Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
16


__ADS_3

Afnan memberhentikan motornya tepat di depan warung makan sederhana. Warungnya sepi tapi tampak bersih dan rapi.


Ayumi turun dari motor besar Afnan dan melihat di sekeliling warung makan itu. Dalam hatinya membatin, 'Kenapa sepi.'


Seakan tahu apa yang ada di pikiran Ayumi, Afnan membuka pembicaraan.


"Ini adalah tempat favorit Kakak, jika Kakak sedang banyak pikiran," ucap Afnan menjelaskan kepada Ayumi.


Ayumi berjalan masuk ke dalam warung lebih dulu, mencari tempat yang nyaman untuk duduk dan makan siang. Afnan sengaja berada di belakang Ayumi untuk memberikan kebebasan kepada Ayumi untuk memilih pilihannya.


"Kak Afnan kita duduk di pojok sana. View-nya terlihat oke banget dekat sawah," ucap Ayumi semangat.


"Itu tempat favorit Kakak, Ay. Kakak paling suka duduk disana," ucap Afnan pelan.


Mereka berjalan beriringan menuju tempat yang sudah dipilih Ayumi. Duduk lesehan dengan warung berbentuk saung terbuka. Kanan, kiri dan belakang memberikan pemandangan sawah yang hijau serta angin sepoi-sepoi yang membuat siang itu terasa adem dan sejuk.


"Ayumi mau pesan apa?" tanya Afnan pelan kepada Ayumi yang masih takjub dengan pemandangan di sekitar.


Ayumi menoleh ke arah Afnan dan tersenyum manis bagaikan bidadari turun dari langit. Hati Afnan berdesir, aliran darahnya seperti mengalir dengan cepat. Senyum indah yang sudah lama tidak Afnan lihat semenjak Ayumi kehilangan kedua orangtuanya.


"Menu apa yang paling spesial disini?" tanya Ayumi kembali kepada Afnan.


"Ayam goreng kremes pakai nasi uduk. Mau coba?" tanya Afnan memberi pilihan.


"Mau banget. Pasti enak dan yummy banget," jawab Ayumi dengan wajah yang sumringah dan kedua matanya tampak berbinar bahagia.


Afnan segera memesan makanan kepada pelayan yang memberikan buku menu.


"Apa kamu sedang bahagia Ayumi?" tanya Afnan singkat sambil mengeluarkan ponselnya.


Afnan mengambil gambar Ayumi secara diam-diam. Gambar tersebut terlihat alami dan memancarkan sinar keceriaan yang berbeda.


Mendengar pertanyaan yang terlontar dari Afnan. Ayumi membalikkan tubuhnya dan lagi-lagi Ayumi tersenyum manis membuat jantung Afnan serasa mencelos ingin keluar dari tubuhnya.


"Ayumi bahagia banget. Kebahagiaan Ayumi yang pertama adalah bisa masuk ke Al Azhar itu termasuk cita-cita Ayumi. Kebahagiaan yang kedua, ini adalah kebahagiaan yang sangat berarti untuk Ayumi," ucap Ayumi tertahan.

__ADS_1


Bibir Ayumi mengatur rapat seakan tidak ingin melanjutkan ucapannya. Kedua tangannya dilipat diatas meja. Wajahnya menunduk menatap rok pendeknya yang terangkat ke atas dengkul.


"Apa Ayumi? Apa kebahagiaan keduamu?" tanya Afnan pelan dengan rasa penasaran.


Ayumi mendongakkan wajahnya dan menatap dalam kedua mata Afnan yang sedang menatapnya juga.


"Ayumi ingin hijrah, Kak. Ayumi ingin menjadi wanita yang lebih baik dan sholehah. Ayumi harus memiliki orang yang dekat dengan Ayumi untuk mengajarkan dan membimbing Ayumi untuk menjadi orang yang lebih beradab dan beriman." ucap Ayumi pelan menjelaskan.


Sebetulnya apa yang dijelaskan Ayumi hanyalah pengalihan issue sementara. Kebahagiaan keduanya adalah bisa bersama Afnan setiap hari bisa membuat Ayumi bahagia setiap waktu. Tapi, Ayumi cukup sadar diri, karena Afnan sudah memiliki gadis pilihannya melalui ta'aruf.


"Apa kamu tidak sedang membohongi Kakak? Ayumi?" tanya Afnan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Ayumi. Menatap lekat kedua mata gadis itu untuk melihat apakah ada kebohongan atau tidak.


"Ayumi ... Ayumi ... tidak bohong. Itu yang Ayumi rasakan," ucap Ayumi sedikit terbata-bata dan menundukkan wajahnya kembali.


