
Hari ini adalah hari yang ditunggu Bunda Icha untuk berangkat menyusul ke negara Kahfi dan Rara saat ini tinggal bersama untuk pengobatan penyembuhan penyakitnya dan untuk melanjutkan studynya disana.
Rombongan dua keluarga besar telah mempersiapkan beberapa hari yang lalu untuk keberangkatan ini, termasuk Bunda Icha yang sempat drop dengan kondisi dan keadaan yang kurang baik. Semenjak kejadian malam itu, baik Kahfi maupun Bunda Icha sudah tidak ada komunikasi lagi. Sesuai arahan Kyai Toha untuk tidak menghubungi Kahfi terlebih dahulu disaat genting seperti ini, Kahfi juga perlu menenangkan hati dan pikirannya agar bisa berpikir lebih jernih lagi sesuai hati nuraninya tanpa ada paksaan atau nasihat dari siapapun. juga termasuk dari Bunda Icha, orang yang paling dianggap dekat oleh Kahfi saat ini.
Kondisi Bunda Icha sudah benar-benar pulih setelah meminum obat dan vitamin agar imun tubuhnya semakin baik, didukung juga dengan makan makanan yang bergizi dengan porsi yang sesuai dengan tubuhnya.
Siang itu Keluarga Pak Sukoco, terdiri dari Pak Sukoco sendiri, Mama Anna dan Ikhsan sudah berada di tempat keberangkatan menunggu Kyai Toha dan Bunda Icha yang masih berada dalam perjalanan karena macet.
"Ikhsan, tolong beritahu Bukan, Kita sudah akan berangkat sekarang, lalu mereka akan berangkat kapan? Kirim alamat apartemen Kahfi dan Rara agar mereka bisa langsung ke apartemen itu tanpa bertanya lagi," titah Mama Anna pelan kepada Ikhsan menantunya itu.
"Baik Ma, Ikhsan akan telepon sekarang, mudah-mudahan Bulan masih dirumah," ucap Ikhsan pelan.
Ikhsan segera menghubungi Bulan, isterinya.
"Assalamu'alaikum, Bulan, kami sekeluarga sudah akan berangkat, mungkin perjalanan akan cukup lama, dan kita tidak bisa berkomunikasi lagi hingga Mas sampai disana. Kamu akan berangkat jam berapa dari sana?" tanya Ikhsan dengan suara lembut.
"Waalaikumsalam, iya Mas, hati-hati untuk semuanya agar selalu dalam lindungan Allah SWT. Bulan akan berangkat malam, kebetulan hari ini ada tugas yang harus diselesaikan di sekolah, dan Kak Afnan juga harus bimbingan dengan dosen pembimbingnya," ucap Bulan pelan menjelaskan.
Percakapan antara Bulan dan Ikhsan begitu singkat dan membahas hal yang penting. Sesuai dengan titah Mama Anna, Ikhsan mengirimkan alamat apartemen Kahfi dan Rara.
Tidak lama, Kyai Toha dan Bunda Icha telah datang dan mereka sudah bersiap untuk terbang lima belas menit lagi. Semua tiket pesawat dan paspor sudah dipersiapkan untuk pengecekan.
Pesawat dengan tujuan ke negara dimana Kahfi dan Rara tinggal saat ini sudah akan melakukan perjalanan terbangnya untuk waktu yang cukup lama, walaupun tidak full satu hari satu malam, beberapa belas jam cukup menyita waktu dan kejenuhan swlama berada di pesawat terbang.
__ADS_1
Mereka berlima sudah berada di posisinya masing-masing, duduk sesuai dengan tempat duduk yang tertera pada tiket pesawat.
Perjalanan yang cukup lama dan melelahkan pasti akan membuat perjalan itu menjadi jenuh. Kedua keluarga besar itu larut dalam pikirannya masing-masing, memikirkan apa yang akan terjadi nanti di apartemen Kahfi dan Rara bila mereka mengetahui jika mereka akan dinikahkan secara siri dengan berbagai alasan positif.
Sejak pagi, Rara masih saja berada didalam kamarnya. Setelah menyiapkan sarapan pagi untuk Kahfi, Rara kembali lagi untuk beristirahat. Akhir-akhir ini tubuhnya terasa lemah dan sering lemas secara tiba-tiba.
