebaikan?" tanya Ayumi pelan.
Kahfi diam tak bersuara, tubuhnya malah disandarkan ke sandaran kursi besi yang sedang di dudukinya.
Kedua matanya diperankan dan kepalanya menatap ke arah langit-langit atap teras rumah.
"Kak? Tapi apa?" ulang Ayumi kepada Kahfi.
Kahfi masih saja terdiam dan tidak menggubris pertanyaan Ayumi yang sudah diulang untuk kedua kalinya.
"Ayumi pergi," ucap Ayumi dengan kesal lalu beranjak berdiri.
"Duduk ay! Temani Kakak sebentar saja. Besok Kakak akan antar Rara ke Sekolah barunya, semua demi kamu Ay," ucap Kahfi lirih.
"Ayumi ..." panggil Kahfi pelan dengan mata terpejam.
Ayumi menoleh ke arah Kahfi hanya senyum yang didapat, matanya tetap saja terpejam.
Ayumi hanya diam, rasanya ingin pergi dari tempat itu, hatinya mulai gak waras kalau seperti ini terus.
"Kak! Jangan ngerjain Ayumi terus. Kakak itu maunya apa?" tanya Ayumi yang mulai kesal.
Kedua mata Kahfi terbuka dan menatap Ayumi dengan senyuman termanis. Kedua lesung pipinya terlihat jelas.
Ayumi hanya menatap senyum indah itu tanpa membalas senyuman Kahfi.
"Ada syarat untuk membahagiakan seseorang, syarat itu adalah kamu juga harus membahagiakan Kakak. Itu permintaan Kakak padamu, Ay. Bagaimana kamu sanggup?" tanya Kahfi pelan.
"Kenapa Ayumi jadi sasarannya?" ucap Ayumi pelan.
"Kan kamu yang suruh Kakak untuk membahagiakan Rara, karena usia Rara sudah tidak lama lagi. Lalu, kalau itu terjadi sama Kakak, apa kamu mau berusaha membahagiakan Kakak, bisa saja sewaktu-waktu Kakak pergi untuk selamanya," ucap Kahfi pelan.
__ADS_1
"Kakak kok jadi ngelantur gak jelas sih. Apa iya, Kakak mau sakit kayak Rara, biar Ayumi bahagiain? amit-amit deh Kak, jangan punya pikiran kayak gitu," ucap Ayumi dengan kesal.
Kahfi langsung tertawa terbahak-bahak melihat Ayumi yang mulai kesal dengan dirinya.
"Seneng lihat Ayumi kesal kayak gini? Harusnya dari tadi Ayumi gak perlu minta tolong sama Kakak, biar Ayumi cari cara sendiri untuk bisa membuat Rara bahagia tanpa bantuan Kakak," tegas Ayumi dengan kesal lalu beranjak berdiri meninggalkan Kahfi.
"Makan malam bersamaku malam ini, ini syarat untuk mengantarkan Rara besok," ucap Kahfi setengah berteriak.
Ayumi menoleh ke arah Kahfi dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Ayumi tidak bisa pergi hanya berdua dengan Kakak. Ayumi harus menjaga diri dan kehormatan Ayumi. Menjaga komitmen dan kesetiaan itu tidak mudah, tapi itu suatu konsekuensi untuk Ayumi menjaga amanah dari orang yang sudah mempercayai Ayumi," ucap Ayumi menjelaskan.
Kahfi tertawa dan bertepuk tangan dengan keras.
"Wow ... Abang Afnanku beruntung sekali mendapatkan gadis seperti kamu. Baiklah Kakak mengerti, besok Kakak akan antar kan Rara. Semua yang Kakak lakukan hanya untuk kamu, Ay, karena rasa sayang dan cinta Kakak tulus untuk kamu," ucap Kahfi pelan.
"Jangan pernah pamrih Kak. Lakukan kebaikan dengan hati yang ikhlas. Lupakan Ayumi, kita tidak akan pernah bisa bersama, karena Ayumi tidak pernah memiliki rasa apaun untuk Kakak," ucap Ayumi pelan menjelaskan.
Ayumi segera masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga. Ayumi menjaga perasaan Bunda Icha yang sudah merestui hubungannya dengan Afnan, dan Afnan menitipkan Ayumi pada Bunda Icha dan keluarganya.
"Dari mana Ay?" tanya Bunda Icha kepada Ayumi yang baru saja masuk ke rumah keluarga.
"Melihat bunga-bunga cantik, sekalian ngobrol sama Kak Kahfi masalah Rara," ucap Ayumi pelan.
"Rara? Ada apa dengan Rara?" tanya Bunda Icha pelan sambil mengecilkan volume televisi yang sedang di tontonnya.
"Iya Bunda, tadi Rara berpesan untuk disampaikan pada Kak Kahfi, jangan lupa mengantarkan Rara besok ke Sekolah barunya," ucap Ayumi menjelaskan.
"Memangnya Kahfi ada hubungan apa sama Rara? Kok sampai Rara minta diantar, lagipula bisa kan langsung chat atau telepon ke Kahfi sendiri, gak perlu ada comblang," ucap Bunda Icha menggoda Ayumi.
"Bunda, apaan sih. Ayumi cuma menolong aja, gak ada maksud apa-apa," ucap Ayumi pelan.
Bunda Icha tersenyum menatap calon menantu kecilnya ini.
"Iya Ay, Bunda paham," ucap Bunda icha pelan.
Kahfi masuk ke dalam rumah dengan sikap dingin tidak seperti biasanya yang sering menggoda Bunda Icha atau Ayumi.
"Fi ... Kamu kenapa? Cemberut aja?" tanya Bunda setengah berteriak.
Kahfi sudah masuk ke dalam kamar dan menjawab dengan teriakan.
__ADS_1
"Lagi galau Bun, patah hati," ucap Kahfi dengan sangat keras.