Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
65


__ADS_3

Semua sudah berkumpul melingkari bed yang digunakan oleh Rara. Selang infusan dan oksigen masih terpasang pada tubuh lemas tak berdaya itu.


Pak Sukoco dan Mama Anna berdiri bersebelahan tepat disamping Rara. Bunda Icha dan Kyai Toha berada disamping Rara berseberangan dengan Pak Sukoco.


Kahfi ikut duduk berhadapan dengan Rara dan Ayumi yang masih memeluk erat Rara.


Acara lamaran antara Kahfi dan Rara akan segera dimulai hanya di hadiri oleh keluarga inti dari kedua belah pihak. Walaupun hanya keluarga inti, acara ini tetap berjalan baik dan lancar tanpa mengurangi dari kekhidmatan acara lamaran tersebut.


Malam ini terasa dingin sekali, terlebih cuaca di luar gedung yang tiba-tiba saja hujan lebat diiringi dengan suara petir yang keras menggelegar. Gema suara petir itu terdengar hingga bergetar di seluruh dinding ruangan kamar VIP itu.


"Kita mulai sekarang saja, Kyai?" tanya Pak Sukoco dengan sopan. Walaupun sebenarnya mereka bersahabat kental namun tetap saja harus bersikap profesional satu sama lain dan saling menghargai.


"Baiklah Pak Sukoco," jawab Kyai Toha pelan.


Acara diawali dengan mukadimah dan sedikit tausiyah tentang arti kebersamaan.


Semua yang ada di ruangan menyimak dengan baik, tanpa ada yang menyela atau ada yang bersuara sedikitpun.


Tausiyah dari Kyai Toha selesai, acara langsung diambil alih oleh Pak Sukoco untuk membuka pembicaraan dan ucapan terima kasih sudah hadir ke tempat yang sebenarnya kurang layak untuk dijadikan tempat pertemuan atau acara yang sakral.


"Terima kasih untuk Kyai Toha sahabatku, yang telah datang ke tempat ini dengan maksud dan tujuan yang baik tentunya untuk memperpanjang tali silaturahmi agar tidak terputus," ucap Pak Sukoco dengan panjang lebar.


"Terima kasih untuk Pak Sukoco yang telah menerima kedatangan saya dan keluarga saya disini. Bukan tempat atau kondisi ataupun hal lain yang saya lihat, namun ketulusan dan itikad baik untuk tetap menjalin tali silaturahmi itu yang saya sukai. Maksud kedatangan kami sekeluarga ke tempat ini, bertemu dengan Pak Sukoco dan Ibu Anna serta Rara dan Bulan, niat baik anak saya Kahfi ingin melamar anak gadis Pak Sukoco yang bernama Rara," ucap Kyai Toha dengan sangat mantap.


Permintaan Kyai Toha untuk putra bungsunya Kahfi untuk meminang Rara Putri bungsu Pak Sukoco seketika suara petir menyambar sangat keras hingga dinding seluruh ruangan gedung rumah sakit itu ikut bergetar dengan kencang.


Hati Ayumi tersentak dan melirik ke arah luar jendela rumah sakit tersebut. Hujan yang sangat deras dan lebat tidak bisa menembus pandangan Ayumi walau hanya sinar lampu yang tersorot dari ruangan sebelah.


Kyai Toha menyenggol tubuh Kahfi untuk memulai pembicaraannya melamar Rara dan menyematkan satu cincin di jari manis Rara sebagai tanda lamaran telah terjadi diantara keduanya.


"Maaf kepada Pak Sukoco dan Ibu Anna, jikalau kedatangan Kahfi dan keluarga sangat mengganggu aktivitas kalian. Niat baik Kahfi dengan dukungan dan restu dari orang tua, Kahfi disini akan melamar Rara sebagai istri Kahfi. Adapun sebagai bukti bahwa niat saya ini benar dan tulus, saya akan memberikan satu buah cincin untuk Rara, apabila diterima maka akan saya sematkan dijari manis Rara," ucap Kahfi pelan dan terbata-bata.


Senyum Kahfi sangat kecut mengingat disini Kahfi hanya ingin membahagiakan Bapak dan Bundanya serta demi kesembuhan Rara.

__ADS_1


Rara tersenyum bahagia dalam pelukan Ayumi.


"Ay, lelaki idaman Rara, melamar Rara hari ini," ucap Rara setengah berbisik di dekat telinga Ayumi.


Ayumi hanya tersenyum mendengar ucapan bahagia Rara dan mengusap punggung Rara dengan pelan.


"Kami selaku orang tua Rara, hanya bisa memberikan restu dan semua keputusan ada di tangan Rara, gimana Ra?" tanya Pak Sukoco dengan senyuman bahagia.


Rara tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Rara terima lamaran Kahfi, Ayah," ucap Rara pelan dan terlihat bahagia walaupun suaranya serak.


