
Sepanjang perjalanan Ayumi mengeluh pening. Kepalanya seakan berputar hebat. Bunda Icha menyuruh Ayumi untuk istirahat mungkin karena kelelahan.
Ayumi menurut dan memejamkan kedua matanya, kepalanya disandarkan di bahu Bunda Icha. Kedua tangannya memeluk erat pinggang Bunda Icha dengan penuh kasih sayang.
Perjalanan menuju kota Solo sekitar satu jam lagi akan sampai. Kahfi mencari jalan yang agak sepi dan mengantarkan Bulan menuju terminal Solo.
Ayumi masih tertidur pulas di pelukan Bunda Icha. Sesekali Kahfi menatap gadis kesayangannya itu untuk memastikan keadaannya baik-baik saja melalui kaca spion tengah. Tatapan mencinta itu selalu tertangkap basah oleh Bulan yang sejak tadi mengikuti gerak gerik Kahfi yang terlihat tidak nyaman.
"Bulan, kamu mau turun dimana?" tanya Kahfi pelan. Kahfi sadar sejak tadi dirinya ditatap oleh Bulan.
"Depan terminal Kak, ada pos, disana Bulan turun Kak," ucap Bulan pelan sambil menunjuk arah dimana Bulan akan turun.
Kahfi membelokkan mobilnya ke arah jalan yang lebih kecil untuk memutar jalan agar cepat sampai di pos yang ditunjukkan oleh Bulan.
"Disitu kan? Depan jalan raya?" tanya Kahfi pelan.
"Betul Kak, iya disana," jawab Bulan singkat.
Kahfi segera menyeberang jalan dan berhenti tepat di samping pos tersebut.
Bulan mengusap kepala Ayumi yang terbalut hijab berwarna hitam dengan pelan. Menatap wajah cantik Ayumi yang terlihat kelelahan.
"Biarkan Ayumi tidur Bunda, tutup salam saja untuk Ayumi. Bulan pamit, terimakasih sudah boleh menumpang, assalamu'alaikum," ucap Bulan dengan sopan lalu turun dari mobil dan melambaikan tangannya dari arah luar.
"Waalaikumsalam," jawab Kahfi dan Bunda Icha secara bersamaan, sedangkan Kyai Toha hanya mengangguk pelan dan menjawab salam didalam hati.
Mobil Kahfi langsung melaju melesat dengan cepat ke arah rumah sakit, tempat Rara sedang dirawat. Sudah satu minggu Rara, terbaring lemah di rumah sakit, permintaannya hanya ingin menikah dengan Kahfi.
Permintaan Rara langsung disampaikan oleh Pak Sukoco yang datang secara langsung ke rumah Kyai Toha sahabatnya, untuk menyampaikan niat baiknya.
Kahfi adalah orang yang paling menentang acara ini. Bagaimana bisa menjalani sesuatu tanpa rasa cinta apalagi rasa suka pun juga tidak ada.
Kahfi hanya menghembuskan napas dengan keras. Suara hembusan napas itu benar-benar terdengar berat dan kesal.
"Fi," panggil Bunda Icha dengan sangat lembut.
"Ya Bunda," jawab Kahfi sekenanya.
__ADS_1
"Masih marah sama Bunda?" tanya Bunda kemudian sambil menatap putra bungsunya dari belakang.
Ayumi baru saja terbangun karena suara ramai, namun dirinya enggan menegakkan duduknya malah memejamkan kembali kedua matanya lalu mendengarkan dan menyimak pembicaraan keluarga Kahfi.
"Fi, gak marah Bunda, cuma kecewa," jawab Kahfi pelan.
"Kahfi, ini mungkin memang terbaik untuk kamu. Tidak ada salahnya menikah muda," ucap Kyai Toha pelan menjelaskan.
Kahfi hanya mengangguk pelan dan hormat. Bagi Kahfi, sudah tidak ada lagi gunanya berdebat dengan kedua orang tuanya, semua sudah dipersiapkan, jadi tidak mungkin dibatalkan begitu saja, itu sama saja mempermalukan keluarganya sendiri.
"Masih ada waktu, jika mau dibatalkan," ucap Bunda Icha lirih.
Kahfi hanya terdiam menatap jalanan yang mulai padat merayap.
"Tidak perlu Bunda. Biarkan Kahfi jalani semuanya, disaat Kahfi tidak kuat untuk bertahan, maka maafkan Kahfi," jawab Kahfi dengan bijak.
