Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
30


__ADS_3

Kahfi lebih baik menyendiri di kamar tidurnya. Kamar ini adalah tempat ternyaman setelah kejadian tidak baik waktu itu.


Ada satu masa lalu Kahfi yang membuat Kahfi ingin menjadi orang yang lebih baik lagi. Setelah kejadian buruk itu menimpa Kahfi sempat down dengan kondisi kejiwaan yang agak miris juga.


Tetapi semua itu sudah berlalu, dan Kahfi bisa bangkit lagi menjadi Kahfi yang lebih baik. Saat itu juga Kahfi memutuskan untuk tinggal di Pondok Pesantren milik Kyai Ubay teman seangkatan Kyai Toha, Bapak Kahfi.


Afnan masih memijit keningnya berulang-ulang dengan pelan. Rasa sakit di kepalanya sudah sedikit menghilang. Beberapa hari ini Afnan banyak memikirkan Ayumi. Cukup menguras tenaga dan otak ternyata memikirkan gadis pujaannya itu, bagaimana tidak? Secara tiba-tiba gadis pujaannya mengungkapkan perasaannya tapi di lain hari berkeinginan untuk lebih fokus pada pendidikannya agar bisa menggapai cita-citanya.


"Afnan, sudah lama Bapak tidak lihat Zura main kemari. Hubungan kalian baik-baik saja kan?" tanya Kyai Toha kepada anak sulungnya.


Afnan membuka matanya perlahan saat sofa yang di duduknya terasa bergejolak, ada Kyai Toha yang duduk di sebelahnya.


"Bapak? Hem, soal itu tidak perlu dibahas lagi Pak," jawab Afnan pelan dan sopan.


"Ada apa dengan kalian? Bukankah kalian berdua sudah serius?" tanya Kyai Toha semakin bingung dengan masalah anak muda jaman sekarang.


Afnan tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak.


"Astagfirullah Bapak. Sudah pengen punya cucu?" tanya Afnan kembali kepada Kyai Toha sambil mengedipkan satu matanya menggoda Kyai Toha yang hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Bukan itu Afnan. Jangan suka mempermainkan perasaan wanita, tidak baik. Ingat Ibumu itu perempuan, walaupun kamu tidak punya saudara kandung perempuan, setidak-tidaknya kamu menghormati dan menghargai perempuan," ucap Kyai Toha menasehati anak sulungnya.


"Pak, Afnan dan Zura tidak pernah ada hubungan apa-apa. Zura pernah minta ta'aruf, tapi Afnan tidak bisa menerimanya," ucap Afnan menjelaskan kepada Kyai Toha, Bapaknya.


"Apa kurangnya Zura? Baik, cantik, pintar, sholehah, dan yang terpenting dia berasal dari keluarga yang baik, karena Bapak kenal betul siapa Pak Sukoco," ucap Kyai Toha dengan penuh semangat memuji Zura dan keluarganya.


"Kalau Afnan tidak suka, tidak cinta mana mungkin bisa dipaksa. Kalau Afnan menerima dengan terpaksa, Afnan yang tersiksa Pak," ucap Afnan yang bersikukuh menolak Zura untuk menjadi orang yang penting dalam hidupnya.


"Bapak tidak pernah memaksa, tapi tolong pikirkan kembali permintaan ta'aruf itu," ucap Kyai Toha pelan menasehati.


"Ada hati yang selama ini Afnan jaga. Sepuluh tahun lamanya Afnan memendam perasaan Afnan pada gadis ini, gadis yang Afnan temui dan Afnan tolong hingga nyawanya selamat," ucap Afnan pelan menjelaskan kepada Kyai Toha.


Kyai Toha menyimak dan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham dengan yang dibicarakan Afnan.

__ADS_1


"Siapa gadis itu? Sampai membuatmu takluk dan tidak mau menerima gadis sebaik Zura? Apa kelebihan gadis ini, sampai kamu mempertahankan gadis ini selama sepuluh tahu lamanya?" tanya Kyai Toha pelan kepada Afnan.


"Bapak kenal, dia Ayumi. Gadis yang baru saja menjadi gadis yatim piatu, dia cucu Nenek Arsy," ucap Afnan mantap.


Kyai Toha menatap Afnan dengan tidak percaya.


"Kenapa Pak? Ada yang salah dengan Ayumi?" tanya Afnan pelan kepada Bapaknya.


"Bukankah dia itu ... siapa tadi namanya?" tanya Kyai Toha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal tapi lupa nama gadis pujaan anak sulungnya itu.


