Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
39


__ADS_3

Nenek Arsy menikmati sore yang semakin gelap dengan duduk di teras. Sesekali tangannya mengambil potongan bolu gulung pemberian Bunda Icha untuk menemani snja yang semakin memerah.


Gigitan demi gigitan terasa nikmat di lidah, terkenang pada menantu kesayangannya Alisha yang juga pintar membuat kue seperti bolu gulung ini.


Air matanya menetes mengingat kejadian malam terakhir obrolan bersama Bayu putranya dan Alisha menantunya, keduanya tiba-tiba melakukan sungkem kepada Nenek Arsy, meminta maaf dan memohon doa restu yang terbaik untuk keberkahan hidup dan keluarga kecilnya. Akhir kata mereka berdua berpamitan untuk pergi ke Bali, nyatanya mereka berpamitan untuk selama-lamanya.


"Nenek? Kenapa Nenek menangis?" tanya Ayumi pelan sambil menghapus air mata Nenek Arsy dengan tissue.


Nenek Arsy tersenyum dalam kepedihan batinnya.


"Ayumi, sudah mandi? Wangi sekali, gadisnya Nenek," ucap Nenek Arsy pelan, kedua matanya menatap senja yang terlihat begitu cerah dan indah.


"Nenek kenapa menangis? Ada sesuatu yang membuat Nenek bersedih? Apa itu Nek, coba ceritakan pada Ayumi," tanya Ayumi pelan.


Nenek Arsy hanya menggelengkan kepalanya pelan, rasanya tidak mungkin jujur menceritakan apa yang sedang dirasakan Nenek Arsy kepada Ayumi.


"Tidak ada Ayumi, Nenek hanya melihat kebesaran Allah SWT itu sungguh nyata adanya, banyak nikmat yang kita rasakan yang seharusnya kita syukuri," ucap Nenek Arsy kepada Ayumi.


Ayumi menatap kedua bola mata Nenek Arsy yang terlihat jelas saat sedang berbohong. Hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja, hanya berpura-pura seolah Nenek Arsy sedang bahagia dan baik-baik saja.


"Nenek, ada sesuatu untukmu. Nenek menunggu waktu yang tepat untuk memberikan ini," ucap Nenek Arsy pelan sambil merogoh kantong saku gamisnya.


"Sesuatu apa itu Nek?" tanya Ayumi kepada Neneknya.


"Ini ambilah. Ini milikmu Ayumi, terakhir Bunda Alisha menitipkan ini untukmu sebagai hadiah kelulusanmu, tapi menurut Nenek lebih baik dari sekarang Nenek berikan agar bisa menjadi penyemangatmu Ayumi," ucap Nenek Arsy pelan sambil memberikan sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf inisial A.


"Cantik sekali, seperti Bunda Alisha," ucap Ayumi mengagumi pemberian terakhir Bunda Alisha.

__ADS_1


"Kamu suka Ayumi? Sini Nenek pakaikan, jangan pernah kamu lepas, hanya ini kenangan terakhir dari Bunda Alisha," ucap Nenek Arsy sambil memakaikan kalung tersebut di leher Ayumi.


"Cantik kan Nek?" tanya Ayumi sambil berkaca menggunakan kaca jendela di teras rumahnya.


"Cantik sekali, dan terlihat sangat cocok kamu pakai. Nenek senang karena sudah bisa memberikan kepadamu. Nenek takut, suatu saat Nenek tidak ada dan belum sempat memberikan peninggalan terakhir mendiang Bundamu, Ayumi," ucap Nenek Arsy.


"Nenek ngomong apa sih. Ayumi gak suka, Nenek berbicara yang gak baik. Jangan di ulangi, Nek," ucap Ayumi lembut kepada Neneknya.


"Nenek kan memang sudah tua, Ayumi. Apalagi kesehatan Nenek juga makin menurun," ucap Nenek Arsy dengan lirih.


"Cukup Nek. Ayumi tidak mau dengar itu semua," ucap Ayumi sambil menutup kedua telinganya.


"Ayumi, kamu harus tetap meneruskan sekolahmu dan kuliah sesuai dengan jurusan yang kamu cita-citakan. Jangan risau dengan biayanya, Nenek sudah persiapkan untuk kamu. Nanti malam, masuklah ke kamar Nenek, Nenek akan memberikan sesuatu untukmu," ucap Nenek Arsy pelan.


