
Rara sudah berada dikamar Ayumi dan mencoba bertanya pada Ayumi. Kenapa Ayumi harus pergi secara tiba-tiba dan membuat semua orang panik.
"Apa yang terjadi padamu Ayumi? Tidakkah kamu tahu, kita semua panik dan bingung karena ulahmu?" ucap Rara lembut kepada Ayumi.
Rara sudah menganggap Ayumi sebagai saudaranya sendiri. Bagi Rara, suka duka harus dijalani bersama dengan Ayumi sahabatnya.
Ayumi hanya terdiam dan menatap ke arah luar jendela kamar tidurnya.
"Aku tidak apa-apa, Ra. Tidak perlu khawatir atau panik dengan kondisi aku saat ini. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Ayumi lirih tanpa menoleh ke arah Rara sedikitpun. Pandangannya masih tetap terarah di luar jendela.
Pemandangan ke luar kamar Ayumi adalah sebuah taman kecil milik tetangganya yang tertata rapi bunga-bunga beserta pot yang cantik. Sejuk di mata melihatnya, belum lagi jika bunga itu mulai menguncup dan berkembang wanginya tentu akan semerbak tercium hingga kamar Ayumi.
"Apa sulit untuk bicara jujur denganku Ay? Bukankah kita ini bersahabat Ay?" ucap Rara pelan dan duduk tepat disamping Ayumi.
"Ra lihat bunga yang putih dekat pot berwarna hitam hijau itu cantik ya. Cantiknya seperti kamu, Ra," ucap Ayumi pelan tanpa memperdulikan ucapan Rara sebelumnya.
Rara melihat ke arah luar jendela dan menatap satu per satu bunga disana.
"Oh itu bunga Lily namanya. Bunganya cantik secantik namanya. Aku tidak secantik bunga itu Ra, kamu yang cantik seperti bunga mawar," ucap Rara menjelaskan.
"Penting memperdebatkan sesuatu yang unfaedah?" ucap Ayumi pelan dan menoleh ke arah Rara.
"Maksudnya apa Ay?" tanya Rara yang terlihat bingung.
"Aku hanya ingin orang-orang disekeliling aku bahagia, terutama kamu, Ra. Kamu sahabat aku, aku ingin melihat kebahagian di matamu, diwajahmu dan disenyumanmu," ucap Ayumi pelan lalu tersenyum manis kepada Rara.
"Apa itu artinya kamu mau aku dan Kak Kahfi dekat?" tanya Rara menebak maksud Ayumi.
Ayumi tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Astagfirullah ... calon bidadari kok ketawanya ngakak gini," ucap Ayumi pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bidadarinya siapa nih?" celetuk Rara tersenyum.
"Aku gak mikir Ra. Suatu saat pasti akan menjadi bidadarinya orang," jawab Ayumi lalu terkekeh.
"Mau jujur atau gak mau cerita," todong Rara kepada Ayumi.
"Belum saatnya Ra. Pasti aku akan cerita nanti," ucap Ayumi pelan.
"Ay, nanti sekolah kita berbeda. Mungkin aku akan sekolah yang agak jauh dari kota ini," ucap Rara pelan.
"Bukankah kamu mau sekolah di tempat Kak Kahfi?" tanya Ayumi singkat.
"Di mana pun aku sekolah, kita tetap sahabat Ay. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu Ay," ucap Rara pelan kepada Ayumi yang masih fokus menatap bunga satu per satu.
"Kamu mau melanjutkan sekolah dimana Ra?" tanya Ayumi kepada Rara.
Ayumi membalikkan tubuhnya dan duduk berhadapan dengan Rara. Topik kali ini lebih menarik dibanding harus bercerita tentang Afnan dan Kahfi.
"Aku ingin ambil sekolah analis di kota Solo. Mau belajar mandiri seperti kamu, Ay. Mainlah kesana, nanti kita berkabar Ay," ucap Rara pelan.
"Setelah ujian aku langsung kesana Ay. Betul katamu Ay, kita harus sukses dulu dan jangan bermain hati. Jalan kita masih begitu panjang, masih banyak ilmu dan pengalaman yang bisa kita dapatkan dari pada mengurusi cinta yang ujung-ujungnya membuat kita sakit hati," ucap Rara pelan dan tersenyum kepada Rara.
