
Ayumi mulai menceritakan semuanya dari awal kejadian hingga akhirnya Ayumi bisa melepaskan diri dai kungkungan dari lengan Roland.
Bulan mendengarkan dan menyimak cerita Ayumi dengan seksama. Rasanya seperti ada yang janggal dengan kejadian ini.
"Ada yang tidak beres sepertinya Ay," ucap Bulan dengan suara pelan.
Suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Ayumi, belum sempat dibuka, suara dering telepon dari Afnan pun masuk ke ponsel Ayumi. Bulan mengedipkan matanya dan menyuruh Ayumi untuk meloudspeaker sambungan telepon dan merekamnya untuk antisipasi.
Kedatangan Roland yang mengaku sebagai teman bahkan sahabat Afnan juga terasa sangat janggal. Kalau benar teman dekat, dari awal pernah dibawa ke apartemen, paling tidak Afnan pernah bercerita tentang Roland sebagai teman akrabnya. Tapi kenyataannya Afnan tidak ada membicarakan siapapun karena memang tidak ada sahabat yang sedekat itu.
"Assalamu'alaikum, Kak Afnan dimana?" tanya Ayumi pelan sambil meluapkan kekesalannya.
"Waalaikumsalam, bukan waktu yang tepat untuk berdebat, kalian berdua berangkat lebih dulu," ucap Kak Afnan dengan suara panik dan tergesa-gesa.
"Kak Afnan dimana," tanya Ayumi kemudian dengan cepat.
"Pergilah Ayumi, jangan pikirkan Kak Afnan, setelah kalian pulang nanti, bila Kak Afnan belum juga kembali, lapor polisi. Ingat jangan katakan apapun pada Bunda dan Bapak, bilang saja Kak Afnan sibuk," titah Kak Afnan kepada Ayumi dan langsung menutup ponselnya dengan cepat.
"Kak Afnan!!" terakhir Ayumi dengan sangat keras.
"Kak Afnan!! Kamu dimana Kak!?" teriak Ayumi berulang kali seperti orang yang sedang frustasi.
Ayumi berteriak memanggil nama Afnan dari ponselnya yang sudah mati dan tidak tersambung lagi dengan Afnan.
"Arghhhhhh ..." teriak Ayumi sambil melempar ponselnya hingga terlepas semua, tercecer berserakan dilantai.
Ayumi sudah sangat kesal, rasanya penasaran sekali, sebenarnya ada apa dengan semua ini.
"Sudah Ay, jangan seperti ini, kalau kamu begini terus, acara kita bisa gagal semua. Kak Afnan baik-baik saja, mungkin memang sedang sibuk ada yang dikerjakan, lebih baik kita sekarang bersiap dan berangkat ke bandara. Setelah ini kita pikirkan kembali masalah ini," ucap Bulan pelan memberikan saran.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju. Hatinya masih kalut dan kacau sehingga tidak bisa berpikir jernih.
Ayumi dan Bulan kembali ke kamarnya dan mulai mempersiapkan diri menuju bandara.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan di dalam taksi online tersebut, Ayumi masih terus kepikiran dengan Afnan yang berucap seperti tadi. Tentu ini bukan hal biasa, tapi hal yang luar biasa aneh.
'Apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada dirimu Kak Afnan,' batin Ayumi di dalam hatinya.
Bulan memegang erat tangan Ayumi seolah memberi kekuatan agar Ayumi lebih tegar dan sabar dalam menjalani hubungannya dengan Kak Afnan.
"Sudah jangan kamu pikirkan, tenangkan hati kamu, dan semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap Bulan pelan memberikan semangat.
"Kak Zura kemana ya? Nanti masuk rumah bagaimana?" tanya Ayumi tiba-tiba kepikiran dengan kondisi Kak Zura.
"Sudahlah Ay, jangan dipikirkan, biarkan Nenek Lampir itu berusaha sendiri, Bulan sudah kesal dengan kelakuan Kak Zura," ucap Bulan ketus saat membicarakan tentang Kak Zura.
Setengah jam kemudian, sampailah kedua sahabat itu di bandara. Waktu sudah sangat pas sekali, karena lima belas menit lagi pesawat akan berangkat. Dengan gerak cepat kedua sahabat itu untuk.masuk ke dalam dan berjalan menuju nomor pesawat sesuai dengan tujuan keberangkatan.
