Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
109


__ADS_3

Kahfi sudah paham dan sangat mengerti tentang kondisi Rara saat ini yang terus menurun tanpa ada perubahan yang signifikan untuk sembuh.


Mungkin jalan terbaik memang harus diambil untuk kebahagiaan Rara, tapi bukan dengan. cara menikahinya, itu sama saja menyakiti diri Kahfi sendiri.


Kahfi berusaha mencari jalan terbaik, namun ujung-ujungnya selalu ingat ucapan Bunda Icha yang selalu berpesan, membahagiakan seseorang itu memiliki pahala yang besar, dan suatu saat hidupmu juga akan dibahagialan oleh orang lain dengan cara Allah SWT.


Kahfi menghembuskan napasnya dengan sangat kasar. Pikirannya menjadi bercabang dan pusing dalam kebimbangan dan kedilemaan.


'Kahfi akan sholat malam, istikharah untuk memjnta petunjuk yang tepat dalam mengambil keputusan,' batin Kahfi dalam hatinya.


Kahfi sudah berada di Kantin Rumah Sakit sambil menunggu Rara selesai melakukan kemoterapi. Kahfi memesan satu gelas cokelat panas untuk menenangkan hatinya yang agak mulai goyang dan tidak terarah.


Pesanan cokelat panas, steak sapi lada hitam dan kentang goreng sudah ada di meja Kahfi. Kahfi langsung menyantap makanan itu dengan pelan. Aroma wangi cokelat panas sangat menggugah selera makan Kahfi untuk melahap semua makanan yang ada di depannya. Seketika permasalahannya hilang dan sirna terlupakan karena menikmati makanan dan minuman yang menambah moodnya itu.


Sesekali Kahfi memainkan ponselnya dan membalas beberapa chat yang masuk ke dalam kotak pesannya. Kahfi mengambil beberapa gambar yang ada di rumah sakit dan mempostingnya ke dalam beranda akun media sosialnya.


Steak sapi lada hitam itu sudah habis dilahap hanya tertinggal hotplate tempat sajiannya beserta bumbu yang masih ada, kentang goreng juga sudah ludes masuk ke dalam perut Kahfi.


Ponsel yang berada di atas meja tempat Kahfi makan berdering dengan suara yang sangat nyaring. Kahfi menatap nama yang tertera di dalam layar tersebut, terlihat jelas nama Ayah Sukoco disana.


Ayah Sukoco sangat hapal dengan jadwal kontrol dan kemoterapi Rara, dan sebisa mungkin Ayah Sukoco akan selalu menghubungi Kahfi tentang keadaan dan kondisi Rara saat ini setelah dan sebelum kontrol dan kemoterapi.


Kahfi mengangkat ponsel itu dengan menggeser tombol hijau yang muncul di alayar ponselnya. Sambungan telepon itu langsung tersambung ke Ayah Sukoco sebagai penelepon.


"Assalamu'alaikum, Ayah, apa kabar?" tanya Kahfi pelan dan sopan.


"Waalaikumsalam, Kahfi, gimana keadaan Rara?" tanya Ayah Sukoco tergesa-gesa dan panik.


"Masih kemoterapi Ayah," jawab Kahfi dengan pelan dan singkat.


"Perasaan Ayah tidak tenang sejak pagi, selalu teringat dengan Rara, tidak ada yang disembunyikan kan?" tanya Ayah Sukoco pelan. dan mendesak.


Deg ...

__ADS_1


Deg ...


Deg ...


Jantung Kahfi seolah ingin berhenti mendengar pertanyaan Ayah Sukoco yang bisa merasakan kejanggalan. Memang ikatan batin antara Ayah Sukoco dengan Rara sebagai anak kandungnya tidak bisa dibohongi.


Kahfi terdiam mencari jawaban yang pas dan tepat.


"Kahfi!! Ada apa sebenarnya, kenapa kamu terdiam," tanya Ayah Sukoco dengan cemas.


"Maaf Ayah, Kahfi habis membayar makanan, sedang ada di kantin. Sebenarnya tadi Kahfi dipanggil oleh dokter yang selama ini menangani Rara, Ayah," jawab Kahfi pelan menjelaskan.


Kahfi masih duduk ditempat yang sama sambil menghirup aroma cokelat yang membuatnya candu.


"Lalu, bagaimana perkembangan Rara, Fi?!" tanya Ayah Sukoco dengan rasa panik.


