
Sudah setengah jam lamanya menunggu waktu untuk melihat kondisi Rara selanjutnya. Dokter yang menangani Rara sudah masuk kembali lima belas menit yang lalu untuk memeriksa kembali kondisi Rara yang belum kunjung membaik.
Alat infusan sudah dilepas karena semua obat yang masuk ke dalam tubuh Rara sudah direspon dengan baik oleh tubuh Rara.
Rara masih terbaring lemas dan lemah diatas kasurnya yang empuk dan nyaman itu. Kedua matanya yang bulat mengerjap dan perlahan membuka hingga semuanya terlihat terang dan jelas.
Wajahnya menoleh mencari-cari keberadaan seseorang yang sangat ingin dilihatnya untuk pertama kali membuka matanya. Kedua mata itu tertuju dan berhenti pada wajah ayu Bunda Icha yang selalu terlihat tersenyum di setiap waktu.
Rara mencoba tersenyum dan ingin membuka mulutnya untuk berbicara, namun sangat sulit dilakukan.
Tangannya pun sangat sulit untuk di gerakkan, walau hanya ingin sekedar mengangkat tangan itu dan melambaikan tangannya dengan pelan, tapi itu sangat sulit sekali.
Tubuhnya masih sangat lemas dan lemah tidak berdaya. Rara hanya bisa menatap wajah Bunda Icha seolah ingin berbicara kepada wanita paruh baya itu.
Dokter dan perawat ikut tersenyum melihat perubahan Rara yang begitu cepat, karena menurut prediksinya, obat akan merespon dengan baik setelah dua belas jam. Namun ini baru satu jam, obat itu sudah bereaksi dengan baik.
Wajah Rara sudah tidak pucat, bibirnya masih terlihat kering namun sudah tidak memutih seperti tadi.
"Apa yang kamu rasakan saat ini Ra?" tanya dokter itu kepada Rara sambil memegang tangan Rara dan mencari denyut nadi Rara.
Rara tersenyum dengan sangat manis kepada dokter itu, Rara mencoba untuk membuka mulutnya dan mengeluarkan suaranya.
"Rara baik-baik saja dokter, Rara seperti tidak sakit dan tidak merasakan sakit di bagian manapun," ucap Rara dengan sangat lirih hingga ada beberapa bagian kata yang tidak terdengar dengan jelas.
"Oh ya, baiklah kalau memang sudah tidak ada yang sakit, dokter akan pulang sekarang. Rara harus makan yang banyak dan minum obat, agar tubuhnya cepat pulih seperti sediakala kala, dan cepat sembuh tentunya. Jangan banyak pikiran, tenangkan hati kamu dan jernihkan pikiran kamu dari hal-hal yang tidak penting untuk kamu pikirkan. Mencoba melakukan aktivitas yang kamu sukai dan yang membuat kamu nyaman dengan tubuh dan keadaaan kamu, Ra," ucap dokter itu dengan pelan menasehati Rara.
Rara hanya mengangguk pelan dan tersenyum manis.
__ADS_1
"Terima kasih dokter, tidak pernah bosan untuk menasehati Rara dan mengobati Rara," ucap Rara pelan dan terbata-bata.
"Iya Ra, cepat sembuh ya. Dokter dan suster mau kembali bekerja lagi, ada pasien yang harus ditangani," ucap dokter itu pelan.
Perawat perempuan yang bertugas membantu dokter itu sudah merapikan alat-alat kedokteran yang tadi di gunakan untuk memeriksa Rara ke dalam tas dokter yang dibawanya.
Dokter dan perawat itu sudah berpamitan untuk pulang dan kembali ke rumah sakit untuk menjalankan tugas selanjutnya.
Semua ornah bernapas dengan lega dan menghilangkan rasa kecemasan dan kepanikan yang sejak tadi melanda pikiran dua keluarga besar itu.
Kyai Toha sejak tadi tidak lepas untuk mendoakan Rara dan berdzikir terus untuk memohon kesembuhan Rara.
