
Sudah satu setengah jam Rara tertidur pulas setelah siuman. Rara kembali mengantuk dan tertidur setelah meminum obat sesuai anjuran dokter.
Zura menemani Rara yang sedang tertidur, mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Kahfi dan Bunda Andara sedang berbincang di ruang tengah.
"Maafkan Kahfi Bunda," ucap Kahfi menyesal.
"Sebelum kamu minta maaf sudah Bunda maafkan. Lagipula ini bukan kesalahan kamu, Kahfi. Bunda bisa memahami perasaan kamu," ucap Bunda Andara pelan.
Tidak ada dendam ataupun sakit hati terhadap Kahfi walaupun Rara, Putri bungsunya menjadi korban karena kebodohannya sendiri.
"Terima kasih Bunda, Kahfi tidak tahu harus berbuat apa? dan harus bersikap bagaimana? Kahfi hanya takut dan panik saat melihat darah berceceran di lantai," ucap Kahfi pelan.
Kepalanya terus menunduk dengan rasa penyesalan yang teramat sangat. Kalau boleh meminta maaf dan dimaafkan, Kahfi rela melakukan apa saja untuk menebus kesalahannya walaupun dilakukan secara tidak sengaja.
"Semuanya sudah takdir, Fi. Biarkan ini menjadi pelajaran bagi kita semua, untuk bisa bersikap dewasa, bijak dan logis dalam berpikir," ucap Bunda Andara menjelaskan.
"Tapi Bunda, ini semua salah Kahfi. Kalau saja Kahfi tidak berbicara seperti tadi, Kahfi rasa Rara tidak akan melakukan ini semua," ucap Kahfi pelan.
Rasa penyesalannya semakin besar, saat Bunda Andara menatap sendu wajah Kahfi.
"Sudahlah Fi, tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Seharusnya kita bisa memperbaiki dan mencari cara agar Rara bisa bangkit dan lebih menikmati sisa akhir hidupnya," ucap Bunda Andara lirih.
"Rara sakit, Bunda? Sakit apa?" tanya Kahfi dengan penasaran. Walaupun sesungguhnya Kahfi sudah mengetahui penyakit Rara dari Ayumi, namun Kahfi ingin mendengar langsung dari mulut Bunda Andara.
Bunda Andara menatap Kahfi dengan kedua matanya yang mulai basah. Setiap menceritakan tentang keadaaan Rara yang sesungguhnya adalah hal yang paling berat.
"Apa Kahfi ada salah ucap hingga Bunda harus bersedih?" ucap Kahfi pelan dan berhati-hati saat berbicara kepada Bunda Andara.
Bunda Andara hanya menggelengkan kepalanya pelan. Satu telapak tangannya sudah menghapus air mata yang sempat menetes ke pipi.
"Rara terkena penyakit kanker otak. Penyakit itu sudah bersarang sejak Rara masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu Rara mengeluh sering sakit kepala dan pusing hingga rasanya kepalanya berputar-putar lalu tidak sadarkan diri, itu selalu terjadi berulangkali bila Rara mengalami tingkat stres yang tinggi," ucap Bunda Andara menjelaskan.
__ADS_1
"Bunda tidak mencoba mengobati Rara atau terapi untuk Rara agar sembuh?" ucap Kahfi yang semakin tertarik dengan pembicaraan ini.
"Menurut Kahfi, ada orang tua terlebih seorang Ibu yang membiarkan anaknya sakit dan akhirnya meninggal dengan sia-sia? Apakah ada orang tua terlebih Ibu yang tidak banting tulang demi kesembuhan anak yang sudah dikandungnya selama sembilan bulan?" tanya Bunda Icha pelan menjelaskan.
Kahfi menganggukkan kepalanya pelan tanda paham.
"Bukan maksud Kahfi untuk ikut campur ataupun mengoreksi usaha dan ikhtiar Bunda Andara dan Ayah Sukoco dalam memprioritaskan kesembuhan Rara, tapi Kahfi hanya ingin semuanya dilakukan secara maksimal dan seimbang," ucap Kahfi pelan menjelaskan.
Bunda Andara menarik napas dalam lalu menghembuskan napas itu dengan kasar. Pilu rasanya jika ada seseorang menyentil tentang kehidupannya, terlebih sosok yang memberikan saran pada Bunda Andara adalah seorang remaja laki-laki yang sedang menimba ilmu.
