
Afnan pergi begitu saja meninggalkan Zura yang masih penasaran dengan pertanyaannya.
"Kak Afnan!" panggil Zura kepada Kak Afnan setengah berteriak. Zura tersadar Kak Afnan sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri berjalan melalui pintu samping tanpa memperdulikan dirinya.
Sejak awal bertemu beberapa tahun lalu, Afnan hanya menganggap Zura sebagai adiknya, tidak ada perasaan lebih dari itu. Semakin mengenal Zura dan keluarganya, Afnan hanya bisa sayang sebagai adik saja.
Langkah mungil Zura akhirnya bisa menegjar Afnan yang tidak menoleh sedikitpun saat Zura berteriak memanggilnya.
"Kak Afnan, tunggu. Zura hanya ingin memastikan saja. Dengarkan Zura, Kak!" teriak Zura dengan keras dan lantang karena merasa diabaikan.
Langkah Afnan terhenti saat mendengar teriakan keras dan lantang dari bibir Zura. Wajahnya tetap memandang lurus ke depan tanpa menoleh ke belakang ke arah Zura yang masih berusaha mengejarnya.
Langkah Zura terhenti melihat Kak Afnan yang sudah mengehentikan langkahnya.
"Kenapa harus Zura yang Kakak perlakukan seperti ini. Bukankah lebih baik kita menerima perjodohan itu." ucap Zura lirih.
Zura masih teringat jelas, kejadian tiga bulan lalu saat Zura meminta Ayahnya untuk menjodohkannya dengan putra Kyai teman Ayahnya. Putra Kyai itu tak lain adalah Afnan. Namun dengan tegas Afnan menolak perjodohan itu dengan alasan ingin sukses dalam berkarier terlebih dahulu.
Tapi hari ini, tepatnya pagi ini, Zura harus menelan pil pahit. Alasan Kak Afnan sudah berubah, ternyata ada gadis lain yang sebenarnya Kak Afnan cintai. Ta'aruf adalah alasan Kak Afnan untuk menolak Zura secara halus.
Zura mendahului Kak Afnan lalu membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Kak Afnan.
__ADS_1
"Kak Afnan? Ta'aruf itu hanya alasan Kakak untuk menghindari Zura?" tanya Zura pelan menatap lekat kedua mata Kak Afnan yang sama sekali tidak menatap wajah Zura.
"Lupakan Kakak, Zura. Selama ini memang Kakak tidak bisa membalas kebaikan Zura terlebih tidak bisa membalas cinta Zura. Jangan campur adukkan masalah bisnis orang tua kita dengan masalah perasaan. Kakak hanya ingin mengatakan biarlah waktu yang menentukan. Saat ini memang Kakak mencintai gadis lain. Lupakan Kakak dan maafkan Kakak bila membuatmu kecewa dan sakit hati untuk ke sekian kalinya. Carilah lelaki lain yang lebih baik dari Kakak, yang mencintai Zura dengan tulus. Kamu harus sempurna Zura. Pulanglah ke rumah, jangan pernah ke sekolah ini lagi walaupun hanya untuk mengantarkan Rara adikmu." ucap Afnan pelan menjelaskan.
Saat mengatakan itu, hati Afnan juga ikut sakit dan teriris menatap wajah kecewa Zura yang teramat dalam. Matanya terlihat basah menahan tangisnya agar tidak tumpah dihadapan Afnan. Kedua tangan Zura terkepal kesal dan kecewa.
Dengan berat, Afnan menatap ke sembarang arah. Afnan luluh dengan wajah sendu Zura. Tapi Afnan tidak mau memberikan celah sedikitpun untuk Zura. Takutnya Zura akan salah paham seperti kemarin-kemarin.
"Maaf Zura, Kakak harus pergi. Ada pekerjaan yang harus Kakak selesaikan." ucap Afnan dengan tegas. Lalu melanjutkan berjalan menuju ruang Tata Usaha.
Lorong itu sepi. Tak ada satu orang yang melihat kejadian antara Afnan dan Zura. Lorong itu menjadi saksi bisu antara Afnan dan Zura.
