Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
19


__ADS_3

Melihat Ayumi menundukkan kepalanya dan berlari menuju kamar tidurnya, Nenek Arsy langsung beranjak dari kursi goyangnya dan berjalan ke luar menuju teras rumahnya.


Terlihat jelas wajah Afnan yang juga nampak frustasi dan kusut. Nenek Arsy duduk berhadapan dengan Afnan. Saat awal datang, Afnan sudah mengawali pembicaraan dengan Nenek Arsy untuk menjadi teman dekat bagi Ayumi.


"Nak Afnan membuat cucu kesayangan Nenek menangis?" tanya Nenek Arsy pelan.


Afnan mendongakkan kepalanya lalu menatap Nenek Arsy dengan wajah yang memelas.


"Tidak sama sekali Nek. Ayumi menangis karena pilihannya sendiri. Ayumi ingin fokus pada cita-citanya," ucap Afnan pelan.


"Nenek sudah bilang dari awal. Nenek tidak ikut campur, kalaupun Ayumi mau menerima Nak Afnan mungkin saat ini Ayumi membutuhkan seseorang yang bisa menjadi panutannya," ucal Nenek Arsy mengingatkan.


"Afnan terlanjur mencintai Ayumi, selama ini Afnan menunggu Ayumi. Sampai Afnan menunda keberangkatan Afnan untuk melanjutkan study ke Mesir," ucap Afnan menjelaskan.


"Ayumi butuh waktu. Ayumi adalah wanita keras jika sudah memilih maka itu akan diperjuangkan. Mungkin memperjuangkan Nak Afnan bukan waktunya saat ini," jelas Nenek Arsy dengan suara pelan.


"Afnan paham dan bisa mengerti Nek. Tapi menunggu dengan waktu yang lebih lama lagi dengan jarak jauh, apakah bisa? Apakah Ayumi akan tetap memiliki perasaan yang sama nantinya," ucap Afnan pelan kepada Nenek Arsy.


"Kekuatan cinta sejati, cinta yang benar-benar dianugerahkan dari Allah SWT pasti akan mengalahkan segalanya. Mengalahkan nafsu, mengalahkan ketampanan atau kecantikan seorang, mengalahkan harta benda yang dimiliki seseorang, mengalahkan kecerdasan seseorang, karena semua yang dinilai itu dari hati, batin dan hakikat, ucap Nenek Arsy menjelaskan.


"Iya Nek. Afnan mengerti, semua ini anugerah termasuk cinta kepada hamba-nya juga Allah SWT yang mengatur," ucap Afnan pelan.


"Kejarlah studymu Nak Afnan, lakukan apa yang juga dilakukan Ayumi. Suatu saat nanti cara pandangnya dan cara berpikir kalian alan berbeda bila bertemu kembali. Disitulah kekuatan cinta yang sebenarnya akan diuji, apakah kalian masih mencintai atau sudah tidak ada perasaan seperti saat ini. Jika memang rasa itu masih ada, mungkin memang kalian berjodoh, tapi bila perasaan itu menjadi berbeda, mungkin perasaan kalian saat ini bukan ketulusan tapi karena suatu nafsu," jelas Nenek Arsy kepada Afnan.


"Ternyata menerima dengan ikhlas suatu kenyataan itu sulit dan tidak mudah. Kebanyakan orang akan kehilangan akalnya sehingga menjadi tidak waras dan mengambil jalan pintas untuk tetap mempertahankan sesuatu yang harus menjadi miliknya," ucap Afnan kepada Nenek Arsy.


"Itu adalah manusia yang tidak mempunyai iman dan lebih mementingkan egonya sendiri. Kita harus sering mengkaji diri kita sendiri Nak Afnan, jangan sampai hal-hal buruk meracuni otak kita untuk lebih mengedepankan rasa amarah," jelas Nenek Arsy menasehati.


"Afnan hanya bisa mengharap ridho Allah SWT. Afnan akan mengikuti saran Nenek untuk melanjutkan study dan cita-cita Afnan yang tertunda karena Afnan terlalu mencintai mahkluk ciptaan Allah SWT, bukan mencintai Allah SWT," ucap Afnan pelan.


Afnan mencoba menerima semuanya dengan ikhlas dan legowo. Sama seperti Zura yang harus menerima kenyataan bahwa Afnan tidak pernah mencintai Zura, semuanya dilakukan karena keinginan orang tua Afnan.


"Bapakmu itu seorang Kiyai, Nak Afnan, sudah tentu kamu paham dengan ini semua. Yakin itu hanya kepada Allah SWT dan meyakinkan bahwa kita bisa, kita mampu untuk melakukan hal-hal positif di jalan Allah SWT," ucap Nenek Arsy pelan.

__ADS_1


"Bapak terlalu sibuk dengan urusannya Nek. Afnan dan Kahfi lebih mencari ilmu dan pengalaman dari luar rumah. Dengan tinggal di Pesantren atau sekolah modern Islam terpadu," ucap Afnan menjelaskan.


"Sudah malam Nak Afnan. Tidak enak bila dilihat tetangga," ucap Nenek Atau menasehati.


"Iya Nek. Afnan pamit pulang, assalamu'alaikum," ucap Afnan pelan.


Afnan beranjak dari duduknya dan menghampiri Nenek Arsy untuk mencium punggung tangan orang tua itu dengan hormat.