"Bagus, itu baru jawaban bijak. Jalani dulu, karena semua ada prosesnya," ucap Kyai Toha pelan dan mengacungkan jempolnya kepada Kahfi.
"Konsekuen dengan ucapan kamu Fi. Jangan buat kita malu nantinya," ucap Bunda Icha menasehati.
Mobil masih melaju dengan sangat pelan, seperti sedang mencari alamat.
"Itu rumah sakitnya, betul kan, Rumah Sakit Kasih Ibu," ucap Kyai Toha dengan keras dan mengeja nama rumah sakit itu dengan hati-hati.
"Oh iya betul itu, Ayo Fi," ucap Bunda Icha pelan menitah putra bungsunya itu.
Mobil Kahfi berputar arah dan langsung masuk ke dalam parkiran rumah sakit Kasih Ibu. Bunda Icha mengusap pelan kepala Ayumi agar terbangun dari tidurnya.
Kedua mata Ayumi membuka pelan seolah-olah baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak.
"Anak gadis Bunda sudah bangun?" ucap Bunda pelan.
"Bunda, sudah sampai? Ini dimana?" tanya Ayumi pelan kepada Bunda Icha.
"Kita dirumah sakit Ay," ucap Bunda Icha pelan sambil merapikan hijabnya.
Mobil sudah berhenti dan terparkir di dekat taman gedung rumah sakit Kasih Ibu. Kahfi merapikan pakaian batiknya dan melihat tatanan rambutnya pada spion tengah. Jari-jarinya merapikan rambut yang sedikit terlihat berantakan.
__ADS_1
Kyai Toha sudah keluar dari mobil, diikuti Bunda Icha yang sudah berdiri di samping mobil sambil merapikan gamisnya. Ayumi keluar dari mobil dengan pakaian seadanya dnehan hijab instan tanpa make up sedikitpun.
Kahfi membuka bagasi belakang mobil dan mengambil beberapa barang yang akan diberikan kepada Rara sebagai tanda telah melamar gadis itu.
"Fi, cincinnya?" tanya Bunda Icha pelan.
"Sudah Bunda," ucap Kahfi lirih.
Sekilas menatap ke arah Ayumi yang sejak tadi menatapnya dingin.
"Ayuk, kita masuk ke dalam, di ruang VIP," ucap Kyai Toha pelan.
Semua berjalan dibelakang Kyai Toha dengan beberapa bawaan untuk Rara.
Ayumi hanya terdiam berjalan di sisi Bunda Icha. Kahfi berjalan paling belakang.
Ruangan VIP berada di lantai dua gedung tersebut. Ruangan VIP Berlian, itu nama ruangan yang digunakan oleh Rara selama dirawat disana.
Semenjak mengantarkan Rara ke Sekolah barunya, Kahfi belum pernah menemuinya lagi.
Ruangan itu terbuka lebar, hanya ada Rara yang terbaring lemah dan Pak Sukoco yang setia menemani Putri bungsunya itu.
Bunda Andara dan Zura tidak dapat hadir dengan alasan Bunda Andara sedang sakit, sedangkan Zura sedang ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Ayumi masuk ke dalam menatap ramah pada Rara yang tersenyum lebar kepadanya. Rara duduk bersandar pada tumpukan bantal yang disusun tinggi agar terasa nyaman saat duduk.
"Apa kabarmu Ra?" tanya Ayumi lembut sambil memegang tangan sahabatnya itu.
"Lihat Ay, aku baik-baik saja. Aku bahagia Ay," ucap Rara lemah.
"Ayumi tahu itu Ra, kedua matamu tidak bisa berbohong. Kamu memang sedang bahagia dan pantas untuk bahagia," ucap Ayumi pelan lalu memeluk erat sahabatnya itu penuh kasih sayang.
Keduanya menangis bahagia, sudah hampir tiga bulan lamanya mereka tidak bertemu, dan di pertemukan dalam keadaan yang kurang baik.
"Jangan nangis Ay, Rara aja gak nangis," ucap Rara menghapus air mata Ayumi yang sudah menetes di pipinya.
"Ayumi ikut bahagia, Ra. Ayumi cuma bisa mendoakan yang terbaik buat Rara dan kebahagiaan Rara serta kesembuhan Rara," ucap Ayumi pelan.
__ADS_1