
Malam ini Ayumi berada dirumah Bunda Icha untuk pertama kalinya untuk menginap. Acara makan malam akan dilakukan sebentar lagi dengan formasi lengkap ditambah Rara yang juga menginap di rumah Bunda Icha.
Ayumi keluar dari kamar Afnan. Ayumi akan tidur dikamar Afnan, sedangkan Afnan akan tidur dikamar belakang bersama Kahfi.
Ada berita penting yang akan disampaikan oleh Kyai Toha seputar hubungan kedua putranya yang sudah mulai dewasa dan memikirkan arah berjalannya rumah tangga mereka.
"Bunda, Ayumi bantu apa?" tanya Ayumi pelan saat memasuki dapur.
Bunda Icha menoleh ke arah Ayumi dan tersenyum.
"Istirahat saja Ay, Bunda juga sudah mau beres. Rara di depan sama Kahfi," ucap Bunda Icha pelan.
Ayumi menatap lurus ke aras ruang tengah yang kosong, kemungkinan mereka ada di ruang tamu atau teras depan rumah.
"Ay, melamunin siapa?" tanya Bunda Icha pelan sambil menepuk bahu Ayumi.
Bunda Icha ikut menatap ke arah depan, mengikuti arah pandang Ayumi.
Ayumi hanya tersenyum dan mengisi air putih ke dalam gelas-gelas yang ada di meja makan.
"Gimana tadi jalan-jalan dengan Afnan?" tanya Bunda Icha mengalihkan perhatian Ayumi.
"Alhamdulillah senang, Kak Afnan banyak membelikan barang untuk Ayumi, tapi Ayumi sungkan Bunda," ucap Ayumi pelan dan duduk di kursi meja makan.
"Itu suatu bentuk kasih sayang dan bukti kalau seseorang itu serius kepadamu Ay, kamu gak suka Ay?" tanya Bunda pelan.
"Bukan tidak suka Bunda, Kak Afnan meminta untuk menikah setelah Ayumi lulus dari sekolah lanjutan atas di Al-Azhar," ucap Ayumi pelan.
Bunda Icha menyiapkan beberapa makanan di atas meja makan, dan merapikan semua peralatan yang dibutuhkan lalu mendekati Ayumi dan mengusap kepala Ayumi yang tertutup dengan hijab.
"Terus? Ayumi menolak permintaan anak Bunda?" tanya Bunda Icha tersenyum manis.
Ayumi menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ayumi belum menjawab Bunda, Ayumi masih ingin sekolah tanpa memiliki beban berkeluarga dahulu," ucap Ayumi lirih.
__ADS_1
"Ayumi keberatan dengan permintaan Afnan?" tanya Bunda Icha pelan.
Ayumi dengan tegas menganggukkan kepalanya pelan.
"Ayumi hanya belum siap, bagi Ayumi menikah adalah ibadah terpanjang dimana keduanya harus memiliki kesiapan mental baik lahir maupun batin," ucap Ayumi menjelaskan.
Bunda Icha mendengar semua keluh kesah Ayumi dan tetap mengusap kepala Ayumi pelan dan sesekali mengecup kepala Ayumi dengan penuh kasih sayang.
"Sudah bicara dengan Kak Afnan? Mungkin maksud dan tujuan Kak Afnan itu baik Ay, kak Afnan mau membiayai seluruh biaya kuliah kedokteran kamu, dan biar kamu ada yang menjaga atau membantu tanpa ada fitnah keji nantinya," ucap Bunda Icha menengahi bukan membela putra sulungnya itu.
"Tapi Bunda, saat sudah menikah Ayumi harus taat pada suami, dan cita-cita Ayumi bukanlah lagi akan menjadi suatu prioritas, berbeda saat Ayumi masih sendiri atau belum memiliki ikatan hubungan yang jenjangnya lebih khusus," ucap Ayumi menjelaskan dengan detil.
"Jadi menurut Ayumi, jika menikah semuanya akan pudar? Semuanya akan terhambat karena sebuah status yang lebih halal?" tanya Bunda Icha pelan menatap wajah Ayumi dengan penuh kasih sayang.
Ayumi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ayumi bingung karena dihadapkan pada dua pilihan sulit, karena cita dan cinta keduanya sangat penting.
"Ayumi bingung Bunda, Ayumi pikirkan nanti ya. Ayumi mau fokus untuk studi banding ke Mesir," ucap Ayumi pelan.
"Iya sayang, Bunda paham dengan kegelisahan kamu, Ay. Lalu Kak Afnan tambah ganteng ya," ucap Bunda Icha dengan lirih tepat di telinga Ayumi.
"Ayumi sayang," panggil Rara dengan keras saat memasuki ruang makan bersama dengan Kahfi.
