
Setelah beberapa hari menginap di rumah Ayumi, malam ini Bunda Icha dan Kahfi sudah bisa bermalam di rumah sendiri.
Sudah dua hari kamar Kahfi gelap dan kosong tak berpenghuni, Kahfi masuk ke dalam dan menyalakan lampu di dalam kamarnya.
Kahfi membersihkan diri dan kemudian merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya.
Kahfi memejamkan kedua matanya dan mencari tasbih yang sering melingkar di lehernya namun tidak ada. Kahfi mengingat-ingat kemana tasbih itu berada, dan ternyata tasbih itu masih ada pada Ayumi dan belum dikembalikan.
Kahfi tersenyum simpul, 'Pakailah saat hatimu sedang bersedih Ay, disitu Kakak akan hadir menemani kamu,' batin Kahfi dalam hati.
Gelang couple yang dibeli bersama Ayumi masih melingkar cantik disana, begitupun dengan Ayumi yang juga masih memakai gelang cantik itu dipergelangan tangannya.
'Ayumi, Kakak rindu melihat senyummu,' batin Kahfi dalam hati.
Kahfi tertidur pulas saat masih memikirkan gadis pujaannya itu. Dalam lelapnya, Kahfi sering memimpikan seorang gadis yang datang dari langit dan tersenyum cantik, wajahnya mirip sekali dengan Ayumi.
Pagi itu, adzan shubuh sudah terdengar nyaring dari mushola dekat rumah Kahfi. Kahfi yang sudah terjaga sejak beberapa menit yang lalu, langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membersihkan diri lalu berangkat untuk melakukan Sholat shubuh berjamaah di Mushola.
Bunda Icha selesai sholat shubuh mandiri di rumah langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Kahfi putra bungsu kesayangannya.
Tadi malam sesampai dirumah, Kyai Toha sudah dijemput temannya untuk pekerjaan ke luar kota.
"Assalamu'alaikum, Bunda," ucap Kahfi saat masuk ke dalam rumah langsung menuju dapur.
"Waalaikumsalam, masuk Fi, Bunda lagi masak," teriak Bunda Icha dengan suara keras dari arah dapur.
Wangi masakan Bunda Icha sudah tercium dari arah depan, walaupun hanya masakan sederhana, apapun yang dibuat oleh Bunda Icha akan sangat terasa lezat seperti rasa restoran bintang lima.
"Masak apa Bunda?" tanya Kahfi yang sudah duduk di meja makan.
Kahfi melirik ke arah meja makan yang masih kosong belum ada makanan yang bisa di cicipi.
"Nasi goreng irisan bakso dan sosis, pake telor mata sapi, pedes gak?" tanya Bunda Icha kepada Kahfi.
"Terserah Bunda aja," jawab Kahfi pelan sambil mengisi air teh ke dalam gelasnya.
"Fi, kamu harus sering-sering ke Solo menjenguk Rara," ucap Bunda Icha menitah.
Kahfi hanya terdiam melihat punggung Bundanya yang masih memasak.
__ADS_1
"Kahfi kuliah Bunda, Rara juga masih sekolah, kita masih sama-sama sibuk dengan urusan pendidikan masing-masing," ucap Kahfi pelan.
Bunda Icha membalikkan tubuhnya dan membawa dua piring nasi goreng telur mata sapi dan memberikan satu piring untuk Kahfi.
Kahfi langsung menerima piring berisi nasi goreng itu dan memulai sarapannya.
"Luangkan waktumu untuk Rara, prioritaskan Rara untuk saat ini bukan yang lain," tegas Bunda Icha.
"Kahfi baru memulai kuliah Bunda, jangan buat kukaih Kahfi berantakan," jawab Kahfi pelan sambil menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Ayumi akan bertunangan dengan Afnan dalam waktu dekat, sebisa mungkin sebelum Ayumi ke Mesir mereka sudah bertunangan," ucap Bunda Icha dengan tegas.
Bunda Icha berbicara tegas kepada Kahfi, agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari nantinya karena Afnan dan Kahfi adalah Kakak beradik kandung sedangkan Ayumi dan Rara adalah sahabat sejati sejak SMP. Semua kemungkinan yang tidak baik bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja tanpa memandang kepada siapa itu akan terjadi.
