Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
9


__ADS_3

Senyum Ayumi terus mengembang selama perjalanan menuju rumah Nenek Arsy. Kebahagiaan yang diinginkan sudah sejak lama.


Sama juga dengan Afnan yang menahan senyumnya di balik helm full facenya. Kebahagiaannya sangat berharga. Waktu yang ditunggu-tunggu itu membuahkan hasil yang baik. Gadis yang Afnan jaga hatinya hingga saat ini memiliki perasaan yang sama dari kejadian yang sama juga.


Rencana Allah SWT itu sangat indah. Takdirnya juga membuat kita semakin yakin dengan campur tangan Allah SWT. Bila takdir itu sesuai keinginan kita, kita akan mengucap syukur tapi bila sebaliknya apakah kita akan legowo menerima dengan ikhlas dan pasrah.


Tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga cinta kita kepada sesama makhluk Allah SWT. Cintailah mahkluk Allah SWT karena Sang PenciptaNya.


Motor besar Afnan sudah masuk ke pelataran rumah Nenek Arsy. Afnan dan Ayumi turun dari motor besar tersebut, lalu berjalan menuju teras rumah. Rumah yang terlihat sepi dan asri.


"Kakak mau bertemu Nenek Arsy dulu. Sekalian pamitan sama Nenek Arsy." ucap Afnan dengan gagah.


"Sebentar Kak. Ayumi masuk dulu, panggil Nenek Arsy. Kakak duduk saja dulu disini." ucap Ayumi dengan sopan mempersilahkan Afnan untuk masuk dan duduk di teras rumah.


Ayumi masuk ke dalam mencari Nenek Arsy.


"Assalamu'alaikum Nek." panggil Ayumi pelan.


"Waalaikumsalam Ayumi sudah pulang. Mana Nak Afnan?" tanya Nenek Arsy pelan kepada Ayumi. Nenek Arsy sedang bersantai duduk di kursi goyangnya di ruang keluarga.


"Masih di depan sedang duduk di teras. Mau ketemu Nenek katanya." ucap Ayumi dengan sopan.


Nenek Arsy hanya menganggukkan kepalanya dan meletakkan buku yang sedang dibacanya di kursi goyang kesukaannya.


Nenek Arsy dan Ayumi berjalan menuju teras depan rumah.


"Nak Afnan, kenapa sampai larut malam. Nenek kan jadi cemas." ucap Nenek Arsy dengan tegas lalu duduk di kursi tepat di hadapan Afnan.


Afnan mendengar ucapan Nenek Arsy tanpa menimpali. Wajahnya hanya menunduk dengan rasa bersalah. Memang sekarang sudah lebih dari jam sembilan malam.


"Nenek, tadi Ayumi minta diantar lihat sekolah yang Ayumi inginkan." ucap Ayumi membela dirinya sendiri dan Afnan agar tidak terkena Omelan Nenek Arsy yang terkenal tegas dalam berbicara.


"Betul yang kamu katakan Ayumi." ucap Nenek Arsy tegas.

__ADS_1


"Iya Nek. Sekolah Menengah Atas Al Azhar. Itu namanya Nek. Ayumi tertarik untuk masuk pesantren." ucap Ayumi pelan menjelaskan.


Afnan mendongakkan kepalanya menatap Ayumi yang sudah mengetahui tentang sekolah itu. Terlebih mendengar niat Ayumi yang ingin masuk pesantren disana.


"Betul begitu Nak Afnan?" tanya Nenek Arsy tegas kepada Afnan.


Maksud dan tujuan ketegasan Nenek Arsy itu baik. Ayumi adalah cucu kesayangannya yang sedang beranjak dewasa, jadi perlu penjagaan yang cukup tinggi agar tidak teracuni dengan hal-hal yang kurang baik dan negatif.


"Betul Nek. Afnan akan bantu daftarkan lewat jalur prestasi di sekolah." ucap Afnan dengan sopan.


"Baiklah kalau memang itu yang terjadi. Nenek hanya cemaskan cucu kesayangan Nenek." ucap Nenek Arsy sambil memegang pinggang Ayumi.


"Nenek, Ayumi makin sayang sama Nenek. Ayumi masih tahu batasan Nek. Ayumi tahu mana yang baik dan yang tidak baik. Kak Afnan orang yang baik." ucap Ayumi pelan dan memuji Afnan.


"Nenek tahu. Nak Afnan, Nak Kahfi itu anak Kyai sudah tentu mereka memiliki sifat yang baik, tapi tetap namanya orang juga bisa khilaf kan." ucap Nenek Arsy mengingatkan.