"Hati-hati Nak Afnan, waalaikumsalam," jawab Nenek Arsy pelan.


Afnan sudah pulang dengan motor besarnya. Nenek Arsy membereskan gelas untuk di bawa ke dapur dan mengunci pintu rumah lalu masuk ke dalam kamar tidurnya. Nenek Arsy memang membiarkan Ayumi untuk sendiri dan mengambil sikap dan pilihannya sendiri tanpa ada paksaan atau saran dari orang lain.


Di kamar pribadinya, Ayumi duduk diatas kasur dan menyenderkan tubuh mungilnya disisi tembok. Tangannya memeluk erat bantal dan sesekali wajahnya dibenamkan ke arah bantal.


Sakit memang rasanya membohongi perasaan cinta dan sayang yang sudah tumbuh untuk Afnan. Lalu disaat yang tidak tepat, Afnan mengungkapkan perasaannya yang disimpan untuk Ayumi sejak lama.


Ayumi meyakinkan dirinya bahwa pilihannya adalah pilihan terbaik untuk dirinya baik saat ini maupun untuk masa depannya nanti. Ayumi mematikan lampu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Tidak lama Ayumi tertidur dengan pulas hingga bunyi alarm mengganggu tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.


Ayumi bangun dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Sajadah sudah digelar, mukena juga sudah dikenakan, Ayumi sudah berdiri diatas sajadah untuk melaksanakan sholat tahajud.


Pagi ini rasanya sangat berbeda, seperti ada yang hilang namun terasa lega. Ayumi meneruskan dzikir dan sholawatnya setelah itu berdoa memohon kepada Allah SWT untuk menjaga rasa cintanya kepada Afnan hingga waktunya nanti. Namun, apabila memang tidak berjodoh, maka semuanya akan berakhir dengan baik-baik saja.


Hanya itu doa yang Ayumi panjatkan. Ayumi berusaha mengikhlaskan semuanya termasuk perasaannya kepada Afnan yang sudah tumbuh sejak lama. Ini bukan masalah mau atau tidak mau, tapi lebih memprioritaskan masa depan yang lebih baik bukan mengedepankan rasa ego yang tinggi yang bisa menghancurkan diri kita sendiri suatu saat nanti.


Ayumi membaca Al-Quran dan menunggu waktu adzan shubuh.


Setelah melaksanakan sholat shubuh, Ayumi mengerjakan tugas matematika yang diberikan Afnan kemarin. Pagi ini harus langsung dikumpulkan dimeja guru. Setelah selesai Ayumi bersiap-siap mandi dan memakai seragam.


Mulai hari ini, Ayumi sudah memakai seragam panjangnya dengan hijab segiempat yang terlihat begitu manis diwajah Ayumi.


"Selamat pagi Nenek sayang," ucap Ayumi singkat sambil mengecup pipi Nenek Arsy dengan sayang.

__ADS_1


"Pagi cucu kesayangan Nenek," ucap Nenek Arsy dengan senyuman.


"Wah, nasi goreng dengan telor ceplok setengah matang. Makasih Nenek Ayumi yang paling cantik," puji Ayumi sambil terkekeh.


Nenek Arsy mengambilkan air putih dan diletakkan dekat dengan piring Ayumi.


"Kalian berdua berantem?" tanya Nenek Arsy pelan kepada Ayumi.


"Siapa Nek?" tanya Ayumi kembali.


"Ayumi dan Nak Afnan?" ucap Nenek Arsy.


Seketika Ayumi tertawa terbahak-bahak.


"Ayumi dan Kak Afnan tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa harus berantem?" ucap Ayumi sekenanya. Ayumi tidak tahu kalau jawabannya bisa membuat Ayumi terdiam.


"Lho yang bilang kalian punya hubungan siapa? Nenek cuma tanya, apa kalian berantem?" tawa Nenek menggelegar setlah menjawab pertanyaan Ayumi.


Ayumi terdiam dan menyadari kesalahannya. Jawabannya tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan oleh Nenek Arsy.


"Ayumi memang suka pada Kak Afnan. Tapi cita-cita Ayumi lebih penting daripada cinta Nek," ucap Ayumi pelan sambil mengunyah nasi goreng.


"Sudah yakin? Sudah bulat keputusan yang Ayumi ambil? Tidak akan menyesal? Tidak akan menyalahkan siapapun nantinya?" ucal Nenek Arsy pelan.


"Sangat yakin dengan tekad bulat. Lebih baik menggapai cita-cita dahulu, baru memburu cinta, daripada memburu cinta namun gagal menggapai cita-cita," tegas Ayumi.


"Itu baru cucu kesayangan Nenek. Nenek tidak mau ikut campur dalam pengambilan keputusan Ayumi. Ambil keputusan sesuai hati nurani dan sikap bijak," ucap Nenek Arsy menjelaskan.


Ayumi menganggukkan kepalanya tanda paham, lalu menghabiskan sarapan paginya hingga bersih.


"Ayumi mau naik angkot saja. Ayumi tidak mau menggantungkan orang lain, biarkan Ayumi mandiri," ucap Ayumi pelan.


Ayumi bergegaslah merapikan meja makan dan memakai tas sekolahnya lalu berpamitan kepada Nenek Arsy untuk berangkat ke sekolah lebih pagi.

__ADS_1


__ADS_2