Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
75


__ADS_3

Langkah pelan keduanya diiringi obrolan-obrolan yang seru, sampai juga keduanya di atas bukit tinggi dengan pemandangan yang sungguh menakjubkan.


Hawa dingin bercampur terik matahari yang mulai meninggi membuat tubuh mereka menjadi semakin hangat.


"Lihat itu gunung merapi yang tertutup awan putih terlihat begitu jelas seperti berdiri tegak sejajar dengan kita" ucap Kahfi menunjuk ke arah depan.


Kedua mata indah Ayumi berbinar seketika melihat pemandangan yang sungguh mempesona ini.


Kedua tangan Ayumi direntangkan dan kepalanya menengadah ke atas dan merasakan hembusan angin kencang dari arah pegunungan yang menerpa wajah dan hijab Ayumi. Hembusan angin itu terasa dingin menusuk kulit diwajahnya, kenikmatan ini memang sulit di ungkapkan dengan kata-kata namun bisa dirasakan dan digambarkan melalui kebahagian dan mimik wajah yang terlihat menikmati.


"Ayumi suka tempat ini Kak Fi," ucap Ayumi dengan kedua mata yang masih tertutup.


Kahfi melirik ke arah Ayumi yang masih menikmati udara sejuk itu. Dari samping, wajah cantik Ayumi begitu terlihat sempurna, kedua mata yang tidak belok namun tetap terlihat indah, bulu mata yang lentik, hidung yang tidak terlalu mancung namun terlihat pas dengan wajahnya, bibirnya yang mungil dan tipis membuat kesempurnaan itu semakin mempesona.


"Mau sampai kapan merem gitu? Lihat pemandangannya, kalau udah kamu boleh teriak disini sekencang-kencangnya," ucap Kahfi pelan kepada Ayumi.


Ayumi menurunkan kedua tangannya dan meluruskan pandangannya pada gunung Merapi yang ada didepannya. Kedua matanya berkeliling ke segala arah hingga tidak ada yang terlewati.


Ayumi berjalan maju ke depan dan memegang pagar besi pembatas bukit dan jurang. Kahfi mengikuti Ayumi dari belakang dan berdiri tepat di belakang Ayumi.


"Awas Ay," ucap Kahfi menasehati agar berhati-hati.


Ayumi hanya mengangguk pelan. Ayumi menarik napas dalam lalu berteriak sekeras-kerasnya hingga otot dileher seperti tertarik hingga ke arah pipi.


Kahfi menatap punggung gadis pujaannya itu dengan rasa iba, teriakannya sangat keras dan lantang namun seperti tertahan dan kurang lepas. Ada beban yang masih tersimpan dalam lubuk hatinya yang enggan dikeluarkan hingga lepas dari semua kepenatan.


Ayumi menundukkan wajahnya, kedua matanya terpejam menahan air mata yang akan keluar. Saat berteriak seolah kedua orangtuanya datang memeluk Ayumi dari belakang dan memberikan kekuatan serta motivasi untuk selalu kuat dan tabah menjalani kehidupan yang keras ini.


Kahfi berjalan maju mendekati Ayumi, kedua tangannya menyentuh bahu Ayumi dan disandarkan ke dadanya. Kahfi berbisik lembut tepat di telinganya Ayumi yang tertutup oleh hijab, "Ada Kakak yang selalu ada di sampingmu Ay. Bagi Kakak, kamu adalah prioritas dan orang yang paling penting bagi hidup Kakak."


Hati Ayumi tersentak kaget saat ucapan Kahfi begitu membuat kelegaan dan kenyamanan bagi Ayumi. 'Tapi, ini tidak boleh terjadi, Kak Fi milik Rara, dan hanya Rara yang seharusnya menjadi prioritas Kak Fi, bukan Ayumi,' bagi Ayumi di dalam hatinya.


Tubuh Ayumi dibalikkan oleh Kahfi hingga mereka berdiri saling berhadapan. Wajah cantik Ayumi terlihat lesu dan tidak bergairah.


"Jangan menangis, Kakak akan selalu ada buat kamu, ini janji Kakak yang akan selalu Kakak tepati," ucap Kahfi pelan. Nada suaranya sungguh mendamba kepada Ayumi.

__ADS_1


Jari telunjuk Kahfi menyentuh dagu Ayumi dan mengangkat wajah itu untuk menatap dirinya.


"Lihat mata Kakak, jangan pernah takut pada apapun, katakanlah pada Kakak, dan Kakak akan membantumu dengan tulus," ucap Kahfi kembali dengan suara yang lembut.


