Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
150


__ADS_3

Waktu berjalan dengan sangat cepat. Lola sudah berangkat ke luar negeri untuk penugasan selama tiga bulan dari kantornya.


Martini juga semakin dekat kembali dengan Drajat. Bujuk rayu Drajat begituampuh sehingga Martini bisa kembali lagi jatuh ke dalam pelukan Drajat.


"Selama ini kamu sendiri?" tanya Drajat yang telah berhasil kembali mendapatkan Martini secara utuh.


Kini mereka berdua sedang tergoda oleh pesona dan gelora asmara yang pernah memudar seiring berjalannya waktu.


"Aku hidup berdua dengan anakku," ucap Martini jujur.


"Anak? Kamu sudah menikah?" tanya Drajat sambil mengendurkan pelukannya pada Martini dan menatap wajah kekasih lamanya itu.


"Kamu lupa? Atau pura -pura lupa? Aku memang sudah menggugurkan kandungan anak kita, tapi kamu ingat sebelum akmu pergi ke kota, kamu melakukannya lagi, Mas. Aku hamil lagi dan aku berjanji untuk tidak melakukan dosa besar itu. Aku memilih untuk menjaga kandunganku dan melahirkan seorang putra yang amat mirip dengan kamu," ucap Martini lirih.


"Aku? AKu punya keturunan? Benarkah itu? Aku tidak mandul kan?" ucap Drajat pada Martini.


"Sejak kapan kamu mandul, Mas. Bukankah kamu tahu aku hamil saat itu, dan kamu tidak siap untuk menikahi aku, dengan alasan belum mapan," ucap Martini mengingatkan.


Drajat menganggukan kepalanya dan mengeratkan pelukannya pada Martini dan mengecup kening Martini dengan penuh kasih sayang.


"Hidupku serasa tak berguna setelah menikah dengan Lola. Aku adalah pria pilihan Papah Lola, karena aku dulu bekerja di salah satu perusahaan milik Papah Lola. Papahnya Lola emnikahkan aku dengan Lola karena aku adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Saat itu aku tak pilihan lain, selain menikahi Lola. Tapi, sampai saat ini aku dan Lola belum bisa memberikan keturunan. Ini yang membuat aku lelah dengan cemooh keluarga Lola yang bilang bahwa aku mandul. Kesalnya lagi, Lola tak membelaku, seolah mengiyakan semuanya. Padahal cek dokter, kita sama -sama sehat," ucap Drajat lirih.


"Apa ini karena aku telah berdosa sama kamu, Martini? Karena aku telah meninggalkan kamu? Maafkan aku, jika memang seperti itu," ucap Drajat terus memeluk tubuh martini yang masih polos.


Ini bukan pertama kalinya mereka melakukan hubungan panas yang penuh cinta dan getaran asmara.

__ADS_1


"Aku ikhlas waktu kamu pergi, Mas. Aku memang mencarimu tapi bukan untuk menuntut kamu. Aku hanya ingin kamu menepati janji kamu untuk menikahi aku. Tapi, jika memang jalannya berbeda, aku ikhlas, tidak masalah untukku," ucap Martini pada Drajat.


"Ini yang aku suka dari kamu. Kamu selalu menghargai aku, walaupun aku sudah menyakiti dan mengecewakan kamu, tapi kamu selalu hangat memperhatikan aku, Martini," ucap Drajat lirih.


Cinta pertamanya adalah pada gadis kampung teman kecilnya bernama Martini. Keduanya saling jatuh cinta dan saling mencintai hingga keduanya harus terpisah raung dan waktu.


Kini, kamar tidur utama milik Lola dan Drajat sudah ternodai dengan hubungan panas mereka.


Hari demi hari berlalu begitu saja. Entah sudah berapa kali, Martini dan Drajat saling menghangatkan di malam hari. Bukan sekedar nafsu tapi juga aksih sayang dan perhatian. Tidak adanya Lola tidak terus membuat Drajat merasa kehilangan. Martini memang lebih baik dalam hal melayani dalam segi apapun.


Ponsel Drajat terus berdering saat tengah malam. Martini masih lelap dalam dekapan Drajat dan mereka terbungkus selimut tebal karena tubuh mereka masih polos.


