Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
101


__ADS_3

Ayumi membawa dua es krim pesanannya dan berjalan menuju kursi besi dimana Bulan sudah menunggu. Sepanjang jalan, Ayumi nampak berpikir keras, perempuan yang sudah tidak asing lagi wajahnya dalam ingatan Ayumi, tapi siapa dia, pakaiannya begitu minim dan ketat. Ayumi cukup berpikir keras hingga pandangannya tidak fokus kepada arah tujuannya.


"Ayumi!!" panggil Bulan setengah berteriak kepada Ayumi.


Ayumi tampak terkejut, dirinya seperti linglung dan bingung karena pikirannya sedang bercabang.


"Eh.. Iya Bulan," jawab Ayumi pelan dan berbelok sedikit menuju kursi taman yang telah duduki oleh Bulan.


"Kamu kenapa Ay?" tanya Bulan saat Ayumi tiba di kursi taman itu dan duduk dengan cepat.


Wajah Ayumi tampak cemas dan panik serta bingung.


"Bulan ini es krim mocca pesanan kamu," ucap Ayumi pelan sambil tersenyum.


Ayumi memberikan satu es krim cone rasa mocca kepada Bulan. Bulan menerima es krim itu langsung meminum es itu pelan.


"Terima kasih ya Ay," jawab Bulan pelan.


Mereka menikmati es krim cone itu tanpa bersuara hanya sesekali menatap ke arah sekitar taman untuk sekedar melihat pemandangan di siang hari menjelang sore.


Ayumi masih saja termenung memikirkan perempuan misterius tadi, wajahnya sangat mirip dengan Kak Zura, tapi apa mungkin benar Kak Zura, rasanya tidak mungkin bila Kak Zura harus melepaskan hijabnya dan memakai pakaian seminim itu. Ayumi meminum es krim cone rasa cokelatnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa Ay, Bulan perhatikan kamu seperti sedang bingung," tanya Bulan pelan kepada Ayumi.


"Tadi Ayumi seperti melihat Kak Zura, tapi kenapa aneh, Kak Zura memakai pakaian super ketat dengan rok mini, sudah pasti hijabnya dilepas," ucap Ayumi pelan setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja Ayumi lihat.


Bulan menyimak ucapan Ayumi dengan menganggukkan kepalanya paham.


"Kamu yakin, bisa jadi itu orang lain bukan Kak Zura, tapi wajahnya menyerupai Kak Zura. Bulan yakin Kak Zura bukan tipe wanita seperti itu, yang mudah melepaskan hijabnya untuk kepentingan pribadinya," ucap Bulan pelan menjelaskan.


Ayumi hanya mengangguk pelan. Tapi memang rasanya itu benar Kak Zura, Ayumi tidak mungkin salah orang, tapi kenapa Kak Zura berpakaian seperti itu.

__ADS_1


"Kapan terakhir Bulan bertemu Kak Zura? Apa Ayah Sukoco pernah bicara tentang Bunda Andara dan Kak Zura? Keberadaannya?" tanya Ayumi pelan secara terus menerus.


Bulan mulai menggigit bagian cone dan mengunyah pelan lalu menelannya bersama sisa es krim yang masih menempel pada cone.


"Memang sudah lama tidak bertemu dengan Bunda Ara dan Kak Zura, bahkan datang ke pernikahan Bulan juga tidak," ucap Bulan pelan menjelaskan.


"Lalu?" ucap Ayumi ingin mendengar kelanjutannya.


"Ayah Sukoco juga tidak pernah bercerita apapun dan sepertinya mereka tidak ada komunikasi sama sekali," ucap Bulan menjelaskan.


"Aneh ya, bahkan menemui Rara pun tidak," ucap Ayumi pelan.


"Lebih baik kita ke toko buku sekarang, hari mulai sore, kita belum masak untuk makan malam," ucap Bulan pelan mengakhiri pembicaraannya.


Ayumi menganggukkan kepalanya setuju dan beranjak dari kursi itu menuju toko buku yang mereka lewati sejalan dengan arah pulang menuju apartemen Afnan.


Sesampai di toko buku itu, Ayumi dan Bulan berpencar untuk mencari buku-buku mereka sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing.


