Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
104


__ADS_3

Afnan menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa tunggu itu dengan sangat nyaman. Bantal sofa itu di selipkan dipunggungnya agar terasa lebih nyaman. Satu bantal sofa lainnya berada dalam dekapan Afnan yang mulai memejamkan kedua matanya karena sudah lelah.


Bulan masih terduduk sambil memindahkan beberapa chanel televisi karena acaranya yang tidak disukai. Ponselnya juga masih anteng tidak ada bunyi notifikasi atau panggilan dari Ustad Ikhsan, suaminya.


Bulan ikut menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa itu, beberapa bantal sofa sambil sudah ditumpuk sebagai alas kepalanya. Kedua kakinya diangkat dan diselimuti hingga ke bagian perut.


Rasanya malam itu sangat lelah sekali, setelah seharian berada di luar rumah berakhir kejadian kecelakaan lalu masalah Kak Zura yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Ayumi dan Afnan.


'Apakah ini suatu kesengajaan? Atau memang bukan hal yang disengaja?' batin Bulan dalam hatinya.


Ponsel Bulan berdering dengan sangat nyaring, terlihat nama pemanggil My Husband sudah ingin mengajak berkomunikasi.


Bulan mengambil ponselnya dari meja dan menggeser tombol hijau lalu menampilkan wajah suaminya yang terlihat sangat lelah setelah satu hari berkerja.


"Assalamu'alaikum, istriku?" sapa Ustad Ikhsan dengan lembut sambil merebahkan diri di kasur pengantinnya.


Ustad Ikhsan baru saja selesai sholat ashar, masih lengkap dengan sarung, baju Koko dan peci yang ada di kepalanya.


"Waalaikumsalam, Mas, baru selesai sholat?" tanya Bulan dengan suara lembut.


Wajah Ustad Ikhsan yang begitu tampan dan basah karena sisa air wudhu yang masih menempel di rambutnya lalu menetes di pipinya.


"Kamu dimana istriku, sepertinya bukan di apartemen?" tanya Ustad Ikhsan menyelidiki.


Bulan langsung menegakkan duduknya dan tersenyum, lalu beranjak dari duduknya menuju ranjang bed dimana Ayumi sedang terbaring lemah.


"Lagi dirumah sakit, Ayumi menjadi korban tabrak lari sebuah mobil mewah," ucap Bulan dengan suara pelan.


Ustad ikhsan terdiam melihat ruangan tersebut dan menatap Ayumi yang tergolek lemah di ranjang bed itu.


"Kenapa bisa ditabrak? Kalian tidak hati-hati?" tanya Ustad Ikhsan dengan suara pelan.


Bulan menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Tidak Mas, ini sepertinya adalah a unsur kesengajaan," ucap Bulan pelan menjelaskan kepada suaminya.


"Apa maksudmu Bulan? Siapa yang tega melakukan itu, lagipula kalian itu pendatang baru, mana mungkin sudah memiliki hatters," ucap Ustad Ikhsan pelan.


"Mungkin Mas, tidak akan percaya dengan ucapan Bulan, tapi memang itu semua adalah kenyataan," ucap Bulan pelan menjelaskan.


"Mas pasti percaya, masalah apa itu, ceritakan pada Mas," ucap Ustad Ikhsan.


"Bulan harus memulai dari mana, Bulan malah bingung," ucap Bulan dengan suara pelan.


"Pelan-pelan, satu per satu, biar Mas juga paham," ucap Ustad Ikhsan pelan kepada Bulan.


Setengah jam berlalu, Bulan menceritakan dari awal kejadian tentang pertemuannya dengan Kak Zura tanpa sengaja hingga kecelakaan mobil yang mengakibatkan Ayumi celaka. Kecelakaan itu seperti sudah direncanakan dan saat terjadi pengemudi yang mirip dengan Kak Zura itu langsung melajukan mobilnya dengan. cepat.


Ustad ikhsan hanya terdiam di sambungan seberang menyimak dan mendengarkan Bulan berbicara tanpa henti sejak tadi.


Pesan Ustad Ikhsan, tetap fokus pada sekolah dan program pertukaran pelajar itu, tanpa berpikir negatif atau berprasangka buruk terhadap apapun.


