Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
64


__ADS_3

Semua orang menatap kedua gadis cantik tersebut ikut merasakan kesedihannya. Bunda Icha menghampiri keduanya dan memeluk keduanya dengan erat, kedua calon menantu kesayangannya yang akan menemani hari-hari kedua putranya hingga akhir hayatnya nanti.


Setiap orang tua selalu menginginkan calon menantu yang baik. Kehidupan jaman sekarang baik saja tidak cukup dijadikan tuntutan tanpa ada tingkat keimanan yang setara dengan keikhlasan dan kesabarannya.


"Bunda..." ucap Rara dengan lirih.


"Iya Ra," jawab Bunda memeluk erat tubuh lemas Rara dengan lembut.


"Terima kasih Bunda sudah datang kesini, Rara sungguh bahagia," ucap Rara pelan.


"Tidak perlu berterima kasih Ra, semua itu sudah garis takdir hidup Rara. Bunda dan Bapak hanya ikut mendukung dan merestui apa yang diinginkan oleh putra bungsu kesayangan Bunda," ucap Bunda pelan menjelaskan.


Ayumi menatap kedua wanita berbeda usia tersebut, Bunda Icha adalah sosok wanita penggantian Bundanya yang selama ini sangat mendukung aktivitas Ayumi tentunya dengan segala nasihat dan kasih sayang yang begitu tulus untuk Ayumi, sedangkan Rara adalah sahabat pertama yang dimiliki oleh Ayumi saat pindah ke kota ini, walaupun pernah ada kesalahan pahaman diantara mereka, namun semuanya bisa diatasi dengan baik tentunya dengan kepala dingin.


"Kalian adalah perempuan-perempuan pilihan, yang akan menjadi Bidadari Surganya kedua putra Bunda. Karena kalian adalah perempuan pilihan maka berikan juga yang terbaik untuk anak-anak Bunda nantinya," ucap Bunda Icha dengan pelan menasehati.


Ayumi menatap Bunda Icha dengan wajah sendu dan memeluk erat tubuh paruh baya itu dengan penuh kasih sayang. Bunda Icha sangat mirip dengan Bunda Alisha, dari perangainya, cara berpakaiannya, kasih sayangnya, dan itu yang selalu membuat Ayumi merasa Bunda Alisha masih ada dan sangat dekat dengannya.


Kedua mata Ayumi sudah basah, sedikit saja mengedipkan matanya, air mata itu pasti luruh deras ke pipinya. Pelukan kasih sayang antara Ayumi dan Bunda Icha terlihat mesra sekali, sesekali Ayumi mencari kenyamanan di ceruk leher Bunda Icha yang tertutupi oleh hijabnya.


"Kita akan menjadi saudara Ay," ucap Rara dengan lirih.


Tubuhnya masih terasa lemas sekali eilah sudah tidak ada daya dan upaya untuk menjalani kehidupan. Hanya Kahfi yang bisa membuat Rara termotivasi dalam menjalani hidupnya.


"Kita akan menjadi anak-anak perempuan kesayangan Bunda, dan kita berdua menjadi saudara Ra," ucap Ayumi menegaskan hubungan mereka selanjutnya.


Selang beberapa waktu kemudian, saat Kyai Toha, Pak Sukoco dan Kahfi sedang berbincang di sofa yang ada di ruangan tersebut, terdengar suara ketukan pintu kamar lalu terbukalah pintu kamar itu dengan lebar. Ada dua sosok perempuan berbeda usia yang masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa beberapa tas besar dan kantong plastik berwarna putih.


"Anna!" panggil Pak Sukoco pelan kepada seorang wanita yang tak lain adalah istri baru Pak Sukoco.


Anna dan anaknya menghampiri Pak Sukoco dan kedua tamu pentingnya itu. Bulan adalah putri tunggal Anna dengan suami terdahulunya yang telah meninggalkan Anna ke tempat keabadian.

__ADS_1


Selama ini Anna bekerja pada Pak Sukoco sebagai staf kepercayaannya. Semenjak ricuh dan permasalahan dalam keluarga kecil Pak Sukoco yang berakhir perpisahan, Pak Sukoco memberanikan diri untuk meminang Anna.


Anna adalah wanita kuat dan mandiri. Bekerja sebagai staf untuk menghidupi putrinya untuk bisa mengejar cita-citanya sebagai dokter Gigi.


"Kak Kahfi? Kyai Toha?" ucap Bulan pelan.


"Kamu sudah kenal Nak?" tanya Pak Sukoco pelan kepada Bulan anak tirinya.