Satu tangan Afnan memegang dagu Ayumi dan mengangkat wajah gadis itu untuk kembali menatapnya.


"Lihat mata Kakak? Kamu itu sedang berbohong. Kakak tidak mudah kamu bohongi," ucap Afnan dengan tegas.


Ayumi merasa tersentak dengan pertanyaan Afnan.


Mendengar jawaban Ayumi yang terdengar jujur, tulus dan polos. Membuat hati Afnan menjadi semakin tak karuan. Afnan melepaskan dagu Ayumi hingga Ayumi berani menghembuskan napasnya secara perlahan.


"Permisi, ini pesanan makanannya," ucap pelayan laki-laki yang mengantarkan makanan ke meja Afnan. Pelayan laki-laki itu langsung meletakkan piring-piring berisi ayam kremes, lalapan, sambal, dan nasi uduk serta es teh manis dengan gelas jumbo yang membuat tenggorokan kering ingin segera meneguknya.


"Terima kasih," ucap Ayumi pelan dan tersenyum pada pelayan laki-laki itu.


Pelayan itu menatap Ayumi dengan sopan dan ramah, lalu menjawab, "Terima kasih kembali, selamat menikmati." Pelayan itu segera pergi setelah mengantarkan makanan tersebut.


Afnan masih merasakan getaran aneh yang tidak biasa. Afnan berusaha untuk seperti apa adanya, seperti tidak ada yang aneh.


Sama juga dengan Ayumi, setelah berkata jujur seperti tadi. Ayumi malah menjadi canggung dan tidak enak hati bila menatap Afnan. 'Ahh ... kenapa jadi begini, ini mulut juga kenapa harus banget pake jujur segala,' batin Ayumi dengan kesal.


Jujur Ayumi kesal dengan dirinya sendiri, tapi semuanya sudah terlanjur. Jalani seperti biasanya tanpa ada rasa yang mengganjal karena malu atau ragu.


Mereka berdua hanya terdiam seribu bahasa semenjak kejadian tadi. Mereka berpura-pura sibuk dan menikmati makanan mereka yang berada didepan mereka masing-masing. Padahal hati keduanya berdebar-debar tak karuan, pikiran keduanya juga melayang entah kemana hingga lupa rasa enak dan nikmat makanan tersebut.

__ADS_1


Tiba-tiba Ayumi menyambar gelas es teh manis yang ada di depan mejanya. Lalu meneguknya dengan terburu-buru.


"Pelan-pelan, nanti tersedak malah tumpah," ucap Afnan singkat sambil melihat apa yang dilakukan gadisnya itu.


Ayumi mengibas-ngibaskan tangan kanannya. Rasa panas dilidahnya seperti terbakar. Ayumi memang tidak menyukai rasa pedas yang tidak sengaja memakan sambal yang ada di piring kecil.


"Masih kepedesan?" tanya Afnan kepada Ayumi sambil menyodorkan air hangat untuk diminum.


Ayumi hanya menganggukkan kepalanya pelan dan menerima gelas berisi air hangat itu lalu meneguknya. Rasa pedas dilidahnya berangsur-angsur berkurang dan hilang.


"Makasih Kak," ucap Ayumi pelan, lalu menghabiskan sisa makanannya.


"Enak?" tanya Afnan yang sudah menghabiskan makanannya terlebih dahulu.


Ayumi tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya pelan. Mulutnya masih penuh dengan makanan yang sedang dikunyah.


"Besok kesini lagi mau?" tanya Afnan menggoda Ayumi yang masih mengunyah.


Lagi-lagi Ayumi hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dan pasrah berusaha menelan makanannya dengan meneguk air es teh manis yang masih tersisa.


"Ini enak banget Kak. Besok kesini lagi juga oke. Asal ditraktir, Ayumi gak akan nolak," ucap Ayumi dengan terkekeh. Ayumi berusaha untuk sebiasa mungkin. Tidak menunjukkan rasa sukanya yang terlalu berlebihan.


"Kalau diajak serius sama Kakak, mau juga dong?" tanya Afnan pelan dan berhati-hati.


"Hah ... apa Kak? Kurang jelas tadi, terlalu pelan suaranya," ucap Ayumi yang terkejut mendengar ucapan Afnan.


Afnan malah terkekeh mendengar ucapan Ayumi.


"Yakin gak denger, atau minta diulang aja, karena masih gak percaya?" ucap Afnan menggoda.


Ayumi hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


Setelah makan siang bersama, keduanya pulang ke rumah Nenek Arsy. Selama perjalanan keduanya hanya sama-sama terdiam.


Motor besar Afnan sudah memasuki halaman rumah Nenek Arsy.

__ADS_1


__ADS_2