Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
20


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang baru bagi Ayumi. Dimana Ayumi akan memulai kehidupannya dengan hal-hal yang positif dan menjadi pribadi yang lebih baik serta memiliki pemikiran dewasa. Ayumi akan menjadi gadis yang baik, ramah, mandiri dan tidak manja.


Mulai hari ini, tidak akan ada cinta untuk sementara waktu hingga Ayumi meraih cita-citanya. Ayumi akan fokus terhadap pendidikannya dan proses hijrahnya menjadi gadis muslimah.


Ayumi sudah sampai disekolah dengan menggunakan angkutan umum. Ayumi memang sengaja untuk menghindari Afnan demi cita-citanya menjadi seorang dokter. Lebih baik menyimpan rasa cinta dan dikecewakan, daripada harus menyerah sebelum mencoba meraih apa yang kita inginkan.


Ayumi berjalan menuju gerbang sekolah dan masuk melalui pintu depan. Semua mata memandang ke arah Ayumi. Bukan karena aneh, tetapi disekolah itu hanya Ayumi yang menggunakan jilbab.


Ayumi berjalan menuju ruang kelasnya. Disana sudah ada Rara yang masih mengerjakan tugas matematika untuk beberapa nomor yang tidak dimengerti.


"Assalamu'alaikum...," ucap Ayumi lembut menyapa semua teman-temannya di kelas.


"Waalaikumsalam...," jawab beberapa temannya serentak.


Semua mata memandang ke arah Ayumi. Ayumi yang terlihat berbeda dari biasanya saat menggunakan rok pendek dan pakaian yang sedikit ketat. Rambut panjang yang biasa diurai menambah kecantikan Ayumi. Namun, hari ini bahkan Ayumi menjadi pusat perhatian kaum adam karena keanggunan dan aura yang terpancar dari wajahnya yang cantik.


"Ra, kamu belum selesai?" tanya Ayumi pelan kepada Rara. Ayumi berharap Rara tidak membencinya karena Ayumi dekat dengan Kahfi.


Rara hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Ayumi, bahkan menoleh saja tidak.


"Rara, sudah aku bilang. Aku dan Kak Kahfi itu tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa kamu tidak percaya padaku?" tanya Ayumi pelan menatap lembut ke arah Rara.


"Tidak usah banyak berkilah Ayumi! Lalu apa maksud dari roti kemarin? Kamu tahu Ayumi, roti itu aku buat penuh cinta untuk Kak Kahfi, tapi roti itu ada pada dirimu? Lalu itu apa maksudnya?" bentak Rara kepada Ayumi.


Ayumi hanya terdiam dan berpikir bagaimana caranya agar Rara bisa percaya dengan semua yang dikatakan Ayumi.


"Hari ini hari sabtu, kamu main ke rumahku, nanti kita ke rumah Kak Kahfi karena biasanya pulang dari pondok diakhir minggu," ucap Ayumi pelan.


"Baiklah aku akan menginap di tempatmu Ayumi. Sebagai sahabat yang baik kamu harus mendukung aku, bukan malah menusukku dari belakang," ucap Rara dengan ketus.


Rara masih kesal dengan Ayumi. Walaupun sebenarnya Ayumi tidak bersalah dalam hal ini.


"Aku janji Ra. Aku sahabatmu tidak mungkin aku berbuat jahat seperti itu. Lagipula gak ada waktu buat mikirin hati, mau fokus sekolah," ucap Ayumi dengan penuh keyakinan dan merangkul Rara dari samping.


"Ini baru namanya sahabat. Ayumi lihat tugasnya? Aku belum kelar," ucap Rara setengah berbisik kepada sahabatnya itu.


Ayumi tersenyum dan terkekeh, lalu mengambil kertas jawaban dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Rara.


Hari ini Ayumi merasa bahagia, satu per satu masalahnya terselesaikan dengan baik.


"Dorrr ... ngalamun aja. Kenapa Ay? Nih makan, tadi beli gorengan di depan," ucap Rara pelan menyodorkan bungkusan plastik pada Ayumi.

__ADS_1


"Tadi dari mana?" tanya Ayumi singkat dan memakan gorengan tersebut.


"Kak Zura mau bertemu Pak Afnan sekalian bawa baju ganti untukku. Aku udah ijin menginap di rumahmu, Ayumi," ucap Rara dengan penuh semangat.


"Tapi aku naik angkutan umum Ra. Kamu gak apa-apa?" tanya Ayumi ragu.


"Ya ampun Ay, gak apa-apa juga kali kita naik angkutan umum," jawab Rara pelan.


Keduanya bertukar cerita sambil menghabiskan beberapa gorengan yang masih tersisa di plastik tersebut.


"Yuk ke kelas sebentar lagi masuk, jangan sampai telat. Setelah ini kita diajar guru killer," ucap Rara pelan lalu beranjak dari duduknya dan berjalan bersama Ayumi menuju kelas.