Ayumi sudah meminta ijin kepada Afnan untuk terlambat pulang karena mampir ke toko buku bersama Bulan dan berlanjut mengantarkan belanja keperluan Bulan selama di Mesir.


Ayumi sudah ada di meja kasir terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Bulan yang mengantre di belakang Ayumi.


"Beli buku apa Ay," tanya Bulan pelan sambil melirik ke arah buku-buku yang akan dibayarkan oleh Ayumi.


"Buku Samawa, baca intisarinya bagus, banyak ilmu bermanfaat disana, tentang rumah tangga," jawab Ayumi pelan lalu membayar semua buku yang dibelinya dan menerima satu kantong plastik berisi tiga buah buku kesukaannya.


"Kamu beli apa Bulan?" tanya Ayumi pelan.


"Buku tentang filosofi," ucap Bulan menjawab dengan singkat.


"Untuk apa membeli buku seperti itu, bukankah itu sangat berat, karena itu buku berkualitas tinggi, tidak mudah memahaminya," ucap Ayumi pelan.

__ADS_1


"Makanya Bulan membeli, agar Bulan bisa mengimbangi Ustad Ikhsan dalam hal pola pikir, agar bisa seiring berjalan bersama, bukan di depan atau di belakang, namun seiring bersama bersebelahan," ucap Bulan pelan menjelaskan secara detil.


Selesai sudah membeli buku, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju supermarket seberang jalan apartemen milik Afnan.


Supermarket itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, namun sangat lengkap dan bervariasi dalam hal pengadaan barang.


Ayumi mengambil kereta dorong belanja untuk membeli beberapa keperluan dan kebutuhan sehari-hari yang masih belum kebeli.


"Ay, kita cari sayuran dulu, ada sayuran yang mau Bulan masak," ucap Bulan pelan.


"Siap Bu Ustadzah," jawab Ayumi pelan sambil terkekeh dan mendorong kereta belanja itu.


Mereka berdua cukup asyik berbelanja dan memilih beberapa bumbu, makanan, minuman, buah dan lain sebagainya hingga tak terasa satu jam telah berlalu dan kereta belanja dorong itu sudah penuh dengan barang kebutuhan kedua sahabat itu.


Ayumi mendorong kereta belanja itu hingga kasir dan mulai dihitung lalu dibayarkan sejumlah pengeluaran belanja.


"Mau makan atau pulang?" tanya Bulan sambil membawa dua kantong plastik besar berisi barang kebutuhan pokok.


"Pulang saja, kita mending masak saja, dan bersantai di depan televisi," jawab Ayumi memberikan solusi.


Rasanya malas sekali harus makan diluar, teringat beberapa hari lalu makan bersama Afnan untuk pertama kalinya. Ada hal lucu yang hingga kini masih teringat dan tidak terlupakan.


Saat menuruni tangga eskalator menuju ke lantai basement Bulan menatap ke arah tempat lain. Tidak hanya Ayumi tetapi Bulan juga melihat perempuan dengan pakaian mini dan ketat tanpa hijab masuk ke dalam supermarket yang sama dengan mereka.


Perempuan itu memang sangat mirip dengan Kak Zura, tapi apakah mungkin itu dia.


"Bulan, bengong lihat apa?" tanya Ayumi pelan sambil menyenggol lengan Bulan.


Bulan tampak terkejut dan mengerjapkan kedua matanya pelan seolah apa yang dilihatnya itu hanya sebuah mimpi dan bukan kenyataan. Tapi senggolan di lengan Bulan oleh Ayumi membuktikan bahwa itu semua benar adanya, kejadian ini nyata dan bukan sebuah mimpi.


"Bulan melihatnya Ay," ucap Bulan pelan dan terbata-bata.

__ADS_1


Bulan benar-benar syik melihat pemandangan tidak biasa itu. Cara berpakaian Kak Zura yang serba minim dan ketat serta menonjolkan beberapa lekuk tubuhnya. Tanpa hijab panjang yang biasa membalut kepalanya, hanya rambut panjang hitam tergerai nampak sangat indah. Satu tangannya menggelendoti tubuh besar seorang pria paruh baya yang usianya sangat jauh dengan usia dirinya.


"Apa? Lihat apa?" tanya Ayumi pelan sambil melirik ke kanan dan ke kiri, mencari apa yang dimaksud oleh Bulan.


__ADS_2