
Sudah satu hari ini Bunda Icha hanya berbaring lemas di kasur empuk tajamg miliknya. Kyai Toha dengan sabar dan telaten mengurus Bunda Icha, istrinya yang sejak malam tadi drop dan terpuruk karena masalah yang sedang di hadapi Kahfi, putra bungsunya itu.
Sejak pagi Kyai Toha menemani Bunda Icha, istrinya dan membuatkan teh manis panas untuk istri kesayangannya itu.
Satu mangkuk bubur ayam yang dibelinya saat tukang bubur itu melewati depan rumahnya sudah ada di atas nakas dan masih panas.
Bunda Icha sudah terbangun sejak pagi tadi, jari-jarinya terus saja memutar biji tasbih untuk menenangkan hati dan pikirannya yang mulai kacau sejak tadi malam.
"Istriku, sarapan bubur ayam dulu, Mas suapin, mau?" tanya Kyai Toha dengan suara yang begitu lembut.
Bunda Icha menganggukkan kepalanya pelan tanda mau. Besok Bunda Icha dan Kyai Toha akan berangkat menyusul Kahfi dan Rara, jadi mau tidak mau hari ini juga, kondisi Bunda Icha harus pulih kembali seperti biasanya. Jika tidak, bagaimana akan pergi menyusul Kahfi, putra bungsu kesayangannya itu.
Melihat anggukan kepala Bunda Icha, Kyai Toha tersenyum lalu mengambil satu mangkuk bubur ayam dari nakas dan mulai menyuapkan satu per satu sendok ke dalam mulut mungil Bunda Icha.
Bunda Icha menegakkan duduknya dan bersandar pada sandaran ranjang dengan beberapa tumpukan bantal sebagai penyangga punggungnya agar tidak sakit dan tidak mudah terasa pegal.
Satu suapan bubur ayam itu sudah masuk ke dalam mulut Bunda Icha.
"Bagaimana? Enak bukan rasanya?" tabya Kyai Toha dengan lembut.
Bunda Icha hanya mengangguk pelan dan tersenyum melihat kesabaran Kyai Toha, suaminya merawat dirinya. Biasanya lelaki itu kurang sabar dan kurang telaten kecuali memang lelaki itu sangat mencintai istrinya, pasti ujian sakit yang diberikan pada istrinya itu tidak akan dikeluhkan, malahan lelaki itu akan lebih memperhatikan kesehatan istrinya agar cepat sembuh kembali.
"Enak sekali, semakin enak, karena buburnya ada senyum kamu, Mas," ucap Bunda Icha pelan sambil tersenyum menggoda suaminya yang terlihat kaku dan dingin itu.
Merasa dirinya digombali oleh Bunda Icha, istri tercintanya itu, Kyai Toha menatap lekat ke arah Bunda Icha dan menjawil dagu istri tercintanya itu dengan sangat gemas.
__ADS_1
"Pagi-pagi sudah modusin Mas, katanya sakit, kalau bikin orang terbang, kamu itu paling bisa banget," ucap Kyai Toha pelan sambil tersenyum lalu terkekeh pelan melihat Bunda Icha yang paling tepat tidak suka di pegang dagunya itu.
"Siapa yang modus, Bunda bicara apa adanya, semua dari hati," ucap Bunda Icha pelan dan sedikit kesal, karena ucapannya hanya dibilang merayu suaminya saja.
"Sudah, ayo, lanjutkan makannya, kalau enak, bubur ayam ini harus habis," ucap Kyai Toha menitah dengan pelan sambil menyuapkan satu sendok lagi ke dalam mulut Bunda Icha.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya bubur ayam satu mangkuk itu habis tak bersisa, mungkin memang Bunda Icha berkeinginan untuk sembuh dan perutnya yang juga lapar menjadi beda tipis. Satu gelas air teh manis hangat pun juga habis diminum hingga tandas.
"Sudah selesai, Bunda mau istirahat atau mau nonton televisi biar tidak jenuh?" tanya Kyai Toha pelan kepada Bunda Icha.
"Mau disini saja, Bunda mau telepon Afnan dan Ayumi untuk acara besok," ucap Bunda Icha pelan kepada Kyai Toha yang masih setia duduk ditepi ranjang menemani Bunda Icha.
"Teleponlah, Mas mau ikut dengar disini," ucap Kyai Toha suaminya dengan lembut.