Ayumi hanya menganggukkan pelan kepalanya dan berjalan disamping Rara.


Dua jam pelajaran terakhir sangat menguras energi di siang hari. Terlebih jika mata pelajaran yang diajarkan adalah mata pelajaran yang kurang disukai, tentu saja akan terasa lama dan membosankan.


Bel pulang sudah berbunyi, semua murid berhamburan untuk segera pulang. Rara dan Ayumi berjalan menuju gerbang sekolah dan akan menunggu angkutan umum.


Siang ini benar-benar terasa terik hingga panasnya menusuk hingga kulit. Keringat yang mengucur sudah membasahi sekitar kening keduanya.


Ayumi dan Rara sudah berada di halte tempat menunggu angkutan umum yang akan membawa mereka berdua pulang. Mereka duduk dan saling bercerita tentang masa kecil mereka.


Tin ... Tin ...


"Ayumi mau pulang?" teriak Kahfi dari atas motor besarnya.


Ayumi hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa menjawab pertanyaan Kahfi.


"Ayuk, bareng Kakak saja," tawar Kahfi setengah berteriak.


Ayumi menatap ke arah Rara yang langsung terlihat kecut membalas tatapan Ayumi.


"Woy ... denger gak?" teriak Kahfi kemudian.


Ayumi langsung menatap Kahfi dengan tatapan tajam.


"Dengarlah, emang Ayumi tuli," teriak Ayumi tidak terima dengan ucapan Kahfi.


"Kirain gak denger, secara kamu beda benget hari ini? Pake hijab? Tapi makin cantik," puji Kahfi sambil tersenyum.


Hati Rara makin panas mendengar pujian Kahfi kepada Ayumi. Rasanya iri dan cemburu mendengar pujian dengan modus tingkat dewa.

__ADS_1


"Kak ... antar Rara ke rumah Ayumi. Nanti Ayumi pulang bareng temen," ucap Ayumi kepada Kahfi pelan setengah berbisik.


Ayumi tersenyum sambil memohon kepada Kahfi. Kahfi cukup mengerti dengan kode Ayumi.


"Baiklah. Ayuk Ra, naik ke motor," ucap Kahfi dengan malas.


"Ra, kamu bonceng Kak Kahfi biar tambah deket, katanya suka?" ucap Ayumi pelan kepada Rara sambil mengedipkan satu matanya kepada Rara.


Rara mengangguk paham, dan berjalan menuju motor Kahfi. Lalu naik ke atas motor besar tersebut.


Kahfi mengumpat pelan dan menatap tajam ke arah Ayumi. Ayumi yang sadar ditatap tajam oleh Kahfi memalingkan wajahnya ke arah lain yang kebetulan angkutan menuju rumah Ayumi lewat.


Ayumi memberhentikan angkutan umum itu dan naik ke dalam angkutan itu. Kahfi hanya menatap sinis terhadap Ayumi.


Ada perasaan kesal dan tidak rela di dalam hati Kahfi saat melihat gadis kesayangannya lebih mementingkan perasaan sahabatnya sendiri.


"Kak, gak mau jalan sekarang? Atau masih ada yang ditunggu?" ucap Rara pelan kepada Kahfi.


Kahfi mendengar ucapan Rara lalu mengangguk pelan dan menyalakan mesin motornya.


Motor besar itu melaju pelan tepat di belakang angkutan umum yang dinaiki oleh Ayumi.


Rara tidak menaruh curiga sama sekali, malahan Rara senang bisa berduaan seperti ini dengan Kahfi. Padahal maksud Kahfi adalah menjaga Ayumi dari kejauhan.


Kahfi lebih dulu sampai di rumah Nenek Arsy, sedangkan Ayumi masih berjalan kaki dari depan gang rumahnya hingga sampai dirumah Nenek Arsy.


Kahfi dan Rara sudah duduk di teras rumah ditemani oleh Nenek Arsy.


"Ini teman Ayumi?" tanya Nenek Arsy kepada Rara.


"Iya Nek. Saya Rara, sahabat Ayumi," ucap Rara mantap.


"Nak Kahfi gak pulang dulu. Nenek risih lihat tas ransel gunung kamu itu," ucap Nenek Arsy pelan.


"Nenek ngusir Kahfi?" ucap Kahfi dengan polos.


"Bukan mengusir Nak Kahfi, lebih tepatnya pulanglah dulu sebelum bermain," ucap Nenek Arsy menasehati.


Kahfi berdecak kesal dan mengambil tas gunungnya lalu menghampiri Nenek Arsy untuk berpamitan.


"Kahfi pulang dulu Nek, tapi nanti kesini lagi ya," ucap Kahfi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mandi dulu yang bersih sebelum ngapelin Rara," ucap Nenek Arsy sambil mencubit lengan Kahfi dengan pelan.


Kahfi hanya menganggukkan kepalanya pelan.


__ADS_2