Ayumi hanya menatap wajah sempurna milik Kahfi, tanpa bisa menganggukkan kepalanya karena tertahan oleh jari Kahfi.


"Tapi Kak?" ucapan Ayumi terhenti saat jari telunjuk Kahfi berpindah dari dagunya ke bibir mungil Ayumi tanda untuk tidak berkomentar sedikitpun.


"Kakak tidak mau dengar alasan apapun, termasuk alasan tentang Rara," ucap Kahfi dengan sangat tegas.


Ayumi hanya menatap kedua bola mata Kahfi dengan sendu. Jari telunjuk Kahfi sudah diturunkan dan Ayumi memalingkan wajahnya ke arah lain. Mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain.


Ayumi tidak ingin kesedihannya di publikasikan untuk semua orang, agar banyak orang yang iba dengannya, bahkan sebaliknya Ayumi tidak suka dengan orang yang mengasihani dirinya.


"Hargai perasaan Rara, Kak. Hargai juga perasaan Kak Afnan, kita berdua hanya akan menjadi saudara ipar dan tidak akan pernah lebih dari itu," ucap Ayumi pelan. Air matanya sudah penuh dan tidak tertahan ingin keluar dari kelopak matanya yang indah.


"Menurutmu Kakak paling pantas tersakiti?"tanya Kahfi kepada Ayumi pelan.


"Bukan itu maksud Ayumi, Kak," jawab Ayumi lirih.


Kahfi memeluk Ayumi dengan paksa, Ayumi menolak dengan memukul dada bidang Kahfi dan lengan Kahfi.


"Lepaskan aku," tegas Ayumi dengan keras.


"Biarkan Kakak seperti ini sebentar saja Ay," ucap Kahfi setengah berbisik.


Degub jantung Ayumi terasa sangat cepat, ingin rasanya berteriak dengan keras.


Pelukan itu semakin erat dan terasa nyaman sekali.


"Kak Fi, cukup!" ucap Ayumi dengan nada menyentak dan mendorong tubuh Kahfi ke belakang.


Ayumi berlari menjauh dari Kahfi dan menuruni bukit itu dengan anak tangga.


"Ayumi!!" teriak Kahfi yang juga berlari mengejar Ayumi.

__ADS_1


Ayumi tetap berlari, suatu kesalahan telah Ayumi lakukan lagi dengan membiarkan Kahfi memeluk tubuhnya dan merasakan kenyamanan.


Napasnya mulai terengah-engah, Ayumi berhenti dan berpegangan pada pohon besar yang ada di dekatnya. Kepalanya mulai pening.


"Ayumi!! Kenapa kamu?" teriak Kahfi dengan suara lantang sambil menuruni anak tangga tersebut dengan cepat.


Kahfi memegang kedua lengan Ayumi dari belakang dan menuntunnya ke arah kursi taman disekitar area tempat wisata itu.


Ayumi di dudukkan kursi itu dan dibiarkan bersandar di bahu Kahfi.


"Kamu kenapa Ay?" tanya Kahfi pelan.


"Pusing Kak Fi," jawab Ayumi pelan.


"Kamu disini dulu ya, Kakak beli makanan dulu sebentar," ucap Kahfi pelan.


Tangan Ayumi menahan kepergian Kahfi dengan menarik kaos oblongnya.


"Pulang aja ya Kak Fi, Ayumi mau istirahat di rumah," ucap Ayumi pelan.


"Baiklah kita pulang, kamu kuat jalan apa harus digendong?" tanya Kahfi pelan dengan nada serius.


Ayumi tersenyum lebar.


"Gak mungkin kan digendong? Gak usah mengada-ngada, yuk jalan," ucap Ayumi pelan kepada Kahfi.


"Kirain minta digendong," ucap Kahfi dengan penuh harap.


Kahfi dan Ayumi berjalan beriringan menuju pintu keluar area wisata ini. Hari sudah mulai siang, acara bermain-main sudah selesai. Nanti sore Ayumi hari kembali ke Pondok Pesantren Al Azhar.


Keduanya sudah berada didalam mobil dalam perjalanan pulang menuju Rumah Nenek Arsy.


"Mau beli apa mumpung masih dijalan, Ay?" tanya Kahfi pelan kepada Ayumi.


"Jadah dan tempe bacem, ada kan?" tanya Ayumi pelan.

__ADS_1


"Ada, bentar di belokan depan itu ada yang jual dan enak banget," jawab Kahfi pelan dan tersenyum pada Ayumi.


__ADS_2