Kini kedua sahabat itu, sudah berada di atas pesawat yang terbang menuju arah tujuannya. Satu kursi kosong milik Kak Afnan, seharusnya Kak Afnan ada disini bersama dengan kita semua dan duduk bercanda di kursi sebelah Ayumi itu.
Perasaan Ayumi masih saja tidak tenang, seperti akan ada Maslah besar yang terjadi setelah ini, tapi entah apa itu, Ayumi hanya merasakan ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi dengan Kak Afnan dan berimbas pada hubungan antara Ayumi dan Kak Afnan.
"Setahu Bulan ada, dipojokan emang tidak begitu jelas, tapi ada sekita emapt ataunlima kamera. Kenapa tiba-tiba nanya cctv segala?," jawab Bulan pelan menjelaskan kepada Ayumi.
"Jika terjadi apa-apa di apartemen kan bisa di cek," ucap Ayumi pelan menjelaskan maksud.
Bulan hanya mengangguk pelan dan tersenyum kepada Ayumi yang masih terlihat pusing.
Kedua sahabat itu kini sedang tertidur pulas, kedua matanya sudah terpejam sejak satu jam yang lalu. Mungkin terlalu lelah beraktivitas dan memang ingin melupakan sejenak pikiran tentang Kak Afnan.
Setelah berhasil menelepon Ayumi untuk memberi kabar, Afnan terus berlari mencari tempat persembunyian yang aman. Keadaannya semakin terpojok dan tidak bebas.
Afnan ingat betul saat masih berada di ruang kerja asisten dosen, untuk membuat kisi-kisi materi yang akan digunakan untuk memberikan materi di kelas siang nanti.
Tapi, hal itu belum juga terealisasikan, tiba-tiba saja tubuh Afnan sudah rubuh dilantai dengan satu pukulan di tengkuknya hingga samar-samar terdengar suara banyak orang ikut mendoakan Afnan apapaun kondisinya nanti.
Afnan tersadar dari tidur panjangnya dan membuka matanya pelan, tubuhnya terikat kencang dengan sebuah tali tambang yang besar dan kuat serta tubuhnya bergoyang karena berada di dalam mobil yang akan membawanya entah kemana.
__ADS_1
Tidak lama mobil itu berhenti, dan Afnan berusaha memejamkan kedua matanya dan berpura-pura masih dalam keadaan pingsan.
Tubuh Afnan di angkat dan dibawa ke sebuah kamar yang cukup gelap dan pengap, baunya seperti ruang kosong yang sudah tidak berpenghuni, namun sedikit berbau amis.
"Masukkan saja di ruang eksekusi, dan ikat yang kencang agar tidak lepas. Nanti Bos Roland bisa marah," ucap satu bodyguard Bos Roland.
'Roland, apa salahku kepadamu,' batin Afnan di dalam hatinya. Mengingat kejadian tadi juga pembicaraannya baik-baik saja, lalu apa yang menjadi masalahnya.
Tubuh Afnan terikat sangat kencang dan hanya diletakkan di lantai yang sangat dingin begitu saja.
Sayup-sayup terdengar pembicaraan antar pengawal itu yang juga sedang mencari keberadaan tunangan Afnan di apartemen milik Afnan.
"Sudah dipastikan, itu perempuan tidak akan selamat kehormatannya. Kata bos, gadis itu begitu sempurna cantiknya," ucap salah satu pengawal.
"Bisa habis sama bos, kita dapet sisanya juga mau," ucal satu pengawal tertawa keras.
"Bos Roland, tidak akan mememberikan pada kita, sebelum gadis itu menjadi mayat akan terus dihabiskan sari madunya," ucap satu pengawal yang lain.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Jantung Afnan langsung berdebar rasanya tidak karuan. Afnan sangat kepikiran Ayumj, gadis yang dicintainya itu bila disakiti oleh orang lain tanpa sepengetahuan Afnan, apalagi kalau sampai melakukan perbuatan asusila.
"Sore Bos," jawab pengawal itu kepada Roland.
"Beres semua?" tanya Roland dengan penuh semangat.
"Sudah siap Bos, di kamar atas nanti," ucap satu pengawal menjelaskan.
"Baiklah, satu ikut aku, untuk membawa gadis itu," ucap Roland dengan keras.
__ADS_1