"Ayumi, Pak," jawab Afnan pelan.


"Oh ya ... Maaf Bapak lupa. Ayumi kan masih kecil Afnan?" ucap Kyai Toha pelan.


"Iya Pak, betul sekali. Tapi ... Afnan menyukainya," jawab Afnan dengan jujur.


"Lalu, Ayumi tahu? Kalau kamu menyukainya? Bagaimana dengan Nenek Arsy?" tanya Kyai Toha beruntun.


"Ayumi tahu Pak. Kami memiliki perasaan yang sama. Afnan pernah berbicara pada Nenek Arsy, beliau pun tidak keberatan, semua keputusan ada ditangan Ayumi. Tapi ..." ucapan Afnan berhenti sejenak. Lagi-lagi Afnan memejamkan kedua matanya dan memijit keningnya dengan pelan.


"Ayumi ingin menyelesaikan studinya hingga menjadi seorang dokter," jawab Afnan pelan.


Kyai Toha menoleh ke arah Afnan dan menatapnya.


"Dokter? Calon mantu Bapak mau jadi dokter?" tanya Kyai Toha kepada Afnan.


"Calon mantu? Itu tandanya Bapak merestui, bila Afnan meminang Ayumi?" tanya Afnan dengan penuh semangat.


Kyai Toha tertawa terkekeh lalu tersenyum dan menepuk lengan Afnan.


"Bapak hanya bisa merestui, yang akan menjalani kan kamu dengan Ayumi," ucap Kyai Toha dengan bijak.


"Terima kasih Pak. Bapak memang seorang ayah yang bijak, dan memberikan kebebasan dalam memilih," ucap Afnan dengan rasa bahagia.

__ADS_1


"Hargai keputusan Ayumi, mungkin Ayumi butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Usianya memang usia harus menimba ilmu sebanyak mungkin. Tinggal kamu bisa tahan apa gak?" tanya Kyai Toha kepada Afnan.


Afnan menatap sebal kepada Bapaknya. Afnan paling tidak suka digoda, arah pembicaraannya selalu serius dan tampak kaku. Berbeda dengan Kahfi yang suka bercanda dan tampak lebih ramah.


"Afnan menjawab akan selalu menunggu Ayumi hingga sukses menjadi dokter," ucap Afnan pelan.


"Tidak mau di pinang dulu? Yakin pada bisa bertahan dan setia?" goda Kyai Toha pada Afnan.


"Menurut Bapak bagaimana? Bukankah dalam Islam juga tidak boleh tunangan atau pacaran? Kalau menitipkan, gimana Pak?" tanya Afnan yang terlihat cemas.


'Betul juga, seharusnya kemarin aku pinang,' ucap batin Afnan dalam hatinya.


"Intinya ikhlas, serahkan semuanya sama Allah SWT. Kalau yakin pasti akan setia, kalau tidak yakin, lebih baik berteman saja," ucap Kyai Toha pelan.


"Sulit Pak. Afnan sudah menunggu Ayumi lama. Masa iya sekarang Afnan harus menunggu lagi?" ucap Afnan pelan.


"Itu ujian. Kalau mau dapat yang dunia dan akhirat ya seperti itu. Kalau gak bertahan itu namanya nafsu," ucap Kyai Toha menjelaskan.


Kyai Toha menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sofa. Sedangkan Afnan malah berpikir keras untuk mencari cara yang baik agar hubungannya dengan Ayumi bisa tetap langgeng hingga waktu yang tidak terbatas.


"Masih mikir caranya gimana?" tanya Kyai Toha kepada Afnan secara tiba-tiba dalam keadaan terpejam.


Afnan menoleh ke arah Bapaknya disamping. Ucapan Kyai Toha yang tiba-tiba membuat Afnan terkejut.


"Bingung? Tinggal kasih cincin aja." ucap Kyai Toha sekenanya dengan mata yang masih terpejam.


Afnan menoleh lagi, karena ucapan Bapaknya membuat kaget.


Kyai Toha terbangun dan duduk tegap lalu tertawa terbahak-bahak.


"Kaget ya?" ucap Kyai Toha menggoda anak sulungnya itu.


Afnan hanya mendengus dengan kesal. Hatinya seperti sedang dipermainkan oleh Bapaknya.

__ADS_1


"Bukan kaget Pak, hanya terkejut," ucap Afnan sekenanya.


Kyai Toha langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban anak sulungnya itu.


__ADS_2