"Bunda selalu memprioritaskan kesembuhan Rara dengan baik dan maksimal. Satu hal, Rara tidak pernah tahu tentang penyakitnya, jadi tolong simpan rahasia ini dengan baik agar Rara tidak stres berpikiran negatif," ucap Bunda Andara pelan.
"Iya Bunda, rahasia aman," jawab Kahfi dengan tersenyum.
Bunda Andara tersenyum mendengar jawaban dari Kahfi.
"Bunda ... Rara, Bunda!" teriak Zura dari kamar tidur Bunda Andara.
Bunda Andara dan Kahfi langsung beranjak dan berlari menuju kamar dimana Rara berada.
"Bunda, kepalaku sakit sekali, rasanya seperti ditusuk-tusuk dan berputar-putar seperti mau pecah," ucap Rara dengan lirih secara berulang-ulang saat mengigau.
Bunda Andara menghampiri Rara dan mencium kening Rara berkali-kali dengan lembut dan kasih sayang. Berusaha untuk menghilangkan rasa sakit itu dari kepalanya, walaupun hal itu sama sekali tidak merubah kondisi Rara.
"Ra, sabar sayang. Bunda selalu disini menemani Rara," ucap Bunda Andara kepada Rara yang masih tertidur pulas karena efek samping dari obat yang diminum Rara.
Zura yang terlihat panik hanya bisa memijat pelan kaki Rara. Zura sendiri bingung tidak bisa berbuat apa-apa.
Kahfi masih berdiri di ambang pintu masuk kamar. Langkahnya langsung terhenti mendengar suara Rara yang mengigau dengan lirih.
Pandangannya tidak lepas dari tubuh Rara yang terkulai lemas itu dengan pergelangan tangan yang masih terbalut perban putih.
"Bangun Ra, ini ada Kahfi ingin menjemput kamu, Ra!" ucap Bunda Andara pelan sambil tersenyum ke arah Kahfi.
__ADS_1
Tidak lama, sekitar lima belas menit kemudian, tubuh Rara mulai bergerak sangat pelan. Kedua bola mata Rara telah terbuka, setelah mengerjapkan matanya perlahan sejak tadi.
Satu per satu Rara menatap orang-orang yang ada dikamar tersebut. Pandangan pertama kepada Bundanya, lalu kepada Kak Zura dan terakhir kepada Kahfi yang ada di ujung ranjang berdiri menatap Rara dengan senyuman penuh ketulusan.
"Bunda, ijinkan Rara berbicara sebentar dengan Kak Kahfi, boleh?" tanya Rara pelan menatap ke arah Bunda Andara.
Bunda Andara hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Apapun yang kamu inginkan Ra, Bunda akan menuruti selagi semuanya baik untuk kamu," ucap Bunda Andara pelan.
Bunda Andara dan Zura beranjak dari tepi ranjang itu dan keluar dari kamar untuk membiarkan Rara dan Kahfi berbicara dan menyelesaikan masalah keduanya.
Kahfi berjalan menghampiri Rara dan duduk di tepi ranjang dekat dengan Rara.
"Masih sakit Ra?" tanya Kahfi dengan rasa khawatir.
"Melihat senyum Kakak, rasa sakit di kepala Rara mendadak hilang dan pergi. Tapi hati Rara yang perlu diwaspadai kali ini," ucap Rara tersenyum telah membuat kegaduhan hati Kahfi.
"Pinter ngegombal ya sekarang," ucap Kahfi kepada Rara.
"Ada kesempatan kenapa tidak?" ucap Rara pelan.
"Ra..." panggil Kahfi pelan.
Rara menoleh ke arah Kahfi dan menjawab, "Iya Kak."
"Maafkan Kakak, dan jangan pernah kamu lakukan hal mengerikan seperti tadi," ucap Kahfi pelan dengan nada memohon.
"Maafkan Rara juga Kak, yang selalu merepotkan Kakak," ucap Rara dengan singkat.
Pandangan Rara langsung mengarah kepada Kahfi.
Rasa iba dan prihatin Kahfi menyelimuti pikirannya untuk tetap bertahan memikirkan Rara.
__ADS_1
"Kapan kira-kira kita akan berangkat? tanya Kahfi pelan dan lembut.
"Besok saja, Kak Kahfi tidak masalah kan untuk mengantarkan Rara ke Sekolah baru Rara," ucapnya dengan penuh kegembiraan.