Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
41


__ADS_3

Terdengar suara anak kunci diputar, dan pintu kaca itu terbuka. Terlihat Bunda Andara membuka pintu kaca dan terkejut menatap kedua kedua putrinya ada di hadapannya.


Bagi Bunda Andara, Ayumi sudah seperti anaknya sendiri, beberapa minggu tinggal bersama Ayumi dan Nenek Arsy, membuat chemistry itu timbul dalam kehidupannya.


"Bunda Andara, Ayumi rindu ..." ucap Ayumi mencium punggung tangan Bunda Andara sebagai tanda hormat lalu mengecup kedua pipi Bunda Andara yang sudah dianggap seperti Bundanya sendiri.


"Ayumi, Bunda juga rindu," ucap Bunda Andara lirih saat memeluk Ayumi. Kedua matanya menatap Rara yang ada dibelakang Ayumi.


Bunda Andara bingung bagaimana harus bersikap kepada Rara anak kandungnya sendiri. Ingin rasa menyapa, namun takut tertolak, ingin rasa memeluk karena rindu, namun ada rasa takut tidak diterima.


"Bunda Andara kenapa bersedih?" tanya Ayumi saat melepaskan pelukan itu dan menatap kedua mata Bunda Andara yang sudah basah.


"Bunda tidak apa-apa, Bagaimana kalian sudah lulus?" tanya Bunda Andara penuh semangat.


"Tentu Bunda, kami berdua lulus dengan nilai terbaik di sekolah," ucap Ayumi dengan mata berbinar.


Ayumi memang tampak bahagia sejak pagi tadi. Pasalnya, semalam Afnan datang untuk menitipkan Ayumi pada Nenek Arsy sebagai tanda kepemilikannya. Walaupun hanya sebatas pembicaraan yang mengarah pada jenjang keseriusan.


Rara menatap sendu kepada Bunda Andara. Ada rasa rindu yang membuncah dalam hatinya. Ingin sekali menubruk tubuh yang kini terlihat kurus dan kurang terawat itu lalu dipeluk dan dikecup kedua pipi serta kening Bundanya sebagai rasa sayang Rara kepada Bunda Andara. Tapi, Rara menggelengkan kepalanya dengan pelan, ingatan kebohongan Bunda Andara kepada Ayahnya yang kini terpuruk dan hancur karena Bunda Andara.


"Tidaaaakkkkk!!" teriak Rara dengan sangat keras secara tiba-tiba. Kedua matanya terpejam dan kedua telinganya ditutupi dengan kedua tangannya.


Napas Rara terlihat tidak beraturan, jantungnya berdegup kencang seakan berlari-larian tak terarah. Ada rasa sakit namun bukan disakiti, ada rasa nyeri namun tidak tertusuk, ada rasa perih namun bukan teriris, tapi itu semua membuat hati Rara hancur berkeping-keping.


Bunda Andara yang selama ini Rara hormati, hargai, sayangi, cintai dan dikasihi tapi telah menghancurkan keluarga kecilnya dengan sebuah kebohongan dimasa lalu. Kepala Rara terasa berputar-putar dan pening sekali, hingga Rara menahan rasa sakitnya dan ...


Bruukkk ...


Rara terjatuh tidak sadarkan diri. Wajahnya terlihat sangat pucat, bibirnya kering dan memutih serta keringatnya terlihat bercucuran di sekitar kening yang tertutup oleh hijab.


"Rara!!" teriak Bunda Andara dengan histeris. Bunda Rara berlari menghampiri tubuh Rara yang sudah terkulai lemas di lantai teras rumah Bunda Andara.

__ADS_1


"Bantu Bunda angkat Rara, Ayumi," ucap Bunda Rara terbata-bata dan terlihat panik.


"Rara bangun Ra," panggil Ayumi sambil menepuk-nepuk pipi Rara dengan pelan.


"Kita angkat bawa ke dalam Ayumi," ucap Bunda Andara yang tampak kebingungan.


Ayumi dan Bunda Rara mengangkat tubuh Rara ke dalam rumah dan direbahkan diatas kasur dikamar tidur Bunda Andara.


Hijabnya dilepas oleh Ayumi, dan tubuhnya di tutupi oleh selimut. Sesekali Ayumi mengolesi minyak kayu putih di sekitar indera penciuman Rara agar cepat siuman dari pingsannya.


Bunda Andara membuat minuman hangat untuk Ayumi dan Rara bila nanti sudah tersadar dari tidur panjangnya.


"Ayumi minumlah agar tubuhmu terasa lebih enak dan segar," ucap Bunda Andara pelan.