Suara sambungan telepon sudah menyambung ke arah nomor Afnan sebagai nomor tujuan. Beberapa kali dering nada tersambung dan pada nada sambungan ketiga, ponsel itu diangkat oleh si empunya.
"Assalamu'alaikum, bunda, apa kabar?" teriak histeris suara Ayumi yang mengangkat telepon Bunda Icha.
"Waalaikumsalam, Ayumi, apa kabar sayang? Bunda baik-baik saja disini. Afnan kemana? Ponselnya ditinggal?" tanya Bunda Icha pelan bertubi-tubi.
"Alhamdulillah Ayumi, baik-baik saja. Beberapa hari ini, Ayumi sibuk dengan urusan sekolah dan program pertukaran pelajar, memang mengasyikkan tapi cukup menguras energi dan pikiran," jawab Ayumi pelan kepada Bunda Icha.
"Alhamdulillah, semoga kalian semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Bunda mau bicara pada Afnan, ada Ay?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi.
"Kak Afnan sedang keluar Bunda, ponselnya saja tertinggal karena tadi sedang diisi daya. Kak Afnan pergi dengan terburu-buru, entah kenapa, tidak bicara dengan Ayumi," ical Ayumi pelan menjelaskan.
__ADS_1
Pagi-pagi buta setelah melaksanakan sholat shubuh, Afnan membuka ponselnya dan membaca sebuah pesan yang masuk dan langsung dihapus. Afnan langsung mengganti pakaiannya menjadi lebih casual lengkap dengan jaket jeans yang menambah ketampanan Afnan. Afnan bergegas pergi dengan terburu-buru, bahkan Ayumi yang sedang berada di dapur juga tidak disapa atu dipamiti kepergiannya.
Ayumi bercerita kepada Bunda Icha tentang kecelakaan mobil yang dialaminya, pertemuannya dengan Kak Zura yang tidak disengaja dan akhir-akhir ini Kak Afnan juga sedikit berbeda dalam berperilaku, tidak seperti biasanya.
Seperti ada yang sedang di sembunyikan dan ditutupi dari Ayumi.
Bunda Icha menyimak semua penjelasan Ayumi dengan baik, seketika teringat dengan ucapan Pak Sukoco yang menjelaskan bahwa Bunda Andara dan Kak Zura saat ini berada di Mesir dan berkerja disalaah satu perusahaan besar di negara itu.
"Tetap hati-hati dan waspada Ayumi, nanti Bunda akan bicara pada Afnan untuk masalah ini," ucap Bunda Icha pelan menenangkan hati Ayumi yang sedang galau.
"Iya Bunda, itu pasti, terima kasih doa-doanya Bunda. Bunda juga yang sehat, biar kita bisa bertemu lagi," ucap Ayumi pelan kepada Bunda Icha.
"Lusa kita kan bertemu Ay, kamu lupa besok harus berangkat ke tempat Kahfi dan Rara, mereka mau ..." ucapan Bunda Icha yang tadinya bersemangat langsung melemah dan terhenti tidak dilanjutkan.
"Apa Bunda? Lusa kita akan bertemu dimana? Memang mau ada acara apa? Kak Fi ulang tahun?" tanya Ayumi dengan suara pelan kepada Bunda Icha.
"Nanti saja, biar Afnan yang memberitahu kepada Ay," ucap Bunda Icha melembutkan suaranya.
'Acara apa sebenarnya, memang kemarin Bulan dan Afnan sempat bercerita tentang Kahfi dan Rara, tapi setelah Ayumi datang, mereka berdua langsung bungkam dan berhenti bercerita seolah memang ingin menutupi semuanya dari Ayumi,' batin Ayumi didalam hatinya.
"Iya Bunda, Ayumi paham, salam Ay buat Pak Kyai," ucap Ayumi dengan sopan.
"Pasti Bunda sampaikan, Ayumi sehat-sehat, jangan banyak pikiran, dan bertanggung jawablah pada apa yang sudah menjadi tanggung jawab Ayumi, Bunda tutup ya, assalamu'alaikum," ucap Bunda pelan mengakhiri sambungan teleponnya.
Ayumi menatap layar ponsel yang sudah mati dan meletakkan kembali ponsel Afnan di meja rias untuk diisi daya kembali.
__ADS_1