
Rara mengerjapkan kedua matanya pelan, tangan kanannya memegang kepalanya yang masih terasa pusing seakan berputar. Dadanya masih tetap terasa sesak seperti ada batu besar yang menghantam keras sehingga terasa mual.
Kedua bola matanya terbuka dengan perlahan dan menatap Ayumi serta Bunda Andara secara bergantian. Bunda Andara mengusap kepala Rara dengan lembut.
"Rara?" panggil Ayumi lembut sambil memegang tangan kiri Rara, digenggamnya tangan sahabatnya itu.
"Ay, kita dimana?" tanya Rara dengan suara parau.
"Kita dirumah Bunda Andara, Ra. Rumah Bunda Rara," ucap Ayumi pelan sambil menunjuk ke arah Bunda Andara dengan tatapannya yang berpindah ke Bunda Andara.
"Rara sayang ... Ini Bunda, Nak? Bunda rindu sama Rara," ucap Bunda Rara dengan menangis. Satu tangannya masih mengusap lembut kepala Rara.
Rara menatap sendu wajah Bundanya yang kini terlihat guratan lelah disekitar kening dan disekitar kedua matanya.
Rasanya ingin sekali berteriak memanggil Bunda, Rara rindu, tapi bibir Rara terasa kelu dan tidak bisa bersuara.
Hanya bisa menatap sendu dan penuh kerinduan untuk mewakili seluruh perasaannya saat ini.
"Rara bisa dengar suara Bunda kan? Bicaralah, Nak? Jangan diam seperti ini, Bunda seolah memiliki salah yang begitu besar padamu," ucap Bunda Andara lirih laku mengecup kening putrinya itu berkali-kali.
Tangan kanan Rara terangkat dari keningnya dan menyentuh pipi Bunda Andara, telapak tangan Rara merasakan dingin pada wajah Bundanya itu.
"Bunnndaaaa..." lirih Rara memaksakan diri untuk memanggil nama Bundanya yang selama ini sempat Rara benci dalam hidupnya.
"Rara... Rara panggil Bunda, sayang? Rara mau apa, Nak? Bunda buatkan?" ucap Bunda Andara dengan perasaan bahagia campur haru.
Bunda Andara tidak pernah sebahagia ini, namanya disebut oleh putri bungsunya setelah kejadian buruk itu terjadi.
"Haus..." ucap Rara lirih kepada Bundanya.
"Rara mau minum? Bunda ambilkan ya, sebentar," ucap Bunda Andara pelan, lalu berjalan untuk mengambil teh hangat yang sudah disiapkan untuk Rara di atas nakas.
Bunda Andara dengan telaten menyendokkan teh hangat itu ke dalam mulut Rara yang terlihat kering dan masih terlihat putih.
Beberapa suapan air teh hangat itu sudah habis diminumnya, lidahnya kini sudah basah dan tenggorokannya sudah tidak kering dan bisa berbicara lebih baik lagi.
"Bunda, sudah cukup, terima kasih," ucap Rara lembut kepada Bundanya.
__ADS_1
"Bunda yang harusnya berterima kasih, Rara masih mau menemui Bunda dan mengakui Bunda sebagai Ibu kandung kamu, Ra," ucap Bunda Andara pelan.
"Rara mau duduk Bunda," ucap Rara pelan kepada Bundanya.
Ayumi sejak tadi hanya menjadi penonton kembalinya Rara kepada Bundanya. Sudah tentu rada bahagia Bunda Andara pasti luar biasa senang. Ayumi membantu membangunkan Rara agar bisa terduduk dan bersandar pada sandaran ranjang dengan bantal sebagai pengganjal punggung Rara agar tidak terasa sakit.
"Ayumi, terima kasih atas saran kamu untuk menemui Bunda. Hati Rara kemarin hampa dan terasa kosong, tapi hari ini rasanya beda, ada kebahagiaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Rara hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, Ay. Tetaplah menjadi sahabat yang baik untuk Rara, Ay," ucap Rara pelan.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan lalu tersenyum manis kepada Rara, sahabatnya.
"Pasti Ra, Ayumi akan selalu menjadi sahabat terbaik untuk kamu," ucap Ayumi pelan lalu memeluk sahabatnya dengan erat.
