Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
105


__ADS_3

Ayumi sudah terlelap kembali di atas bed ruang rawat inap setelah beberapa menit berbincang dengan Bulan dan meminta kue bolu sebagai cemilan malam karena perutnya terasa lapar.


Bulan selalu menemani Ayumi dan membantu sahabatnya itu hanya untuk sekedar makan, minum dan mengantarkan ke kamar mandi.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Bulan masih berbaring di sofa tunggu ruang rawat inap itu dengan posisi berbaring menyamping masih lengkap dengan selimut yang membalut tubuhnya dari kaki hingga bagian lehernya agar terasa hangat.


Bulan terbangun dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, Ayumi masih tertidur pulas tanpa ada pergerakkan sejak tidur malam tadi. Sedangkan Afnan sudah tidak ada di tempatnya, sofa tunggu yang di tempati oleh Afnan tadi malam sudah kosong dan tidak berpenghuni. Bulan menatap pintu kamar mandi yang masih terbuka lebar, tandanya Afnan tidak ada di dalam kamar mandi itu dan pergi ke luar dari kamar rawat itu entah kemana dan tanpa berpamitan.


Bulan memejamkan kedua matanya kembali, menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan sholat di sepertiga malam dan berdzikir sesuai pesan Ustad Ikhsan, suaminya tadi malam saat menelepon.


Baru saja memejamkan kedua matanya yang masih terasa berat. Sayup-sayup terdengar bunyi pintu kamar rawat inap itu dibuka dari arah luar.


Cekrekk ...


Suara handle pintu di buka dan bunyi decitan pintu kamar rawat inap itu terdengar sangat jelas. Kedua mata Bulan sulit rasanya ingin membuka mata, namun pendengarannya cukup tajam untuk mendengarkan apa saja yang dilakukan orang yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap itu.


Langkah kaki yang pelan dan gesekan suara sepatu pantofel dengan lantai keramik terdengar sangat khas menimbulkan suara yang nyaring.


Satu bungkus plastik diletakkan pelan diatas meja sofa tunggu itu. Bunyi berisik dari plastik terdengar jelas dengan beberapa tumpukan barang yang ada didalam plastik itu saat bersentuhan dengan meja menimbulkan suara aneh.


Afnan menatap Bulan dengan rasa iba, sudah satu jam dirinya pergi ke kantin untuk mencari makan, sejak malam Afnan belum sempat makan dan kini perutnya terasa lapar dan perih.

__ADS_1


Hari-harinya kini sangat sibuk menyelesaikan kuliah magisternya, Afnan mengejar untuk tidak terlambat lulus karena urusan pribadi. Cita-citanya untuk segera bisa bekerja dan menghasilkan pundi-pundi uang secara mandiri memotivasi dirinya untuk terus berjuang cepat menyelesaikan semua tugasnya dengan baik selama di Mesir.


Pekerjaan sampingan sebagai asisten dosen awalnya hanya untuk mengetes dirinya sendiri apakah mampu berbagi ilmu dengan orang lain lewat mengajar, dan juga ingin tahu kemampuan dirinya dalam memahami semua ilmu yang telah didapat. Menjadi asisten dosen, bukan hanya uang yang didapat, tetapi juga relasi dengan para dosen, serta akses hubungannya dengan para dosen semakin baik dan mudah.


Seperti saat ini contohnya, Afnan masih menyelesaikan beberapa mata kuliah barunya yang belum terselesaikan tapi sudah bisa mengikuti bimbingan dengan dosen pembimbing untuk mengerjakan thesis sebagai syarat umum untuk kelulusan sebagai magister.


Afnan duduk kembali di sofa ruang tunggu itu dan membuka salah satu kantong plastik, mengeluarkan kopi capuccino panas yang dibeli dari Kantin Rumah Sakit. Kopi capuccino panas yang ditempatkan di gelas kertas tertutup itu sebagai ciri khas minuman kopi capuccino panas yang dibungkus. Tutup gelas kertas itu dibuka, hingga menimbulkan aroma wangi dari kopi menyebar di seluruh penjuru ruangan kamar rawat inap itu.