"Iya Nek. Betul sekali. Mengingatkan itu perlu, hal itu dilakukan sebagai tingkat kewaspadaan kita terhadap hal-hal yang bisa saja terjadi di luar dugaan." ucap Afnan dengan sopan.


"Iya Nek. Afnan pamit pulang. Maaf kalau ada salah kata yang kurang berkenan." ucap Afnan dengan hormat lalu berpamitan kepada Nenek Arsy.


Afnan beranjak dari duduknya untuk berpamitan pada Nenek Arsy dan mencium punggung tangan Nenek Arsy dengan rasa hormat.


Ayumi ikut mengantarkan Afnan hingga ke pelataran rumah.


"Kakak pulang dulu. Terima kasih untuk malam ini Ayumi. Besok pagi, Kakak jemput sekalian berangkat ke sekolah bareng." ucap Afnan pelan.


"Tapi, Kak Kahfi suka jemput Ayumi." ucap Ayumi dengan polos tanpa perasaan bersalah.


"Kahfi sudah masuk pesantren Ayumi. Emang gak pamitan sama Ayumi." ucap Afnan pelan sambil menggoda Ayumi.


Ayumi hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Ayumi tidak tahu Kak. Kak Kahfi hanya bilang mau mondok." ucap Ayumi singkat mengingat pembicaraannya siang tadi bersama Kahfi.


"Hemm ... Kalian sudah akrab ya." ucap Afnan pelan dan menatap lekat kedua mata Ayumi.

__ADS_1


Afnan hanya ingin gadisnya ini menjadi miliknya bukan menjadi milik orang lain ataupun adik kandungnya sendiri. Ada perasaan tidak rela bila Ayumi harus berdekatan dengan Kahfi yang sudah jelas menyukai Ayumi.


"Akrab? Dengan Kak Kahfi?" ucap Ayumi tertawa terkekeh.


Kedua mata Afnan hanya menatap lebih lekat lagi, yang inginkan Afnan adalah jawaban bukan yang lain.


"Iya akrab. Buktinya bisa berangkat ke sekolah bersama?" tanya Afnan pelan yang mulai terlihat posesif kepada Ayumi.


"Hanya menghargai saja. Kak Kahfi baik dan tidak pernah salah. Apa salahnya Ayumi menerima ajakannya untuk berangkat ke sekolah bersama. Kak Afnan jangan pernah ragukan Ayumi." ucap Ayumi yang tiba-tiba saja melontarkan kata-kata yang tidak biasa.


Afnan tersenyum puas mendengar ucapan Ayumi yang begitu adem menusuk hati.


"Kakak selalu percaya padamu Ayumi. Jaga hatimu untuk Kakak, Kakak akan tetap menunggumu sampai kapanpun." ucap Afnan pelan dengan senyum mengembang.


"Iya Kak Afnan. Ayumi mengerti maksud Kakak." ucap Ayumi pelan sambil menundukkan wajahnya ke bawah karena malu.


"Kakak pulang dulu. Istirahatlah, kamu pasti lelah." ucap Afnan pelan menasehati.


" Iya Kak. Hati-hati dijalan ya." ucap Ayimi pelan.


Suara mesin motor sudah dinyalakan. Afnan melajukan motornya dengan pelan. Ada perasaan lega pada keduanya, karena sudah berani jujur dan mengungkapkan satu sama lain. Mengungkapkan perasaan suka dan sayang yang dianugerahkan Allah SWT.


Ayumi kembali berjalan menuju rumah. Masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahnya tersebut. Nenek Arsy sudah kembali duduk santai di kursi goyangnya. Tapi sebelumnya melihat cucu kesayangannya dibalik hordeng ruang tamu. Apa yang dilakukan kedua remaja berlawanan jenis.


"Nenek gak istirahat?" tanya Ayumi pelan kepada Nenek Arsy.


"Istirahatlah lebih dulu Ayumi. Besok bangun pagi agar tidak ketinggalan sholat shubuh." ucap Nenek Arsy pelan kepada Ayumi.


Ayumi menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti maksud ucapan Nenek Arsy.


"Ayumi ke kamar dulu ya Nek." ucap Ayumi pelan lalu beranjak menuju kamar tidurnya.


Hanya kamar tidurnya tempat yang paling nyaman saat ini setelah kedua orangtuanya meninggal.

__ADS_1


__ADS_2