"Bunda, besok Rara harus berangkat untuk melanjutkan sekolah di Solo. Sekolah Kesehatan Analis, Rara mau jadi analis, biar Rara tahu sebenarnya Rara itu sakit apa?," ucap Rara pelan kepada Bundanya.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Hati Bunda Andara rasanya seperti ditusuk jarum, nyeri sekali saat Rara menyadari penyakitnya yang tak kunjung sembuh.
Rara tersenyum menganggukkan kepalanya pelan.
Satu mangkok bubur yang sudah Bunda Andara persiapkan untuk Rara, dengan pelan Bunda Andara menyuapkan bubur itu ke dalam mulut Rara hingga bubur itu habis.
"Rara istirahat dulu, Bunda mau buat kue dengan Ayumi, mumpung ada bahan-bahannya, Rara mau kue apa?," ucap Bunda Andara pelan.
"Bolu pelangi ya Ay, bisa kan?" tanya Rara kepada Ayumi yang menatap sendu.
"Bisa Ra, Ayumi buatkan Bolu Pelangi spesial buat Rara," ucap Ayumi pelan.
"Bener ya Ay, Besok Kak Kahfi bisa antar Rara ke Solo gak ya?" tanya Rara kepada Ayumi pelan.
"Nanti Ayumi bilang ke kak Kahfi ya Ra, biar Kak Kahfi jemput kamu disini," ucap Ayumi pelan.
Rara menjawab ucapan Ayumi hanya dengan anggukan kepala. Kedua matanya terpejam kembali, pening di kepalanya kembali terasa.
__ADS_1
Rara menahan rasa sakit itu hingga tertidur pulas.
Ayumi dan Bunda Andara sudah berada di dapur dan mulai membuat adonan kue bolu permintaan Rara.
Bunda Andara duduk di kursi makan sambil menimbang tepung terigu, sedangkan Ayumi sedang mengocok telur dengan mesin pengocok telur.
Ayumi hanya diam, sebenarnya penasaran tentang sakit yang di derita Rara itu apa.
"Bunda, sebenarnya Rara sakit apa? Maaf Bunda, kalau Ayumi lancang bertanya seperti ini?" tanya Ayumi pelan kepada Bunda Andara yang masih sibuk menimbang tepung terigu yang akan digunakan untuk membuat bolu.
Bunda Andara tersenyum menatap Ayumi lalu meletakkan sendok dan mangkok yang sudah berisi tepung terigu.
"Rara punya penyakit serius Ay. Hidupnya tidak akan lama lagi, Ayah dan Bunda selalu menutupi penyakit yang di deritanya agar Rara tidak bersedih dan tidak merasa kurang percaya diri dengan penyakitnya," ucap Bunda Rara pelan.
"Ayumi lihat, Rara itu seperti gadis biasa yang sehat karean Rara tidak pernah memperlihatkan rasa sakit yang dideritanya," ucap Ayumi pelan.
"Rara itu pintar menyimpan rasa, Ay. Rasa sakit, rasa benci, rasa bahagia, bahkan rasa cinta, tapi Rara itu seorang yang posesif dan ambisius," ucap Bunda Andara menjelaskan tentang pribadi Rara.
Ayumi menghela napas panjang, baru tersadar selama ini Rara selalu menolak jika diajak berjalan yang terlalu lama.
"Rara sakit apa, Bunda?" tanya Ayumi pelan dengan rasa penasaran.
"Rara tidak boleh kelelahan, makanya aktivitasnya juga dibatasi. Rara tidak boleh stres karena pikiran itu bisa membuat kondisi tubuhnya menurun," ucap Bunda Andara pelan menjelaskan.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan. Pertanyaannya tidak kunjung dijawab oleh Bunda Andara.
Ayumi melanjutkan pekerjaannya untuk membuat bolu pelangi.
"Ayumi, Bunda titip Rara," ucap Bunda Andara pelan.
"Insha Allah Bunda," jawab Ayumi dengan singkat.
"Maafkan Bunda, tidak memberitahukan penyakit Rara kepadamu. Bunda tidak ingin kamu ikut memikirkan kesehatan Rara, Ay," ucap Bunda Andara pelan.
"Katakan Bunda, setidaknya Ayumi bisa menjaga Rara," ucap Ayumi dengan nada memohon.
"Baiklah, simpan rahasia ini termasuk pada Rara. Rara terkena kanker otak," ucap Bunda Andara lirih.
__ADS_1
Ayumi menatap Bunda Andara dengan rasa tidak percaya. Ayumi hanya berharap semoga Rara bisa disembuhkan.