Kahfi sudah berpamitan untuk berangkat kuliah pagi dan akan pulang pada siang hari untuk makan siang bersama Rara di rumah lalu kembali lagi untuk mengejar materi kuliah agar dapat lulus dengan cepat.
Target Kahfi bisa lulus dalam waktu cepat paling tidak waktu tiga tahun Kahfi sudah bisa mendapatkan gelar sarjana di Universitas tersebut.
Satu tahun Kahfi sudah mengemban tugas menjadi seorang mahasiswa, dengan predikat sangat baik, setelah sebelumnya Kahfi sudah mengawali dunia perkuliahan sejak berada di negaranya dan melanjutkan di negara ini.
Kahfi sangat rajin dan semangat dalam mengerjakan tugas dan kewajibannya sebagai mahasiswa hanya saja Kahfi tidak aktif di semua organisasi di Kampusnya karena memiliki tanggung jawab lain selain kuliah yaitu mengurus dan merawat serta menjaga Rara yang masih dalam tahap penyembuhan.
Rara sudah memejamkan kedua matanya kembali berharap bisa istirahat dengan tenang, walaupun sebenarnya di apartemen itu mereka hanya tinggal berdua dan tentu akan sangat tenang dan Kahfi pun tidak akan mengganggu aktivitas Rara yang ingin beristirahat.
Kabar tentang keberangkatan kedua keluarga besar itu sudah diketahui oleh Rara, hanya saja Rara tidak tahu menahu dengan rencana, maksud dan tujuannya.
Rara hanya berpikir, mereka semua hanya rindu kepada Rara dan Kahfi dan ingin mengetahui kabar kedua putra putri mereka.
Rara juga merahasiakan kedatangan kedua keluarganya dari Kahfi sesuai dengan keinginan Bunda Icha.
Terdengar suara bel apartemen yang begitu nyaring, Rara hanya mengerjapkan kedua matanya untuk mendengar lebih jelas.
__ADS_1
'Siapa pagi-pagi datang, asisten rumah tangganya biasa datang agak siang hanya untuk mencuci baju dan membereskan rumah, atau berbelanja ke Supermarket untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga dan bahan makanan,' batu Rara di dalam hatinya.
Rara menyibakkan selimut tebalnya dan berjalan menuju pintu depan apartemennya. Rara masih memakai piyama panjang denah. rambut yang dibiarkan tergerai di punggungnya.
Rara membuka pintu apartemen terlihat Umi Latifa datang bersama Tina dan membawa beberapa barang dan bungkusan plastik besar. Rara hanya menatap Umi Latifa dan Tina, asistennya dengan perasaan heran lalu menyuruh kedua orang tersebut masuk ke dalam apartemennya.
"Masuk Umi, ini ada apa, kok bawa banyak plastik," tanya Rara pelan dengan sikap polosnya. Rara langsung mencium punggung tangan Umi Latifa sebagai tanda hormat.
Rara sudah masuk terlebih dahulu ke dalam apartemen dan duduk di sofa ruang tamu. Umi Latifa mengikuti Rara masuk ke dalam dan duduk di sofa yang sama.
Tina sudah masuk membawa semua barang ke dapur dan membereskan semua barang-barang yang dibawanya di dapur.
"Ada apa Umi? Kok kelihatan lemas?" tanya Rara pelan kepada Umi Latifa.
Umi Latifa hanya tersenyum kepada Rara.
"Ada dedek bayi disini, peganglah sudah terasa bukan mereka bergerak-gerak," ucap Umi Latifa pelan sambil menarik satu tangan Rara untuk disentuhkan kepada perutnya.
"Umi Latifa mengandung? Ini berapa bulan? Kalau pakai gamis, Umi Latifa tidak terlihat seperti orang yang sedang mengandung," ucap Rara pelan sambil merasakan gerakan bayi itu menendang-nendang di perut Umi Latifa.
"Seru ya mengandung? Kamu tidak mau hamil Ra?" tanya Umi Latifa pelan kepada Rara.
Umi Latifa tidak tahu jika sebenarnya Kahfi dan Rara belum menikah.
__ADS_1