Ayumi menatap Rara, wajahnya berbinar bahagia, lalu menatap Kahfi yang ada dibelakangnya, namun wajah Kahfi terlihat biasa saja dan dingin.
Rara menghampiri Ayumi dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Kenapa Ay? Kamu sedang bersedih? Ada apa Bunda?" tanya Rara pelan kepada Bunda Icha.
Bunda Icha hanya tersenyum dan mengangkat bahunya sedikit tanda tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan Ayumi.
Ayumi menggelengkan kepalanya pelan dan membalas pelukan Rara dengan lembut dengan mengusap punggung Rara dengan penuh kerinduan.
"Ayumi tidak apa-apa, ini mau ninggalin Bunda ke Mesir malah jadi sedih begini," ucap Ayumi pelan berkeluh kesah sedikit berbohong.
Rara tersenyum lebar, wajahnya yang sedikit pucat tetap terlihat bahagia tanpa beban.
__ADS_1
"Selamat Ay, kamu hebat, sama seperti Bulan saudara tiri Rara, hebat dan membanggakan bisa menjadi wakil sekolah dalam program pertukaran pelajar ke Mesir," ucap Rara pelan dan memeluk Ayumi semakin erat.
"Rara, Makasih sudah menjadi sahabat yang baik hingga saat ini, semoga Rara cepat kembali sehat dan menggapai cita-cita sesuai dengan angan-angan kita sewaktu SMP dulu," ucap Ayumi pelan memberi semangat kepada Rara.
Rara tersenyum simpul, bahagia rasanya bila ada yang terus memotivasi seperti ini, hidupnya seakan berlanjut terus tanpa menyerah dan tanpa pasrah. Rara menatap Ayumi lalu tatapannya berpindah ke arah Kahfi yang sudah duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Ayumi.
"Saat ini, hanya Kak Kahfi yang menjadi harapan Rara untuk terus hidup dan sembuh," ucap Rara tersenyum kepada Kahfi.
Kahfi yang merasa canggung di tatap seperti itu oleh Rara pun akhirnya tersenyum simpul lalu menatap Ayumi dengan wajah sendu.
Rara melihat tatapan sendu penuh rasa kasih sayang Kahfi kepada Ayumi, Rara hanya bisa menghela napas panjang, perasaan ini tidak bisa disalahkan tapi keadaan yang memaksakan kehendak hingga pasti ada seseorang yang terluka walaupun terlihat bahagia.
"Iya Ra," jawab singkat Kahfi.
"Kalian berangkat kapan?" tanya Bunda Icha pelan kepada Kahfi.
Ayumi menatap Bunda Icha penuh rasa penasaran.
"Mau kemana memang?" tanya Ayumi dengan penasaran.
"Maaf Ay, Rara belum cerita sama Ayumi. Rara harus berobat ke luar negeri untuk penyembuhan penyakit Ayumi, semua Rara pasrahkan kepada Allah SWT, Rara hanya berharap untuk kesembuhan dengan berdoa dan ikhtiar, adapun hasilnya Rara akan ikhlas menerima," ucap Rara lirih wajahnya terlihat sedih sekali.
"Kok Bunda bilang kalian, Rara berangkat dengan siapa?" tanya Ayumi kemudian dengan rasa penasaran.
"Rara akan pergi dengan Kahfi. Kahfi akan menemani Rara selama pengobatan itu berlangsung," ucap Rara pelan menjelaskan.
"Kak Fi? Kuliah Kakak?" tanya Ayumi dengan. menyelidik.
"Ay, Kak Fi ikut bersama Rara disana sekalian melanjutkan kuliah di universitas yang Kak Fi inginkan," ucap Rara pelan.
Seketika Ayumi merasa ada hampa dan kosong saat Rara menjelaskan semuanya. 'Kenapa dengan aku, kenapa aku merasa hampa dan kesal pada diriku sendiri, padahal aku sudah memiliki Kak Afnan yang jauh lebih baik dan dewasa,' batin Kahfi dalam hatinya.
Rara memperhatikan Ayumi yang terlihat kecewa dan beralih menatap Kahfi yang terus menatap Ayumi tanpa berkedip. Ada guratan ketidakikhlasan dari wajah Kahfi saat membicarakan keberaniannya ke luar negeri untuk menemani pengobatan Rara. Tapi di lain pihak, ada cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Kahfi melalui kepergiannya ini.
Bunda Icha adalah Ibu yang paling tahu tentang perasaan Kahfi, perasaan yang halus dan lembut seorang ibu yang merasakan ada kejanggalan dalam hubungannya dengan Rara. Walaupun sejak awal Bunda Icha tahu Kahfi hanya menyukai Ayumi saja.
__ADS_1