"Terima kasih Ra," ucap Kahfi pelan dan terdengar sangat dingin.


Kahfi mengeluarkan satu kotak beludru merah dari saku kemeja batiknya dan membuka kotak itu lalu mengambil satu cincin untuk disematkan dijari manis Rara.


"Ini tanda bahwa yang aku lakukan adalah suatu bentuk keseriusan dan ketulusan," ucap Kahfi pelan tanpa menatap Rara yang tersenyum padanya.


Cincin itu sudah tersemat di jari manis Rara, betapa bahagia hati Rara melihat cincin yang sederhana namun tampak indah di matanya. Bukan harganya, bukan bentuknya tapi dari siapa cincin itu berasal, itu yang membuat hati dan pikiran Rara klop untuk benar-benar berbahagia.


"Terima kasih Kak Kahfi," ucap Rara dengan lirih.


"Sama-sama Ra," ucap Kahfi pelan tanpa tersenyum sedikitpun.


Kahfi bangkit berdiri dan beranjak keluar ruangan VIP tersebut. Ada rasa kecewa dengan dirinya sendiri saat tidak bisa menjaga hati yang sudah di pupuk dan tumbuh dengan subur, tidak bisa memiliki seseorang yang namanya selalu disebut disepertiga malam setiap hari. Kedua matanya basah, hatinya harus berbohong demi kesembuhan dan kebahagiaan orang lain, namun kebahagiaan dirinya sendiri tidak ada seorangpun yang peduli.


"Kak Fi!" teriak Ayumi di lorong gelap rumah sakit itu.


Kahfi tetap berjalan lurus ke depan dan mengabaikan panggilan Ayumi kepadanya.


"Kak Fi!" teriak Ayumi kemudian lebih keras lagi.


Langkah mungilnya berlari pelan mengejar langkah lebar Kahfi yang sudah berada jauh didepan.

__ADS_1


Ayumi berhasil mengejar Kahfi dan menarik pelan lengan Kahfi hingga tubuh Kahfi berbalik menghadap ke arah Ayumi yang sedang berdiri mematung karena terkejut.


"Puas kamu Ay?" ucap Kahfi dengan nada yang tinggi.


"Puas?" tanya Ayumi pelan seolah pura-pura tidak mengerti.


"Tidak usah pura-pura bodoh, ini semua skenario kamu, Bunda dan Rara. Kamu jahat Ay," ucap Kahfi setengah membentak.


"Kak Fi bicara apa?! Ayumi tidak tahu masalah itu, yang Ayumi tahu Pak Sukoco meminta Bapak agar Kak Fi Ami melamar Rara, tidak ada yang lain," ucap Ayumi lirih.


"Kakak itu cintanya sama kamu Ay, bukan dengan Rara," teriak Kahfi frustasi.


"Tapi malam ini sudah terjadi Kak Fi, Kakak sudah melamar Rara, itu tandanya Kakak harus mulai mencintai dan menyayangi Rara," ucap Ayumi sedikit bergetar.


"Apa tidak ada sedikitpun celah untuk Kakak di hatimu Ay?" tanya Kahfi semakin kesal.


"Kalaupun ada, semuanya sudah terlambat bukan?" jawab Ayumi pelan. Kata-kata itu meluncur dengan sendirinya dari bibirnya tanpa diolah terlebih dahulu didalam otaknya.


Kata-kata yang terucap tulus dari hati yang lolos begitu saja.


Kahfi mendengar jawaban Ayumi, hatinya tersentak kaget dan mencelos begitu saja seakan hatinya ingin keluar mencari kebahagiaan.


"Apa maksud ucapanmu Ay? Apakah itu tandanya kamu memiliki perasaan yang sama?" tanya Kahfi pelan kepada Ayumi.


Tubuh Ayumi bersandar di tembok dan dikunci oleh kedua tangan Kahfi. Tatapan tajam Kahfi seolah akan memangsa Ayumi, membuat Ayumi berkali-kali beristighfar di dalam hati.


"Jawab pertanyaan Kakak!" tegas Kahfi kepada Ayumi yang tampak ketakutan.


Lorong itu begitu gelap dan sepi, menghubungkan jalan parkiran arah samping.


"Ayumi tidak cinta Kakak, lepaskan!!" teriak Ayumi melepaskan Kungkungan dari kedua tangan Kahfi dan berlari sambil menangis ke arah berlawanan.


Kahfi hanya menatap punggung Ayumi yang terlihat bergetar karena menangis. Ada perasaan kesal dan menyesal karena sudah membuat gadis kesayangannya itu ketakutan dan menangis.

__ADS_1


'Maafkan Kakak, Ay. Ra, maafkan Kakak bila tidak bisa memberikan yang terbaik, jiwaku tidak bisa bersamamu tapi ragaku bisa membahagiakan kamu,' batin Kahfi dalam hatinya.


__ADS_2