
Ayumi sudah berada di Pondok Pesantren Al-Azhar. Setelah mengantarkan Ayumi, Kahfi langsung memutar balik arah mobil dan kembali pulang ke rumah Nenek Arsy untuk menjemput Bundanya.
Sepanjang perjalanan tadi, Ayumi selalu saja merengek agar Kahfi bisa menerima Rara sepenuh hati dan tulus. Terlebih sebentar lagi Abang Afnan dan Ayumi juga akan bertunangan untuk memperjelas statusnya.
Teringat jelas dalam ingatan Kahfi saat Ayumi mengatakan 'Ayumi juga akan bertunangan dengan Kak Afnan,' lirih Kahfi dalam hati.
Beberapa kali Kahfi memukul-mukul setir mobil dengan keras. Rasanya sangat kesal dan kecewa, walaupun sejak awal memang Kahfi susah mengetahui Ayumi hanya mencintai Afnan yang tak lain adalah Abang kandungnya sendiri. Tapi mendengar berita pertunangan akan dilangsungkan itu sangat membuat Kahfi merasakan kekecewaan yang teramat dalam.
Mengendarai mobilnya sudah tak karuan, ugal-ugalan dijalan raya yang ramai dan padat dengan kendaraan bermotor itu. Kahfi melajukan kendaraannya dengan sangat cepat dan menyalip dari kiri dan kanan bagai supir handal dalam pertandingan formula one.
Mobil Kahfi sudah masuk ke pelataran rumah Nenek Arsy yang sebentar lagi akan digunakan sebagai Rumah Singgah bagi anak-anak yatim piatu yang tidak memiliki rumah.
Papan nama Rumah Singgah Arsy sudah terpasang dengan tulisan kaligrafi langsung terukir dari tangan Kyai Toha. Rumah Nenek Arsy sudah sedikit di renovasi bagian depan dan samping rumah yang masih terlihat ada lahan di sulap sedemikian rupa menjadi ruang terbuka untuk belajar dan bermain anak-anak.
"Assalamu'alaikum, Bunda," panggil Kahfi dari arah teras dengan mengucap salam.
"Waalaikumsalam, masuk Fi, Bunda ada tamu," ucap Bunda Icha setengah berteriak.
Kahfi masuk ke dalam, Bunda sedang berbincang dengan dua orang wanita sudah berumur, mungkin usianya sudah mencapai setengah abad.
__ADS_1
"Fi, duduk sini, kenalkan ini Bu Siti dan Bu Sri, mereka yang akan mengurus Rumah Singgah ini serta merawat beberapa anak yatim piatu yang akan tinggal disini," ucap Bunda Icha pelan menjelaskan.
Kahfi menurut dan duduk di samping Bunda Icha. Tangan kanannya mengulur dan memberikan salam kepada dua wanita berusia setengah abad itu.
"Salam kenal kepada Bu Siti dan Bu Sri yang akan mengurus dan merawat Rumah Singgah ini," ucap Kahfi pelan.
"Salam kenal juga untuk Mas Kahfi, kebetulan kami berdua masih bekerja di Panti Asuhan Mandiri, dan Pak Kyai Toha menawarkan Rumah Singgah Arsy sebagai tempat yang layak untuk anak-anak yatim piatu yang ingin belajar agama dan bersekolah, kami berdua tergerak hatinya untuk ikut dalam kegiatan sosial yang dilaksanakan oleh Pak Kyai Toha. Kami berdua akan berusaha memajukan Rumah Singgah Arsy ini untuk mengajari pondasi agama kepada anak-anak yatim piatu yang memiliki beberapa kendala dalam kehidupannya," ucap Bu Situ menjelaskan secara detil.
Bunda Icha dan Kahfi mendengarkan dan menyimak penjelasan Bu Siti dengan penuh semangat.
"Baiklah Bu Siti dan Bu Sri bisa melihat-lihat tempat ini, lalu membuat list perlengkaoan, peralatan dan bahan-bahan apa yang dibutuhkan, baik untuk meningkatkan belajar anak-anak, kebutuhan makanan, dan kebutuhan untuk sehari-hari dalam rumah tangga," ucap Bunda Icha menitah.
"Baik Bunda, kami akan berkeliling tempat ini, karena akan ada sepuluh orang anak yatim piatu yang akan tinggal disini dan semuanya adalah anak-anak yatim piatu tanpa sanak saudara dan tiga diantaranya berkebutuhan khusus," ucap Bu Sri menjelaskan kepada Bunda Icha dan Kahfi.