Rara adalah satu-satunya harapan Ayah Sukoco, hanya Rara yang Ayah Sukoco miliki sebagai darah dagingnya, apapun akan dilakukan Ayah Sukoco demi kebahagiaan Rara.


"Kondisi kesehatannya semakin menurun dan hasil laboratorium pun signifikan tidak ada pergerakkan untuk sembuh," jawab Kahfi pelan.


"Menurut dokter yang menangani Rara, Rara hanya bisa bertahan kurang lebih satu tahun, tergantung kondisi badan Rara. Hanya satu yang bisa membuat Rara bertahan, yaitu kebahagiaan," ucap Kahfi pelan menatap nanar ke arah gelas cokelat panas yang mulai mendingin.


Rasanya sulit berada di posisi Kahfi saat ini.


"Bantu Rara, Fi, agar selalu bahagia, hanya Kahfi yang bisa membuat Rara bahagia dan bertahan dalam hidup yang penuh kesakitan," ucap Ayah Sukoco pelan dengan nada memohon dan penuh harap.


Harapan satu-satunya adalah kepada Kahfi. Rara hanya bisa menggantungkan hidupnya hanya kepada Kahfi, orang yang sangat dicintai oleh Rara.


"Kahfi akan menikahi Rara, Ayah?!" ucap Kahfi dengan suara lantang.


Ayah Sukoco ganti terdiam mendengar jawaban Kahfi, seolah ini nyata atau mimpi. Kahfi yang notabene tidak mencintai Rara, amu menikahi Rara.


"Jangan bercanda Fi, kasihan Rara, jangan permainkan perasaannya," ucap Ayah Sukoco pelan bertanya kepada Kahfi.

__ADS_1


Kahfi terdiam menyadari apa yang Kahfi ucapkan pada Ayah Sukoco adalah suatu kesalahan. Kenapa ucapan ingin menikahi Rara lolos begitu saja dari bibirnya padahal hatinya mengatakan tidak.


'Apa yang harus Kahfi ucapkan pada Ayah Sukoco, kalau ucapan itu adalah suatu kesalahan dan ketidaksengajaan,' batin Kahfi di dalam hatinya.


"Fi, Kahfi!!" ucap Ayah Sukoco dengan suara keras lalu sambungan telepon itu terputus begitu saja.


Kahfi hanya bisa melongo melihat sambungan telepon itu terputus dan mati. Kahfi masih menunggu Ayah Sukoco menelepon dirinya kembali, namun tidak ada panggilan kembali.


Ingin rasanya Kahfi berteriak dengan sangat keras, rasanya benar-benar frustasi.


'Tapi apakah ini jawaban dari Allah SWT?' batin Kahfi dalam hatinya.


Kahfi meneguk habis cokelat panas yang sudah menjadi dingin itu.


Lalu beranjak dari duduknya dan membayar semau makanan itu dikasir pembayaran.


Kahfi meninggalkan Kantin Rumah Sakit menuju ruang tunggu depan ruang isolasi menunggu Rara selesai kemoterapi.


Hari ini, Kahfi benar-benar dibuat pusing tujuh keliling karena bingung dan bimbang. Kahfi duduk di kursi besi yang ada di ruang tunggu itu. Tubuhnya disandarkan pada sandaran kursi besi itu.


Jantungnya terus saja berdegup debgan kencang. Rasanya ingin pergi dan meninggalkan Rara disini, tapi melihat kondisi Rara yang lemah seperti itu, Kahfi merasa iba.


Sepuluh menit kemudian, kedua mata Kahfi pun terpejam dan terlelap dalam kelelahan pikirannya


Rara sudah selesai kemoterapi, dan sudah berada di luar ruangan isolasi dengan lemah. Kursi roda itu berhenti tepat di depan tempat duduk Kahfi.


"Kak Fi? Kak Fi?" panggil Rara dengan suara pelan dan lembut.


Kahfi tidak juga terganggu dan tidak ada respon pergerakan tanda terbangun dari tidurnya.


"Kak Fi?! Kak Fi!! Bangun," ucap Rara dengan suara agak keras sambil menggoyangkan lutut Kahfi agar tidurnya terganggu.


Kahfi hanya melenguh dan membuka matanya perlahan.

__ADS_1


"Kak Fi, bangun," ucap Rara pelan masih dengan menggoyangkan lutut Kahfi berulang kali.


Kahfi membuka matanya dan menatap Rara yang sudah ada di depannya.


__ADS_2