Kahfi mendengar ucapan Bunda Icha sudah tidak terkejut karena Ayumi sudah memberitahukan sebelumnya. Kahfi tetap fokus dengan makanannya tanpa memperdulikan ucapan Bundanya tentang pertunangan Afnan dan Ayumi.
"Fi, kamu cuma diam? Gak kaget? Gak komentar? Sudah bisa move on dari Ayumi?" tanya Bunda Icha pelan.
"Ayumi sudah cerita kemarin," jawab Kahfi dengan singkat.
"Oh sudah dikasih tahu toh, mungkin sakit hatinya kemarin ya?" ucap Bunda Icha menggoda Kahfi.
"Baiklah, maksud Bunda itu baik Fi, biar diantara kalian berempat tidak ada salah paham," ucap Bunda Icha pelan.
"Salah paham? Gak ada yang salah paham Bunda, ini hanya soal perasaan, tetap Kahfi yang menderita, Kahfi yang jadi korban," ucap Kahfi dengan tegas dan meninggalkan ruang makan dengan kesal.
"Kahfi!!" panggil Bunda Icha dengan suara keras.
Kahfi seolah menutup telinganya dan berlalu menuju ke kamar tidurnya. Kahfi mengganti pakaiannya dan bersiap untuk ke kampus.
Masih pagi, hati Kahfi sudah kacau. Rasanya sangat kesal dan ingin murka namun kepada siapa.
Kahfi keluar dari kamar dan berpamitan kepada Bundanya.
"Kahfi berangkat Bunda," ucap Kahfi keras tanpa mencari keberadaan Bunda Icha.
Tidak ada sahutan dari Bunda Icha, susasan rumah itu terasa sunyi dan hening sekali.
Kahfi tersadar tidak ada teriakan dari Bunda Icha yang selalu menjawab dimanapaun Bunda Icha berada, sekalipun ada di kamar mandi.
__ADS_1
"Bunda?" teriak Kahfi mencari Bunda Icha dikamar pribadi Bunda Icha.
Kahfi mencari Bunda di setiap sudut ruangan rumah termasuk dilantai dua yang hanya di pakai sebagai gudang.
Kahfi mulai panik dan menekan nomor telepon lalu tombol ponsel di tekan untuk menyambungkan suara ke arah penerima panggilan. Suara telepon juga tidak menyambung, hanya memanggil namun tidak berdering.
"Bunda!!" teriak Kahfi lantang.
Terdengar suara erangan dari suara perempuan dari arah dapur. Kahfi langsung berlari ke arah dapur dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dapur. Suara rintihan itu semakin jelas terdengar.
Brukk ...
Kahfi mendobrak pintu kamar mandi belakang, Bunda Icha sudah terbaring lemah di kamar mandi karena terpeleset.
"Bunda!!" teriak Kahfi sambil mendekati Bunda Icha.
Kahfi mengangkat tubuh Bunda Icha yang masih terlihat lemas. Kedua matanya terpejam namu masih sadar.
"Bunda kenapa sih?" tanya Kahfi pelan. Saat tubuh Bunda sudah direbahkan di tempat tidur milik Bunda dan menyelimutinya hingga bagian dada.
Bunda Icha hanya menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa," ucap Bunda Icha pelan.
"Kahfi ambil teh panas dulu," ucap Kahfi pelan.
Bunda Icha mengangguk pelan.
Kahfi berjalan menuju dapur dan membuat teh manis panas untuk Bunda Icha, lalu membawanya kembali ke kamar tidur Bunda Icha.
"Bunda, ini teh manisnya, Kahfi suapin dikit-dikit ya," ucap Kahfi pelan.
"Iya Fi," ucap Bunda Icha pelan.
"Bunda kenapa sih, sampai bisa jatuh gitu?" tanya Kahfi pelan sambil menyuapkan satu sendok berisi teh manis untuk Bunda Icha.
"Bunda pusing, penyakit Bunda kambuh sepertinya," ucap Bunda Icha pelan.
"Penyakit apa? Perasaan Bunda tidak ada penyakit apapun?" tanyabKahfi dengan rasa penasaran.
__ADS_1
Bunda Icha hanya terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Kahfi.