Bulan menutup sambungan telepon tersebut, sudah satu jam lebih mereka berdua berkomunikasi dan saling menanyakan kabar dan bercerita tentang hari ini hingga kecelakaan yang menimpa Ayumi.


Baru saja memejamkan kedua matanya dan terlelap beberapa menit saja, ponsel Afnan berbunyi sangat nyaring dan tidak diangkat oleh si pemilik ponsel.


Bulan membuka matanya, dan melirik ke arah Afnan yang masih tertidur pulas tanpa sedikitpun terganggu dengan suara-suara asing baik pelan maupun yang keras sekalipun.


Ponsel itu masih nyaring berbunyi dan bergetar di atas meja sofa tunggu di ruang rawat inap itu. Bulan melirik ke arah ponsel itu, menampilkan sebuah nama twins.


'Siapa twins?' batin Bulan di dalam hatinya dengan rasa penasaran yang sangat membuncah.


Bulan memberanikan diri mengambil ponsel itu dan mengangkat ponsel itu tanpa bicara.


"Hai, Afnan, apa kabarmu? Bagaimana kabar tunanganmu?" ucap suara wanita dari sambungan telepon di seberang.


Bulan hanya diam, mencerna nama dan suara yang benar-benar mirip dengan Kak Zura, tapi kenapa diberi nama TWINS, bukan Zura.

__ADS_1


"Hallo, Afnan, kenapa kamu masih saja dingin kepadaku?" tanya wanita itu kepada Afnan dengan lembut.


Bulan menarik napas panjang dan menghembuskan napas itu dengan pelan. Bulan menutup sambungan telepon itu secara sepihak, lalu menghapus riwayat panggilan dari ponsel Afnan dan meletakkan ponsel tersebut di meja tunggu yang ada di ruang inap tersebut.


Bulan kembali ke sofa tersebut dan merebahkan tubuhnya yang benar-benar sangat lemas. Pikirannya kini bercabang, selain ingin bersekolah dan menjadi wakil dalam program pertukaran pelajar selama tiga bulan di Mesir, membuat Bulan semakin harus bisa membagi waktu agar tidak ketinggalan info, pengalaman dan pembelajaran.


Kini, pikirannya bertambah satu, yaitu tentang Kak Zura. Sosok misterius wanita yang Bulan temui bukan hanya mirip tapi sama persis dengan Kak Zura.


"Bulan ..." Panggil Ayumi kepada Bulan yang masih bersahabat baik dengan suara pelan.


Bulan beranjak lagi menghampiri Ayumi di ranjang bed tersebut.


"Ayumi mau ke kamar mandi, bisa minta tolong bantu," ucap Ayumi pelan dan menegakkan duduknya dengan dibantu oleh Bulan.


Ayumi sudah turun dari bednya dan berjalan menuju kamar mandi dengan dibantu oleh Bulan. Infusan dipegang oleh Bulan hingga Ayumi memasuki kamar mandi.


"Bulan temani didalam ya, Ay," tanya Bulan kepada Ayumi yang masih terlihat sedikit pucat.


Ayumi menganggukkan kepalanya pelan.


"Iya Bulan, Ayumi masih pusing takut gak kuat didalam," ucap Ayumi dengan suara pelan.


Ayumi sudah masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan Bulan. Setelah selesai membuang air kecil, Ayumi kembali ke bednya lagi dan berbaring lagi di atas bed tersebut.


"Makasih Bulan, kalau tidak ada Bulan, entah bagaimana nasib Ayumi," ucap Ayumi dengan suara pelan.


"Sudah kewajiban Bulan, makanya cepat sembuh, biar besok bisa pulang ke rumah dan tidak perlu di rawat inap lagi," ucap Bulan pelan memotivasi Ayumi yang masih terkulai lemas.


"Kak Afnan mana?" tanya Ayumi pelan.


"Ada sedang tidur di sofa, mau Bulan bangunkan?" tanya Bulan kepada Ayumi pelan.


Ayumi hanya menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Tidak usah Bulan, bicarakan Kak Afnan istirahat, mungkin lelah sudah seharian kuliah dan bekerja menjadi asisten dosen di sore hari," ucap Ayumi dengan suara pelan. Jadwal Afnan memang begitu sangat padat dan melelahkan.


__ADS_2