Air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya tumpah juga. Leleran air mata dan cairan dari hidung ikut turun menjadi satu. Rasanya begitu sakit saat orang yang kita cintai menolak kita. Rasanya kecewa saat orang yang kita cintai tidak mau memperjuangkan kita dan akhirnya kita hanya berjuang sendirian. Rasanya kesal saat yang tidak tepat, orang yang kita cintai minta melupakan apa yang pernah terjadi.
Kedua tangannya menutupi wajahnya yang sudah basah. Zura berjalan lewat belakang menuju mobilnya yang terparkir disana.
Zura sudah berada di mobil pribadinya. Duduk di belakang setir dan meletakkan kepalanya di atas setir mobil itu. Kedua tangannya memegang setir mobil. Mesin mobil sudah dinyalakan, alunan musik juga terdengar sayup-sayup.
Musik-musik religi yang menenangkan hati dan pikiran Zura yang sedang kacau karena laki-laki yang bernama Afnan.
Zura mengambil tissue di jok sebelah dan menghapus sisa leleran air mata dan cairan dari hidung yang masih turun begitu saja. Kaca spion tengah Zura turunkan tepat menghadap pada wajahnya. Zura menatap wajahnya dari kaca spion itu. Wajahnya sudah tak karuan, make uonya sudah luntur, jilbabnya juga terlihat sedikit acak-acakan.
__ADS_1
Pelan-pelan Zura mengelap wajahnya dengan tissue dan memakai make up kembali agar terlihat segar kembali. Jilbabnya dirapikan kembali agar tidak terlihat telah terjadi sesuatu hal pada Zura.
Dengan pelan Zura melajukan mesin mobilnya menuju Kantor Ayahnya. Zura adalah gadis cantik yang masih berstatus sebagai Mahasiswi Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen di Universitas yang cukup ternama di kota Yogyakarta.
Zura sedang menyusun skripsi, disela-sela kekosongan waktunya, Zura memilih ikut bekerja sebagai customer service di Kantor Ayah Zura.
Ayah Zura bernama Sukoco, pemilik Perusahaan Finance di kota Yogyakarta. Keluarga Sukoco berteman baik dengan Ayah Afnan. Awalnya, Ayah Zura mencari seorang Kyai untuk mengobati istrinya yang sakit-sakitan. Bertemulah dengan Ayah Afnan yang seorang Kyai.
Ayah Zura meminta dia untuk kesembuhan istrinya. Sudah di cek ke dokter dan ke rumah sakit namun hasilnya sama, tidak ada penyakit yang di derita oleh Istri Pak Sukoco.
Bukankah ikhtiar dan doa itu harus seimbang. Saat itu Pak Sukoco benar-benar terpuruk melihat istrinya yang tergeletak lemas di atas kasur selama dua bulan.
Tidak lama setelah itu, Ayah Afnan memberikan amalan pendek untuk Pak Sukoco dan keluarganya untuk membantu kesembuhan Istri dan Ibu dari kedua anak gadisnya yang bernama Zura dan Rara.
Satu bulan lamanya amalan itu diamalkan, kesehatan sang istri mulai membaik dan sehat kembali seperti sediakala kala.
Hal ini yang membuat keluarga Sukoco merasa berhutang budi kepada Ayah Afnan. Pak Sukoco berniat menjodohkan salah satu anak gadisnya kepada anak lelaki dari Kyai kondang itu. Ini merupakan ucapan terima kasih dan sebagai penerus tali silaturahmi karena menjadi besan.
Keinginan Pak Sukoco sudah pernah diungkapkan kepada Kyai sekaligus Ayah Afnan. Namun, belum ada jawaban dari Kyai sekaligus Ayah Afnan itu. Semua itu berproses, tidak ada yang instan.
Hanya doa yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Hanya doa yang bisa membolak-balikkan hati dan perasaaan manusia. Hanya doa yang bisa merubah takdir manusia melalui jalan yang terbaik menurut Allah SWT.
__ADS_1
"Jangan lupa berdoa setelah selesai melaksanakan sholat wajib ataupun Sunnah. Dahulukan Sholawat dan hadorohan sebagai awalan sebelum berdoa kepada Allah SWT. Rasakan bedanya dan mustajabnya sebuah doa." begitu pesan Kyai kepada Zura.
Kata-kata itu selalu terngiang dalam otak Zura. 'Hanya doa, dan hanya doa yang tulus yang mampu menembus langit ketujuh.' batin Zura menenangkan dirinya sendiri.