"Mas ... Tuh, ponselnya bunyi, istri Mas teelpon," ucap martini saat melihat layar ponsel Drajat yang tertulis nama My Wife di sana.


Drajat yang masih kacau karena kedua matanay masih lengket dan tubuhnya masih terasa pegal -pegal pun langsung memijit tombol hijau yang ia kira telepon biasa. Tanpa sengaja, layar video call itu menyala. Drajat masih memejamkan kedua matanya dan Martini sudah pergi dari kamar tidur itu. Ia tidak mau menganggu Drajat yang sedang berkomunikasi dengan Lola, istrinya.


"Sayang ... Kamu ngagetin aja sih. Ini tadi pualng kerja, aku gerah dan buka baju. Terus tidur," ucap Drajat berbohong.


"Oh ya? coba buka selimutnya? Lola mau lihat," ucap Lola tegas.


"Lihat apa?" teriak Drajat lantang. Jujur saja, ia ketakutan kalau hubungannya dengan Martini terbongkar. Saat ini Drajat sedang telanjang bulat tanpa mengenakan sehelai pakaian di tubuhnya.


"Kenapa kamu malah berteriak? Kamu takut? Buka selimutnya!!" bentak Lola dengan kasar dari balik ponsel Drajat.


"Aku tidak takut!! Kamu kenapa tidak percaya dengan aku, Lola?" tanya Drajat semakin berucap keras.

__ADS_1


"Karena aku tidak percaya sama kamu, Mas!! Kamu pikir aku bodoh? Aku pergi agar kehidupan kita lebih baik, Mas. Bukan untuk sennag -senang. Tapi kamu? Kamu main gila dengan pembantu baru kita!! Iya kan!! Apa kamu masih mau membela diri kamu sendiri!!" teriak Lola histeris.


Lola paling benci dengan kebohongan. Cintanya pada Drajat begitu tulus. Ia lihat cinta Drajat pada Lola dulu sewaktu Drajat melamar Lola.


"Kamu bicara apa, Lola? Aku tidak seperti itu," ucap Drajat mulai panik. Semakin pcemas, Drajat malah semakin bersuara keras.


Klik ...


Ponsel itu di tutup Lola sepihak. Hidupnya rasanya hancur sehancur -hancurnya. Drajat pikir, Lola tidak tahu permainan gila yang ia lakukan dengan pembantu barunya. Lola sudah memasang CCTV dan di hubungkan langsung kepada ponselnya. Drajat tidak akan bisa mengelak.


"Hah!! Lola!!" teriak Drajat kesal. Ia melempar ponselnya dan mengambil piayama handuknya. Lalu keluar kamar mencari Martini.


Martini sedang berada di dapur untuk membuat makanan kecil dan kopi.


"Lebih baik, kamu pergi dari rumah ini. Lola tahu hubungan kita," ucap Drajat kacau.


"Terus? kenapa aku harus pergi. Aku bekerja di sini. Istrimu yang menyuruhku kerja di sini, dan aku hanya akan keluar dari rumah ini jika istrimu yang memberhentikan aku atau mengusir aku. AKu tidak takut, jika kau benar. Aku juga punya bukti, mas Drajat yang merayu aku, bukan aku yang merayu Mas Drajat," ucap Martini getir.


Martini sudah tahu, jika hal ini pasti akan terjadi lagi. Tentu saja, ia yang akan di sisihkan di sini.


"Apa? jadi kamu ingin mengancam aku, Martini!! Kamu sudah gila? Sampai kapan pun, aku tidak akan emlepaskan Lola!! Paham kamu!!" ucap Drajat penuh emosi.


"Ohhh ya? Silahkan pertahankan istri kamu. Aku juga akan pertahankan kandunganku," ucap Martini santai.


"Kamu bilang apa? Kandungan kamu? Kamu hamil?" tanya Drajat makin gusar.

__ADS_1


"Iya ... Kamu kira setiap hari melayani kamu di ranjang, aku tidak akan hamil? Aku tidak bodoh, Mas. Dengan perut ini, aku bisa meminta pertanggung jawaban dari istri kamu," ucap Martini yang pergi dari hadapan Drajat.


__ADS_2