
Yumna menatap ponsel yang di tunjukkan Duta pada dirinya. Yumna langsung melotot tajam. Ia benci di bohongi. Dengan cepat, Yumna merampas ponsel tersebut dan langsung membuka ponselnya mulai mencari nomor Bunda Sinta dan kedua kakaknya yang bisa di hubungi.
Beberapa kali Yumna mencoba menekan nomor keluarganya namun tak ada satu pun yang berhasil menyambung. Semua jaringan sibuk atau di luar jangkauan. Jantung Yumna semakin berdegup keras. Keringatnya mulai muncul satu per satu di sekitar keningnay. Hatinya mulai resah dan gelisah emmikirkan Ayahnya yang kabarnya telah emninggal. Hanya air mata yang bisa terungkap melegakan batinnya saat ini.
"Ayah!!" teriak Yumna dengan suara keras sekali sambil memeluk guling kesayangannya.
Duta terhenyak menatap Yumna yang makin histeris. Duta langsung memeluk tubuh Yumna, istrinya dan di dekap erat ke dalam dadanya yang bidang.
"Pergi!! Kakak jahat!! Kakak sudah bohongi Yumna!!" teriak Yumna sambil mendorong tubuh Duta hingga pelukan itu terlepas dari tubuh Yumna.
__ADS_1
"Sayang ... Bukan maksud Kakak berbohong, Na!! Tolong dengarkan Kakak dulu," ucap Duta berusaha meraih tubuh Yumna yang terus beringsut bangun lalu turun dari tempat tidur.
Ini baru jam dua dini hari. Duta tidak mau memancing suasana sepi dengan keributan dan memperkeruh masalah ini hingga Yumna histeris sampai mengganggu ketenangan tetangga.
Yumna tak mempedulikan ucapan Duta. Ia mengambil tas pakaiannay lalu mengisi kembali tas kosong itu dengan beberapa pakaiannya. Yumna ingin kembali ke negaranya dan emnghadiri upacara pemakaman Ayahnya. Muingkin sementara waktu ia lebih baik tinggal bersama Bunda dan kedua kakaknya.
"Apa?! Kakak masih bialng kalau Kakak itu suami Yumna? Hah!! Gak salah dengar? Suami macam apa? Suami yang berbohong denagn kabar duka? Dia Ayahku!! Ayahku yang meninggal!! Ayahku juga Ayah Kakak!! Tapi apa? Kakak seolah kayak gak peduli!! Bahkan Kakak malah menyuruh Yumna untuk tidur lagi!! Dimana hati Kakak!! Yumna merasa gak kenal Kakak lagi. Yumna mau pulang!!" ucap Yumna dengan tegas. Perasaan kecewa dan sakit hati.
"Kakak gak akan ijinkan kamu pulang. Kakak sudah bilang Kak Jone tentang kondisi kamu, Na. Mereka paham soal itu, dan mereka tidak menuntut sama sekali kamu untuk pulang. Cukup kita doakan, nanti Kak Jone kaan video call saat pemakaman," ucap Duta mencoba menjelaskan agar Yuman mengerti dan paham.
__ADS_1
"Gak. Yumna tetap akan pulang. Ayah butuh Yumna!! Ada ijin atau tidak ada ijin. Yumna akan tetap pulang!!" ucap Yumna langsung mengganti pakaian untuk segera pergi ke bandara. Kalau pu Duta tak mengijinkannya Yumna akan tetap nekat pergi denga uang tabungan yang di beri oleh Ayahnya.
"kaka bilang gak ada ijin ya gak ada!! Kamu gak akan pulang tanpa Kakak!!" teriak Duta mulai kesal.
"Ya sudah. Kakak ikut pulang. Gampang kan!! Apa susahnya tinggal pulang!! Kita pulang bersama!!" ucap Yumna dengna enteng.
"Kakak ada pekerjaan penting besok pagi, Na. Tolong kamu pahami situasi kerjaan Kakak," ucap Duta melemah.
Mengapa ia harus di hadapkan pada masalah seberat ini? Ini tak ada pilihan. AYah Yumna sangat penting, tapi pekerjaannya juga tak kalah penting untuk kesuksesan di masa depan.
__ADS_1