"Kita berdua harus sukses Ra. Kita pasti bisa sukses bareng, asal kita saling mendukung dan memotivasi," ucap Ayumi kepada Rara.
Kedua mata sahabat itu basah, mereka menemukan arti sahabat yang sesungguhnya. Sahabat yang selalu ada walau pernah dikecewakan, sahabat yang selalu menemani walau pernah ditinggalkan, sahabat yang akan selalu menyayangi walau pernah dilupakan. Sahabat akan sangat berarti bila sudah pergi, saat dekat pasti akan berbeda pendapat tapi saat jauh terasa hilang teman bertukar pikiran.
Ayumi dan Rara saling berpelukan dan menangis bersama. Mereka merasa memiliki kisah yang sama hanya berbeda kondisi.
"Ay, aku mau jujur sama kamu. Kak Zura itu bukan Kakak Kandungku," ucap Rara lirih membuka aib keluarganya sendiri.
Ayumi tampak terkejut dan menatap Rara seakan meminta penjelasan yang lebih detail dan dapat dimengerti.
__ADS_1
"Aku gak ngerti Ra. Memang wajah kalian itu berbeda, tapi itu bukan masalah," ucap Ayumi mencoba menengahi.
"Panjang ceritanya Ra. Aku tahu juga dari Mama. Mama menceritakan semuanya tentang Ibu Kak Zura," ucap Rara pelan.
"Lalu ta'aruf itu benar adanya?" tanya Ayumi mengalihkan pembicaraan. Ayumi tidak mau terlalu dalam masuk kehidupan Rara.
"Ta'aruf itu memang hanya sepihak Ay. Kak Zura mencintai Kak Afnan. Tapi, Kak Afnan lebih memilih dari pada Kak Zura. Kamu itu berbeda Ay. Ada aura tersendiri yang buat Kak Afnan jauh hati hingga saat ini," ucap Rara pelan.
"Aku juga gak tahu Ra. Perasaan kita sama, tapi ..." ucapan Ayumi terhenti saat mengingat kejadian tadi pagi. Ada rasa aneh yang tidak seperti biasanya.
"Tapi apa Ay?" tanya Rara sedikit mendesak karena penasaran.
Ayumi menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan napas itu perlahan, dan mencoba menenangkan hati dan pikirannya.
"Tadi saat berlari tidak sengaja bertemu Kak Afnan, kami berdua sangat dekat saat aku menabraknya. Suara Kak Afnan yang dekat dengan telingaku saja tidak bergetar seperti biasanya," ucap Ayumi menjelaskan.
"Kamu cinta kan Ay sama Kak Afnan?" tanya Rara kembali dan menatap kedua mata Ayumi untuk mencari kejujuran disana.
"Aku cinta tapi hari ini rasanya kosong saat bertemu Kak Afnan. Rasanya hampa, kayak gak ada getaran seperti biasanya," ucap Ayumi dengan polosnya.
"Apa do'amu setiap malam Ay?" tanya Rara semakin penasaran.
"Aku hanya meminta sama Allah SWT untuk diberikan yang terbaik untukku, walaupun saat ini keputusan itu membuatku kecewa. Aku akan terus mencari cinta dan ridho Allah SWT dan Rasul-nya. Kalau itu sudah aku dapatkan insha Allah akan dipermudah jalan apapun," jelas Ayumi.
"Lalu menurut kamu, rasa cinta itu saat ini pergi karena kalian sepakt untuk meraih cita-cita dahulu," ucap Rara sedikit memojokkan.
"Janji ya Ra, sebelum kita punya pekerjaan dan belum sukses, kita tidak boleh membicarakan laki-laki termasuk Kak Afnan dan Kak Kahfi," ucap Ayumi terkekeh.
"Siapa takut?! Deal ya," ucap Rara sambil memberikan jari kelingkingnya pertanda janji harus dituruti.
Ayumi menautkan jari kelingkingnya kepada jari kelingking Rara. Mereka berdua tersenyum dan tertawa.
__ADS_1
"Kayak anak kecil gak sih kita ini?" tanya Ayumi yang masih terkekeh melihat tingkah mereka berdua.
"Sesekali membahagiakan diri sendiri itu perlu Ay. Jangan berpikir apa yang kita lakukan itu tidak sesuai umur kita," ucap Rara kepada Ayumi yang masih tampak malu-malu.