"Tadi Bulan menumpang dalam mobilnya bersama Ayumi," jawab Bulan singkat.


Anna dan Bulan menyalami kedua pria paruh baya itu dengan hormat, dan kepada Kahfi, Bulan hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Kahfi hanya mengangguk pelan ke arah Bulan.


"Bulan?!" panggil Ayumi yang berada disisi bed rumah sakit tempat Rara terbaring lemah.


Bulan menoleh ke arah asal suara dan berjalan menuju bed tersebut.


"Rara, kenalkan ini sahabatku di Al Azhar. Bulan itu cerdas dan pintar seperti kamu, Ra," ucap Ayumi memperkenalkan Bulan dengan penuh semangat


Rara hanya tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. Tangannya menggenggam tangan Ayumi, rasa hangat tubuh Rara tersalurkan melalui genggaman tangan tersebut.


Ayumi menoleh ke arah Rara, dan membalas senyuman itu seperti meminta penjelasan arti senyuman Rara.


"Bulan itu saudara tiri Rara, Ay, anak Mama Anna," ucap Rara lirih menatap Bulan dan Ayumi secara bergantian.


Mama Anna berjalan menuju bed Rara dan menghampiri anak tirinya itu, mengusap rambut Rara dan mengecup kening Rara dengan penuh kasih sayang.


"Maaf Mama lama Ra, ini pesanan Rara sudah Mama belikan," ucap Mama Anna setengah berbisik di dekat wajah Rara.


Rara menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih Ma," jawab Rara dengan sopan.


"Iya sayang," jawab Mama Anna pelan.


"Bunda Icha?" tanya Mama Anna sambil tersenyum dan menyalami calon besannya itu.


"Betul sekali, Saya Icha Bundanya Kahfi, calon suami Rara," ucap Bunda Icha pelan menjelaskan.


"Alhamdulillah, pasti senang sekali kamu Ra?" ucap Mama Anna kepada Rara.


"Senang sekali Ma, terima kasih sudah motivasi Rara selama ini, walaupun Rara tidak pernah dekat dengan Mama," ucap Rara singkat.


Sudah tiga bulan ini Rara tinggal di asrama sekolah barunya. Hampir satu minggu sekali Pak Sukoco dan Mama Anna mengunjungi Rara, karena Pak Sukoco tahu persis kondisi Rara anaknya itu sudah sangat lemah sekali.


Terakhir, kontrol bersama dokter pribadinya dan hasil laboratorium sudah menetapkan bahwa kanker otak yang diderita Rara sudah memasuki awal stadium empat. Hanya keajaiban yang bisa menyembuhkannya, semuanya dipasrahkan kepada Allah SWT Sang Pemberi Hidup.


Pak Sukoco dengan sengaja memilih kota Solo untuk membangun usahanya yang baru dibantu oleh Anna, asisten pribadinya yang kini telah resmi menjadi istrinya.


Selain ingin mencari suasana baru, Pak Sukoco ingin dekat dengan Rara. Sudah cukup permasalahan keluarganya membuat beban tersendiri bagi Rara. Pak Sukoco hanya tidak ingin Rara merasa kesepian dan sendiri.


"Terima kasih Bunda Icha sudah mau merestui hubungan antara Kahfi dan Rara," ucap Mama Anna pelan.


"Kita sebagai orang tua hanya mendukung dan merestui saja selebihnya itu adalah hak anak-anak kita," ucap Bunda Icha pelan.


Kahfi menatap Rara dan Ayumi dari kejauhan secara bergantian. Rara yang masih bersandar pada tumpukan bantal dan Ayumi duduk di sebelah Rara sambil memeluk dari samping.


Keduanya tampak akrab dan sangat mesra, Kahfi memandang gadis pujaannya dengan sendu, 'Sampai kapan aku hanya bisa menatapmu seperti ini tanpa bisa memilikimu seutuhnya Ay,' batin Kahfi dalam hatinya.


Sekilas menatap Rara yang terlihat pucat dan lemah, yang sebentar lagi akan dilamarnya dan mungkin tidak lama akan menjadi istri sahnya.


'Apakah aku bisa menjalani semuanya tanpa rasa sayang dan rasa cinta, hanya paksaan dari keluarga dan rasa kasihan,' batin Kahfi dalam hatinya.

__ADS_1


Tatapan itu terbalaskan oleh tatapan Rara dan tersenyum manis ke arah Kahfi yang memang sejak tadi menatap Rara.


__ADS_2