Bulan membuka matanya, harum wangi dari kopi capuccino itu benar-benar sudah menggoda indera penciumannya untuk segera mencicipi minuman kopi capuccino itu.


Kedua matanya masih terasa berat, kepalanya juga sedikit pening karena kurang istirahat sejak kemarin. Kedua bola matanya sudah membuka dengan lebar, kedua tangannya dilemparkan ke depan untuk menghilangkan rasa pegal di tubuhnya.


Afnan menatap Bulan yang juga menatapnya


"Sudah bangun Bulan? Mau kopi capuccino? Tadi beli tiga, sekalian untuk Ayumi," ucap Afnan pelan kepada Bulan sambil menunjuk ke arah bungkusan plastik itu.


"Mau Kak Afnan, terima kasih ya," jawab Bulan dengan suara pelan dan membuka kantong plastik itu untuk mengeluadua gelas kertas lainnya dan diletakkan di meja. Satu gelas dibiarkan utuh dan tidak dibuka tutupnya, menunggu Ayumi terbangun dari tidurnya dan satu gelas lainnya dibuka tutupnya dan tanpa rasa malu langsung di cicipi kopi capuccino itu.


"Hemm... ini kopi capuccino terenak yang pernah Bulan rasakan. Kopinya sangat lembut dan ringan, namun aromanya sangat tajam dan keras," ucap Bulan menjelaskan kembali apa yang dirasakan saat meminum kopi capuccino itu.


"Itu ada cemilan juga, semoga suka. Kak Afnan kurang tahu selera kamu, kalau selera Ayumi, Kak Afnan pasti tahu, jadi Kak Afnan samakan, karena kalian seumuran dan bersahabat pasti kesukaannya juga sama," ucap Afnan pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


Bulan mengangguk pelan dan membuka isi kantong plastik kedua. Bulan mengeluarkan isi dari kantong plastik tersebut satu per satu, ada beberapa bungkus snack ringan, roti manis dan kebab khas negara itu.


Kebab itu masih terasa panas, sepertinya baru saja matang dan langsung dibeli oleh Afnan. Bulan membuka bungkus kertas kebab dan mulai makan dengan pelan dan sangat menikmati.


Afnan yang sejak tadi mengamati sahabat tunangannya itu tertawa dalam hati. Sungguh lucu kelakuan anak anak gadis yang masih labil termasuk Ayumi tunangannya itu.


"Enak?" tanya Afnan saat melihat Bulan begitu rakus melahap kebab itu dengan gigitan yang cukup besar dan terlihat sangat menikmati seperti sudah lama tidak makan, seperti orang kelaparan.


Bulan mengangguk pelan.


"Enak banget, ada lima juga habis sama Bulan semua, ini favorit Bulan," ucap Bulan pelan dengan mulut yang masih penuh dengan kunyahan kebab itu dengan saos dan mayonaise yang menempel disekitar sudut bibir Bulan.


"Kalau makan yang benar, sudah menikah makan masih belepotan," ucap Afnan pelan sambil tertawa.


"Ih, nyebelin Kak Afnan, namanya juga lagi menikmati makanan," ucap Bulan dengan suara kesal lalu mengambil keputusan lap dan mengelap sudut bibirnya dengan lap kering yang dipegangnya.


Afnan tertawa terbahak-bahak dan meletakkan ponselnya lalu mengambil satu gelas kopi capuccino dan kebab yang masih panas ke arah bed Ayumi.


Makanan dan minuman itu di nakas lalu mengusap kepala Ayumi dengan pelan dan lembut.


Entah mengapa, rasanya sangat nyaman melihat wajah tenang Ayumi yang tertidur pulas seperti saat ini. Batinnya begitu puas, bisa mendapatkan gadis yang selama ini Afnan impikan dan saat ini tinggal selangkah lagi menuju halal, Afnan ingin berusaha keras membahagiakan Ayumi dalam segala hal.

__ADS_1


__ADS_2