Ayah Sukoco yang sudah frustasi dan pasrah dengan keadaan Rara hanya bisa diam dan menahan tangisnya. Sejak tadi Mama Anna selalu ada disamping Ayah Sukoco untuk menguatkan lelaki paruh baya itu agar tetap kuat dan menerima takdir untuk Rara, Putri kesayangannya itu.
Umi Latifa yang ikut cemas malah melupakan kecemasan pada keram perutnya dan lebih memikirkan kondisi Rara yang belum sadarkan diri selama dua jam. Beruntung sekali, Umi Latifa memiliki suami seperti Faisal yang begitu sabar menghadapi keribetan istri kecil ha itu selama hamil. Kondisi ibu hamil itu berbeda-beda, ada yang rewel dan manja karena hanya ingin diperhatikan secara terus menerus, ada juga yang tidak merasakan apa-apa dan semuanya tampak biasa saja seperti tidak sedang mengandung.
Setelah mengantarkan dokter itu, Kahfi masuk ke dalam kamar itu dan duduk di tepi ranjang menatap Rara yang sudah tersenyum manis melihat kedatangan Kahfi dari arah pintu Kamar tidur mereka.
Kahfi menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan sangat pelan. Kahfi mencoba menenangkan hatinya yang sejak tadi kacau, kalut, cemas dan panik tidak karuan, tapi setelah melihat senyum manis Rara seolah semua yang tadi dirasakan oleh Kahfi memudar dan hilang seperti diterpa angin.
"Gimana Ra? Atau kamu menginginkan sesuatu?" tanya Kahfi dengan suara lembut.
Kahfi ingin memegang tangan Rara, namun ragu untuk menyentuh tangan gadis polos itu, dan Kahfi mengurungkan niatnya.
"Mau susu putih Kak Fi," ucap Rara dengan sangat lirih.
Kahfi menganggukkan kepalanya pelan dan berusaha menuruti semua keinginan gadis polosnya itu agar bahagia.
__ADS_1
"Kak Fi buatkan dulu, nanti Kak Fi suapin dan habiskan ya?" ucap Kahfi dengan suara pelan dan lembut.
Rata mengangguk pelan dan tersenyum manja kepada Kahfi.
"Bunda titip Rara sebentar, Kahfi mau buatkan susu putih untuk Rara," ucap Kahfi menitah Bunda Icha dengansuara lembut dan sopan.
Bunda Icha mengangguk pelan dan tersenyum kepada kahfi menjawab pertanyaan Kahfi.
Kahfi beranjak berdiri dan berjalan menuju dapur dan dengan segera membuat satu gelas susu putih untuk Rara. Tidak lama, Kahfi sudah kembali dengan membawa satu gelas susu putih ke dalam kamar dan kembali duduk di tepi ranjang itu untuk menemani Rara dan menyuapi Rara susu putih itu dengan sendok.
"Bangun ya Ra? Duduk bersandar di bantal biar tidak tersedak," tanya Kahfi pelan kepada Rara.
"Iya Kak Fi," jawab Rara dengan suara lirih terbata-bata.
Kahfi meletakkan satu gelas susu putih itu diatas nakas dan menumpukkan beberapa bantal untuk dipakai bersandar Rara di sandaran ranjang itu.
Kahfi mulai menyuapkan satu sendok berisi air susu putih itu kepada Rara dengan telaten hingga habis tidak bersisa.
"Sudah kenyang? Atau ingin sesuatu lagi?" tanya Kahfi dengan sabar.
Rara menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Kak Fi, Tara sudah kenyang, terima kasih," ucap Rara pelan.
Rara memegang jari manisnya yang telah melingkar cincin tunangan bersama Kahfi. Rara memutar cincin itu dan ingin melepaskan cincin itu dari jari manisnya.
Kahfi menatap jari manis Rara, menatap apa yang sedang dilakukan oleh Rara, yang terus memutar cincin emas itu hingga benar-benar terlepas dari jari manis Rara.
__ADS_1
Cincin itu dipegang oleh Rara dan dicium lalu diberikan kepada Kahfi dengan menarik tangan Kahfi untuk menerima cincin emas itu.
Bunda Icha hanya menatap nanar kejadian itu, ingin rasanya menangis menatap kesedihan yang begitu kentara di wajah Rara.