Ayumi hanya diam menatap Nenek Arsy. Ucapan Nenek Arsy terus saja terngiang, teringat ucapan Bunda Alisha terakhir saat Ayumi menemani Bunda Alisha memasak untuk makan malam terakhir dalam hidupnya.


Ayumi menatap liontin berinisial A itu dengan seksama, inisial ini bisa berarti ALISHA atau AYUMI.


"Ayumi rindu Bunda, Nek," ucap Ayumi lirih.


Ayumi duduk di kursi tepat dihadapan Nenek Arsy.


"Nenek tidak apa-apa kalau Ayumi harus tinggal di Pondok?" tanya Ayumi pelan kepada Nenek Arsy.


Ada perasaan tidak rela, tapi demi meraih cita-citanya Ayumi harus rela dan tega meninggalkan Nenek Arsy sendiri di rumah.


"Bukankah ada Bunda Andara dan Zura putrinya. Nenek tidak keberatan mereka tinggal disini bersama Nenek," ucap Nenek Arsy pelan.

__ADS_1


"Bukan tidak percaya Nek, tapi Ayumi ikut was-was bila Nenek bersama orang lain," ucap Ayumi pelan menjelaskan.


"Biarkan Nenek sendiri seperti biasanya sebelum kamu, Ayah kamu dan Bundamu datang ke rumah ini," ucap Nenek Arsy.


"Beberapa hari lagi, ujian akan dimulai Nek. Setelah itu Ayumi harus ke Pondok untuk menyelesaikan pendidikan lanjutan atas. Baru Ayumi ambil jurusan kedokteran setelah lulus SMA," ucap Ayumi menjelaskan tentang apa yang ingin Ayumi capai.


"Belajarlah dengan giat dan rajin, jangan lupa ibadah terutama sholat. Kejarlah cita-citamu setinggi langit, ingat pesan Nenek, kalau sudah sukses menjadi dokter, bantulah banyak orang-orang yang membutuhkan. Jangan jadikan profesimu sebagai penggerak mesin uangmu, tapi jadikan profesimu untuk ibadah," ucap Nenek Arsy menasehati.


"Tapi Nek, sekolah kedokteran itu biayanya mahal dan tidak sedikit, walaupun Ayumi bisa mendapatkan beasiswa tetap saja, biaya-biaya lain pasti ada," ucap Ayumi lirih. Dirinya takut pendidikannya akan terhenti ditengah jalan karena kekurangan biaya.


"Masalah biaya, Nenek ada tabungan sedikit Ayumi. Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Biayamu di Al Azhar pun sudah Nenek berikan kepada Nak Afnan untuk menyelesaikan administrasi hingga kamu selesai dan lulus," ucap Nenek Arsy pelan.


"Terima kasih Nek. Tanpa Nenek, Ayumi belum tentu bisa melanjutkan sekolah," ucap Ayumi sambil memeluk Nenek Atau dengan erat.


Senja berganti malam, saatnya makan malam. Semua sudah siap dan tertata rapi di meja makan. Nenek Arsy dan Ayumi sejak selesai Sholat Maghrib langsung menyiapkan makan malam di dapur.


Nenek Arsy, Ayumi, Bunda Andara dan Zura sudah duduk di kursi makan dan mulai menyantap makanan yang sudah ada di meja makan.


"Nenek Arsu, terima kasih sudah menerima Dara dan Zura untuk bermalam disini. Besok pagi kami akan mencari pekerjaan dan menyewa rumah sendiri. Cukup hari ini dan malam ini saja kami berdua merepotkan Nenek Arsy dan Ayumi," ucap Bunda Andara perlahan.


"Ayumi, maafkan Kak Zura, yang sudah menghina kamu. Kak Zura tidak tahu harus bagaimana lagi jika tidak ada kamu," ucap Zura pelan.


"Sudah, sekarang kita makan dulu. Tidak perlu membahas hal-hal yang telah berlalu. Lebih baik mencari solusi untuk hari esok. Apa yang harus kita lakukan?" ucap Nenek Arsy pelan.


Nenek Arsy adalah salah satu orang yang memiliki tingkat kepedulian yang sangat tinggi terhadap orang-orang yang membutuhkan tanpa pamrih. Sifatnya yang ramah dan tulus membuat banyak orang menyukai perangai Nenek Arsy.


Ayumi adalah salah satu keturunan Nenek Arsy yang memiliki sifat dan karakter yang tidak berbeda jauh dengan sifat yang dimiliki Nenek Arsy.

__ADS_1


__ADS_2