"Fi, malam ini Bunda menginap dulu, sampai anak-anak yatim itu berada disini, mungkin besok siang Bunda baru pulang ke rumah. Hari ini Bunda mau bantu-bantu dulu di Rumah Singgah," ucap Bunda Icha menjelaskan.
Hari sudah malam, Bu Siti dan Bu Sri sedang membeli beberapa kebutuhan Rumah Singgah, dan Pak Kyai Toha bersama temannya sedang menjemput sepuluh anak yatim piatu untuk tinggal di Rumah Singgah.
Bunda Icha membantu memasak beberapa makanan untuk disajikan sebagai makan malam. Memasak dalam porsi besar dan banyak, karena sebentar lagi rumah ini akan ramai anak-anak dari berbagai usia.
__ADS_1
Kahfi ikut menemani Bunda Icha di dapur dan membantu mencicipi beberapa makanan yang sudah matang.
"Fi, itu tempe goreng tepungnya jangan di cemilin aja, buat yang lain juga bukan malah habis sama kami sendiri," ucap Bunda Icha yang masih menggoreng telur dadar sebagai teman makan malam nanti.
Kahfi terus mengunyah tempe goreng tepung itu hingga beberapa buah sudah habis masuk ke dalam perutnya, mengabaikan ucapan Bundanya yang menasehatinya berkali-kali sejak tadi.
Bunda Icha membalikkan tubuhnya dan berkacak pinggang dengan kesal kepada putra bungsunya yang masih terus mengunyah tanpa memperdulikan tempe goreng tepung yang ada di piring itu hanya tersisa beberapa buah saja.
"Kahfi!!" teriak Bunda Icha kesal.
Kahfi hanya menatap Bunda Icha yang ada didepannya dengan senyuman tanpa bersalah sedikitpun.
"Astagfirullah, anak Bunda yang satu ini benar-benar susah diberi tahu," ucap Bunda Icha kesal dan meniriskan dadar telur yang sudah matang ke atas piring besar.
"Goreng lagi aja Bunda, gak usah repot," ucap Kahfi pelan lalu meninggalkan dapurvitu setelah meneguk air putih di dalam gelas besar hingga habis tak bersisa.
Perutnya sudah kenyang bukan karena makan nasi tetapi hanya makan tempe goreng tepung hangat yang tiada duanya. Kahfi duduk di teras depan rumah sambil memainkan ponselnya.
Ting ...
__ADS_1
Satu notifikasi pesan dari aplikasi chat masuk ke layar ponselnya dan menampilkan nama Rara disana. Kahfi membuka pesan tersebut dan membaca pesan dari Rara.
"Assalamu'alaikum, calon imamku di masa depan, Rara paham sekali bila Kakak menerima Rara bukan karena kepribadian yang dimiliki oleh Rara, tapi Kakak hanya kasihan terhadap Rara, kasihan karena Rara punya penyakit serius dan mungkin usia Rara tidak akan lama lagi. Tapi Rara masih ingin hidup, masih ingin sembuh, dan masih ingin menggapai cita-cita Rara untuk menjadi seorang analis. Rara hanya butuh dukungan dan motivasi dari Kakak untuk selalu memberikan semangat hidup, semangat berkarya dan semangat mengejar cita-cita untuk Rara. Rasanya sangat senang saat mendengar Rara akan dilamar oleh Kak Kahfi, apalagi langsung bertunangan, rasanya gairah hidup Rara mulai ada untuk melanjutkan hidup ini, tapi saat Rara tahu hati, pikiran dan tatapan penuh cinta Kakak hanya tercurah untuk satu gadis yaitu Ayumi. Terkadang hidup menjadi tidak adil, saat Rara berharap pada seseorang yang ternyata tidak mengharapkan Rara untuk menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Rara akan selalu menjaga rahasia ini sampai kapanpun, buat Rara bisa mendapatkan raga Kakak saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buat Rara, walaupun hati Kakak hanya akan diberikan kepada orang lain, gadis lain yang menjadi pilihan Kakak. Terima kasih sudah mau menerima Rara segenap raga Kakak dan bukan hati Kakak, Rara hanya akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Kakak dan berharap suatu hari hati itu bisa termiliki dengan sendirinya. Sehat terus Kakak selalu dalam lindungan Allah SWT. Wassalam."