"Terima kasih Bunda," ucap Rara menerima gelas berisi air hangat dan meneguknya hingga setengah gelas.


Nampan yang dibawa Bunda Andara diletakkan di nakas dekat ranjang tidurnya. Bunga ANDARA duduk ditepi ranjangnya dan mengusap kepala Rara dengan penuh kasih sayang.


"Kita lihat dulu Bunda, jika satu jam lagi tidak tersadar, barulah kita panggil Dokter untyk memeriksa Rara," ucap Ayumi pelan dengan tenang.


Ayumi berusaha tidak gugup dan memperlihatkan dirinya setenang mungkin dihadapan Bunda Andara. Padahal sejujurnya, Ayumi sangat bingung dan tidak tenang melihat Rara yang masih terbujur lemas di kasur tanpa ada pergerakan apapun.


Bunda Andara menatap Rara Putri bungsunya itu, rasa sayang seorang Ibu kepada anaknya sangat nampak sekali. Perhatian seorang Ibu yang dibenci oleh anaknya sendiri karena suatu kesalahan dimasa lalu, tidak terus membuat Bunda Andara membenci darah dagingnya sendiri, anak yang sudah dikandungnya selama sembilan bulan.


Kedua mata Bunda Andara sudah basah berkali-kali Bunda Andara menyeka keringat Rara yang mengucur di sekitar kening dan leher Rara, berkali-kali Bunda Andara mengecup kening Rara sambil mengusap rambut panjang Rara yang tergerai di kasur.


'Bunda Alisha, Ayumi rindu dengan Bunda. Apa kabar Bunda Alisha di keabadian?' jerit Ayumi dalam hati. Hatinya ingin menangis karena rindu, dadanya mulai terasa sesak mengingat Bunda Alisha.


Melihat Bunda Andara dan Bunda Icha yang begitu baik dan sayang pada Ayumi, membuat Ayumi merasakan kehadiran Bunda Alisha kembali di dunia ini.


"Ayumi kenapa? Bunda Andara lihat, wajahmu berubah sedih, sayang?" tanya Bunda Andara lembut.

__ADS_1


"Ayumi rindu Bunda Alisha. Apa kabarnya Bunda Alisha di keabadian. Ayumi rindu," ucap Ayumi dengan sangat lirih namun masih bisa terdengar oleh Bunda Andara.


Bunda Andara turun dari ranjangnya dan menghampiri Ayumi yang duduk di kursi meja rias milik Bunda Andara.


Kedua tangan Bunda Andara direntangkan dan memeluk


Ayumi dengan erat dan penuh kasih sayang. Wajah Ayumi dibenamkan di dada Bunda Andara, terasa hangat dan sangat nyaman sekali, sama seperti pelukan Bunda Alisha.


Air matanya luruh begitu saja membasahi gamis Bunda Andara.


"Menangislah Ayumi, teriaklah jika ingin berteriak, agar hatimu lebih tenang dan tidak ada beban," ucap Bunda Andara dengan penuh kelembutan.


Usapan dikepala Ayumi terasa lembut dan penuh kasih sayang, Ayumi terbuai, pikirannya terbawa pada usianya belum genap sepuluh tahun.


'Ayumi sini Nak, Bunda ingin memberi sesuatu kepadamu, lihatlah ini boneka yang kamu inginkan sejak dulu, maafkan Bunda baru bisa membelikannya untukmu,' ucapan Bunda Alisha yang selalu terngiang-ngiang ditelinga Ayumi


"Ayumi boleh mengganggap Bunda Andara sebagai Bunda Ayumi pengganti Bunda Alisha," ucap Bunda Andara lembut lalu mengecup kening Ayumi penuh kasih sayang.


"Bunda Andara, terima kasih sudah mau menerima Ayumi sebagai anak Bunda juga sama seperti Kak Zura dan Rara tanpa ada perbedaan. Ayumi tidak tahu, bagaimana cara membalas perhatian dan kasih sayang ini," ucap Ayumi pelan.


"Bunnndaaaa ..." lirih Rara dalam tidurnya.


Bunda Andara segera menoleh ke arah Rara yang masih terpejam.


"Rara, Bunda," ucap Ayumi pelan.


Keduanya menghampiri Rara dan memberikan aromaterapi di indera penciumannya sambil sesekali pipi Rara ditepuk-tepuk dengan pelan.


"Ra ... bangun Ra," ucap Ayumi pelan.


"Rara sayang, ini Bunda, Nak. Bangun ya sayang, jangan buat Bunda khawatir dengan keadaan kamu seperti ini. Bunda salah Nak, salah besar. Maafkan Bunda, Nak," ucap Bunda Andara dengan menangis.

__ADS_1


__ADS_2